NovelToon NovelToon
Pergi Sakit Bertahan Sulit

Pergi Sakit Bertahan Sulit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?

Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.

"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya

Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 03

Matahari mulai meninggi, namun suasana di depan Warung Seblak Pelangi terasa aneh dan sunyi. Papan namanya memang besar dan mencolok, tapi gerbangnya masih setengah tertutup. Beberapa pegawai baru saja sibuk membereskan meja dan kursi, jelas sekali tempat itu baru mau buka.

"Anjir... kok sepi banget sih?" gumam Tamara sambil melihat sekeliling yang nampak sedang menata peralatan seblak beserta toping topingnya.

Ruby mengerutkan kening, "Mungkin Jonathan yang salah info jamnya, atau emang kita yang ke cepetan kali datangnya."

Aletta duduk di sebuah bangku panjang yang agak jauh. Hatinya berdebar campur aduk antara cemas dan takut. Dia melihat sekeliling, mencari sosok yang dia kenal dari foto profil namun tak ada satu pun orang yang mirip dengannya, yang terlihat hanya pekerja yang sedang bersih-bersih.

"Gimana nih Al? Kita tungguin atau gimana?" tanya Tamara karena dia bingung, masalahnya warungnya belum redy bahkan salah satu pegawainya seperti baru beres pulang dari pasar.

Aletta hanya mengangguk pelan, "Tungguin aja deh... siapa tau dia lagi di jalan." Ucapnya sambil memberikan kabar kalau dia sudah sampai ke lokasi.

Padahal di dalam hati, dia berharap Jonathan tidak datang. Dia berharap semua ini mimpi buruk dan dia bisa kembali ke pelukan Dilan. Entah kenapa dia merasa ragu dan tidak ingin semuanya terjadi, Tapi dia sadar, dia yang memilih jalan ini.

Tidak jauh dari situ, di balik pohon besar dan tembok pembatas jalan, berdiri seorang pemuda dengan jaket hitam. Itu Jonathan.

Dia sudah datang sejak sepuluh menit yang lalu. Matanya tajam mengamati sosok gadis yang duduk sendirian di sana. Itu Aletta. Cantik, bahkan jauh lebih cantik dari foto.

Tapi Jonathan tidak bergerak maju. Dia tidak menyapa, karena kaget ternyata Aletta tidak sendiri melainkan bersama teman-temannya dan itu tidak ada dalam rencananya.

Jonathan melihat Aletta yang duduk dengan gelisah dan sedih, terlihat bagaimana dia sedang mencari cari sosok dirinya yang tak kunjung datang.

Jonathan melihat cara Aletta sering melirik jam, melihat cara dia menghela napas panjang. Jujur dia merasa kasihan karena telah memberikan harapan palsu.

Tapi mau bagaimana lagi dia belum siap bertemu dengan Aletta karena dia baru tau ternyata Aletta dan dia berbeda kasta dia takut Aletta akan meninggalkannya setelah tau dia hanya orang biasa

"Gue rasa... gue gak perlu muncul," bisik Jonathan pelan pada dirinya sendiri. "Loh terlalu sempurna untuk gue yang orang biasa saja, dan gue terlalu pengecut untuk orang kaya seperti loh."

Dengan hati yang sedikit kecewa tapi bijaksana, Jonathan membalikkan badan dan pergi perlahan, membiarkan Aletta menunggu di sana tanpa pernah tahu bahwa orang yang ditunggunya sebenarnya sudah datang dan pergi.

Waktu terus berjalan. Matahari semakin terik. Aletta mencoba mengecek ponselnya untuk melihat pesan dari Jonathan, tapi layar ponselnya gelap gulita. Baterai habis total. Mati.

"Kenapa sih Handphone gue harus mati di saat penting gini!" gerutu Aletta kesal "mana Jonathan belum datang lagi, kalau kaya gini ceritanya susah buat cari tau orangnya"

"Yah terus gimana dong Al, mana udah jauh jauh lagi kita ke sini" Ucap Tamara sama sama mengeluh kepada Aletta.

"Udah mending kita pesen duluan aja sambil nunggu orangnya datang mungkin di jalan macet kali, ini kan jam jam nya pulang sekolah sama kerja" Ucap Ruby memberikan saran agar Aletta tidak terlalu tegang.

"Boleh juga tuh lagian gue juga udah mulai laper nih" Ucapnya bersiap beranjak dari tempat duduknya dan hendak mengambil wadah untuk mengambil toping seblak.

"Kalian duluan aja gue belum laper" Ucapnya masih mencari cari orang yang datang untuk membeli seblak dan mengecek siapa tau dia datang.

"Yakin nih" Ucap Tamara memastikan "atau mau gue pesenin aja" Ucapnya memberikan saran.

"Udah gak papa kok kalian duluan aja pesen nya nanti gue sama Jonathan aja" Ucapnya tersenyum kepada kedua sahabatnya karena tidak mau membuatnya merasa khawatir.

"Kalau gitu kita pesen dulu yah" Pamit Ruby sambil menggandeng Tamara merasa sedang memiliki per toping ngan seblak.

Untuk pertama kalinya Aletta tidak tertarik dengan seblak dan malam menunggu orang asing yang entah sampai kapan dia sampai.

Pikiran negatif mulai menghantuinya. Dia merasa diabaikan, merasa bodoh sudah datang jauh-jauh tapi tidak ada siapa-siapa. Di kepalanya, bayangan Dilan terus muncul.

"Andai Dilan di sini, pasti dia gak bakal biarin gue nunggu kepanasan begini."

"Andai Dilan di sini, pasti dia udah beliin gue minum dan Ngelus-ngelus kepala gue".

Dia terus membandingkan. Jonathan yang tak kunjung muncul versi Dilan yang selalu ada. Semakin dia memikirkan Dilan, semakin dadanya terasa sesak dan sakit. Rasa bersalah itu menggerogoti tubuhnya.

Perlahan, kepalanya terasa berat berputar. Badannya terasa panas tapi keringat dingin keluar deras. Pandangannya mulai kabur.

"Al... loh pucat banget," Ruby panik memegang bahu Aletta. Karena panik setelah memesan seblak dia kembali ke tempat duduknya.

"Gak tau nih tiba-tiba aja Pusing... Rub... badanku panas banget," lirih Aletta sebelum akhirnya pandangannya gelap dan dia hampir pingsan jika tidak ditahan oleh Ruby dan Tamara. Demamnya naik drastis karena tekanan batin yang terlalu berat.

Keesokan harinya, kabar Aletta sakit menyebar cepat. Dilan yang tidak melihat gadis itu di sekolah langsung meluncur ke rumahnya dengan wajah cemas.

Di kamar Aletta, Citra sedang merawat Aletta karena Puspa dan Baskara sedang pergi ke luar kota karena nenek nya sedang sakit di rumah sakit dan tidak ada yang menemaninya di rumah sakit.

Aletta sudah terbiasa dengan semua itu tetapi dia tidak membenci kedua orang tuanya karena walaupun mereka sibuk mereka selalu memberikan kabar dan memastikan Aletta baik baik saja.

Sedangkan Citra sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri bahkan,dia selalu terbuka apapun terhadapnya dia juga sangat menyayangi Citra.

"Gimana sekarang udah enakan badanya setelah Bunda ganti bajunya" Ucap Citra membenarkan posisi tidurnya Aletta.

"Iya bunda makasih yah" Ucap Aletta dengan nada lemesnya.

"Kamu di rumah Bunda aja yah biar bisa memantau perkembangannya" Ucap Citra memberikan saran kepada Aletta.

"Tapi letta masih lemes Bunda" Ucap Aletta memelas.

"Yasudah nanti kalau Dilan sudah pulang sekolah Bunda suruh gendong kamu yah" Ucap Citra.

"Lagi pada ngomongin aku yah" Ucap Dilan tiba-tiba saja muncul di pintu kamar Aletta.

"Apa-apaan sih kamu, ini nih Bunda suruh kamu gendong Aletta ke rumah kita biar Bunda bisa rawat dia" Ucap Citra sambil meneteskan baju kotornya Aletta.

"Gak ah Bunda letta kan berat" Ucap Dilan menggoda Aletta yang masih lemas di tempat tidur.

"Bunda Dilan jahat" Ucapnya mengadu kepada Citra, Citra sangat senang melihat putranya bersama dengan Aletta tetapi dia menghargai keputusan Aletta yang bilang kepadanya kalau Dilan lebih bahagia dengan sahabatnya Tamara dibandingkan dengannya.

Jujur Citra ingin sekali menyangkal perkataan Aletta tetapi dia tidak tegang untuk mengatakan nya karena ini keputusannya sendiri.

"Bunda tinggal sebentar dulu yah, kamu sama Dilan dulu, nanti kalau udah enakan kamu ke rumah bunda yah" Ucap Citra mengelus rambut panjang Aletta dengan lembut.

"Dan kamu jangan jail terus rawat dia baik baik kalau gak malam ini kamu tidur di luar" Ucap Citra mengancam lalu beranjak dari kamar Aletta.

"Iya iya, sebenarnya yang Anak kandung bunda itu aku atau letta sih" Ucapnya merajuk merasa diperlakukan tidak adil oleh bundanya sendiri.

Citra sudah pergi mendadak suasana hening. Dilan duduk di tepi ranjang, tangannya dengan lembut mengompres dahi Aletta yang panas.

"Sakit ya... maafin gue yah," bisik Dilan pelan, matanya menatap wajah pucat itu penuh cinta.

"Gak papa loh gak salah kok" Ucap Aletta matanya kembali memanas sambil mengeluarkan senyumnya yang manis.

Jujur saja Dilan sangat tersiksa melihat kondisi Aletta saat ini andai saja kemarin dia tidak pengecut dan mengikuti Aletta pasti dia tidak akan terbaring di tempat tidur.

Aletta tidak memainkan ponselnya karena semenjak pulang kemarin dia langsung tak sadarkan diri, mereka langsung membawa Aletta ke rumah sakit namun karena kondisinya tidak terlalu buruk Aletta di perbolehkan untuk pulang.

Aletta tidak menyukai rumah sakit dia lebih suka di kamarnya sendiri dengan catatan dokter yang selalu datang ke rumahnya.

"Loh mau apa biar gue ambilin yah" Ucap Dilan beranjak meninggalkan Aletta di kamarnya.

Aletta segera meraih tangan Dilan "jangan pergi, temenan letta tidur yah" Ucapnya dengan lemas, sudah di pastikan lukanya terlalu dalam bahkan Aletta tidak marah marah kepada Dilan.

"Iya aku di sini kok, sekarang tidur yah aku elus elus kepalanya" Ucap Dilan mengeluh kepada Aletta dengan lembut tak lupa dia juga mencium kepalanya dengan sayang.

Aletta mereka nyaman di perlakuan dengan lembut oleh Dilan dan dia tidak sanggup kalau harus kehilangan Dilan.

Dilan merawat Aletta dengan baik mengambilkan air, menyuapi obat, dan menyelimuti tubuh Aletta dengan sangat hati-hati. Gerakannya begitu lembut, begitu protektif, seolah Aletta adalah barang paling berharga di dunia.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Tamara datang membawa buah pir kesukaan nya Aletta.

Langkah kakinya terhenti tepat di ambang pintu. Jantungnya seakan berhenti berdetak.

Dia melihat Dilan. Cowok yang selama ini dia idam idamkan, yang dia kira cuek dan dingin, sedang memperlakukan Aletta dengan begitu manis. Tatapan mata Dilan tidak pernah lepas dari wajah Aletta. Ada cinta, ada rindu, ada kekhawatiran yang begitu besar di sana.

Tamara menelan ludah. Dadanya terasa sesak dan perih. Dia sadar, selama ini dia hanya mengejar bayangan. Cinta yang sesungguhnya ada di depan matanya, antara dua orang yang dia sayangi. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata, Tamara melihat pemandangan menyakitkan itu.

Mendadak suasana menjadi tegang begitu saja apalagi saat itu Dilan langsung keluar dari kamar Aletta setelah melihat Tamara seperti hendak menghindarinya.

"Gimana sekarang kondisi loh" Ucap Ruby memecahkan keheningan karena dari tadi Aletta dan Tamara mendadak terdiam.

"Sudah mulai mendingan kok" Ucapnya tersenyum walaupun kondisinya masih lemah.

"Gue sama Tamara kepikiran terus tau sama loh tadi aja di sekolah sepi gak ada loh" Ucap Ruby melirik ke arah Aletta dan Tamara "Iya kan Tamara" Ucapnya lagi menyenggol Tamara karena dari tadi dia muram dan sedih.

"Eh iya nih" Ucapnya dengan tersenyum tetapi raut wajahnya tidak bisa di bohongin kalau dia tengah cemburu terhadap sahabatnya sendiri dengan gebetannya yang dia sendiri sudah tau kalau Aletta dan Dilan memang sering bersama apalagi rumahnya bersebelahan.

Hari sudah mulai sore, Aletta sudah sedikit sadar dan lebih baik. Dilan pamit sebentar ke rumahnya katanya dia mau mandi dulu, dan mungkin nanti Citra akan datang menemaninya.

Tamara duduk di tepi ranjang, menatap Aletta dengan tatapan yang sulit diartikan. Campuran antara sedih, kecewa, dan penuh dengan pertanyaan pertanyaan yang muncul di dalam pikirannya bercampur aduk dengan perasaannya.

"Al..." panggil Tamara pelan, suaranya terdengar serak, sejujurnya dia aga ragu untuk bertanya, tetapi dia harus memastikannya sendiri.

Aletta menatap sahabatnya itu, "Iya Tam... maaf ya kemarin gue bikin repot." Ucapnya tersenyum kepada Tamara

Tamara menggeleng perlahan, lalu menggenggam tangan Aletta dengan erat. Napasnya tertahan, mencoba mengumpulkan keberanian.

"Al... gue mau tanya sesuatu sama lo. Jawab jujur. Jangan boong, jangan ngalah, dan jangan jadi baik hati cuma demi gue."

Aletta menelan ludah, jantungnya berdegup kencang tak karuan. Dia bisa merasakan ada badai besar yang akan datang.

"Apaan sih Tam... tanya apa?" Ucapnya merasakan keanehan dengan sikap Tamara yang sejak tadi terdiam, jantungnya tiba-tiba saja memompa lebih cepat dari biasanya.

Tamara menatap tajam ke dalam mata Aletta, matanya sudah basah oleh air mata.

"Jujur sama gue Al... APA LO CINTA SAMA DILAN?!"

Pertanyaan itu meluncur tegas dan menusuk, Aletta kaget dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh sahabatnya.

"Gue liat cara dia ngeliat loh tadi Al... Gue liat cara loh ngeliat dia juga. Itu bukan tatapan temen. Itu cinta. Cinta yang tulus banget. Kenapa loh sembunyikan? Kenapa loh harus pura-pura biasa aja?!" desak Tamara dengan suara bergetar, menahan tangis yang mau pecah.

"Apa yang harus gue katakan, apa gue Harus jujur dengan perasaan gue, tapi bagaimana dengan Tamara yang akan merasakan sakit hati yang mendalam" Keluhannya di dalam hati

Saat itu juga, Dilan berdiri di balik pintu, memegang gelas air dengan tangan yang mengepal kuat. Dia juga menunggu jawaban itu. Jawaban yang akan menentukan segalanya.

Back to continuous

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!