Cinta sungguh tidak bisa di duga. Tak pernah terbayangkan oleh Rizky Ade Bramantyo yang biasa di panggil Bram, akan jatuh cinta kepada keponakannya sendiri.
Zavira putri Bramantyo, gadis polos berusia delapan belas tahun yang merupakan keponakan Bram.
Bagiamana kisah cinta mereka? akankah Vira menerima cinta Bram?? Akankah cinta mereka bersatu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usaha Ken
Vira segera berlari ke dapur. Dia mulai membuatkan teh untuk Bram.
Vira membawa teh yang dia buat kedalam kamar. Bram tidak ada disana, mungkin sedang berada di kamar mandi.
Vira segera memasuki walk in closed dan menyiapkan pakaian Bram. Memilih kemeja dan jas yang cocok untuk Bram.
Setelah semua yang dia cari di dapat, Vira membawanya keluar dan meletakkannya diatas tempat tidur.
Biasanya Bram akan membawanya ke kamar mandi, untuk memakai pakaiannya. Namun kali ini dia sepertinya Bram kembali ingin menjahili Vira.
Vira duduk di meja rias. Dia mulai mengikat rambutnya. Seragam sekolah sudah melekat ditubuhnya.
"Yome, mana dasi ku?" tanya Bram pada Vira.
Vira menoleh kearahnya dan melihat tubuh polos Bram yang hanya tertutup handuk.
Vira segera berbalik membelakangi Bram.
"Ta..tadi ada disitu om." ucap Vira.
"Mana, tidak ada" ucap Bram. Dan dia sengaja menyembunyikannya di bawah selimut.
Cepat Carikan, apa yang kau lakukan disitu!" ucap Bram.
"Om sudah pake baju belom?", tanya Vira akhirnya.
Bram tersenyum nakal. "Sudah" ucapnya.
Vira berbalik dan langsung menatap tubuh polos bram, wajahnya merah merona.
Om Bram sengaja mengerjai aku, mengapa dia tidak memakai bajunya. Sudahlah, aku ambilkan yang baru saja."
Vira berjalan ke walk in closed dan mengambilkan dasi yang baru untuk Bram. Setelah memilih beberapa warna dasi, akhirnya Vira memutuskan mengambil satu yang berwarna maroon gelap senada dengan kemejanya.
Vira berjalan kearah Bram. "Ini hubby dasinya," ucap Vira berusaha lembut.
"Pakaikan!" ucap Bram.
Vira mengepalkan tangannya, dai kesal karena dia yakin Bram sengaja mengerjainya.
Dengan malas di pasangkan ya dasi di leher Bram. Vira menariknya terlalu kuat hingga mencekik leher Bram.
"Bodoh, apa kau nggak bisa memakai kan dasi." ucap Bram kesal.
"Maaf hubby, aku nggak sengaja." ucap Vira
"Sini, aku bisa sendiri." ucap Bram kesal dan menarik dasinya.
Bram memperbaiki dasinya sendiri. Vira tersenyum tipis.
Rasakan emang om aja bisa mengerjai aku. Aku juga bisa om. ucap Vira dalam hatinya.
Setelah itu Bram duduk di meja dan melihat sarapannya. "Mana sarapanku?" teriak Bram.
"Hubby mau makan disini atau di meja makan!" tanya Vira.
"Apa kau bodoh, tentu saja aku mau makan disini." bentak Bram.
"Maaf," ucap Vira memelas.
melihat Vira memelas Bram hanya bisa mendesah.
"Bawakan tasku! Ayo sarapan di bawah saja" ucap Bram akhirnya mengalah. Dia berjalan lebih dulu diikuti oleh Vira di belakangnya.
Vira mengambilkan sarapan Bram dan juga untuknya. Vira tidak mau kejadian kemaren terulang, dan Bram kembali menyuapi nya.
Saat sedang sarapan paman Danu datang dan berbisik kepada Bram.
"Suruh dia pergi!" ucap Bram.
Bram meletakkan sendoknya keras dan menatap tajam Vira.
"Yome, apa kau yang menyuruh Ken menjemput mu?" ucap Bram dengan tatapan marah.
"Ken, dia kesini?" tanya Vira terkejut.
"Jangan berpura pura bodoh. Aku tahu kau yang meminta di jemput olehnya kan?" ucap Bram lagi.
"Tidak hubby, aku mana berani." jawab Vira.
"Cepat habiskan makan mu, aku yang akan mengantarkan mu kesekolah." ucap Bram, dia berdiri dan berjalan lebih dulu ke depan.
Vira meminum susunya dan berlari mengikuti langkah Bram.
Di depan pintu dia melihat sepeda motor Ken yang keluar dari gerbang rumahnya.
Ken, mengapa kau nekad. bathin Vira
"Cepat masuk!" bentak Bram.
"I... iya." jawab Vira dan masuk ke dalam mobil.
Mobil melaju menuju ke sekolah Vira.
Bram yang kesal kembali mengintimidasi Vira.
"Ingat jangan coba macam macam, jika kau tidak ingin aku menghancurkan nya, jika aku tahu kau berpacaran dengannya, aku kan menghancurkan nya dan juga keluarganya, apa kau paham!!" ucap Ken.
"Ya, aku paham hubby." jawab Vira.
"Bagus anak pintar." ucap Bram mengusap rambut Vira.
Setelah itu mereka berdua diam. Sibuk dengan pemikirannya masing masing.
Mobil telah sampai di depan gerbang sekolah Vira. Vira beranjak turun dan keluar.
Saat Vira sudah berjalan tiga langkah, Bram kembali memanggilnya.
"Yome,"
Vira menoleh kearah Bram. Dan menatap bingung.
"Nanti siang, aku yang akan menjemputmu " ucapnya. Setelah itu Bram menutup kaca mobilnya dan mobil melaju meninggalkan sekolah Vira.
Vira sempat bengong, namun segera dia menguasai dirinya dan berbalik menuju kelasnya.
ternyata Ken sudah menunggunya di depan kelas.
"Vira, aku mau bicara" ucap Ken dan menarik Vira ke belakang.
"Ada apa Ken?" tanya Vira.
"Vira, mulai saat ini, aku akan memperjuangkan mu, aku akan mengatakan pada om Bram, jika aku serius, aku mencintaimu Vira." ucap Ken.
"Terima kasih Ken, tapi kau hanya membuang waktu mu, sebaiknya lupakan saja aku dan cari gadis lain. Karena akan sia sia melawan om Bram." ucap Vira.
"Tapi Vira, kita belum mencobanya. Aku yakin kita bisa meyakinkan Om Bram" ucap Ken lagi.
"Maaf Ken, Jangan buang waktu mu. Lebih baik kau fokus pada ujian yang sebentar lagi kita hadapi." ucap Vira lagi.
"Vira, aku mau kita berjuang bersama." ucap Ken.
"Maaf Ken aku tidak bisa. Aku tidak mau menyusahkan mu." ucap Vira dan berlalu meninggalkan Ken.
Maafin aku Ken, aku tidak bisa menerima mu, itu tidak mungkin karena aku sudah menjadi istri om Bram. Maafin aku.
Aku akan terus berjuang Vira. Karena aku yakin, kau juga menyukai ku. Aku akan membebaskan mu dari om Bram. Dan aku akan membawa mu pergi jauh." bathin Ken.
Vira kembali ke kelasnya. Cici sudah menunggu nya di meja.
"Dari mana?" tanya Cici.
"Nggak ada, " jawab Vira. Namun ekspresi wajahnya masih terlihat sedih.
"Vira sayang...kamu kenapa?" tanya Cici memeluk bahu sahabatnya.
Vira memeluk Cici dan menangis, Vira menumpahkan segala kegundahan hatinya.
Setelah puas menangis Vira melepaskan pelukannya.
"Ceritakan padaku kamu kenapa?" tanya Cici.
Aldi sang ketua kelas datang. "Pengumuman hari ini kita freeles karena para guru sedang ada rapat dengan ketua yayasan, jadi kita tidak belajar tapi tidak ada yang boleh berkeliaran."
Horee......semua anak anak bersorak gembira.
Cici menarik Vira dan membawanya ke bangku paling belakang.
"Ceritakan padaku, ada apa?" ucap Cici.
Vira menceritakan semuanya, kecuali Bram yang sudah menikahinya.
"Mengapa kau menolak Ken? Aku tahu, kau juga menyukai nya kan? tanya Cici.
Vira mengangguk. "Tapi itu tidak mungkin ci, om Bram sudah mengancam ku, dia akan menghancurkan Ken dan keluarganya. Kau tau kan seperti apa om Bram dan gimana kejamnya dia. Aku nggak mau Ken hancur. Biarlah aku yang mengalah." ucap Vira.
Cici kembali memeluk sahabatnya, dia merasa ikut prihatin dengan Vira. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa apa.
...****************...
Di kantornya Bram disibukkan dengan semua aktivitas nya. Hingga jam makan siang dia juga ada janji dengan klien nya.
Diliriknya jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Bram bersandar di kursinya. Melepas penat, tiba tiba dia teringat jika dia tadi berjanji menjemput Vira di sekolahnya.
Bram segera bangkit dan meminta Henry mengejutkan mobilnya. Bram segera menaiki mobilnya yang sudah terparkir didepan pintu masuk.
Bram melajukan mobilnya kencang menuju sekolah Vira.
Bram segera masuk kedalam, Sekolah sudah sunyi. Dia berjalan mencari Vira di kelasnya, tidak ada. Bram berpikir jika Vira pasti pulang dengan Ken.
Secara langsung emosinya naik dan meluap luap. Bram terus berjalan menyusuri lorong menuju parkiran. Matanya tak sengaja melihat seorang gadis kecil duduk termenung di bawah pohon.
Senyum lega dihati Bram, setelah dia yakin gadis kecil itu adalah yome nya. Dia berjalan mendekat dan melihat vira duduk melamun.
"Ayo pulang" ucap Bram menarik tangan yome.
Vira terkejut dan mengaduh karena ditarik paksa hingga dia terjatuh. Kakinya luka dan berdarah.
Bram menolah dan dengan sigap dia menggendong Vira. Vira tidak berontak, dia diam karena seharian ini dia lelah menangisi hidupnya.
Tinggalkan jejak ya.
Like vote dan koin seikhlasnya...