Risti adalah anak yang dikucilkan di keluarganya, hanya ada ayah dan satu saudara laki-laki yang menganggapnya. Risti adalah anak pertama ibunya yang merupakan istri kedua ayahnya. Sedangkan ibu tiri Risti memiliki 4 orang anak.
Indriana yaitu ibu Risti sudah meninggal saat melahirkan Risti, Risti pun dibesarkan oleh seorang pembantu karena ibu tirinya yang bernama Bu Dewi tidak sudi membesarkan Risti.
***
Suatu hari,
Windi yang merupakan anak sulung Bu Dewi dijodohkan oleh seorang laki-laki yang kabarnya sudah tua, penyakitan dan juga tidak bisa diandalkan. Akhirnya saat hari pernikahan Windi kabur dari rumah, tanpa sepengetahuan Risti tiba-tiba dia yang menggantikan pernikahan kakaknya itu.
Dan ternyata pria yang dinikahkan dengannya adalah seorang mafia
Apakah mereka akan berakhir bahagia?
Simak terus kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fera Aisha Syaidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 30
Keesokan harinya,
Risti bangun, semua badannya sakit seperti habis di tumpuki barang berat, seperti biasa Vino sudah berangkat ke kantor.
Risti langsung menuju ke kamar mandi untuk mandi wajib.
Hari ini adalah giliran Beni dan Roni untuk berjaga di rumah. Risti cenderung lebih akrab kepada mereka semenjak Risti dibawakan bunga Desember minggu lalu.
Setelah selesai mandi dan memakai baju, dia langsung menuju ke dapur untuk memasak, Risti membuka kulkas untuk memasak sawi yang dibeli dari nenek kemarin. Sayurnya masih terlihat segar walau sudah berada di dalam kulkas semalaman.
Risti mulai mengupas bawang merah dan bawang putih, setelah itu Risti pun mencucinya bersamaan dengan sawi dan juga cabai.
Setelah selesai memotong motong semua bahan, Risti memanaskan wajan berisi minyak, Risti menumis bawang merah, bawah putih dan cabai terlebih dahulu, baru menumis itu saja baunga sudah merebak kemana-mana.
Di halaman rumah,
Bau masakan Risti sampai tercium ke halaman,
“Hmm, sepertinya nyonya sedang memasak ya Ron?”
“Iya Ben.”
Untungnya mereka berdua sudah sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat, tapi memang tidak bisa dipungkiri, bau masakan Risti memang sangat wangi menggugah selera.
Setelah selesai menumis sawi,
Risti mengganti wajan dan menggoreng telur. Ini untuk diantar ke kantor Vino, karena Risti bangun terlambat jadi dia tidak sempat memasakkan Vino untuk sarapan, dia pun ingin mengantarkan bekal untuk suaminya.
Selesai menggoreng, Risti memasukkan nasi ke tempat makan, dia juga memasukkan sayur sawi dan juga telur. Setelah semuanya siap, Risti membawa bekal tersebut dan berjalan menuju halaman.
“Kayaknya ada yang kurang, tapi apa ya?” gumam Risti
“Oh iya sendok.” Risti kembali berlari ke dapur dan mengambil sendok makan.
Di halaman,
Beni sedang menyiram tanaman sedangkan Roni sedang mencabuti rumput liar, bukannya berperan seperti penjaga rumah tetapi mereka malah berperan sebagai tukang kebun.
“Ben, Ron, saya mau ke kantor Vino sekarang, kalian jaga rumah saja.”
“Iya nyonya.”
“Kalian berdua sudah sarapan?”
“Sudah nya.”
“Okesip, tapi kalau lapar kalian bisa langsung ke dapur saja buat makan.”
“Baik nya.”
Risti segera menaikin mobil dan diantar ke kantor Vino.
...****************...
Di kantor Vino,
“Pak, itu nona Vianda bersikeras ingin masuk.”
“Cepat usir dia, saya tidak mau ada keributan.”
“Baik pak.”
Vianda yang sedari tadi membuat keributan pun akhirnya diseret oleh satpam.
“Kalian ngapain pegang pegang saya?! kalian nggak tau siapa saya ha?!”
“Kami tau anda adalah sepupu pak Vino tapi ini juga perintah dari pak Vino langsung untuk mengusir nona dari sini.”
Risti baru saja sampai, dia bingung, kenapa pagi-pagi begini sudah ada keribuatan. Risti turun dan mengampiri kerumanan.
Pffftt
Risti tertawa kecil saat melihat ternyata yang membuat keributan pagi-pagi begini adalah Vianda, hal ini sangat memalukan apalagi sampai diseret-seret satpam, tapi Vianda malah tetap bersikeras sembari berteriak-teriak.
Entah urat malu Vianda sudah putus atau bagaimana, tapi dia tidak memiliki rasa malu sedikitpun walau dijadikan bahan tontonan oleh seluruh kantor.
“Mending nona pergi sekarang, sebelum kami panggilkan polisi,”
Vianda akhirnya menyerah saat mendengar kata “memanggil polisi” saat ingin pergi dia melihat ada Risti di antara kerumunan.
“Awas kamu ya, udah berani rebut Vino dariku, aku akan buat perhitungan untukmu, lihat saja” batin Vianda.
Vianda berbalik arah dan segera pergi, Risti terlihat bingung, dia sadar kalau tujuan awalnya kesini bukan untuk melihat tukang onar marah-marah tapi untuk mengantar sarapan dan juga makan siang Vino.
Risti segera masuk ke dalam kantor...
Tbc.