NovelToon NovelToon
Sepetak Ruang Gelap

Sepetak Ruang Gelap

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Pembunuhan / Kriminal / Sudah Terbit
Popularitas:576.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Dwi Wahyudi

Dharma adalah seseorang yang rasional dan pemberani. Namun, kali ini dia menghadapi hal-hal di luar akal sehatnya. Peristiwa-peristiwa mengerikan terjadi ketika dia sedang menyiapkan hadiah pernikahan berupa sebuah rumah. Ternyata sejarah kelam yang pernah terjadi di tempat itu berkaitan dengan asal-usul Nirmala, sang calon istri.

Sekelompok orang misterius muncul dan mengancam hidup mereka demi menguasai harta peninggalan zaman penjajahan. Di saat yang bersamaan, kehadiran narasumber novel "Pengakuan Pembunuh" karya Nirmala memaksa Dharma untuk menghadapi dosa masa lalu keluarganya.

Inilah sajian novel thriller dengan racikan horor, sejarah, romantisme, dan misteri yang unik.


~Dwi Wahyudi~
FB/Instagram: dewey.whjudy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Klender 1944 Tragedy

"Dharma ... Dharma ... Dharma. Akhirnya kau kembali juga kepadaku."

"Apa maksudmu, Tante?" desak Dharma yang kini hanya mengenakan celana kolor.

Plakkk!

"Mulai sekarang jangan panggil aku tante! Panggil aku Ruri, sayang ...."

"Kamu gila, Tante! Lepaskan aku!" Mencoba berontak melepaskan ikatan di tangan dan kakinya.

Plakk!

"Kau panggil aku apa? Hah?" bentak Sunyaruri yang sedang duduk di sebelah kanan Dharma.

"Tante! Apa yang mau kamu lakukan?"

Crat!

Tiba-tiba Ruri mengeluarkan sebuah pisau cukur dan menyayat Dharma.

"Arrgghhh! Kamu gila!" raung Dharma merasakan pedih di dadanya.

"Sekarang ... kau panggil aku apa?" Mendekatkan telinganya ke mulut Dharma.

"Ru ... Ruri. Ada apa ini sebenarnya?"

"Hahaha, lihatlah dirimu Dharma! Dulu aku tidak mendidikmu seperti itu! Kau sekarang begitu lemah. Terluka sedikit saja sudah mengeluh dan menyerah!"

"Aku tak mengerti! Apa mau kamu?

"Aku mau menagih janji ...."

"Janji apa? Aku tak pernah berjanji sesuatu padamu!"

"Janji kakekmu yang belum terpenuhi."

"Kakek?" Masih meringis menahan luka sayatan di dadanya.

"Hmm ... Orangtua dari bapak dan pamanmu.

"Aku bahkan tidak ingat siapa nama kakek!"

Ruri beranjak dari duduknya. Menatap dirinya sendiri di sebuah cermin. Dengan perlahan ia mengelus wajah lalu tangannya sendiri, seakan begitu memuja kecantikannya sendiri. Dharma mencuri pandang gerak-gerik Ruri, ternyata tak jauh dari cermin itu pakaian dan HP Dharma berada, sedangkan tasnya mungkin masih di kamar. Seandainya saja dia bisa meraih HP itu untuk meminta bantuan.

"Hentikan aktingmu, Dharma!"

"Gila kamu! Akting apa?"

"Hahaha ... jangan bohong! Aku tahu pasti kau sudah melihat fotoku bersama Unit 731, kan?" Berbalik dari depan cermin dan mendekati Dharma kembali.

"Ja--jadi benar itu fotomu? Tidak mungkin! Kamu pasti mengada-ada!" Dharma bergidik mengingat cerita Obi yang ternyata benar tentang Tante Ruri.

"Hampir saja aku kecolongan. Seandainya aku terlewat berita penemuan buku catatan bersejarah itu pasti aku tak akan menyangka maksud kedatanganmu ke sini."

"Jadi hanya karena itu kamu mau membunuhku? Lepaskan aku! Aku janji tidak akan memberitahu siapapun!" rengek Dharma mengiba.

Pikiran Dharma tak karuan membayangkan kengerian yang akan dihadapi. Bola matanya bergerak tak tentu arah, seirama detak jantung yang cepat. Takut. Terlebih lagi tuduhan Obi bahwa Tante Ruri adalah tokoh di balik pembunuhan berantai di mana korbannya selalu ditemukan dalam keadaan termutilasi. Dia tak ingin berpisah dengan Nirmala dan bayinya.

"Pengecut sekali kau ini?" Kali ini bukan senyum simpul, Ruri menyeringai menakutkan.

"Aku tak peduli. Aku masih ingin hidup ... persetan urusanmu dengan kakek! Aku janji takkan menceritakan rahasiamu pada siapa pun!" pekik Dharma terengah-engah.

"Kau sungguh mengecewakanku Dharma! Kau sama sekali tak mewarisi kecerdasan dan keberanian kakekmu!" Tiba-tiba Ruri kesal.

"Aku adalah aku! Bukan kakekku!"

"Siapa bilang aku akan membunuhmu?"

"Lalu?" Dharma mulai berani berharap akan keselamatannya.

"Apa kau benar-benar ingin tahu?"

Mendengar pertanyaan itu Dharma terdiam seribu bahasa. Sebuah rasa penasaran muncul tentang janji apa yang dibuat oleh kakek. Selain itu juga tentang paman yang menikahi Tante Ruri, misteri apa yang ada selama ini.

"Aku ceritakan sebuah ironi." Ruri memulai kisahnya. "Nama kakekmu adalah Tjipto, dia seorang dokter sekaligus ilmuwan. Dia sangat mengidolakan sosok Achmad Mochtar sejak era pendudukan Belanda. Keinginan kakekmu untuk melebihi sosok idolanya itu telah membuatnya menjadi ilmuwan gila. Kakekmu itu sudah membunuh lebih dari 400 orang."

"Aku tidak percaya kakekku seorang pembunuh. Siapa Achmad Moctar itu? Mengapa Kakek Tjipto mengidolakannya?"

"Achmad Mochtar adalah lulusan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), dia dokter berprestasi dari kalangan pribumi. Lembaga Penelitian Eijkman, mengangkatnya sebagai direktur pimpinan fasilitas penelitian biomedis dan bakteriologi terbaik Hindia-Belanda. Sebelum kedatangan Jepang, Laboratorium Eijkman mencapai masa kejayaannya dan terkenal di dunia."

"Lalu apa maksudmu dengan ironi?"

"Klender 1944, ada sekitar 900 pekerja romusha penyakitan di kamp itu. Jepang memberi perintah kepada para staf dan dokter dari Lembaga Penelitian Eijkman untuk menyuntikkan beberapa jenis vaksin imunisasi, termasuk vaksin pes dan vaksin TCD (tifus, kolera, disentri) kepada sebagian romusha. Namun, hasilnya justru hampir 400 dari tenaga romusha itu mati setelah menunjukkan gejala tetanus.

"Mochtar dan kawan-kawannya dijadikan kambing hitam peristiwa itu. Kempetai menuduh Mochtar, para dokter, dan stafnya sengaja mengganti vaksin dengan kuman tetanus supaya para romusa mati. Mereka disiksa di kompleks sekolah hukum tinggi yang kini menjadi kompleks Kementerian Pertahanan.

"Demi melindungi belasan koleganya maka Mochtar sebagai direktur mengakui bahwa peristiwa tersebut adalah kesalahannya. Pada akhirnya yang lain dibebaskan, sedangkan dia dipenggal, kemudian tubuhnya dihancurkan dengan mesin giling stoomwals."

"Aku tidak mengerti, apa hubungan peristiwa itu dengan Kakek Tjip?"

"Kenyataannya, vaksin-vaksin yang disuntikkan dan membunuh para romusha itu bukanlah buatan Lembaga Eijkman melainkan buatan Lembaga Pasteur di Bandung, kakekmu yang membuatnya. Kakekmu sendiri yang menyebabkan Mochtar idolanya itu mati mengenaskan!"

"Mustahil! Tidak mungkin! Mengapa Kakek Tjip membuat vaksin yang justru membunuh ratusan orang itu?"

"Hahaha ... kau tertarik ingin tahu?"

"Pasti kau bohong, kan?"

"Kakekmu menjadi bagian dari unit 731 setelah direkrut oleh Shigeru, kepala bagian penelitian Institut Pasteur di Jawa Barat. Tjipto Hadikusumo, kejeniusannya tak akan pernah dipublikasi. Dia telah berhasil membuat vaksin untuk pes dan kolera yang menjadi pandemi kala itu.

"Salah satu tugas Unit 731 adalah membuat senjata biologi dan kuman selama masa perang. Mereka bereksperimen dengan kuman, bakteri, virus, dan penyakit berbahaya lain untuk mencari kemungkinan senjata perang mematikan. Wabah penyakit biasanya dijatuhkan bersamaan dengan bom, atau dengan sengaja mencemari sumber air bersih. Pernah terbukti hasilnya penyakit kolera dan anthrax telah membunuh kurang lebih 400.000 warga di China.

"Jepang tak memiliki jumlah tentara yang cukup untuk perang dunia II. Sudah banyak tentara yang terluka dalam perang kemudian meninggal karena tetanus. Shigeru dan ilmuwan Jepang lainnya mendapat tugas melakukan ujicoba vaksin anti-tetanus. Kebutuhan perang yang mendesak, ditambah waktu penelitian yang singkat, membuat ujicoba vaksin terhadap manusia harus cepat dilakukan. Para romusha menjadi pilihan yang paling logis."

"Aku tahu itu. Aku sudah melihat foto-fotonya!"

"Namun, apa yang kamu lihat bukanlah kengerian sebenarnya! Aku ada di sana, bodoh! Aku hidup di masa itu! Kau pikir hanya dengan melihat foto kau sudah tahu semuanya? Hah?" bentak Ruri hingga urat-urat hijau di lehernya terlihat membengkak.

"Apa hubunganmu dengan Kakek Tjip?" desak Dharma ingin segera mengungkap semuanya.

Respon Tante Ruri sungguh di luar dugaan Dharma. Tiba-tiba Ruri mengangkat rok dan perlahan menarik turun celana dalamnya. Gerakannya yang gemulai seolah ingin menggoda Dharma. Lalu dengan celana dalamnya itu Ruri mengusap seluruh keringat di wajah Dharma. Kontan saja dia berontak dengan menggeleng-gelengkan kepala dan menghindar.

"Brengsek! Pergi dariku ... pergi!!!" sentak Dharma menggema di ruang bawah tanah itu.

"Hahaha ...!" Ruri terkekeh. "Roti isi selai, begitu dulu mereka memanggilku!"

"Kamu gila!"

(Bersambung)

1
Aryani M.S
mudah2n aku bisa jadi penulis horor kek kamu thor
Erni SS
Makin seru bikin penasaran
Erni SS
Luar biasa
Erni SS
Lumayan
Niswah
ngeri and seruuuuu
Niswah
Luar biasa
Sinta Dwi lestari
g
Anik New
sumpah serem fotonyas
Anik New
ikut ngoss ngosan aku🤭🤭
IG: _anipri
inikah racauannya?
IG: _anipri
kalau aku takutnya kalau ada katak? hii, takut katak aku. apalagi rumahnya banyak lumut dan masih lembap
FJ
update lagi dong Kak sampai Tamat
deyura
Aku berhari hari maraton dan belum sempet like, huhu. Sukaa! plot twist banget ceritanya. Semangat Thor!
Liani Purnapasary
astaga kagett aq, ga berani lihat tutup mata 😅😅
💎hart👑
👣👣👣
Aqilla
ninggal jejak
tamatin yg versi darma dulu dong
pengejaran darma ga dilanjutkan ini?yahhh padahal lagj seru2 nya..kenapa bab selnjutnya mlh ganti yg versi nirmala
cerita negri sendiri pun jika dikemas dengan baik serta pas akan menjadi menarik..seandainya di filmkan pasti sangat meren karena berbagai genre di sematkan romantis,action,mistis,horor,misteri,petualangan.walaupun nonfiksi(tetapi masih bs ditelaah secra logis dan realistis?tetapi bnyak sekali pembelajarannya.
karya seperti inilah yg disebut karya berkualitas.wajib di apresiasi..
very good and so interesting.
thank you to the writer.
adik damar balas dendam itu.apa mungkin inspektur reyhan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!