Assalamu'alaikum.. Maaf yah novel ini ngak di lanjut lagi jadi mending ngak usah di baca🥲
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SENJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IKTM_31
Setelah mendengar ucapan Araya, mereka berdua pun saling tatap sejenak lalu sedetik kemudian Evan kembali mencium bibir Araya membuat tubuh Araya menegang seketika. Araya meremas sprei dengan kuat sembari merasakan sentuhan lembut bibir suaminya.
Sementara Evan terus memberikan kecupan dan gigitan, mendorong tubuh Araya dengan dadanya yang semakin merinsek maju hingga Araya bersandar di dipan ranjang. Sementara ciuman Evan benar benar membuat Araya hampir hilang akal sangkin nikmat nya.
Hingga secara reflek Araya menangkup kedua sisi leher Evan menggunakan tangan nya. Usapan itu berhasil membuat Evan menggeliat geli dan semakin bersemangat mencumbui istri nya yg mulai masuk ke dalam permainan nya.
"Aahh.. " lenguh Araya saat Evan memberikan tanda merah pada leher Araya. Tangan Evan pun tak tinggal diam begitu saja karena dengan cepat tangan Evan menerobos masuk ke dalam pakaian Araya lalu menarik baju kaos yang di gunakan Araya ke atas hingga perut Araya terekspos bebas.
Evan dan Araya saling tatap sejenak dengan nafas yang menderuh hebat. Namun detik selanjutnya Araya hanya bisa patuh saat Evan berusaha membuka seluruh pakaian nya.
Dengan tatapan sayu, Evan manatap tubuh indah Araya dengan hasrat yang sudah di atas pucuk kepala. "Aku sudah melihatnya" ucap Evan saat melihat Araya menyilangkan kaki menutup bagian intim nya yg terekspos bebas.
Araya mengigit bibir nya dengan rasa malu yang luar biasa, walaupun semalam Evan sudah melihat nya tapi tetap saja Araya merasa malu, apalagi saat ini masih pagi. "Aku malu, Tuan" rengek Araya.
Evan hanya tersenyum menanggapi ucapan Araya, lalu sedetik kemudian Evan berdiri untuk membuka seluruh pakaian nya hingga kini tubuh gagah Evan terpampang indah di depan Araya.
Araya yang nakal terus memandangi tubuh Evan hingga Evan kembali mendekati nya. "Jangan menatap ku seperti itu" Evan menyubit lembut hidung Araya membuat Araya tersentak akan lamunan nya.
Araya hanya bergeming, sementara Evan kembali memberikan serangan yang membuat Araya terus menggeliat seperti cacing kepanasan. Sedikitpun Araya tak bisa diam saat Evan menjamah tubuh nya sana sini.
Apalagi saat tangan kekar Evan berada di bagian sensitif Araya membuat Araya terus mend*sah menikmati permainan Evan. "Ahh, Tuan" desah*n Araya membuat tubuh Evan semakin menegang, sementara Araya ******* ***** rambut Evan untuk menyalurkan rasa nikmat yang menjalar ke tubuh nya.
Nafas Araya memburu merasakan sentuhan Evan yang sangat menggairahkan "Tuan, please, I want you" mohon Araya.
"Sure?" Evan menantang, lalu kembali mengungkung tubuh mungil istrinya. Dan dengan cepat Araya melingkar tangan nya ke leher Evan lalu mengangguk kecil tanda setuju.
Evan tersenyum melihat wajah imut Araya yang bersemu merah hingga sedetik kemudian Evan kembali melakukan penyatuan seperti permintaan Araya. Hingga kedua insan itu pun kembali mengulang kegiatan panas mereka semalam dengan penuh sensasi.
****
Setelah menghabiskan beberapa jam untuk bermain, akhirnya Evan mengajak Araya untuk istirahat. Gadis cantik itu terkulai lemas di atas ranjang seperti tidak memiliki tenaga sedikit pun. Evan benar benar menguras tenaga Araya hingga tak berdaya.
Kini jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, sementara kedua insan itu masih berada di balik selimut yang menutupi tubuh nya yang masih telanjang. Sementara di luar kamar mereka, June dan Lili sudah panik karena majikannya belum juga keluar.
"Tuan" dengan sedikit keberanian, June mengetuk pintu kamar Evan.
Selama bekerja sebagai asisten pribadi Evan, baru kali ini kamar Evan di kunci dan mereka semua di larang untuk masuk. Sementara Lili sudah sangat panik karena Araya masih berada di dalam kamar Evan, takut jika terjadi sesuatu pada Araya.
"Tuan, Anda baik baik saja kan?" tanya June mengetuk pintu sedikit keras. Karena sejak tadi tidak ada sahutan dari dalam sana.
Alvin yang mendengar keributan di depan kamar Evan, segera bertanya pada pengawal yang kebetulan lewat di samping nya. "Ada apa?" tanya Alvin.
Pengawal itu sedikit membungkuk memberi hormat pada sang majikan lalu menjawab pertanyaan Alvin. "Dari semalam tuan muda Evan belum juga keluar dari kamar nya, Tuan" jawab pengawal itu apa ada nya.
"Apakah Araya bersama nya?" tanya Alvin lagi.
Pengawal itu mengangguk. "Iya, Tuan".
Mengetahui Araya bersama Evan semalam, Entah mengapa Alvin jadi marah lalu dengan langkah cepat Alvin menuju kamar Evan. "Dobrak pintu nya" perintah Alvin setelah sampai di depan kamar Evan.
June, Lili dan beberapa pengawal lain nya saling pandang. Bagaimana mungkin mereka dengan berani mendobrak kamar Evan yang terkenal angkuh dan arogan, Ahh bisa mati mereka semua. "Tapi Tuan.. "
"Cepat dobrak atau aku akan memecat kalian semua" ancam Alvin dengan tatapan tajam nya.
Sementara para pengawal tetap diam, namun sedetik kemudian June memberikan kode agar pengawal itu mendobrak kamar Evan, Alhasil para pengawal pun bersiap untuk mendobrak kamar Evan.
Namun saat ingin mendobrak pintu kamar Evan, ternyata Evan lebih dulu membuka pintu kamar. Dan tepat setelah Evan muncul dari balik pintu, Evan menatap mereka semua dengan tatapan tajam nya. "Dimana Araya" tanya Alvin khawatir.
Tatapan Evan lalu tertuju pada Alvin yang berada tepat di samping June. "Ada urusan apa kau mencari nya?" tanya Evan dengan tatapan permusuhan.
"Bukan urusan mu!, Aku ingin bertemu dengan Araya sekarang juga" kata Alvin sembari melangkah ingin masuk ke dalam kamar Evan namun dengan cepat Evan menahan tubuh Alvin.
Evan berdecak. "Sekali lagi kau melangkah, akan ku pasti kan kau tidak akan keluar dari kamar ini" ancam Evan.
Sementara Alvin yang mendengar ancaman Evan segera menghentikan langkah nya lalu menatap Evan dengan tatapan tajam nya. "Lakukan saja jika kau berani" tantang Alvin tak mau kalah.
"Tuan Alvin sebaiknya anda jangan masuk" ucap June merasa panik karena sejak dulu ucapan Evan tidak main main, jika Evan sudah mengatakan nya mana dia pasti akan melakukan nya.
Evan lalu menurunkan tangan nya, mempersilahkan Alvin untuk masuk. "Aku sudah memperingat kan kau" lanjut Evan dengan senyuman menyeringai seperti sedang mendapatkan mangsa.
Baru saja Alvin ingin melangkah masuk, dengan cepat June menarik pergelangan tangan Alvin. "Tuan, anda sebaik nya jangan masuk. Aku takut terjadi sesuatu pada anda" ujar June sedikit menunduk.
"Alvin apa yang kau lakukan" suara Nyonya Lusy mengalih kan asistensi mereka semua. "Mari ikut bersama ibu, ada hal penting yang ingin ibu katakan" kata Nyonya Lusy.
Seketika June, Lili dan beberapa pengawal merasa lega dengan kedatangan Nyonya Lusy. "Hufft, hampir saja nyawa tuan Alvin melayang" batin June.
Pandangan Alvin kembali tertuju pada Evan. "Aku akan membunuh mu jika kau berani menyakiti Araya" bisik Alvin pada Evan.
"Lakukan jika kau berani" Evan seperti menantang Alvin sembari memberikan seringai jahat di bibir seksi nya.
***
_Jangan lupa rate komen yahh, karena 1 komen kalian sangat berarti bagi author🥺. Dan jangan lupa juga like dan Favorit yahh, love you🤗_
klo bisa, sebaiknya Evan dan araya pergi dari rmh org tuanya dan menjalani kehidupan mereka biar mereka bahagia