Untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada orang tua angkatnya, Arabella bersedia menyamar dan menikah dengan Fardhan, lelaki yang sebenarnya dijodohkan dengan kakak angkatnya.
Fardhan adalah lelaki berhati dingin yang terluka karena cinta sebelumnya. Meskipun dia tahu keluarga angkat Bella telah menipunya, tapi dia tetap menikahi gadis itu.
Tapi cinta masa lalu Fardhan hadir kembali, merusak apa yang sudah terjalin dan membuat dia dilema. Sementara Bella merasa bersalah karena sudah membohongi Fardhan dan Ibunya.
Akankah Fardhan dan Bella mampu mempertahankan rumah tangga mereka setelah semua rahasia terbongkar?
Atau justru berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZiOzil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Setelah selesai memasak, Bella pun makan malam bersama Fardhan dan Ranti, tapi tiba-tiba seorang tamu tak diundang mengetuk pintu.
"Permisi."
"Siapa ya?" tanya Ranti dan hendak beranjak, tapi Bella menahannya.
"Biar aku saja, Bu."
Ranti mengurungkan niatnya dan kembali duduk, Bella bangkit dan bergegas membukakan pintu.
"Mas Raka?" seru Bella saat melihat Raka sudah berdiri di depan pintu sambil membawa bungkusan.
"Hai, Bel ... eh, Karin."
"Mas kenapa datang malam-malam begini?" tanya Bella heran.
"Mau bertemu denganmu, habis kangen." seloroh Raka sambil mencubit gemas hidung Bella.
"Iih, Mas Raka ...." Bella mengusap hidungnya yang memerah.
"Siapa, Karin?" Ranti berteriak dari ruang makan.
"Temanku, Bu." sahut Bella.
"Kalau begitu suruh kesini, biar ikut makan." pinta Ranti.
"Wah, kebetulan sekali. Aku belum makan malam." ujar Raka dan langsung menyelonong masuk.
Bella mengembuskan napas, merasa tidak enak karena kedatangan Raka, tapi lelaki itu sudah terlanjur masuk. Keduanya pun berjalan beriringan menuju meja makan.
"Selamat malam." sapa Raka.
Ranti dan Fardhan terkejut melihat Raka, mereka tak menyangka jika yang datang adalah teman Bella yang ini. Tapi tiba-tiba Ranti mempunyai ide bagus.
"Selamat malam. Silahkan duduk, jangan sungkan." balas Ranti ramah. Sementara wajah Fardhan yang datar berubah masam, dia tak membalas sapaan Raka.
"Terima kasih, Tante. Maaf mengganggu makan malamnya. Tadi kebetulan lewat sini, dan teringat Karin." Raka duduk di depan Bella sambil mengerlingkan mata. Sementara Fardhan hanya mengeraskan rahangnya.
"Ah, nggak apa-apa."
"Oh iya, ini saya bawakan martabak manis." Raka mengangsurkan bungkusan yang dia bawa kepada Ranti.
"Wah, terima kasih, ya, Nak .... siapa namanya?"
"Raka, Bu." jawab Raka.
"Oh, Nak Raka. Terima kasih, ya."
Raka mengangguk sambil tersenyum. "Sama-sama, Bu."
"Kalau begitu, mari makan!" Ranti mempersilahkan. "Karin tolong ambilkan nasi dan lauk untuk Nak Raka." pinta Ranti sambil melirik Fardhan yang sedari tadi diam dengan wajah masam.
"Iya, Bu." Bella beranjak dan melakukan apa yang Ranti perintah.
"Silahkan, Mas."
Raka tersenyum memandang Bella. "Terima kasih."
Fardhan merasa tidak suka melihat interaksi Bella dan Raka, tapi dia berusaha menguasai dirinya agar tetap tenang.
"Hmmmm, enak sekali. Ini pasti Karin yang memasaknya?" tebak Raka dengan mulut yang penuh.
"Wah, kamu tahu saja. Sepertinya kamu hapal masakan Karin, ya?" ledek Ranti sambil melirik Fardhan yang makan dalam diam.
"Tentu dong, Tante. Kami sudah berteman dari kecil dan sangat dekat, Karin sering memasak untukku saat kami masih tinggal berdekatan, bahkan Karin pernah buatin aku bubur kalau aku lagi sakit, mana disuapin lagi." ungkap Raka dengan girang.
"Benarkah?"
"Iya, Tante. Karin itu orangnya baik dan perhatian, dia juga rajin dan sangat penurut. Siapapun yang dekat dengannya, pasti akan menyukainya, karena dia begitu menyenangkan." puji Raka sambil memandang Bella dengan tatapan yang tak terbaca.
"Ternyata kau benar-benar tahu banyak tentang Karin."
Raka hanya nyengir dengan perasaan bangga, karena mengetahui banyak hal tentang Bella.
"Kalau begitu kau juga pasti tahukan jika dia berbohong?" sela Fardhan tanpa tedeng aling-aling, membuat semua orang tercengang dengan pertanyaannya itu.
Bella dan Raka tergagap sembari berulang kali menelan ludah, suasana mendadak tegang karena Fardhan yang sedari tadi diam tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang menohok itu.
"Apa maksudmu, Nak?" tanya Ranti sambil mengernyit heran.
"Bukankah dia sangat mengetahui tentang istriku, pasti dia juga tahu jika istriku ini berbohong, bukan begitu?" jawab Fardhan dengan tatapan mata menghujam ke Raka.
Bella terkesiap mendengar kata 'istriku' yang Fardhan ucapkan. Tapi dia mendadak gelisah dan tegang, takut Raka kelepasan dan akhirnya membeberkan rahasia nya.
"Ka-Karin ...." Raka gugup.
Fardhan tersenyum sinis. "Kenapa kau gugup? Aku kan hanya bertanya, mungkin saja kau tahu. Sebab aku belum terlalu mengenalnya."
"Karin nggak pernah berbohong." sahut Raka mantap, membuat Bella sontak menatapnya.
"Oh, baguslah. Karena aku sangat membenci seorang pembohong dan pengkhianat." imbuh Fardhan sambil melirik Bella yang terdiam sambil terus menatap Raka.
"Dhan, setiap manusia di dunia ini pasti pernah berbohong dan mereka pasti punya alasan untuk itu. Mungkin saja berbohong demi kebaikan." ujar Ranti.
"Apapun alasannya, kejujuran itu lebih baik." ucap Fardhan dan segera beranjak pergi.
Bella dan Raka saling pandang seraya mengembuskan napas lega.
"Anak itu kenapa lagi sih?" Ranti bingung melihat sikap Fardhan. "Ya sudah, lanjut lagi makannya. Maaf, ya."
"Iya, Tante. Nggak apa-apa kok."
Setelah selesai makan, Bella mengantarkan Raka sampai ke teras setelah berpamitan dengan Ranti. Sementara Fardhan sejak beranjak dari meja makan, dia hanya berdiam diri di kamar.
"Aku rasa dia mengetahui sandiwara mu." ucap Raka.
Bella terkesiap mendengar ucapan Raka, jantungnya mendadak berdebar kencang. "Aku juga sempat berpikir begitu. Tapi aku masih ragu, kalau dia mengetahui sandiwara ku ini, kenapa dia nggak melabrak ku atau langsung bertanya kebenarannya?"
"Mungkin dia masih mengumpulkan bukti untuk membongkar semuanya atau bisa jadi dia sedang menunggumu yang mengaku sendiri."
Bella semakin cemas. "Lalu sekarang bagaimana? Aku jadi takut, Mas."
"Tenanglah, jangan takut! Semua pasti baik-baik saja. Mungkin kau bisa pertimbangkan untuk jujur kepadanya bahwa kau bukan Karina. Seperti yang dia katakan tadi, kejujuran itu lebih baik."
"Tapi bagaimana kalau dia marah dan membunuhku?"
"Aku rasa dia nggak segila itu. Tapi kalau terjadi sesuatu, segera hubungi aku, karena aku akan selalu ada untukmu, kau bisa mengandalkan ku." ujar Raka sambil menatap lekat wajah Bella dalam jarak yang cukup dekat.
"Terima kasih, Mas. Selama ini Mas sudah sangat baik padaku."
"Aku menyayangimu, aku nggak akan membiarkan kau hidup susah. Karena aku sudah bersumpah akan menjagamu seumur hidupku." imbuh Raka masih dengan menatap manik hitam Bella.
Bella tersenyum. "Aku bersyukur karena Tuhan sudah mengirimkan Mas Raka untukku. Aku juga menyayangimu dan sudah menganggap Mas sebagai kakakku sendiri."
Jantung Raka seolah melewatkan satu detak kan, mendadak hatinya terasa seperti ditusuk-tusuk.
Kakak sendiri, hanya seorang kakak.
Raka mengembuskan napas. "Baiklah, aku pulang dulu. Nanti aku telepon kalau sudah sampai rumah."
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan."
"Selamat malam."
"Selamat malam, Mas."
Raka meninggalkan kediaman Ranti dengan perasaan berantakan, entah mengapa kata-kata Bella tadi begitu menusuk relung hatinya?
Setelah mobil Raka menghilang di kegelapan malam, Bella pun segera masuk ke dalam rumah, tapi langkahnya terhenti saat di ambang pintu Fardhan berdiri dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kau ...?"
***
Yuk mampir juga ke karyaku di bawah ini, dijamin seru dan baper deh.
jadi begini misalnya suami author punya teman cewek yang perhatian pada suami author (kayak perhatian raka dan bella) dan suami author dengan senang hati menerima segala kebaikan cewek itu, dan suami author berinteraksi dengan cewek itu kayak intraksi raka dan bella
bagaimana perasaan author
coba tanyakan pada dirimu thor
*jika kau Terima suamimu berteman dan berinteraksi dengan cewek lain (kayak interaksi raka dan bella) maka pola pikir mu tidak ada masalah
*tapi jika kau tidak suka suamimu berteman dan berinteraksi dengan cewek lain ( kayak interaksi raka dan bella), maka pola pikir mu ada masalh thor
renungkan lah
saat di novelmu, kau membenarkan seorang istri berteman dan diperhatikan pria lain dan semua interkasi sang istri dengan pria lain kau benarkan maka tanya kan pada dirimu sendiri apakah kau Terima juga jika suamimu punya teman cewek dan diperhatikan oleh cewek lain
renungkan lah