Kemuning seorang gadis kecil murid sekolah dasar di desa yang cukup makmur. Dia diasuh oleh kakek dan neneknya.
sehari-hari dia sering dibully oleh teman-temannya di sekolah karena lahir tanpa ayah dan ibunya adalah bekerja sebagai TKW di Korea Selatan.
Ibunya pulang dalam keadaan hamil tanpa suami. Setelah melahirkan beberapa bulan kemudian ibunya kembali bekerja di Korea dan sejak saat itu Kemuning tumbuh besar dalam pengasuhan kakek dan neneknya.
Bagaimana Kemuning menghadapi bullian dari teman-temannya? Bagaimana nasib Kemuning di masa depan dengan labelnya sebagai anak Haram?
ikuti keseruan kisahnya hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Soehardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Paman Jun dan Kemuning pamit kepada harabeoje. Paman Jun memberi hormat tapi Kemuning tetap menyalaminya dan mencium tangannya. Entah kenapa Kemuning tetap tidak mau membungkukkan badannya.
Kemuning naik mobilnya paman Jun.
“Kemuning apa kau sudah pernah naik kereta apinya Korea?” Tanya paman Jun.
“Belum paman.” Jawab Kemuning.
“Mau paman ajak main di pantai?”
“Mau….mau…Kemuning belum puas main di pantai paman.” Jawab Kemuning sambil melompat-lompat kegirangan di kursinya.
Paman Jun mengajak Kemuning ke stasiun kereta api dia membeli tiket KA dan mengajak Kemuning masuk.
“Ini kereta cepat Kemuning beda dengan kereta api biasa.” Kata paman Jun
Kemuning terkagum-kagum melihat kemewahan kereta api itu. Ini juga pengalaman pertama Kemuning naik kereta api. Dia membuat video naik kereta cepat di Korea.
Akhirnya dia dan paman Jun telah sampai. Mereka naik taxi ke pantai. Pantai yang mereka kunjungi sangat berbeda dengan pantai di pulau Jeju yang berkarang. Di sana pantainya tidak ada karang dan hanya ada hamparan pasir dan ombak pantai.
“Kita hanya bisa melihat pantainya dari jauh Kemuning karena ombaknya cukup berbahaya. Apa kau ingin membuat video dan berfoto? Kemuning hanya mengangguk.
Paman Jun membantu Kemuning mengabadikan pose-pose Kemuning di tepi pantai itu.
“Paman rasa sudah cukup sekarang waktunya kita pulang. Kalau tidak kita terpaksa harus menginap di kota ini Kemuning. Kita tidak boleh terlambat membeli tiket kereta terakhir.” Kata paman Jun.
Sebelum ke stasiun kita membeli makanan dulu untuk di makan di kereta api karena tidak cukup waktunya untuk makan dulu.
Paman Jun membeli ayam goreng, French fries dan cola. Kemudian mereka kembali ke stasiun kereta api.
“Ini bukan kereta cepat Kemuning. Tapi cukup bagus kan?”
“Iya paman keretanya tidak kalah bagus dengan yang tadi.” Jawab Kemuning.
Mereka makan di dalam kereta api. Setelah selesai makan. Paman Jun mengumpulkan sampahnya dan menyuruh Kemuning untuk tidur kalau ngantuk.
Perjalanan lebih lama daripada berangkatnya Kemuning sampai tertidur didalam kereta api.
Dia dibangunkan paman Jun dan ternyata mereka sudah sampai di Seoul.
Paman Jun menyetir mobilnya menuju apartemen ayah Kemuning.
Sesampainya di apartemen Kemuning langsung masuk ke kamarnya dan membersihkan dirinya di toilet yang terletak di kamarnya kemudian melanjutkan tidurnya.
Keesokan harinya Kemuning bangun dan melihat paman Jun sedang memasak, dia cepat-cepat mandi berpakaian dan menyisir rambutnya dan mengikatnya seperti biasa.
“Selamat pagi paman, sedang masak apa?” Tanya Kemuning.
“Hmm….semoga kau suka dengan masakan paman ya. Paman masak sup sayuran dan menggoreng chicken luncheon. Hanya itu bahan makanan yang ada di kulkas.
Paman Jun menata meja dan mengajak Kemuning sarapan.
“Cobalah kimchi ini Kemuning. Di Korea semua orang memakan kimchi. Kimchi sangat baik untuk pencernaan kita karena mengandung bakteri baik dari fermentasi nya.
Kemuning mencoba sedikit tapi tidak mau memakannya lagi.
“Aku tidak suka paman, rasanya pedas, asam, ada aroma amisnya.”
“Iya kimchi dibuat dari bubuk cabe, bawang putih dan tinta cumi-cumi mentah.” jawab paman Jun.
Kemuning bergidik dia tidak terbiasa makan makanan mentah seperti orang Korea.
Dia makan sup dan chicken luncheon yang digoreng. Sup buatan paman Jun cukup enak dan pagi itu Kemuning makan dengan lahap.
“Hari ini kita mau kemana paman?” Apakah ayah dan ibu masih berbulan madu?”
“Besok mereka datang nak. Hari ini paman akan mengajakmu melihat pertanian di Korea. Kau bisa membandingkan dengan pertanian di desamu.” Kata paman Jun.
“Apa kita akan naik kereta api lagi?”
“Iya kita akan naik kereta api lagi dan hari ini kita akan menginap di rumah orang tua paman. Paman akan mencuci bekas makan kita. Siapkanlah bajumu tidak usah bawa banyak secukupnya kebutuhanmu saja.” Perintah paman.
“Baik paman” kata Kemuning sambil beranjak dari kursinya dan masuk ke kamarnya untuk menyiapkan kebutuhan yang diperlukan selama di rumah orang tua paman Jun.
Mereka naik mobil menuju stasiun kereta api dan naik kereta api menuju desa paman Jun. Sesampainya disana ada seorang perempuan yang menjemput mereka.
Dia memberi hormat pada paman Jun. Lalu menyapa Kemuning “ini pasti Kemuning” katanya sambil menyalami Kemuning.
Kemuning heran karena dia fasih berbahasa Indonesia.
“Aku dari Indonesia Kemuning, aku bekerja di pertanian milik orang tua paman Jun.” Katanya.
Mereka lalu bertiga naik mobil menuju rumah orang tua paman Jun. Sepanjang jalan banyak hamparan padi yang menguning. Kemuning jadi ingat akan desa kelahirannya. Kemudian hamparan hijau ladang ubi dan ladang sawi, juga ladang daun bawang.
Kemuning tiba di sebuah rumah yang tertutup. Saat pintu dibuka terdapat halaman yang luas dan rumah khas pedesaan di Korea. Dia orang yang sudah tua datang menyambut mereka.
Kemuning menyalami dan mencium tangan mereka memanggil dengan sebutan harabeoje dan haemoni.
Mereka mempersilahkan masuk dan wanita Indonesia yang bernama Laras itu menunjukkan kamar Kemuning.
Orang tua paman Jun sudah menyiapkan makan siang untuk mereka. Hidangan tradisional Korea.
Kemuning lebih suka makan chap jae yang lebih mirip bihun di Indonesia dan menghabiskan sup lobak dengan potongan daging.
Selesai makan siang paman Jun mengajak Kemuning melihat proses panen sawi dan pembuatan kimchi yang akan dijual di kota.
Ternyata di Korea banyak pekerja dari Indonesia. Kemuning sempat berkenalan dengan mereka. Ada yang dari Jawa Barat, kebanyakan dari Jawa Timur. Kemuning merasa betah di rumah paman Jun karena dia tidak merasa sendiri. Banyak orang Indonesia di sekitarnya.
Menjelang sore para pekerja pulang ke tempat kos masing-masing. Kemuning pulang ke rumah orang tua paman Jun.
Disana dia ditemani Laras. Mereka ngobrol di halaman rumah tua itu dan duduk di bangku yang mirip dipan lebar sambil minum teh ditemani kudapan. Kentang kukus dan ubi kukus. Laras menerjemahkan kata-kata harabeoje dan haemoni jadi mereka bisa berkomunikasi dua arah.
Haemoni bertanya apakah Kemuning merasa senang tinggal di desanya.
Kemuning menjawab senang sekali karena ini mengingatkan dia akan desa tempat dia tinggal. Kemuning juga bercerita dia suka bermain di sawah, di hutan mencari sayuran liar dan buah-buahan liar.
Setelah makan malam Kemuning tidur ditemani oleh Laras. Dia tidur di kasur yang digelar di lantai. Kemuning merasa berada di film Drakor yang sering ditontonnya. Tidur di rumah pedesaan dengan kasur di lantai.
Keesokan harinya setelah sarapan paman Jun mengajaknya melihat orang memanen daun bawang. Udara tercium seperti daun bawang. Di Korea daun bawang adalah produk pertanian yang sangat laris karena mereka selalu mengkonsumsi masakan yang dibumbui dengan daun bawang.
Setelah cukup melihat proses panen daun bawang paman Jun mengajak Kemuning kembali ke Seoul mereka tidak sempat makan siang karena jadwal kereta api terakhir sudah terlalu mepet.
Seperti biasa paman Jun membeli makanan untuk di makan di kereta. Kali ini dia membeli kimbab dan soda. Mereka makan di kereta sambil menikmati pemandangan di pedesaan yang sebentar lagi mereka tinggalkan.
“Setelah ibumu selesai berbulan madu kau akan pulang ke Indonesia Kemuning. Sungguh sayang padahal masih banyak wisata yang belum kamu kunjungi.” Kata paman Jun.
“Tidak apa-apa paman saya sangat menikmati liburan ke desa paman saya merasa seperti pulang ke rumah nenek.” Jawab Kemuning.
“Kau lebih suka tinggal di desa apa tinggal di kota?” Tanya paman.
“Saya lebih suka tinggal di desa paman” kata Kemuning.”
Akhirnya kereta api sudah tiba di Seoul. Kemuning kembali ke apartemen ayahnya bersama paman Jun. Hatinya gembira karena besok dia akan bertemu dengan ibunya.