"Azzelia Qaireen, kau milikku, wanitaku, istriku. Tak ada yang lain selain dirimu di hatiku. Bahkan aku rela memberikan nyawaku ini, ketika kehidupanmu terancam karena kedatanganku, Sayang."
~Frans Federick Knight
***
Demi sang papa, Azzelia Qaireen rela melakukan apa saja termasuk menikah dan menjadi istri dari seorang Frans Federick Knight. Pria yang dikenal sebagai rekan kerja papanya dan merupakan pebisnis kaya raya di negara tempat tinggalnya.
Namun, siapa sangka. Di balik wajah tampannya. Frans memiliki sejuta rahasia dan sisi gelap yang tak diketahui oleh Zelia. Kehidupan yang penuh cinta perlahan mulai dipenuhi darah. Ketika sebuah rahasia mulai terungkap, maka sebuah pengorbanan kembali terjadi dan membuatnya bertemu dengan masa lalunya.
Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Frans dan Zelia ketika masa lalu hadir di antara mereka dan sebuah rahasia terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JBlack, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok Ibu Kandung Frans
...Terkadang tak selamanya keburukan suami yang terbongkar membuat istri menjauh dan pergi. Saling terbuka dan jujur adalah kunci utama untuk sebuah hubungan yang baik di antara keduanya. ...
...~Azzelia Qaireen...
...***...
"Kumohon, Pa!" Lirih Frans dengan suara merendah.
Rasa takut itu menjalar dalam diri Frans. Dirinya takut jika istri yang sangat dia cintai meninggalkannya. Dia takut jika Zelia akan pergi darinya setelah tahu siapa dirinya sebenarnya.
Dia bukan orang baik. Frans bukan suami yang patuh dicontoh. Bahkan dirinya sadar bahwa dia bukan ayah yang baik untuk calon anak yang sedang dikandung istrinya.
Banyak hal yang sudah dia lakukan. Putih, abu dan hitam sudah tak dapat diperhitungkan lagi. Semua Frans lakukan demi orang terdekatnya.
Sampai akhirnya, sebuah genggaman tangan membuat Frans menoleh. Dia mampu melihat tatapan mata Zelia yang mengarah padanya. Penuh dengan sebuah arti yang tak bisa dijabarkan dengan baik olehnya.
"Katakan, Pa!" Kata Zelia dengan mantap. "Hal apa yang akan Papa katakan padaku tentang keburukan putramu?"
Jantung Tuan Federick mencelos. Dia menatap kedua bola mata menantunya yang tak memiliki rasa takut.
"Katakan dengan keras siapa sebenarnya putramu kepadaku? Dia adalah suamiku. Ayah dari calon putraku. Kami berhak tau siapa dia!"
"Kamu hamil?" Tanya Tuan Federick dengan terkejut.
Ya pria paruh baya itu memang belum mengetahui tentang kehamilan menantunya. Baik Anthony maupun Frans belum mengatakan apapun.
"Kenapa diam? Kenapa Papa tak melanjutkannya?"
"Ze…" Sahut Tuan Federick dengan suara yang lebih rendah.
"Aku tak tahu apa yang sudah Papa lakukan pada suamiku. Aku tak tahu tentang apa yang terjadi pada Papa dan Suamiku tapi Zelia mohon. Jangan minta apapun yang bisa membuat suamiku dalam bahaya," Kata Zelia penuh permohonan yang membuat semua orang yang disana menjadi tersentuh.
"Dia adalah seorang calon ayah. Zelia tak mau terjadi sesuatu pada calon ayah anak yang tengah Ze kandung!"
Tatapan mata seorang istri yang penuh permintaan besar itu menatap mertuanya. Ya, Zelia tak mau membongkar tentang apa yang sudah dia lihat. Dia tak mau mengatakan itu karena takut jika Frans menjadi berubah kepadanya.
Zelia takut suaminya menjadi berpikiran buruk dan dia memilih untuk menyimpan semuanya sendiri. Memang penuh misteri dan penuh tanda tanya. Namun, setidaknya ada titik terang yang bisa diketahui antara anak dan ayah yang ada di depannya ini.
"Sayang," Panggil Frans yang membuat Zelia mengangkat tangannya.
Dia tak mau mendengar perkataan Frans dulu. Dirinya ingin melihat bagaimana pendapat mertuanya ini.
"Jagalah istrimu, Frans. Papa pulang!" Kata Tuan Federick yang langsung pergi tanpa menatap menantu dan putranya lagi.
Kepergian itu membuat Zelia tersenyum. Setidaknya kehamilan dirinya membuat perseteruan antara ayah dan anak itu berakhir.
Namun, tak lama Zelia meringis. Dia memegang perutnya yang terasa sakit.
"Ada apa, Sayang? Kenapa?" Tanya Frans yang mulai khawatir.
"Perutku sakit," Lirih Zelia dengan jujur yang membuat Frans lekas menggendongnya dan menidurkan di atas sofa.
"Aku akan meminta dokter rumah datang ke sini!"
Kepala Zelia menggeleng. Dia meraih tangan Frans yang hendak berjalan ke arah telepon rumah.
"Aku tak mau dokter," Kata Zelia dengan tatapan mata lekat ke arah wajah Frans.
"Tapi perut kamu… "
"Duduklah disini," Pinta Zelia dengan menarik nafasnya begitu dalam.
Dia berusaha tenang. Dirinya yakin jika perutnya sakit karena dia yang kurang tidur dan juga keributan serta pertentangan tadi membuat kepalanya berpikir banyak hal.
"Boleh aku minta sesuatu?"
"Tentu. Untukmu apapun aku berikan," Kata Frans dengan cepat.
Zelia menoleh ke sekitar. Dia bisa melihat ada Anthony disana yang sejak tadi diam menunduk.
"Jangan pernah menyembunyikan apapun dariku. Kita adalah sepasang suami istri. Keburukan dan kekurangan diantara kita. Bisa kita obati dan terima bersama," Ujar Zelia ambigu tapi mampu membuat jantung Frans berdegup kencang.
"Jangan takut aku pergi ninggalin kamu. Disini," Kata Zelia pelan sambil menarik tangan Frans dan meletakkannya tepat di atas perutnya yang masih rata. "Ada anak kita yang menjadi penguat hubungan kita."
"Aku hanya takut," Jawab Frans menunduk yang membuat Zelia perlahan memilih duduk.
"Tatap aku!" Pinta Zelia sambil menangkup kedua sisi wajah suaminya. "Aku masih disini dan akan terus disini sampai Tuhan yang memisahkan. Aku tak mau keburukanmu di luar sana diketahui olehku dari orang lain. Jika itu terjadi, aku merasa menjadi istri yang gagal untukmu."
...***...
Sedangkan di tempat lain, terlihat seorang pria paruh baya tengah menatap jalanan gelap yang ada di depannya. Tatapan matanya mengandung kesedihan seakan dirinya mengingat sesuatu yang membuat dirinya menjadi sedih.
"Kita pulang, Tuan?" Tanya supir dengan pelan kepada majikannya itu.
"Antar aku ke rumah lama," Ujarnya dengan pelan.
"Baik, Tuan."
Akhirnya kendaraan yang membawa seorang ayah dengan hati penuh penyesalan itu berbelok ke kiri. Sebuah jalan yang mengingatkannya akan sebuah kebahagiaan di masa lalu.
Jalan yang selalu dia rindukan, jalan yang mengingatkannya akan seseorang yang sangat dia cintai begitu dalam.
"Apa kami… "
"Tak perlu. Kembalilah ke rumah utama. Jika Nyonya mencariku, katakan aku tinggal di rumah Frans. Kalian paham?"
"Paham, Tuan!"
"Pergilah!"
Akhirnya tiga buah mobil itu mulai pergi meninggalkannya di pinggir jalan. Lebih tepatnya dia berdiri di depan sebuah rumah dengan halaman yang luas.
Saat dirinya baru saja hendak mendekati pagar rumah itu. Seorang pria paruh baya membukakan pintu dan menundukkan tubuhnya dengan sopan.
"Selamat datang, Tuan Federick," Sapanya dengan ramah.
"Iya, Pak," Sahutnya dengan bibir yang tersenyum tulus. "Rumah aman?"
"Tentu," Sahut penjaga rumah dengan mulai menutup pintu pagar lagi setelah Tuan Federick masuk.
"Apa Anda datang karena rindu dengan Nyonya?" Tanya Penjaga itu yang membuat Tuan Federick mengangguk.
"Kau benar. Aku sangat merindukannya," Ujar Tuan Federick dengan tatapan penuh kesedihan menatap rumah di depannya.
"Rumah Nyonya selalu bersih, Tuan. Nenek Nam selalu membersihkannya," Ujarnya yang membuat Tuan Federick mengangguk.
"Saya masuk dulu. Jika ada siapapun yang mencari atau bertanya. Katakan tak ada siapapun!"
"Baik, Tuan!"
Akhirnya Tuan Federick segera berjalan ke samping rumah. Langkah kakinya begitu cepat. Seakan dirinya memang sudah tak sabar dengan pertemuan ini.
Sebuah pertemuan yang selalu dirindukan. Pertemuan yang selalu menjadi akhir dari kisah yang dia ceritakan tentang kehidupannya.
"Selamat pagi, Istriku Sayang," Sapanya dengan berjongkok dan melepaskan jas yang dia pakai lalu meletakkannya di samping gundukan tanah yang terlihat sangat amat terawat dan indah.
Tatapan mata yang biasanya tajam kini hilang. Hanya terlihat tatapan mata kerinduan dan penuh penyesalan.
"Aku datang lagi sepagi ini untuk mengganggumu," Ujarnya dengan suara lemah dan menunduk.
~Bersambung
Gimana dengan bab ini? masih kesel, greget apa nangis nih?
Bab selanjutnya so pasti bakal ada secuil yang mulai kebongkar oke. Hihi siapin jantung dulu.
Aku juga mau ucapain Selamat Oktober. Bulan baru dan pasti semangat baru. Bismillah bisa rajin update dua bab lagi di bulan ini yah.
kenapa?