Karena setiap orang memiliki rahasia.
Ellio yang baru sadar dari koma baru tahu bahwa gadis yang menjadi alasannya untuk bertahan hidup ternyata sudah membagi hatinya untuk orang lain. Patah hati tentu membuat Ellio hampir kehilangan arah. Namun, tekad untuk mendapatkan kembali cintanya mendorong ia lebih keras untuk segera pulih.
Di saat yang sama, ada Putri
yang mencintai Ellio dalam diam. Ia yang hanya berperan sebagai figuran di kisah cinta Ellio dan Shanum. Dia yang selalu ada untuk Ellio, malah menjadi tersangka yang harus di adili untuk kesalahan yang sebenarnya tidak patut di salahkan. Jatuh cinta.
Siapa yang bisa memvonis bahwa jatuh cinta adalah kesalahan ? Mungkin hanya Ellio. Dan, ketika Ellio baru menyadari arti kehadiran Putri, gadis itu sudah pergi. Menghilang seperti permintaan Ellio terakhir kali.
Cinta, benci serta sebuah tahta yang harus di teruskan, bagaimana kisah ini akan berakhir ?
Baca juga :
~Bima & Ellena : Pernikahan Kontrak
~Senja di Moorea
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSP#31
"Sha ? Gimana kerjaan kamu ? Capek nggak jadi model ?"
"Ya, capek sih. Cuma karena akunya mungkin suka, jadi kadang nggak terlalu berasa." Jawab gadis itu sambil meregangkan otot-otot tangannya.
Mereka berdua sedang berada di taman rumah sakit. Shanum duduk di bangku taman dengan Ellio yang berada di sebelahnya dengan kursi roda.
Ellio tampak menghirup napas panjang. "Jadi pengen cepetan sembuh deh." Ujarnya dengan pandangan tertuju ke depan.
"Kenapa ?"
"Biar bisa anter jemput kamu kerja." Jawabnya tersenyum.
Shanum terdiam memandangi wajah Ellio di sampingnya. Rasa tak sampai hati membayangkan bagaimana reaksi Ellio suatu saat ketika dia tahu bahwa Shanum tak lagi mencintainya benar-benar membuat gadis berwajah blasteran itu merasa bersalah. Ellio pria yang baik. Ia tak sepantasnya menjadi penyebab luka dari pria setulus Ellio. Namun, Shanum bisa berbuat apa ? Cinta tidak bisa di paksakan sama sekali.
"Putri masih sering ke sini nggak ?" Tanya Shanum mengalihkan pembicaraan.
Ellio menengok. Lalu kembali meluruskan pandangannya ke arah depan seraya terkekeh pelan.
"Masih. Tiap hari malah. Dia jauh lebih rajin di banding kamu tahu." Sahutnya.
"Oh ya ?"
"Ya. Kadang aku mikir, yang beneran pacar aku itu, kamu atau si anak kecil itu sih ?" Sambung Ellio dengan tawa di sudut bibirnya.
Hati Shanum merasa tertohok mendengar kalimat bernada sindiran yang di katakan Ellio. Pria tampan kembaran Ellena itu benar. Dia memang jarang datang menjenguk Ellio. Putrilah yang jauh lebih sering datang di banding dirinya. Hal itu sengaja ia lakukan dengan harapan agar Ellio bisa beralih menyukai Putri dan melupakan dirinya.
"Kamu emangnya gak punya perasaan suka sama Putri ya ?" Tanya Shanum pelan.
"Ya, nggaklah. Mana mungkin aku bisa suka sama anak kecil kayak dia, Sha. Lagian aku udah punya kamu yang sesempurna ini. Buat apa lagi aku ngelirik gadis lain apalagi si anak kecil ?"
"Tapi, Putri juga cantik loh !"
"Oh ya ? Masa' sih ?" Tanya Ellio ragu. Dahinya mengkerut, seolah-olah sedang berpikir keras.
"Ya iyalah. Lagian, dia juga perhatian banget sama kamu. Masa' kamu nggak ada perasaan sedikit pun ke dia sih ?"
Ellio terdiam sebentar. Ia kemudian menyentuh tangan Shanum yang seperti biasa tak mendapat respon apa-apa dari gadis itu. Tak apa. Ellio bisa memulai lagi dari awal untuk menarik rasa cinta Shanum kembali.
"Mau sebaik apapun Putri ke aku, kalau akunya cinta sama kamu gimana ?" Mata Ellio memandang lamat-lamat manik kehijauan milik Shanum. "Kok aku ngerasa kamu lagi pengen banget jodohin aku sama Putri, ya ?" Lanjutnya kemudian. Kedua matanya memicing, menatap curiga pada Shanum di sebelahnya.
"Nggak. Siapa bilang ?" Sergah Shanum salah tingkah. Sejak kapan Ellio si kurang peka jadi sepeka ini sekarang ?
"Nggak usah grogi gitu dong ! Aku cuma bercanda. Aku tahu kalau sebenarnya kamu cuma cemburu sama si anak kecil aja kan ?" Ellio terkekeh. Telunjuknya mengacung menghakimi Shanum.
"Apaan ? Enak aja."
"Ngaku !"
"Di bilang nggak, ya nggak." Delik Shanum kesal.
Ellio masih terkekeh meski hatinya menyiratkan hal sebaliknya. Dugaan pertamanya sudah benar. Shanum sengaja mendekatkan Putri padanya agar dia bisa mencintai gadis super menyebalkan itu. Entah karena alasan kehadiran Andra atau hal lainnya sehingga Shanum melakukan hal itu, namun Ellio akan memastikan bahwa usaha Shanum itu hanya akan berakhir sia-sia. Dia selamanya akan tetap mencintai Shanum walau apapun yang akan terjadi dan tidak akan pernah melepas Shanum pergi.
* * *
"Selamat pagi, Pak Andra !" Sapa Ghea ramah yang hanya di balas anggukan oleh Andra.
Sekretaris yang sudah lama menyukai atasannya itu tersenyum cantik, mengikuti langkah Andra memasuki ruangan pribadi pria itu.
"Untuk apa kamu ikut saya ke dalam ?" Tanya Andra dingin.
"Saya hanya ingin memastikan barangkali anda membutuhkan sesuatu, Pak ?" Ghea masih menebar pesona. Belum juga menyerah demi menjebak Andra ke dalam perangkap cintanya.
"Tidak, Ghea ! Saya tidak membutuhkan apa-apa." Sahut Andra jengah. Perempuan itu sepertinya semakin hari semakin menyebalkan. Ancaman kena pecat pun tak pernah dia hiraukan dan justru semakin gencar menggoda Andra lagi dan lagi. Entah, harus dengan bahasa apa lagi Andra harus memberi tahu Ghea bahwa dia tidak menyukai perempuan itu sedikit pun.
Ingin di pecat, namun Andra juga tidak sampai hati melakukannya. Jadilah dia harus selalu menahan emosi setiap kali berurusan dengan Ghea di kantor.
"Permisi, Pak Andra !" Seorang perempuan cantik lainnya memasuki ruangan Andra. Penampilannya terlihat anggun dan berkelas meski tidak mengenakan pakaian seketat dan seminim pakaian Ghea. Dia Okta. Sekretaris sepupunya, Bima.
"Okta ? Ada apa ?" Sahut Andra to the point.
"Pak Bima menunggu anda di ruangannya sekarang. Beliau ingin membahas masalah kerja sama lanjutan kita yang ingin di batalkan sepihak oleh Mr. Reinhart."
"Baik ! Saya segera ke sana."
"Baik, Pak !" Angguk Okta. Sebelum hendak berbalik, dia menatap Andra dan Ghea bergantian. Dia tahu bahwa Andra tampaknya merasa begitu terganggu karena kehadiran Ghea di dekatnya.
"Ghea ! Bisa ikut saya sebentar ?" Okta memanggil dengan tangan yang sudah membuka pintu. Ia masih tersenyum anggun sambil mengunci tatapannya terhadap Ghea.
"Iya, mba ! Bisa." Ghea mengangguk sopan sebelum berjalan mendahului Okta terlebih dulu.
"Permisi, Pak !" Pamit Okta kepada Andra.
Ghea mengikuti langkah kaki Okta hingga ke pantry. Kedua Sekretaris cantik itu saling bersitatap dalam keheningan beberapa saat.
"Ada apa ya, Mba ?" Tanya Ghea dengan sopan. Ia merasa takut melihat tatapan Okta yang seolah ingin mencabiknya.
"Kamu masih betah kerja di sini, Ghea ?" Okta bersedekap. Suaranya terdengar dingin dan menusuk Ghea hingga ke tulang-tulang.
"Tentu saja, Mba." Angguk Ghea bertanya-tanya.
"Kalau masih betah, sebaiknya jaga tingkah laku kamu."
"Maksud Mba Okta apa ya ?"
"Jangan mencoba mendekati Pak Andra. Beliau itu atasan kamu. Jadi, tolong bertingkah selayaknya anak buah yang tunduk pada majikannya. Jangan melampaui batasan kamu, Ghea."
Ghea berdecak kesal mendengar ucapan Okta. Jika tidak mengingat bahwa Okta adalah sekretaris kesayangan sang CEO, mungkin dia sudah melayangkan makian kepada seniornya itu.
"Maksud Mba apa ya ? Saya nggak ngerti." Sanggah Ghea berpura-pura.
"Jangan berpura-pura bodoh, Ghea ! Saya tahu kamu suka menggoda Pak Andra."
"Lalu, apa urusannya itu sama Mba ?" Tangan Ghea terkepal. Tidak ada gunanya membodohi Okta yang memang terkenal paling cerdas membaca situasi.
"Tentu saja ada. Pak Andra itu sepupu Pak Bima. Itu berarti, beliau juga masuk dalam ranah pengawasan saya. Mungkin Pak Andra terlalu baik sehingga masih belum memecat kamu. Tapi, saya sayangnya tidak sebaik hati dia. Kamu paham kan apa maksud saya ?" Okta menyeringai sinis. Ancamannya telak mengenai sasaran.
"Mba mau menyingkirkan saya ?" Geram Ghea tak terima.
"Jika sikap kamu tidak bisa berubah, kenapa tidak ?" Sahut Okta sambil mengangkat bahunya acuh.
Ghea sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia sangat tahu siapa yang sedang dia hadapi. Ada banyak cara gila yang bisa di lakukan Okta jika ingin menyingkirkan dirinya. Okta bahkan tidak perlu izin dari siapapun untuk melakukan hal itu. Tentu saja, karena semua orang yang bernaung di bawah Dirgantara Group tahu bagaimana pemimpin tertinggi mereka yang tak pernah mempertanyakan kinerja Okta sedikit pun. Jika ada pegawai yang tersingkir karena Okta, Bima Dirgantara tak pernah bertanya alasannya apa. Pria itu selalu percaya, siapa pun yang di singkirkan Okta, berarti orang itu memang tidak layak berada di Dirgantara Group.
"Bagus, Okta ! Terima kasih. Terima kasih." Gumam Andra berseru senang. Sejak tadi, pria itu hanya mengintip pembicaraan Ghea dan Okta serta melupakan tujuannya untuk bertemu Bima. Menguping pembicaraan dua sekretaris itu kelihatannya jauh lebih menarik di banding membahas masalah bersama Bima. Dia tidak tahu saja, bahwa sepupu dinginnya itu sudah mengumpat sejak tadi karena Andra tak juga kunjung datang.
murat tau nggk klo putri anak.adimas