NovelToon NovelToon
Pembalasan Istri Yang Terbuang

Pembalasan Istri Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Alana tidak menyangka pernikahannya dengan Rendi harus berahir di tengah derasnya air sungai,Rendi dan Lisa selingkuhannya,dengan teganya membuang Alana kesungai untuk menghabisinya dan menguasai harta peninggalan orang tua Alana .Untung saja ada Arka yang menolongnya,dengan di bantu Arka,Alana kembali bangkit membalas penghianatan Suaminya dan mengambil hartanya yang sudah dirampas Rendi dan Lisa
Bagaimana selanjutnya kehidupan Alana Dan Arka ??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tragedi yang mengguncang Alana

Setelah pernikahan megah di Hotel Grand Luxoria, Alana dan Rendi memulai babak baru kehidupan mereka di sebuah penthouse mewah di kawasan Sudirman, Jakarta. Penthouse itu adalah hadiah dari keluarga Adiguna,ruangan luas dengan pemandangan kota yang menakjubkan, kolam renang pribadi di rooftop, dan interior yang didesain oleh arsitek ternama. Setiap pagi, Alana terbangun dengan senyum karena pelukan hangat Rendi.

“Selamat pagi, ratu hatiku,” bisik Rendi sambil mencium kening Alana. Suaranya lembut, penuh kasih sayang. “Hari ini aku ingin kamu istirahat saja. Biar aku yang urus semuanya.”

Alana tertawa kecil, masih setengah mengantuk. “Aku kan biasa mengurus perusahaan Ayah. Ada meeting besok pagi.”

Rendi menarik Alana ke dalam pelukannya lebih erat. Ia menatap mata istrinya dengan tatapan yang membuat hati Alana meleleh. “Sayang, kamu baru saja menikah. Tubuh dan pikiranmu masih perlu istirahat. Perusahaan Adiguna sudah lama kamu pegang, tapi sekarang ada aku. Biarkan aku yang bantu meringankan bebanmu. Kamu cukup menjadi istri yang bahagia, yang cantik, yang aku cintai setiap hari.”

Kata-kata itu selalu manis. Alana akhirnya mengalah. Hari demi hari, ia semakin jarang datang ke kantor pusat Adiguna Group. Rendi yang kini resmi menjadi bagian dari keluarga, mulai aktif mengunjungi kantor. Dengan sikap rendah hati tapi percaya diri, ia belajar cepat tentang bisnis keluarga properti, pertambangan, dan investasi ritel yang menjadi andalan Adiguna.

“Alana, kamu lihat kan? Suamimu ini pintar sekali,” kata Ibu Adiguna suatu sore saat mereka makan malam bersama di rumah utama keluarga di Menteng. “Dia cepat paham. Ayahmu juga senang.”

Bapak Adiguna mengangguk pelan. Kesehatannya memang semakin menurun, tapi melihat Rendi yang sigap mengurus dokumen-dokumen penting membuatnya lega. “Rendi, mulai bulan depan, alihkan saja sebagian tanggung jawab Alana kepadamu. Dia istri yang masih baru , biarkan dia menikmati hidup dulu.”

Alana sempat protes pelan, tapi Rendi langsung memeluk pinggangnya di depan orang tua. “Iya, Pa. Saya akan jaga semuanya. Alana cukup menjadi nyonya rumah yang bahagia. Saya tidak mau dia capek-capek. Cinta saya untuk dia bukan cuma kata-kata, tapi juga tindakan.”

Malam harinya, di penthouse, Rendi memijat bahu Alana dengan lembut sambil berbisik, “Kamu tahu kan, sayang? Aku melakukan ini karena aku mencintaimu. Aku tidak mau kamu stres dengan rapat-rapat panjang dan angka-angka yang membuat kepalamu pusing. Biar aku yang jadi perisai kamu. Kamu cukup belanja, traveling, atau apa saja yang kamu suka. Aku akan pulang setiap malam membawa cerita dan pelukan untukmu.”

Alana tersentuh. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Rendi selalu pulang membawa bunga, cokelat impor, atau perhiasan kecil. Mereka sering makan malam romantis di balkon, menonton film sambil berpelukan, dan menghabiskan akhir pekan di resor mewah di Bali atau Maldives. Hidup terasa seperti dongeng. Alana semakin jarang ke kantor, dan lambat laun, semua wewenang operasional perusahaan Adiguna beralih ke tangan Rendi.

Dalam rapat direksi, Rendi berbicara dengan nada tenang tapi tegas. “Atas permintaan Alana dan restu Bapak Adiguna, mulai hari ini saya yang akan menangani divisi properti dan ekspansi. Alana ingin fokus pada keluarga kami ke depannya.” Para direktur mengangguk setuju. Siapa yang berani menentang menantu kesayangan pemilik?

Enam bulan berlalu dalam kebahagiaan. Rendi semakin protektif. Ia melarang Alana ke kantor sama sekali. “Aku sudah urus semuanya.”

Namun, di balik kata-kata manis itu, Rendi bekerja cepat. Ia merekrut orang-orang kepercayaannya ke posisi strategis, mengubah beberapa kebijakan, dan mulai mengalihkan aset-aset kecil ke perusahaan baru yang ia dirikan secara diam-diam. Semua dilakukan dengan dokumen legal yang rapi, atas nama “pengembangan bisnis keluarga”.

Suatu malam, ketika Alana sedang tidur lelap Rendi berdiri di balkon penthouse sambil merokok. Ia menatap lampu-lampu Jakarta dengan senyum tipis. “Semua ini hampir milikku sepenuhnya,” gumamnya pelan.

###Tragedi yang Datang Tiba-tiba

Pada suatu pagi yang hujan deras, telepon berdering keras. Alana yang sedang sarapan langsung mengangkat. Suara di seberang gemetar. “Bu Alana … Bapak dan Ibu … kecelakaan di tol … mobil mereka bertabrakan dengan truk …”

Dunia Alana hancur seketika. Orang tuanya meninggal dunia dalam kecelakaan maut di Tol Jakarta-Cikampek. Bapak Adiguna yang sedang sakit-sakitan itu memaksa mengemudi sendiri bersama istrinya untuk menghadiri acara amal di Bandung. Berita itu menyebar cepat. Media memberitakan secara besar-besaran: “Putri Tunggal Adiguna Group Menjadi Pewaris Tunggal Setelah Orang Tuanya Meninggal”.

Alana terpuruk. Ia menangis berhari-hari tanpa henti. Tubuhnya semakin lemah. Ia tidak mau makan, tidak mau bicara, hanya terbaring di kamar sambil memeluk foto orang tuanya. “Kenapa, Mas … Kenapa mereka pergi secepat ini?” isaknya setiap malam.

Rendi selalu ada di sisinya. Ia memeluk Alana erat, mengusap rambutnya, dan berbisik kata-kata penghiburan yang paling manis. “Aku di sini, sayang. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."

Upacara pemakaman digelar megah di pemakaman keluarga. Ribuan orang datang. Rendi yang mengatur semuanya dari prosesi hingga ucapan belasungkawa. Ia tampak tegar di depan umum, menopang tubuh Alana yang lemah.

Dua minggu setelah pemakaman, Alana masih terpuruk. Ia duduk di sofa ruang keluarga dengan wajah pucat, mata bengkak. Rendi duduk di sampingnya, memegang tangannya lembut.

“Sayang, dengarkan aku,” kata Rendi dengan suara pelan penuh kasih. “Kamu Jangan membebani dirimu dengan urusan perusahaan. Biar aku yang mengurus semuanya. Adiguna Group adalah warisan orang tuamu, dan sekarang menjadi tanggung jawab kita berdua. Tapi kamu harus istirahat. Aku tidak mau kamu sakit."

Alana menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. “Tapi Mas … itu perusahaan Ayah. Aku yang biasa mengurus…”

“Shh…” Rendi mencium punggung tangan Alana. “Aku tahu. Tapi sekarang aku suamimu. Aku sudah belajar banyak selama ini. Aku akan jaga warisan ini dengan baik, demi kamu, demi keluarga kita, demi kenangan orang tuamu. Kamu cukup fokus sembuh dan istirahat saja ."

Kata-kata itu lagi-lagi berhasil. Dalam keadaan rapuh, Alana menyerahkan segalanya. Ia menandatangani surat-surat kuasa yang disiapkan pengacara keluarga. Rendi secara resmi menjadi direktur utama Adiguna Group, mengendalikan seluruh operasi perusahaan yang bernilai triliunan rupiah.

Hari-hari berikutnya, Rendi semakin sibuk. Ia pulang larut malam tapi selalu membawa hadiah kecil untuk Alana sup ayam kesukaannya, atau buah impor. “Lihat, sayang. Aku masih ingat kesukaanmu,” katanya sambil tersenyum.

Alana tersenyum lemah, merasa bersyukur memiliki suami sebaik Rendi. Ia tidak tahu bahwa di balik pintu ruang kerja suaminya, Rendi sedang menandatangani kontrak-kontrak baru yang perlahan memindahkan kepemilikan saham dan aset ke entitas yang lebih mudah dikendalikan. Ia juga tidak tahu bahwa tatapan “cinta” Rendi di depan cermin kamar tidur semakin sering berubah menjadi tatapan kemenangan dingin.

Semenjak itu Alana jarang keluar rumah, hidup dalam gelembung kesedihan yang dibungkus kata-kata manis suaminya. Sementara itu, Rendi Pratama kini berdiri di puncak imperium Adiguna sebuah kerajaan yang ia taklukkan bukan dengan pedang, melainkan dengan senyum dan bisikan cinta yang sempurna.

Di malam yang hening, ketika Alana tertidur karena obat penenang, Rendi berdiri di balkon sekali lagi. Angin malam menyapu wajahnya. Ia mengangkat gelas wine pelan.

“Terima kasih, Ayah dan Ibu mertua,” gumamnya pelan dengan senyum tipis. “Dan terima kasih, Alana sayang… untuk segalanya.”

1
sunaryati jarum
Emak ingin tahu hasilnya
MayAyunda: ditunggu 😁
total 1 replies
sunaryati jarum
Sudah dah dig dug Rendy.Kau sebenarnya belum pandai berbisnis dan memimpin perusahaan,tapi sifat tamakmu membawamu sampai tahap ini Kamu belum menikmati harta yang kau rampas, sudah masuk penjara.
MayAyunda: He he
total 1 replies
MayAyunda
siap kak ,ditunggu kak 😍🙏
sunaryati jarum
Ayo lekas beraksi ,Elena
MayAyunda: ok siap beraksi kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Kutunggu langkah pembalasan kamu,Elena
MayAyunda
terimkasih kak
sunaryati jarum
Nah jangan nangis bangkit dan atur strategi untuk membalas mereka serta merebut kembali semua harta milikmu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!