NovelToon NovelToon
Trapped By You

Trapped By You

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: BintangFRY

​​"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"

Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.

"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.

​"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"

​"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dipercepat

Hanya berselang dua hari setelah insiden pertumpahan darah yang hampir merenggut nyawanya, Damara justru membuktikan bahwa tidak ada satu hal pun di dunia ini yang sanggup membengkokkan kehendaknya.

​Mara menolak membuang waktu. Menggunakan jet pribadinya, ia memboyong Kayna terbang melintasi Selat Bali menuju salah satu properti paling terisolasi dan mewah milik keluarganya, vila pribadi Veldens yang berdiri megah di atas tebing terjal Uluwatu.

​Malam itu, hembusan angin laut yang tajam menyambut kedatangan mereka. Bagi orang awam, mempercepat pernikahan megah hanya dalam tempo kurang dari dua puluh empat jam adalah hal mustahil.

Namun di tangan seorang Veldens, segala keinginan adalah perintah mutlak. Seluruh tim wedding organizer papan atas, perancang busana, dekorator ternama, hingga puluhan personel keamanan swasta berjas hitam telah dikerahkan sejak sore hari. Semuanya bergerak secepat kilat untuk memastikan altar pernikahan di tepi tebing Uluwatu siap digunakan besok sore.

​Di dalam ruang keluarga vila yang bernuansa marmer hitam modern dan berdinding kaca raksasa, gema gemuruh ombak lautan yang menghantam tebing karang terdengar begitu jelas.

​Kayna berdiri kaku di samping jendela kaca raksasa, menatap kegelapan lautan di luar. Tangannya yang saling tertaut di depan gaun hangatnya terasa sangat dingin dan gemetar. Di dalam pikirannya, badai ketakutan mengamuk hebat.

Jika janji suci pernikahan itu sudah terucap dari mulutnya, maka secara hukum dan realita, statusnya sebagai Mrs. Veldens akan mengunci seluruh kebebasannya. Jalan untuk melarikan diri dari cengkeraman Mara akan tertutup rapat selamanya.

​"Kenapa berdiri sejauh itu dari calon suamimu, mijn engel?"

​Suara bariton yang berat, dalam, dan dipenuhi aura dominasi memecah keheningan. Kayna terperanjat halus, namun dengan cepat menekan kepanikannya.

Ia memutar tubuhnya perlahan, menyusun kembali topeng senyuman lembut dan cemas di wajah cantiknya, sebuah sandiwara kepatuhan yang ia latih mati-matian demi bertahan hidup.

​Mara melangkah mendekatinya. Wajah tampan berahang tegas itu masih tampak sedikit pucat akibat kehilangan banyak darah dua hari lalu. Namun, gaya berjalannya tetap tegap dan berwibawa, yang sebenarnya menyembunyikan rasa nyeri yang menusuk perutnya di balik kemeja linen hitam berpotongan sempurna.

​Kayna bergegas mendekati Mara, merengkuh lengan tegap pria itu dengan gestur penuh perhatian yang ia buat senyata mungkin. "Mara... kau seharusnya tidak berdiri terlalu lama. Luka tembakmu baru ditangani lusa lalu. Dokter Isabela bilang kau harus banyak beristirahat, tapi kau malah memaksakan penerbangan ke Bali dan mempercepat acara besok. Aku hanya... aku sangat mengkhawatirkan kondisimu."

​Mara menghentikan langkahnya. Sepasang iris mata kelabunya yang tajam bagaikan elang menatap lurus ke dalam manik mata Kayna.

​Jemari Mara yang tegap terangkat, menyentuh dagu mulus Kayna dan mengangkatnya perlahan agar tatapan mereka terkunci sepenuhnya. Sentuhan kulitnya hangat, namun cengkeramannya mengisyaratkan kepemilikan yang mutlak.

​"Kesehatanku adalah urusanku, Kayna," desis Mara pelan, menyunggingkan senyum tipis yang terasa begitu dingin di kulit. "Yang perlu kau pusingkan hanyalah bagaimana kau akan berdiri di sisiku di atas tebing itu besok, mengucapkan janji suci di depan semua orang, dan menyerahkan seluruh hidupmu padaku."

​Dada Kayna terasa sesak. Di balik kemeja hitam yang dikenakan Mara, ia bisa merasakan ketegangan otot tubuh pria itu. Pria ini benar-benar iblis tanpa rasa takut. Bahkan luka tembak yang mengancam nyawa tidak sanggup melunakkan obsesi gilanya untuk memiliki Kayna.

​"Bagaimana dengan orang tuaku?" tanya Kayna halus, mencoba mengalihkan intensitas tatapan Mara sambil mempertahankan nada suara gadis polos yang patuh. "Mama dan Papa..."

​"Mereka akan mendarat besok pagi dengan penerbangan pertama dari Jakarta," potong Mara cepat tanpa mengalihkan pandangannya.

Jemarinya bergeser, mengusap pipi Kayna dengan kelembutan. "Semua sudah diatur dengan sangat rapi. Pengawal terbaikku sudah memantau Restoran Sunny Bless milik ayahmu dan Butik LiLYRa milik ibumu untuk memastikan tidak ada kendala kecil apa pun dalam perjalanan mereka menuju Bali."

​Jantung Kayna serasa berhenti berdetak. Kalimat Mara terdengar seperti perhatian seorang calon menantu yang sempurna bagi orang lain, tetapi bagi Kayna yang sedikit mengetahui siapa itu Mara, kalimat barusan adalah sebuah gertakan mematikan.

Mara sedang memberi tahu secara terselubung bahwa keselamatan Erick dan Liliana berada tepat di dalam genggamannya. Jika Kayna memicu kekacauan, membatalkan pernikahan, atau melakukan hal nekad lainnya, maka bisnis dan nyawa kedua orang tuanya akan hancur sebelum matahari terbenam besok.

​Kayna memaksa dirinya menatap mata Mara dengan binar kepasrahan yang palsu. Ia menyandarkan telapak tangannya di dada tegap Mara, meraba detak jantung pria itu yang berdegup stabil. "Terima kasih, Mara... kau selalu menyiapkan segalanya demi kita."

​Mara tertawa pelan, sebuah tawa samar namun terasa mengintimidasi. Pria itu melingkarkan lengan kirinya di pinggang ramping Kayna, menarik tubuh wanita itu makin rapat ke dada tegapnya tanpa peduli rintihan nyeri yang sempat berkelebat di sudut matanya.

​"Aku tidak hanya menyiapkan segalanya, calon istriku," berbisik tepat di samping telinga Kayna dengan suara bariton yang sanggup membekukan aliran darah seketika. "Aku memastikan bahwa dalam kehidupan ini, tidak ada satu pun celah bagi siapapun untuk merebutmu dariku."

​Ketika malam makin larut, Mara akhirnya memasuki kamarnya sendiri di dalam vila bersama Dokter Isabela untuk mengganti perban dan mendapatkan suntikan antibiotik. Kayna memanfaatkan kesempatan itu untuk melangkah keluar menuju balkon lantai dua yang menghadap langsung ke arah tebing.

​Di bawah sana, lautan malam yang hitam pekat memunculkan ombak raksasa yang menghempas dinding batu karang dengan suara gemuruh menakutkan.

Di sekeliling perimeter vila, belasan pria berjas hitam dengan senjata tersembunyi berdiri siaga di setiap sudut. Sensor CCTV infrared berputar tanpa henti. Sangkar emas bernilai ratusan miliar ini benar-benar telah dikunci tanpa celah.

​Kayna mengepalkan jemarinya di atas pagar pembatas balkon hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata ketakutan yang ia tahan seharian hampir menetes.

"​Besok sore... pernikahan ini benar-benar akan terjadi," batin Kayna menjerit dalam penderitaan yang tak tersampaikan. "Jika aku mengucapkan janji itu, maka ikatan hukum dan dominasi Mara akan secara resmi menghancurkanku. Aku tidak akan pernah bisa lepas lagi."

​Namun, menghadapi kekuatan tak tertandingi milik Mara, melarikan diri malam ini secara nekat hanya akan membawa pertumpahan darah bagi keluarganya. Satu-satunya amunisi yang tersisa adalah sandiwaranya. Ia harus tetap berperan sebagai calon istri yang penurut, dan mencintai Mara, sambil menunggu retakan sekecil apa pun pada benteng pertahanan pria itu.

​Tiba-tiba, suara geseran pintu kaca di belakangnya terdengar. Kayna terperanjat halus, lalu berbalik dengan cepat.

​Mara berdiri di sana. Kemejanya telah diganti dengan kaos santai berwarna gelap, memperlihatkan lekuk bahunya yang tegap. Mata kelabunya yang posesif menatap Kayna dengan intensitas yang membakar dalam kegelapan malam.

​"Malam sudah sangat larut, Kayna," ujar Mara dengan nada suara lembut namun diimbuhi perintah mutlak yang tak bisa dibantah. "Kembalilah ke kamar dan beristirahatlah. Besok akan menjadi hari yang sangat panjang bagimu... dan awal dari takdir barumu sebagai pendamping hidupku."

​Mara melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga hembusan napas hangatnya terasa di dahi Kayna. Pria itu membungkuk, berbisik tepat di depan bibir Kayna dengan senyuman dingin yang sanggup menghentikan detak jantung seketika,

​"Ingat satu hal besok di depan altar, mijn engel... Jadilah seorang pengantin yang baik dan jangan mengecewakanku. Sekarang tidurlah,"

Mara merangkul Kayna dan membawanya mendekat ke ranjang. "Tidurlah, sayang."

Kayna mengangguk lalu merebahkan tubuhnya di ranjang, "Kamu juga tidur, Mara. Kamu juga perlu istirahat."

Mara menyelimuti Kayna hingga dadanya, lalu mengecup bibirnya sekilas. "Selamat malam, Mijn engel."

Begitu Mara benar-benar pergi dari kamarnya, Kayna langsung menghirup udara dengan rakus. Bersandiwara di hadapan Mara ternyata sangat mengerikan.

"Tanpa ingatan ku pun kamu sudah begitu mengerikan. Bagaimana jika aku ingat sepenuhnya,"

...●Bersambung●...

1
Putri💅🏻💅🏻
bagus banget
AzhuraAstra
Lanjut seng!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!