Di lelang gelap, seorang gadis dijual kepada penawar tertinggi. Pembelinya adalah Hendra Wirakusuma, mafioso yang ditakuti seisi kota, dingin, berbahaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau.
Sekar tak punya siapa-siapa lagi. Ia dikhianati keluarganya sendiri dan kini terkurung di rumah pria yang seharusnya paling ia takuti. Namun di balik tatapan dan tangan yang berlumur dosa itu, ada sisi Hendra yang tak pernah dilihat orang lain.
Antara bahaya, rahasia, dan perasaan yang tumbuh tanpa izin, mampukah Sekar bertahan? Dan sampai di mana seorang mafioso rela melangkah demi satu perempuan yang ia beli?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Valéria Bezerra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mereka Akan Membayarnya
"Terjual kepada si ganteng Hendra!" seru perempuan itu saat Hendra naik ke panggung tanpa melepaskan tatapannya dari gadis itu. "Jangan bilang kamu mau mengambil kesuciannya?"
"Bukan urusanmu," jawabku tanpa mengalihkan pandangan darinya. Aku menggandeng lengan gadis itu dan turun dari panggung.
Setelah membereskan pembayaran, aku keluar membawanya ke mobilku. Ibu pulang bersama Ayah yang datang menjemput.
POV Sekar
Lalu bagaimana nasibku di tangan laki-laki yang membeliku ini? Takutku begitu besar sampai aku hanya bisa menangis. Ia menyetir tanpa sekali pun menoleh padaku. Ya Tuhan, apa salahku sampai pantas mendapat ini? Bagaimana bisa aku percaya pada dua perempuan terkutuk itu? Tak pernah terbayang mereka tega berbuat begini padaku. Tapi mereka sudah melakukannya, dan mereka akan membayarnya. Mahal sekali.
POV Hendra
Tangisannya mulai membuatku jengkel, tapi aku pura-pura tak mendengar dan terus menyetir pulang. Ibu memang paling bisa. Kenapa juga aku mau menuruti Ibu dan membeli seorang pelacur? Kadang aku memang melakukan hal-hal bodoh yang mengejutkan, sumpah.
Sampai di rumah, hari sudah larut, sekitar pukul sepuluh malam. Aku turun dari mobil, sementara dia masih terpaku di dalam. Jangan-jangan dia menunggu diperlakukan seperti putri? Terserah, kalau mau tidur di situ, silakan. Aku masuk ke rumah.
POV Sekar
Ia turun dan meninggalkanku begitu saja di sini? Sedikit ramah pun tidak? pikirku kesal. Aku keluar dari mobil dan menyusulnya. Rumahnya indah dan luar biasa besar, dan aku masuk sambil memandangi semuanya dengan kagum.
PINTU MASUK
RUANG TAMU
LORONG KAMAR
POV Hendra
Aku sampai di kamarku dan dia mengikutiku dari belakang. Saat hendak masuk, kulihat dia nyaris ikut melangkah masuk. Cepat-cepat kutarik pintunya agar dia tak bisa masuk.
"Mau ke mana kamu?" tanyaku sambil menatap matanya, mata yang menahanku di tempat.
KAMARNYA
POV Sekar
"Aku tahu untuk apa Anda membawaku ke sini. Selesaikan saja dan hancurkan aku sekalian. Kalau setelah itu Anda mau menembak kepalaku, aku akan berterima kasih." Aku menunduk.
POV Hendra
"Hei, bocah..." Aku menarik napas dalam-dalam, kesal. "Pintu di depan itu kamar. Kamu tidur di sana." Kututup pintu tepat di depan mukanya. Dia benar-benar mengira aku akan meniduri dia? Mati pun tidak. Memangnya tampangku seperti pemerkosa? Sekalipun dia pelacur, aku tidak menyentuh anak ingusan. Aku masuk ke kamar mandi.
Aku mandi lama, berbaring di ranjang raksasaku, lalu tidur nyenyak.
POV Sekar
Apa maksudnya? Bingung, aku masuk ke kamar yang ia tunjuk. Kamarnya sangat indah.
KAMARNYA
Aku masuk ke kamar mandi, melepas pakaian menjijikkan ini, lalu mandi air hangat untuk membersihkan semua kebusukan tempat itu dari tubuhku. Lemari pakaiannya kosong, sepertinya kamar ini memang tak pernah dipakai. Lalu aku harus memakai apa? Tak ada satu pakaian pun di sana, jadi kubungkus diriku dengan jubah mandi yang tergantung di situ lalu berbaring. Maksudku, kurasa aku akan tidur, atau mungkin sebentar lagi ia masuk untuk melakukan apa yang ingin ia lakukan. Meski begitu aku tetap berbaring, dan akhirnya terlelap.