Novel ini adalah sequel dari Terjebak Gairah Monster Tampan
Jeremy Suryawijaya adalah adik kandung dari Cintyara Alona Suryawijaya dengan bersuamikan Pria hebat yaitu kakak ipar Jeremy yang memberi Jeremy fasilitas penuh untuk memulai bisnisnya di usia yang begitu muda setelah kakaknya Alona menikah dan membina biduk Rumah tangga dengan Johan Rahadiningrat.
Pertemuan pertamanya dengan Kimberly Tejakusuma gadis cantik di Dreamy Internasional Highschool yakni adalah junior di sekolah yang sama dengannya. Gadis cantik itu seringkali mencuri pandang dan melihatnya dari kejauhan tingkah lucunya yang akhirnya membuat Jeremy juga jatuh hati padanya. Namun sayang seribu sayang ternyata Kimberly sudah di jodohkan dengan Arsen yang notabene berasal dari keluarga konglomerat yang orang tuanya bersahabat baik dengan Kimberly dan menjodohkan keduanya sedari bayi. Bagaimana cara Kimberly lepas dari belenggu perjodohan itu saat cintanya dengan Jeremy akhirnya bersambut?
Yuk mampir zeyeng ditunggu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ippiiieee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Namia dan Arsen Part 1
💒 Dreamy International High School
Flashback 4 bulan yang lalu
BRAKK!!
Arsen bertabrakan dengan seorang gadis di koridor sekolah. Buku-buku gadis itu jatuh berserakan ke lantai. Arsen yang sempat terhuyung langsung menoleh dan melihat seorang gadis berambut panjang dengan mata cokelat hazel sedang berusaha berdiri.
Arsen menelan ludahnya pelan. Entah kenapa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Gadis itu buru-buru mengambil bukunya yang jatuh.
Namun belum sempat ia berdiri dengan benar, tiba-tiba sekelompok siswi kelas XI berjalan melewati mereka dan salah satu dari mereka sengaja menyenggol bahu gadis itu cukup keras hingga ia hampir jatuh lagi.
Arsen dengan refleks menahan bahu gadis itu agar tidak jatuh.
“Hati-hati,” kata Arsen singkat.
Gadis itu menunduk.
“Terima kasih… aku nggak apa-apa,” jawabnya pelan.
Arsen melihat ke arah rombongan siswi yang tadi menyenggolnya. Mereka hanya tertawa kecil lalu pergi begitu saja.
“Apa mereka sering seperti itu?” tanya Arsen.
Gadis itu langsung menggeleng cepat.
“Nggak kok… tadi cuma tidak sengaja.”
Arsen menyipitkan mata. Ia jelas melihat sendiri kalau itu sengaja.
“Kalau mereka mengganggumu lagi, bilang saja padaku,” kata Arsen.
Gadis itu terlihat panik.
“Tidak usah, Kak. Tidak apa-apa. Terima kasih. Aku permisi dulu.”
Gadis itu langsung berjalan pergi dengan cepat, seolah tidak ingin berbicara lebih lama.
Arsen hanya berdiri diam memperhatikannya sampai gadis itu menghilang di ujung koridor.
Namia.
Ia baru ingat nama gadis itu. Siswi beasiswa yang sering menjadi bahan pembicaraan di sekolah elit itu.
Namia dikenal pintar, selalu mendapat nilai tertinggi, tetapi juga sering dijauhi oleh siswa lain karena latar belakang ekonominya.
Di sekolah itu, status sosial dan kekayaan sering kali lebih dianggap daripada prestasi.
Namia berjalan sendirian menyusuri koridor menuju perpustakaan. Ia sudah terbiasa sendirian. Ia juga sudah terbiasa mendengar bisikan-bisikan orang tentang dirinya.
“Dia pintar sih, tapi miskin.”
“Kasihan ya, tapi tetap saja beda level.”
“Aku nggak mau duduk sebelah dia.”
Kalimat seperti itu sudah sering ia dengar.
Namun Namia selalu berusaha tidak peduli. Ia tahu satu-satunya alasan ia bisa tetap bersekolah di sana adalah karena beasiswanya. Jika ia membuat masalah, beasiswanya bisa dicabut dan ia harus berhenti sekolah.
Karena itu ia memilih diam.
Ia memilih mengalah.
Ia memilih bertahan.
Namia percaya suatu hari nanti hidupnya akan berubah jika ia terus belajar dan bekerja keras.
Ia sering belajar di perpustakaan sendirian. Ia jarang ikut kegiatan sekolah karena sering ditolak secara tidak langsung oleh siswa lain.
Padahal ia ingin sekali ikut organisasi seperti siswa lainnya.
Ia ingin mencoba banyak hal.
Namun setiap kali ia mendaftar, selalu saja ada yang menghalangi.
Kertas pendaftarannya pernah hilang.
Namanya pernah tidak dimasukkan dalam daftar.
Ia tahu semua itu disengaja, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Akhirnya ia hanya fokus belajar.
Baginya, lulus dengan nilai bagus adalah jalan satu-satunya untuk mengubah hidupnya.
Namia memiliki seseorang yang diam-diam ia kagumi dari jauh.
Jeremy.
Jeremy Surya Wijaya.
Kakak kelas yang terkenal pintar, berprestasi, dan cukup terkenal di sekolah walaupun bukan berasal dari keluarga konglomerat seperti kebanyakan siswa di sana.
Jeremy aktif di organisasi, berprestasi di akademik, dan juga di olahraga.
Namia sering melihatnya dari jauh di perpustakaan atau di lapangan.
Ia ingin menjadi kuat seperti Jeremy.
Ia ingin menjadi orang yang tidak peduli dengan omongan orang lain seperti Jeremy.
Namun Namia sadar, posisi mereka berbeda.
Jeremy tetap dihormati orang lain, sedangkan dirinya sering diremehkan.
POV Namia
Aku tidak punya teman di sekolah ini.
Bukan karena aku tidak mau berteman, tapi karena mereka tidak mau berteman denganku.
Di sekolah ini, yang dilihat pertama kali adalah tas, sepatu, jam tangan, dan mobil yang mengantar jemput.
Tas ku tidak bermerek.
Sepatuku sudah lama dan mulai rusak di bagian samping.
Aku hanya punya diriku sendiri dan prestasiku.
Tapi di tempat ini, prestasi saja tidak cukup.
Kadang aku iri melihat mereka tertawa bersama, makan bersama, dan pulang bersama.
Sedangkan aku selalu sendiri.
Setiap nilai diumumkan dan aku menjadi peringkat pertama, bukannya senang, aku malah takut. Karena semakin aku berprestasi, semakin banyak yang tidak suka padaku.
Tapi aku tidak boleh menyerah.
Aku harus bertahan.
Aku harus lulus dari sekolah ini dengan nilai terbaik.
Hari ini aku bertabrakan dengan Arsen Nasyaka.
Semua orang tahu dia. Dia terkenal, kaya, berpengaruh, dan banyak orang takut padanya.
Dia kebalikan dariku.
Dia punya segalanya.
Aku tidak punya apa-apa.
Dia bilang akan melindungiku, tapi aku tidak mau. Kalau aku dekat dengannya, aku akan semakin dibenci oleh banyak orang.
Aku tidak mau membuat masalah baru.
Aku harus menjauh darinya.
Aku harus berdiri sendiri.
Namia berjalan pulang sore itu dengan langkah pelan. Kakinya masih terasa sakit karena tadi sempat terbentur saat hampir jatuh di koridor.
Ia berjalan menuju halte bus dengan langkah sedikit pincang.
Sesampainya di halte, ia duduk dan menghela napas panjang. Kakinya terasa semakin sakit dan lelah.
Tiba-tiba sebuah motor berhenti di depannya.
Namia mengangkat kepala.
Arsen melepas helmnya dan menatapnya.
“Hei, naiklah. Aku antar pulang,” kata Arsen.
Namia langsung terdiam.
Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat.
Ia tidak menyangka Arsen akan menyusulnya sampai ke halte bus.
Dan lagi-lagi, penguasa sekolah itu berdiri di depannya.
DEG.
To be continued.