Hella Adelia menjalani hidupnya dalam diam, memikul peran sebagai seorang ibu sekaligus ayah bagi putra semata wayangnya. Dengan tekad sederhana—melihat anaknya agar bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMK—ia rela menyingkirkan lelah dan gengsi, menerima pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang CEO ternama.
Di balik kemewahan rumah itu, Dave Julian Alexander hidup dalam kesunyian. Seorang duda tanpa anak, dengan hati yang masih terikat pada kenangan akan mendiang istrinya. Dingin, tegas, dan tak tersentuh.
Kesederhanaan Hella, ketulusannya sebagai seorang ibu, dan harapan kecil yang ia genggam untuk masa depan anaknya, menghadirkan kehangatan yang lama hilang dalam hidup Dave.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endel_Bagong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERJERAT CINTA SANG BOSS
Marcel memacu mobilnya menembus jalanan malam yang mulai lengang.
Alamat yang diberikan Prasetyo terus terpampang di layar navigasi.
Sesekali ia melirik jam di dashboard.
Semakin malam.
Semakin besar rasa khawatirnya.
Tak sampai dua puluh menit kemudian.
Mobil Marcel memasuki area parkir Bar Ecl*pse.
Begitu turun dari mobil, langkahnya nyaris berlari menuju pintu masuk.
Matanya menyapu seluruh ruangan.
Mencari satu sosok yang sejak sore membuatnya kelimpungan.
Dan akhirnya ia menemukannya.
Di sudut ruangan.
Dave masih duduk di kursinya.
Di hadapannya ada Prasetyo yang terlihat sedang menemani berbincang.
Marcel mengembuskan napas panjang.
Seolah beban besar yang sedari tadi menindih dadanya akhirnya sedikit berkurang.
"Tuan..."
gumamnya pelan.
Prasetyo yang lebih dulu melihat kedatangan Marcel mengangkat tangan.
"Oi."
Marcel segera menghampiri meja tersebut.
Prasetyo langsung berdiri.
Sedangkan Dave hanya melirik sekilas.
Tatapannya terlihat lelah.
"Tuan."
sapa Marcel lagi.
Dave hanya mengangguk pelan.
"Akhirnya ketemu juga."
Mendengar kalimat itu, Marcel nyaris menghela napas kesal.
Namun ia menahannya.
Karena melihat kondisi Dave saat ini, rasa kesalnya langsung berubah menjadi rasa prihatin.
Prasetyo menepuk bahu Marcel.
"Lumayan bikin satu kota panik ya Bosmu."
Marcel mengusap wajahnya kasar.
"Aku hampir mendatangi seluruh tempat yang biasa Tuan kunjungi."
Prasetyo tertawa kecil.
"Luar biasa."
Kemudian wajahnya berubah serius.
Ia melirik Dave yang sedang diam menatap meja.
Lalu kembali menatap Marcel.
"Sebenernya ada apa..?" Tanya Pras.
Marcel terdiam.
"Aku juga tidak tahu."
jawabnya jujur.
Prasetyo mengernyit.
"Kamu asistennya."
"Aku tahu."
"Kamu orang yang paling dekat dengannya."
"Aku tahu Pras." Marcel sedikit kesal.
"Lalu kamu tidak tahu..?"
Marcel menoleh ke arah Pras.
Pria itu masih diam.
Tak menunjukkan keinginan untuk ikut berbicara.
Akhirnya Marcel menggeleng.
"Aku benar-benar tidak tahu Tuan kenapa." jawab Marcel.
Prasetyo menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Berpikir beberapa saat.
"Lalu hari ini ada masalah bisnis..?"
"Tidak."
jawab Marcel cepat.
"Perusahaan rugi..?"
"Tidak."
"Kontrak gagal..?"
"Tidak."
"Rapat kacau..?"
"Tidak juga." Pras semakin mempermainkan Marcel.
Prasetyo mengangguk pelan.
Lalu tersenyum tipis.
"Kalau begitu bukan soal pekerjaan."
Marcel tidak menjawab.
Prasetyo kembali melirik Dave.
Kemudian berkata pelan.
"Kalau bukan pekerjaan..."
"Berarti soal hati." kata Pras.
Untuk beberapa detik.
Marcel terdiam.
Karena jauh di dalam pikirannya.
Ia sebenarnya sudah memikirkan kemungkinan yang sama.
Makam Angela.
Perubahan sikap Dave.
Kegelisahan sejak pagi.
Semua itu seperti potongan-potongan puzzle yang belum sempurna.
Marcel hanya mengembuskan napas pelan.
Tidak membenarkan.
Tidak juga membantah.
Namun diamnya sudah cukup menjadi jawaban bagi Prasetyo.
"Hmm..."
Prasetyo mengangguk pelan.
"Aku mengerti sekarang."
Marcel hanya menatap temannya sebentar.
Prasetyo tersenyum kecil.
"Dulu waktu sekolah aku kira hidup orang kaya itu gampang."
Marcel mendengus.
"Ternyata sama aja ya."
Prasetyo melirik Dave.
"Kalau urusan kehilangan orang yang dicintai..."
"Semua orang sama."
Suasana menjadi hening sesaat.
Tak lama kemudian Marcel menepuk bahu Prasetyo.
"Terima kasih."
Prasetyo langsung tertawa.
"Kenapa..?"
"Aneh banget dengar kamu ngomong terima kasih terus dari tadi."
Marcel mengernyit tak paham.
"Dulu waktu SMA siapa yang sering nyelametin nilai matematika ku..?"
"Aku.." Jawab Marcel.
"Siapa yang sering minjemin uang pas aku lupa bawa dompet..?" tanya pras lagi.
"Aku juga." kata Marcel.
"Siapa yang nolongin aku waktu berantem..?"
"Kamu lagi kan Cel."
Prasetyo tertawa.
"Jadi jangan terlalu formal."
Marcel akhirnya tersenyum tipis.
Senyum yang jarang terlihat.
"Kalau begitu aku tetap berutang satu bantuan."
Prasetyo mengedikkan bahu.
"Nanti aja bayarnya."
Kemudian ia melirik Dave.
"Yang penting bawa Bosmu pulang dulu."
Marcel mengangguk.
"Baik."
Prasetyo mengambil jaketnya.
Bersiap meninggalkan tempat itu.
Namun sebelum pergi, ia menepuk pundak Marcel sekali lagi.
"Jaga dia."
Marcel menoleh.
Prasetyo tersenyum kecil.
"Kelihatannya dia sedang tidak baik-baik saja."
Setelah mengatakan itu.
Prasetyo melangkah pergi meninggalkan mereka.
Kini hanya tersisa Marcel dan Dave.
Marcel menarik napas panjang.
Lalu menatap atasannya yang masih duduk diam.
"Tuan."
Dave tidak menjawab.
"Sudah cukup untuk malam ini."
Beberapa detik berlalu.
Kemudian Dave akhirnya berdiri perlahan.
Tanpa membantah.
Tanpa berbicara.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu bertahun-tahun lalu.
Marcel melihat sesuatu di mata pria yang selalu kuat itu.
Sesuatu yang jarang sekali muncul.
Kesepian.
*Johan, Marcel and Dave 😁
biar gak tua-tua amat...kurang seru soalnya kalau ketuaan pemain nya 👍😁