[Season 1 (Tamat) : Bab 1 - 136 + Extralove]
[Season 2 (On-Going)]
Season I
Tidak pernah kusangka pada akhirnya aku akan menikah.
Kehilangan keluarga tercintanya dalam satu kecelakaan tragis menjadi satu alasan yang sangat cukup bagi Nana untuk menutup dirinya dari segala hal yang berhubungan dengan masa lalunya.
Menghilang bertahun-tahun dan siap melupakan apa itu cinta, hingga akhirnya satu telepon mendadak dan tanpa disangka menjadi awal dari langkah bangkitnya hingga berujung pada pertemuannya dengan pria antah berantah yang juga sama kelamnya dengan dirinya dan berakhir pada perjodohan tidak terduga.
Nana adalah seseorang yang sudah siap melupakan masa lalu dan terpuruk pada masa depannya, sedangkan Al adalah pria gila kerja yang lupa pada kebutuhan hatinya sendiri.
Mereka berdua terbenam dalam pusaran rasa yang sama hingga di satukan dalam sebuah perjodohan. Lantas, mampukah mereka berdua untuk belajar saling membuka diri? Belajar saling menerima?
Mampukah mereka pada akhirnya merengkuh cinta yang telah lama dilupakan?
Season II
Tak pernah kusangka, berawal dari tak suka namun berakhir cinta. Namun, apakah jalan cinta akan semudah itu untuk kita? [Alesha]
Di antara dua hati, manakah yang harus kupilih? [Atha]
Jika jatuh cinta padanya adalah suatu kesalahan, maka kumohon, hapuskan rasa cintaku padanya. [Zahra]
Salahkah jika aku mencintainya? [Zahran]
Dia bilang kami berbagi apapun, lantas, apakah aku juga jatuh cinta pada orang yang sama? [Zayyan]
Bagiku, cinta bukanlah segalanya. [Alvarendra]
Aku mencintainya! [Maxmillan]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29. RENUNG
H A I B I POV
Untukmu, perihalmu dan segalanya tentangmu sesungguhnya aku tidak akan pernah mengerti atau tepatnya aku tidak mau mengerti. Namun entah mengapa saat ini dan disini melihatmu yang begitu rapuh dan penuh cinta menatapnya lembut hingga bersabar menghadapi sikap posesifnya menarikku kembali pada sebuah kenyataan yang menyebalkan bahwa sudah saatnya aku berhenti. Benar bukan?
...***...
Aku menatapnya lembut seraya berusaha untuk menyunggingkan senyum terbaikku begitu mendapatinya berlinang air mata menatapku penuh iba. Ah, dia memang baik, pikirku kemudian.
“Na, jangan nangis dong elah. Aku nggak mati kali,” candaku mencoba menenangkannya hingga ia mampu mengulas senyumnya sedikit.
Mendengar candaanku barusan pria yang paling menyebalkan itu mengeratkan dekapannya pada bahu Nana seakan-akan sedang menyuruhku jangan bertindak lebih jauh.
“Yah hello?! Emang gue ngapain? Candain dikit aja nggak boleh, cih!” batinku.
“Gimana enggak sedih, lagian kamu tuh kenapa bisa sampai kecelakaan coba? Bilangin orang jangan sakit lagi eh sendirinya malah begini kondisinya sekarang,” ucapnya lagi lebih iba dari sebelumnya.
“Wallahu’alam Na, semua itu sudah menjadi takdirku.” Ucapku.
Yah, aku sebenarnya juga tidak terlalu mengerti jika disuruh untuk menjelaskan. Toh yang kuingat hanya tiba-tiba pandanganku kedepan menjadi kabur dan segalanya seperti mimpi. Itu saja.
“Kalian sudah dari tadi sampai kesini nya?” tanyaku mencoba mengalihkan rasa iba Nana yang menguar pekat hingga mampu menyesakkan hatiku.
“Iya.” Ucap pria itu singkat mewakili keduanya.
“Kami sudah sampai sini sejak beberapa jam yang lalu, Bi. Kamu lama juga siumannya ternyata. Syukurlah kondisimu hanya memar-memar saja Bi, aku sungguh khawatir tadi” tambah Nana.
“Na, maaf. Aku sebenarnya sudah siuman sejak jam sepuluh pagi tadi, cuma ketiduran setelah minum obat. Dan makasi karena sudah mengkhawatirkanku.” Ucapku seraya menyengir kuda tanpa kusadari.
“He,” ucap Nana tanpa sadar seraya memajukan bibirnya seperti biasa. Ah kawan, Nana memang menggunakan cadar namun entah mengapa walaupun demikian aku seperti tahu dan dapat melihat jelas bagaimana ekspresinya. Mungkin karena aku sudah mengenalnya sejak lama.
“Sayang, abang kurang suka kalau kamu terlihat sangat-sangat akrab didepan pria lain bahkan jika itu adalah sahabat terdekatmu sekalipun.” Bisik pria itu tepat ditelinga Nana.
Mendengar bisikan tersebut tubuh Nana secara refleks terlihat membatu sebentar lalu kembali seperti biasa seraya menengadahkan wajahnya untuk menatap kedua mata pria tersebut. Ia kemudian mengulas senyum.
“Cih! Pria posesif sialan!” desahku kasar. Dia pikir aku tidak tahu kalimat apa yang diucapkannya tadi? Kedengaran loh, helloo~
Hah, sudahlah. Akhiri saja. Lihatlah bagaimana tubuhku saat ini yang begitu menyedihkan. Lebam disekitar pergelangan tangan, siku dan juga lutut. Perutku rasanya juga sakit karena benturan kecelakaan tadi. Yang lebih parah adalah hatiku, melihat Nana bersama pria itu sudah cukup dan mampu membuatku sangat-sangat tersakiti. Sial!
“Bi, nenek gimana? aku tadi sempat kepikiran buat ngabarin cuma takut soalnya beliau punya penyakit jantung dan tekanan darah tinggi kan?” tanya Nana lembut seperti biasa.
Aku kemudian mengulas senyum, “Jangan dikabarin, Na. Aku nggak apa-apa kok.”
Sejak tadi sebenarnya tidak banyak yang kulakukan setelah siuman dan tiba-tiba mendapati mereka berdua sudah duduk di sofa seraya menungguku terbangun. Sosok yang pertama kali kutemukan tentu saja Nana namun saat itu dia sedang didekap erat oleh pria tersebut seperti saat ini. Dasar posesif. Cih!
“Bi, cari istri sana. Jangan sendirian kayak gini, kasian kamu juga nanti nggak ada yang ngurusin loh,” usul Nana tiba-tiba dan tentu saja sempurna membuyarkan lamunanku barusan.
“Yah gimana yang aku cinta kan cuma kamu, Na. Eh kamu malah udah punya suami sekarang,” ucapku santai dan tanpa kusadari ternyata aku sudah menyatakan perasaan yang telah lama kusimpan dengan baik.
Mendengar itu sontak saja pria tersebut yang sejak tadi hanya sibuk menatap dan mendekap Nana erat kini sempurna menarik kerah bajuku kasar. Tubuhku yang tadi penuh lebam karena kecelakaan begitu ditarik kasar seperti ini rasanya cukup sakit dan berhasil membuatku mengernyit geram.
“Abang,” ucap Nana seraya menggenggam salah satu tangan pria tersebut. Ia kemudian menggeleng pelan berharap pria yang merupakan suaminya itu mengerti bagaimana kondisi tubuhku saat ini.
“Haibi lagi sakit, Bang. Nana yakin dia masih dalam pengaruh obat, lepas ya Bang.” Pinta Nana lembut.
“Aku serius kali, Na. Emang cuma kamu yang aku cinta selama ini, cuma kamu.” Kekehku kemudian.
Sungguh, entah apa dan siapa yang patut ku tertawakan saat ini dan jika ada aku yakin pastilah seseorang itu adalah aku. Karena tidak ada siapapun diruangan ini yang lebih bodoh dibandingkan aku, hah. Sial!
“Jaga ucapanmu dan simpan cinta omong kosongmu itu, sialan!” seru Al dan semakin mengencangkan cengkraman tangannya.
“Abang.” Ucap Nana lagi.
Gurat wajahnya yang lembut dan teduh kini dipenuhi oleh kabut gelap yang siap menelan sinar hidupnya. Arghhh! Aku nggak boleh nyakitin dia!
“Na, tolong belikan air mineral dulu di kantin bisa?” ucapku ditengah cengkraman sialan Al.
“Hei!” seru Al kembali.
Aku kemudian melotot tajam padanya seraya mengisyaratkan, “Kalau lo mau ngelanjutin ini jangan sampai Nana lihat! Entar dia bisa kena serangan kecemasan terus pingsan, emang lo mau? Katanya cinta tapi nggak peka, gimana sih lo!” tatapku padanya serius.
“Ta-tapi,” ucap Nana patah-patah.
Al kemudian melepaskan cengkraman tangannya lalu menatap teduh Nana seraya berucap, “Ada yang perlu abang bicarain sama Haibi, Sayang. Kamu ke kantin atau cari udara segar dulu bisa?” tanyanya lembut.
Wow, ekspresi gelapnya bisa berubah drastis gitu. Baiklah, ujian cinta lo dari gue dapet poin satu sekarang. Mendengar hal itu Nana kemudian mengangguk pelan lalu berlalu keluar ruangan tanpa melihat kebelakang kembali.
“Maksud lo apa sialan?!” seru Al begitu Nana keluar ruangan beberapa saat yang lalu.
“Ya terus apa? Gue emang cinta sama Nana dari dulu,” ucapku penuh penekanan.
Aku sudah muak rasanya. Muak menyimpan, muak berharap, muak! Benar-benar muak!
“Jangan main-main sama istri, gue! Kan udah gue bilang tempo hari yang lalu. Lo masih nggak paham, hah?!” serunya lagi.
“Gue coba paham, tapi nggak bisa! Terus kenapa?!” tantangku balik.
“Gue duluan yang cinta sama dia, gue yang ada disisi dia sampai dia bisa bangkit, tapi kenapa lo yang nikah sama dia hah?” ucapku frustasi.
Mendengar seruan frustasi tersebut pria tersebut hanya terkekeh kasar, lalu mengeratkan cengkramannya kembali.
“Itu yang namanya jagain jodoh orang!” serunya seraya menatapku puas.
“Terserah kalau lo duluan yang cinta sama dia dan lo yang bantu dia bangkit tapi satu faktanya dia istri gue sekarang. Lo nggak berhak bahkan untuk mimpi aja nggak berhak. Sadar bro, sadar. Lo harus banyak muhasabah biar pikiran-pikiran dan hasrat sesaat itu hilang!” tambahnya lagi.
“Heh. Udah jadi ustadz sekarang?!” tanyaku seraya menyeringai panjang.
“Maksud lo apaan sih, hah? Mau lo apa sih, hah? Lagi sakit aja kok banyak lagunya sih? Sampai buat Nana sedih kek tadi lagi, sialan emang lo!” cerocos Al.
“Berarti gue spesial! Gue ada didalam hati dan hidupnya sampai dia ngekhawatirin gue segitunya. Sadar nggak lo?!” seruku puas.
“Lo emang spesial tapi masa lo udah selesai. Lo cuma sahabat nya, sa-ha-bat! Gue suaminya, saran gue kalau lo masih mau hidup tenang jangan pernah nambahin pikiran Nana dengan bilang kalau lo cinta atau lo butuh dia. Nggak pantas!” jelasnya.
Cih, sudahlah! Mau gimana pun masaku memang sudah selesai. Seharusnya sejak Nana ngabarin kalau dia sudah menikah, saat itu juga aku paham. Saat itu juga aku berhenti. Tapi mengapa sampai harus sejauh ini dulu baru sadar! Sial!
Iya, iya! Masaku benar-benar sudah selesai ternyata. Sudahlah Bi, sadar. Coba buka lembaran baru. Lepaskan Nana karena itulah bukti cinta yang sejati. Lihat dia bahagia sekarang, asalkan Nana bahagia. Bukankah itu sudah cukup?
“Lo menang! Lepas!” seruku melepas cengkraman tangannya setelah beberapa menit lalu tenggelam dalam renunganku.
Kurasakan bagian perutku yang lebam pedih karena bersinggungan cukup lama dengan sikunya.
“Lo mungkin menang dari gue karena gue orangnya waras! Tapi jangan lo kira gue satu-satunya yang pernah bucin sama istri lo, masih ada satu lagi yang bucin gila dan bisa buat hal yang lebih gila, hahaha.”
“SIAPA?” tanya nya dengan nada berat dan tajam. Guratnya yang sebelum nya sedikit lega namun sekarang sempurna menatapku tajam kembali.
“Aldo Wijaya.”
...***...
Thor aku padamu