Meizura terpaksa memenuhi permintaan ayahnya untuk menjadi gadis penebus hutang. Awalnya dia berpikir akan dijadikan wanita simpanan oleh Armano Davies. Akan tetapi siapa sangka, dirinya justru dinikahkan dengan putranya yakni William Davies, pria yang dikabarkan meninggal beberapa bulan lalu.
"K_kau masih hidup?" tanya Maizura tak percaya. Dia mengerjap beberapa kali untuk menyakinkan penglihatannya.
William Davies menatap Meizura tajam. Dia tak suka wanita yang cerewet. "Diam! Jangan banyak bertanya. Kau hanya gadis penebus hutang," kata William penuh penekanan.
Setelah menikah dengan William, hidup Meizura mulai berubah. Banyak hal yang terjadi hingga suatu saat Meizura mengetahui fakta lain yang di sembunyikan oleh suaminya. Bagaimana kelanjutannya? Simak kisah mereka di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. William Kembali
Meizura pulang dengan membawa banyak belanjaan dari mertuanya. Dia tidak menyangka, Mama mertuanya akan sangat begitu memanjakan dirinya. Meizura sangat terharu hingga rasanya ingin menangis. Sejak dulu dia tidak pernah mendapatkan perhatian dari keluarganya. Dia selalu berjuang untuk kebahagiaannya sendiri. Dan kali ini, dia merasa begitu istimewa karena ternyata ada orang yang peduli padanya, terlebih orang itu adalah mertuanya sendiri.
Meizura duduk di sofa dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Kepala pelayan datang mengantar segelas air untuknya.
"Silahkan diminum dulu, Nyonya."
"Apakah tuan belum pulang?" tanya Meizura.
"Belum, Nyonya. Jika tidak salah, menurut informasi dari Elliot, malam ini tuan akan pulang," jawab pak John si kepala pelayan.
"Oh, seperti itu." Meizura meminum air putih yang disediakan oleh pak John hingga tandas.
"Saya mau istirahat di kamar. Nanti minta tolong jika Nancy atau Maureen datang, tolong bangunkan saya."
"Baik, Nyonya."
Meizura membawa belanjaannya naik ke kamar dibantu oleh pak John. Setelah membersihkan dirinya dan berganti baju, Meizura langsung jatuh terlelap.
Sementara itu, di bandara internasional, dua orang pria turun dari pesawat. Mereka tampak tidak terlalu akrab satu sama lain. Namun, keduanya berjalan dengan tertib menuruni tangga.
"Tuan, apa anda ingin langsung ke villa atau ke rumah sakit terlebih dulu."
"Tentu saja aku ingin pulang. Aku sudah lama tidak bertemu dengan istriku. Kau sudah menyiapkan kursi rodaku kan?"
"Sudah, Tuan."
"Elliot, menurutmu bagaimana reaksi istriku melihat aku bisa berjalan lagi?"
"Saya yakin, nyonya muda pasti akan sangat senang. Tuan besar dan nyonya besar juga pasti akan senang."
"Apakah benar begitu?"
"Ya, Tuan. Saya sangat yakin."
William tersenyum. Dia senang akhirnya bisa kembali berjalan, setelah melewati banyak terapi yang sangat menyiksa.
William dan Elliot segera menuju Villa tanpa pemberitahuan. Setibanya di Villa. William kembali duduk di kursi rodanya. Dia mendorong kursi rodanya menuju kamar. Biasanya Meizura akan tidur sebentar sepulang dari bekerja.
Saat William masuk ke dalam kamar, Dia melihat Meizura terlelap di atas pembaringan. William mendekat. Pria itu bangkit dari kursi rodanya dan berjalan mendekati sang istri.
"Halo, Sayang. Apa kau sudah merindukanku?" bisik William lirih. Dia lantas mencium kening Meizura dengan perlahan.
Meizura mengerjabkan mata. Beruntung William langsung duduk di kursi roda.
"Liam, kau sudah pulang?" Meizura langsung menarik tubuhnya ke atas dan bersandar di headboard ranjang.
"Apa kau pikir sedang berhalusinasi? Ini benar-benar aku, Sayang."
"Liam."
"Ya, Sayang."
"Apa aku boleh memelukmu?" Meizura sudah turun dari ranjang. Tanpa menunggu persetujuan dari William, Meizura langsung menghambur memeluk William.
"Kenapa kau menghilang? Apa kau berniat meninggalkan aku?"
William tersenyum dan mengusap punggung Meizura yang bergetar. Entah mengapa William tiba-tiba merasa begitu bahagia karena Meizura secara tidak langsung mengatakan, jika dia membutuhkan kehadirannya.
"Aku sedang memperjuangkan kebahagiaan kita, Sayang."
"Tapi kau tiba-tiba menghilang dan tidak memberiku kabar."
"Elliot terus mengabarimu, Sayang. Aku yakin itu."
"Ya, dia memang melakukannya, tapi aku hanya ingin mendengar suaramu."
"Sayang, jika kau berkata begitu, aku mungkin mengira kau sudah jatuh cinta padaku."
Wajah Meizura langsung memerah. Dia melepas pelukannya dan mundur dua langkah dengan wajah yang sudah semerah tomat.
'Ini sangat memalukan sekali.'
sungguh mantap sekali ✌️🌹🌹🌹🌹
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘