Naora, seorang wanita yang dijadikan taruhan oleh suaminya yang sering menyiksanya selama dua tahun pernikahan. Ia dengan tega menyerahkan Naora pada lawannya yang seorang penguasa.
Damian, seorang Bos mafia yang kejam seketika menaruh rasa iba pada Naora saat melihat luka-luka di tubuh Naora.
Sikap Damian yang dingin dan menakutkan tidak ada ampun pada lawannya tapi tidak sedikitpun membuat Naora merasa takut. Hatinya sudah mati rasa. Ia tidak bisa merasakan sakit dan bahagia. Ia menjalani hidup hanya karena belum mati saja.
Namun tanpa diduga, hal itu malah membuat Damian tertarik dan ingin melepaskan Naora dari jerat masa lalunya yang menyakitkan.
Akankah Damian bisa melakukannya dan terjebak dalam rasa penasarannya ?
Minta dukungan yang banyak ya teman-teman 🫶 Terimakasih 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyebalkan
Seorang pelayan datang dengan membawa semangkuk sup panas dan obat penurun demam barangkali Naora membutuhkannya. Lukas sudah meninggalkan mansion sesudah memerintahkan pelayan membuat sup.
Ia pergi untuk mewakili Damian bertemu dengan Roberto. Sebenarnya Damian ingin mengabaikannya saja, namun melihat jejaknya yang begitu licik selama ini membuat Damian tertarik dan akhirnya mempertimbangkan untuk membantunya. Tentunya dengan imbalan besar yang harus diberikan pada Damian.
Dengan sedikit paksaan, akhirnya Naora mau saja saat Damian menyuapkan sup padanya. Sudut hati Naora merasa hangat karena perhatian atau apapun itu. Apalagi Damian juga sedikit meniup sup tersebut.
Tidak ada pembicaraan apapun diantara keduanya sampai mangkuk sup kosong tanpa sisa.
"Apa kau begitu tidak sukanya menjadi istriku sampai berusaha untuk bunuh diri ?". Tanya Damian saat Naora menyerahkan gelas sesudah meminum obatnya.
"Aku tidak berniat bunuh diri !". Jawab Naora kekeh. Ia heran, mengapa sejak tadi Damian menuduhnya ingin bunuh diri. Padahal ia hanya tidak sengaja pingsan.
"Siapa yang percaya. Nyatanya di pergelangan tanganmu begitu banyak sayatan". Sindir Damian. Naora segera melihat tangannya sendiri kemudian menyembunyikannya di dalam selimut.
"Aku memang melakukan hal itu dulu. Tapi kemudian aku tersadar. Seberapa berusaha aku ingin melenyapkan diriku sendiri, tapi jika takdir belum menghendaki ku untuk pergi maka hanya rasa sakit yang kuterima". Jawab Naora menundukkan kepalanya.
Damian melirik Naora. Mendengar ucapan Naora barusan, mengapa membuatnya merasa bersalah.
"Sudahlah, jangan bicara hal menyedihkan. Aku juga tidak merasa kasihan padamu". Kata Damian bangkit dari duduknya dan menuju kearah kamar mandi.
Naora hanya memandang kepergian Damian dengan tatapan datar.
"Pria itu mulutnya seperti perempuan". Kata Naora meremas udara.
Mulut Damian memang pedas jika bicara. Tapi sedikitpun tidak sampai melukai hati Naora. Berbeda dengan Aldric, setiap ucapannya entah itu baik atau buruk akan selalu membekas dihatinya.
Apa karena ia begitu mencintai Aldric sedangkan pada Damian tidak ada perasaan apa-apa.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang ? Aku istri dari Damian ". Tanyanya pada diri sendiri.
Naora melamun sambil bersandar. Ia bahkan tidak berani turun dari ranjang.
"Kalau kau sudah merasa lebih baik, ayo ikut denganku". Kata Damian setelah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk sebatas pinggang.
Pemandangan itu lagi yang Naora lihat. Ia menarik nafasnya panjang. Apa pria itu tidak malu membuka baju di depannya. Pikir Naora dengan tatapan menyipit.
"Kenapa harus malu ? Aku tidak telanjang. Lagi pula aku begini hanya di depan istriku sendiri. Bukan di depan istri orang lain". Naora sangat tercengang mendengar apa yang Damian ucapkan.
Bagaimana pria itu bisa tau isi hatinya ? Dan lagi, jawaban apa yang baru saja dilontarkannya ? Istriku sendiri ?
Wajah Naora memerah mendengar kata itu. Entah karena malu atau terpesona. Cepat-cepat ia turun dari ranjang dan menuju kearah kamar mandi tanpa berniat melirik Damian.
"Jangan berlari. Kau itu sudah dewasa sudah bukan waktunya malu-malu seperti itu". Kata Damian agak keras agar Naora mendengarnya.
Tidak ada balasan dari Naora. Ia segera menutup pintu kamar mandi agar tidak mendengar ucapan Damian yang tidak bermutu.
Setelah mendengar suara pintu tertutup, Damian segera berguling-guling diatas ranjang. Ia menjambak rambutnya sendiri kemudian menutup mulutnya yang sejak tadi ingin tertawa.
"Ekspresinya sangat lucu haha". Kata Damian tertawa.
"Aku tidak menyangka bisa mengatakan tentang istri padanya". Katanya sambil menutup wajahnya. Senyum di bibirnya masih belum surut dan mungkin tidak akan surut setidaknya sampai hari ini.
Naora mencuci wajahnya. Matanya juga terasa berat. Kemudian ia memutuskan untuk mandi. Tidak ia pikirkan apa yang Damian ucapkan.
Baru saja melepaskan pakaiannya, pintu kamar mandi diketuk dengan keras. Setelah itu terdengar suara Damian yang berteriak tidak perlu mandi. Itu hanya akan memakan waktu lama.
Dengan perasaan sebal luar biasa, Naora mengenakan pakaiannya kembali. Biarlah jika nanti Damian mencium aroma tidak sedap dari tubuhnya.
"Sudah selesai ? Kenapa cepat sekali ?". Tanya Damian yang berada tepat di depan pintu kamar mandi. Membuat Naora begitu terkejut sampai memegangi dadanya.
Lidahnya terasa gatal ingin mengatakan isi hatinya. Tapi telinganya enggan mendengar ocehan Damian.
"Iya, aku tidak mandi. Aku tidak mau membuang waktumu yang berharga". Kata itulah yang meluncur mulus dari bibir Naora.
"Pakaianmu ada di dalam. Cepatlah bersiap, aku menunggumu diluar. Kenakan sepatu yang nyaman dan jangan lupa memakai mantel". Kata Damian menunjuk ruang ganti tempat dimana barang-barang Damian berada.
Naora terdiam mencerna ucapan Damian. Apa maksud Damian ia harus mengenakan pakaiannya ?
Setelah membuka pintu ruang ganti, mata Naora membulat melihat banyaknya koleksi sepatu dan tas wanita berjajar di lemari kaca.
Milik siapa ini ? Sejak kapan ada benda seperti ini disini ? Seingatnya, beberapa hari yang lalu ia menyiapkan baju Damian benda-benda ini belum ada.
Kemudian Naora mengalihkan pandangannya pada sebuah lemari panjang yang sangat mewah berwarna emas. Lemari ini juga sepertinya baru diletakkan disini.
Ia membukanya dan matanya seketika berbinar melihat banyaknya pakaian wanita yang sangat indah.
Selama berada di mansion Aldric, Naora memang mengenakan gaun yang bagus namun ia hanya memiliki beberapa potong saja yang ia kenakan secara berulang. Jika Aldric ingin membawanya ke pesta, barulah Aldric memberikan gaun mewah dan perhiasan.
Selayaknya wanita lain, Naora pun juga menyukai hal itu. Ia begitu menjaga barang-barang miliknya sampai kedatangan Almire tidak hanya merebut Aldric saja melainkan semua barang mewah pemberian Aldric.
Tapi di kemudian hari ia menyadari satu hal. Almire tidak merebut Aldric darinya, melainkan Aldric yang memang tidak menginginkannya.
Naora mengambil satu gaun yang terlihat sederhana berwarna hijau emerald berbahan tebal dan sangat halus.
Di satu laci, ia juga melihat pakaian dalam yang sesuai dengan ukurannya.
Tidak mau membuat Damian menunggu lama, akhirnya Naora segera memakai pakaiannya. Ia juga mengambil sepatu boot wanita yang memiliki hak rendah berwarna hitam serta mantel warna hitam pula.
..
Langkah kaki Naora yang menuruni anak tangga mengalihkan pandangan Damian dari ponselnya. Ia menatap kearah Naora yang terlihat cantik seperti biasanya walaupun tidak menggunakan riasan.
"Kau tidak memakai tas ?". Tanya Damian. Setahunya, para wanita begitu memuja benda-benda fashion seperti itu.
"Aku tidak memiliki barang apapun yang penting. Jadi untuk apa membawa tas". Jawab Naora.
Benar juga. Naora tidak memiliki ponsel atau bedak yang bisa ia bawa kemana-mana.
"Yasudah ayo kita pergi". Kata Damian menggandeng tangan Naora. Naora hanya mengikuti langkah Damian dan membiarkan tangannya digenggam oleh Damian.
Damian mengendarai mobilnya sendiri. Dan Naora berada di sampingnya. Meskipun ia mengemudi sendiri bukan berarti mereka pergi tanpa pengawalan. Dibelakang mobil Damian ada setidaknya empat mobil anti peluru yang mengikuti.
Naora nampak sesekali melihat keluar jendela merasakan angin musim dingin.
Dan sesekali pula Damian melirik kearahnya. Ia tau Naora tidak mengenakan apapun di wajahnya tapi kenapa wanita itu jadi semakin cantik.
'Sepertinya aku harus memeriksakan mataku'. Gumam Damian sambil menggelengkan kepalanya.
...
Enak kali di kejar mafia posesif. Tapi harus tahan sama omongannya 😂