Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.
Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.
Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?
Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Diam-diam
Kilas balik.
Pagi ditanggal 26 Desember 2004.
"Eh lu mau kemana? Bolos lagi lu? Katanya udah tobat!" Depa yang berada diboncengan Rehan berteriak kearah Andre yang membawa motor bukan kearah sekolah.
"Ada urusan!!" sahut Andre.
"Urusan urusan tai, sok sibuk banget lu. Berenti lu!" Depa berusaha menendang motor kawannya itu, emang dasar bocah begajulan.
"Ngapain? Lu sekolah aja sono," sahut Andre.
"Berenti dulu! Gua mau ngomong!" kali ini Rehan yang bersuara.
Akhirnya Andre mau melipir ke bahu jalan, menatap kawannya tak sudi.
"Apa?"
"Lu jangan macem-macem, Ndre! Perasaan gua ngga enak ini dari kemaren. Lagian jan bolos mulu napa," kesal Rehan.
"Gua ada urusan ini, penting!"
"Urusan apa sih? Urusan cewek?" tanya Depa nyolot.
"Aih.. Ketebak ternyata," Andre ketawa dibuat-buat.
Rehan mengeplak kepala Andre renyah, "Sekolah yang bener bego."
Andre malah nyengir, "Sebenernya gua butuh bantuan kalian juga sih kalo boleh."
"Ah elah, lu urus aja sendiri, kalo dapet juga lu yang make sendiri," sahur congor Depa yang tak berpendidikan.
Kali ini mulut Depa yang kena geplak Rehan.
"Apaan? Emang lu mau ngapain?" tanya Rehan.
"Gua sekarang mau ke rumah sakit, ngelurusin kesalahpahaman tentang Arin sama abangnya. Abis itu gua mau ke Panti-"
Tunggu. Aguil hampir melupakan kalau sekarang dirinya masih terjebak dalam raga Andre, yang berarti teman-temannya ini tak akan mengerti rencananya kalau dijelaskan versi aslinya.
"Iya? Ke panti? Terus?" tanya Rehan.
Andre diam berpikir.
"Kan masih mikir, kurang persiapan lu!" cerca Rehan.
"Yang ini ngga ada hubungannya sih sama Arinta. Tapi penting juga. Gua mau ke panti nungguin tante gua, dia mau pergi jauh, jadi gua mau ada disana pas dia pergi, jadi kemungkinan gua sampe sore ngga bakal ke sekolah."
"Emang ke abangnya si Arinta itu ngga bisa hari libur sekolah aja?" tanya Depa.
"Ngga bisa, harus hari ini," tegas Andre.
"Terus kita bantu apa?" tanya Rehan.
"Nanti sepulang sekolah lu langsung ke jalan raya aja, nunggu dipinggir jalan. Kalo lu ngeliat gua bawa motor, langsung susulin."
"Gitu doang? Terus?" tanya Rehan menyelidik.
"Ah ngga jelas lu! Terus kita suruh ngawal-ngawal tante lu itu?" Depa ikut emosi.
Andre berdecak, "Ya udah kalo ngga mau."
Ia langsung menggeber motor bututnya.
Singkat cerita, setelah perdebatan panjang dengan Satpam dan Resepsionis, akhirnya Andre bisa bertemu secara tak sengaja dengan Miza yang sedang berkeliaran di rumah sakit itu.
"Kamu temennya Arinta waktu itu, kan?" tanya Miza, membuat keributan itu redam.
"Iya, bang. Saya mau ngomong penting sama abang, harus hari ini juga."
Miza mengernyit bingung sekaligus tak terima, "Saya sibuk. Nanti aja hari libur."
"Sebentar aja bang, ini soal Arinta," mohon Andre.
Miza berhenti sebentar, tapi kemudian melanjutkan langkahnya lagi.
Andre mau tak mau meneriakan senjata terakhirnya.
"Arinta sering halusinasi! Dia sakit!"
Miza berbalik dan menatap tajam Andre, "Kalo cuma mau nyita waktu saya, ngga usah sampe ngarang-ngarang cerita ngga jelas kayak gitu."
"Tapi ini bukan ngarang, bang. Sumpah demi Tuhan," Andre mengangkat satu jari telunjuk menghadap keatas.
"Bukti?" tanya Miza menantang.
Itu dia. Andre hanya punya cerita tanpa bukti.
"Abang bisa denger cerita saya dulu sebelum minta bukti," Andre berusaha membela diri.
Miza melihat jam tangannya, "Jam makan siang tunggu di Taman belakang."
Andre selebrasi tipis-tipis begitu Miza meninggalkannya. Akan ia ceritakan semuanya tentang Arinta, yang ia rasa hanya ia yang tahu soal itu.
"Setelah kamu ceritakan itu semua, saya harus percaya sama kamu walaupun tanpa bukti?" tanya Miza.
Andre sudah menceritakan tentang betapa seringnya Arinta halusinasi, terutama soal kertas kosong yang selalu dibilang ada tulisannya oleh Arinta.
Andre diam seribu bahasa, yang penting intinya sudah tersampaikan semua.
Miza tak sepenuhnya bisa membantah, karena memang seminim itu interaksi antara dirinya dengan sang adik.
"Akhir-akhir ini dia jadi jaga jarak, berubah banget. Jadi saya ngga tau perkembangannya gimana, mungkin setelah kecelakaan dia lupa semua tentang saya," murung Andre.
Miza geleng-geleng menangkis pikirannya itu, tak mungkin.
Andre hampir mengabaikan gelar di nametag Miza, Sp.Kj. Spesialis Kesehatan Jiwa. Yang dimana penyakit seperti ini memanglah makanan sehari-harinya.
"Oke, terimakasih infonya," Miza beranjak tanpa mengucapkan apapun lagi.
"Bang!" panggil Andre.
"Apalagi?" Miza menoleh dengan malas.
Andre menyerahkan sebuah gelang, gelang yang Arinta berikan waktu itu.
"Ini punya Arinta. Biar bang Miza aja yang simpen. Siapa tau berguna."
Meskipun awalnya ragu, tapi akhirnya Miza mau menerimanya.
Andre ditinggal sendirian, pikirannya berkecamuk. Sebenarnya ia sudah punya satu dugaan tentang kondisi Arinta. Dengan kecerdasan Aguil—bukan Andre, ia menafsirkan kalau itu sebuah penyakit yang dikenal dengan sebutan Skizofrenia.
"Jam berapa sekarang?" ia bergumam sendiri, berdiri ditengah-tengah halaman luas. Bayangannya mulai menjorok kearah Timur.
Ia menyeka keringatnya, cuaca hari ini cukup panas. Namun masih ada misi lain yang sudah ia rencanakan, menguntit kemanapun tante Nanda pergi.
Dalam benaknya ia sudah memikirkan berbagai macam kemungkinan dimasa depan seandainya ia bisa merubah banyak hal ditahun ini, termasuk kemungkinan dirinya tidak akan saling kenal dengan Arinta dimasa depan.