Veyra Aletha, ia tidak pernah berniat mencintai siapapun selain suaminya. Baginya, Alvero Halim Winata adalah rumah pertama, lelaki yang ia pilih untuk membangun keluarga kecil mereka bersama putra semata wayang mereka, Renzio Althar Halim.
Kehidupan pernikahan tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan. Di tengah kesibukan Alvero yang semakin tenggelem dalam pekerjaan, hadir Regan Han Sebastian, sahabat sekaligus rekan kerja suaminya yang selalu punya waktu untuk hadir saat Veyra merasa sendiri.
Menemani Renzio bermain. Mengantar Veyra saat Alvero sibuk. Datang membawa makanan. Dan perlahan mengisi ruang kosong yang tidak pernah Veyra sadari sebelumnya.
Hingga suatu hari, kecelakaan mengubah segalanya. Veyra dinyatakan hilang di lokasi kejadian.
Saat semua orang percaya Veyra telah hilang, Regan justru membawanya pergi ke Singapura. Menyimpan rahasia besar yang perlahan mengaburkan batas anatara cinta, rasa bersalah, dan obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Mau Pulang
Suara tawa dan cipratan air hangat memenuhi kolam renang kecil khusus Renzio di halaman belakang rumah. Ia duduk di dalam kolam, tubuhnya terendam setengah oleh air.
Di sebrangnya, Alvero menangkap kapal mainan, lalu memutarkan lagi ke arah Renzio.
"Zio, tangkap lagi kapalnya." Teriak kecil Alvero. Membuat Renzio menepuk-nepuk permukaan air.
Sementara Veyra, dia hanya duduk selonjoran di sudut kolam. Air hangat merendam sebagian kakinya.
Ia sambil menikmati cemilan dan yogurt. Sesekali tertawa dan ikut bermain. Tapi lebih sering diam sambil mengelus perut yang mulai membuatnya merasa engap.
"Papa, ayok balapan kapalnya sama Zio." Ajak Renzio sambil berdiri. Ia berlari ke tepi kolam berenang.
"Ayok!" Alvero merangkak menyusul Renzio.
Keduanya sudah kembali duduk di tepian.
"Satu, dua, tiga..." Setelah berhitung, Renzio langsung melepaskan kapal miliknya.
"Zio curang. Papa belum siap," protes Alvero sambil tersenyum lebar.
"Itu namanya main cerdas," sahut Veyra, disusul tawa kecil di ujung katanya.
Renzio mengacungkan jari jempolnya. "Betul."
"Itu curang namanya. Papa gak di kasih tahu, kalau permainannya udah mau mulai." Alvero menangkap tubuh kecil Renzio. Memeluknya sambil menggelitiki perutnya.
Renzio tertawa sampai ia terguling masuk ke air, membuat anak itu sontak menarik napas sekaligus karena kaget.
"Mas, pelan-pelan." Terus Veyra sedikit panik.
Tapi anak itu justru malah tertawa sambil batuk kecil. Suara tawa anak dan ayah itu benar-benar memenuhi suasana sore.
Langit sudah mulai pucat. Di langit barat cahaya jingga sudah perlahan memudar.
"Zio, udah dulu yuk!" Ajak Veyra.
"Zio masih mau berenang." Tolaknya sambil menjauh.
Alvero menangkapnya cepat. "Udah dulu, ya. Ini udah mau malam."
Renzio hanya diam. Bibirnya mengerucut.
"Mbakk, tolong mandiin Zio, ya!" Teriak Veyra kepada Mbak Rini.
Tak lama, Mbak Rini muncul dari pintu dapur. Handuk biru milik Renzio disampirkan di bahunya.
"Zio udah dulu, yuk. Abis mandi makan, ya." Bujuk Mbak Rini sambil meraih tubuh mungil itu dari pangkuan Alvero.
Mbak Rini menurunkannya, membuka pakaian basah Renzio, lalu membalut tubuhnya dengan handuk. Setelah itu, Mbak Rini kembali memangku Renzio dan membawanya masuk.
Sekarang, di kolam berenang itu tinggal Veyra dan Alvero.
Angin sore berhembus lembut mengenai wajah mereka. Berpadu dengan uap tipis yang naik dari permukaan kolam. Sistem pemanas membuat airnya tetap hangat.
Alvero duduk di sebelah istrinya, kakinya masih terendam air hangat.
"Sayang, kenapa melamun? Ada masalah?" Tanya Alvero sambil menatap wajah Veyra.
Veyra langsung menatapnya balik, ia tersenyum tipis. Tangannya yang basah mengelus pipi Alvero.
"Mas... aku mau pulang. Aku rindu Bunda sama Ayah." Katanya lirih.
Alvero diam beberapa detik, sebelum ia ikut tersenyum. "Jumat sore kita berangkat, ya."
Veyra mengangguk, tapi ekspresinya justru berubah sedih. "Kamu tidak lembur atau meeting, kan?"
"Tidak ada, sayang. Meeting yang lain masih bisa diwakilkan sama Ahsan atau Jenar."
Veyra kembali tersenyum, tapi sekarang air matanya ikut menggenang. Tangannya menggenggam tangan Alvero.
"Mas, tapi... aku takut Bunda masih gak kenal, kamu."
"Aku kenalan lagi." Jawab Alvero sambil mencium punggung tangan istrinya.
"Tapi... Bunda pasti heran kalau kamu bilang, kamu suami aku."
Alvero mendesah pelan. "Biarin Bunda anggapnya aku siapa kamu. Yang penting kamu bisa pulang, ketemu sama orangtua kamu."
Veyra mengangguk, air matanya ikut jatuh. Hatinya tiba-tiba sesak. Genggaman pada tangan Alvero semakin erat.
Ibunda Veyra mengalami Demensia (gangguan neurokognitof mayor) yang diakibatkan taruma berat. Ingatan baru sering hilang begitu saja. Ingatannya stuck saat, Vania. Adiknya Veyra masih hidup.
"Aku takut..." Kata Veyra serak. "Takut... kalau Bunda nanyain Vania... kenapa dia gak ikut pulang..." Lanjutnya sambil terisak.
Alvero tersenyum getir. Ia tahu rasa takut yang Veyra rasakan setiap kali ingin pulang. Jarinya menyeka air mata di pipi Veyra.
"Sayang, kamu bilang seperti biasanya aja, ya. Bilang kalau Vania belum bisa pulang."
Veyra menggeleng cepat. "Bunda... pasti selalu nunggu kita pulang bareng lagi."
Veyra menelan ludah keras. Tenggorokannya terasa begitu kering. "Bunda juga... pasti gak kenal kamu... ataupun Zio."
"Tapi kita kenal Bunda. Jangan paksa beliau buat tahu atau ingat semuanya. Aku ngerti kok." Alvero memeluk tubuh Veyra yang masih terisak.
Tidak ada ucapan lagi dari mereka. Alvero memberikan ruang untuk Veyra menangis. Untuk mengeluarkan luka yang selalu berusaha ia simpan.
Setelah tangisan Veyra perlahan mereda dan napasnya mulai stabil. Alvero kembali berbicara.
"Sekarang kita bersih-bersih dulu, yuk. Kamu jangan banyak pikiran, ya. Semuanya pasti baik-baik aja, kok." Alvero mengelus lembut perut Veyra. "Kalau kamu sedih, baby juga pasti ikut sedih," lanjutnya. Suaranya dibuat merengek manja.
Veyra melepaskan pelukannya, ia mengucek matanya sambil tertawa kecil. "Maaf ya sayang, Mama lagi sedih dikit. Kangen sama Nenek kamu." Katanya sambil menatap ke atas perutnya.
Tak lama, ada gerakan halus dari dalam sana. Seolah memberi respon. Alvero dan Veyra saling melempar pandangan. Senyumnya sama-sama lebar.
Malam jatuh semakin sunyi. Angin masuk melalui pintu balkon yang sengaja dibuka oleh Veyra. Menggoyangkan tirai jendela.
Setelah selesai makan malam, Veyra dan Alvero langsung naik ke kamarnya. Lampu masih menyala terang.
"Sayang, ini mau dibawa?" Tanya Alvero sambil menaikkan kaos oversize.
Veyra berdiri di depan lemari besar yang pintunya sudah dibuka semua. Ia menoleh lalu mengangguk.
Alvero duduk di atas kasur. Di hadapannya koper berukuran sedang. Ia melipat beberapa pakaian untuk baju ganti di tempat mertuanya nanti.
"Sayang, kenapa baju yang kamu bawa. Berukuran oversize semua?" Suara Alvero kembali membuat gerakan Veyra terhenti.
Veyra tidak langsung menjawab. Ia duduk di sisi ranjang sambil tersenyum pahit. "Biar perut aku gak kelihatan besar depan Bunda."
Mendengar jawaban sang istri, Alvero mengangguk kecil.
"Kalau Bunda lihat, nanti dia ngira aku hamil di luar nikah." Ucap Veyra.
"Aku jelasin lagi." Balas Alvero.
Veyra mendesah panjang. "Mas, mau jelasin sedetail apapun, Bunda gak bakal percaya. Kamu ingat waktu aku hamil Zio?" Tanya Veyra.
Alvero hanya diam. Ingatannya kembali mundur saat Veyra pulang ke rumah orangtuanya. Tapi justru, di sana terjadi pertengkaran antara Veyra dan Elea, Bundanya.
Pasalnya, beliau tidak mengingat acara pernikahan Veyra. Bahkan, saat beberapa foto ditunjukkan, Elea menganggapnya itu foto pernikahan orang lain.
Dan saat Veyra melahirkan Renzio. Elea menganggap bayi itu anaknya teman Veyra. Sementara Veyra dianggap sedang sakit biasa.
Alvero terkekeh getir. "Gak papa sayang. Kamu yang kuat, ya. Jangan punya pikiran Bunda gak anggap kita lagi."
Di satu waktu, Veyra pernah merasa capek menghadapi penyakit, Elea. Kadang Veyra juga berfikir kalau mertuanya, Alvero dan Renzio tidak pernah dianggap oleh Elea.
"Aku cuma capek waktu itu, Mas." Jawab Veyra sambil kembali memilih baju.
"Sayang, kayaknya ini udah cukup. Kita juga nginep paling cuma dua malam."
"Iya, Mas. Aku mau beresin laci bawah, ini agak berantakan. Barusan ketarik sama aku."
Veyra melipat kembali beberapa pakaian lama. Namun tatapannya terpaku pada dua kaos berwarna biru navy.
Ia menariknya, semakin lama menatapnya. Semakin sesak juga hatinya. Rasa panas dari dalam dada menjalar ke tenggorokannya.
"Sayang," panggil Alvero saat menyadari istrinya diam terlalu lama.
"Mas..." Suaranya gemetar.
Alvero langsung mendekati Veyra.
"Bunda selalu percaya sama aku," ia menoleh perlahan ke Alvero. "Katanya... Vania akan aman kalau sama aku." Ia menatap kaos itu, setelah lipatannya terbuka. Ada tulisan Big Sister, dan satunya lagi Little Sister.
Tangannya mulai gemetar. Air matanya semakin jatuh. "Tapi aku gagal."
Alvero turun dari ranjang, ia meraih satu kaos bertuliskan Little Sister, kembali melipatnya.
"Kalau Vania masih ada..." katanya sambil menaruh baju itu ke tempat asalnya. Lalu menatap Veyra lama, tangannya mengusap pipi Veyra lembut. "Dia pasti marah lihat Kakaknya nyalahin diri sendiri selama bertahun-tahun."
Pundak Veyra bergetar semakin keras. Tangisnya pecah.
Melihat isakan istrinya yang semakin keras. Alvero cepat-cepat memeluk Veyra.
"Kita hadapi sama-sama. Selagi Bunda sama Ayah masih ada. Kamu masih bisa pulang."
Veyra mengangguk di pelukan Alvero.
Alvero mengelus kepala Veyra. Membiarkan istrinya menangis. Untuk beberapa menit, Alvero hanya diam. Sampai akhirnya ia kembali bertanya, "masih sesak? Nangis aja, aku peluk."
Tangan Alvero beralih mengelus perut Veyra. "Kalau udah lega, kita cari makanan manis."
Malam semakin sunyi, tapi di kamar yang luas itu. Masih menyisakan isakan kecil Veyra yang merasa bersalah atas takdir yang tidak bisa ia hindari.
masih banyak cewek cantik kok. 🤣
normal ya Reg, punya pacar makanya🤣
ngalahin anaknya Al, ih kamu Reg.. 😩🤦🏻♀️🤦🏻♀️
apa Alvaro siap di binor sama Regan