"Mulai malam ini kamu milikku, aku suka 45imu yang manis itu." ujar Kael sambil tersenyum miring.
"Hey kamu bilang anakmu tapi ini apa? Kau berbohong padaku om jelek!" jawab Vanya dengan raut wajah kesalnya.
"Sssttt! diam dan jangan banyak bicara, elus kepalaku!" titah Kael mengusap lembut pipi gemoy Vanya.
>>Mau tau kelanjutannya? simak terus dan jangan skip bab, karna di setiap bab ada kejutannya💥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergok Calon Mama Mertua
Vanya menoleh ke samping, matanya berkilau dengan semangat yang baru muncul.
"Pengen punya tato," gumamnya pelan, seolah-olah itu adalah pengakuan rahasia yang hanya ingin didengar oleh dirinya sendiri.
Kael, yang baru saja menyelesaikan berkas-berkasnya, mendengar gumaman Vanya dan langsung mendekat ke arah kekasihnya.
Dengan lembut, ia memeluk Vanya dari belakang, kehangatan tubuhnya menyelimuti ruang di antara mereka. "Kenapa?" tanyanya, suaranya lembut, penuh dengan kepedulian.
Vanya menghela nafas, menikmati kehangatan dari pelukan Kael. "Pengen punya tato kecil di belakang telinga," jawabnya, suaranya masih rendah, seolah-olah sedang meminta izin.
Kael mengernyitkan dahi, kelembutan di wajahnya perlahan berganti dengan kekhawatiran. "No, gak boleh di tato," katanya tegas, tapi masih dengan nada yang penuh kasih.
Vanya mengerucutkan bibirnya, rasa kecewa tergambar jelas di wajahnya. "Ishh kamu juga punya tato loh," protesnya, mencoba menggunakan fakta itu sebagai argumen. "Ayolah sayang, pengen di tato."
Kael tersenyum, menenangkan. "Boleh, tapi yang nato," katanya, mencoba melucu untuk meredakan ketegangan.
Vanya menggeleng, tidak terhibur oleh candaan Kael. "Mending gak usah sih, dah lah aku mau tidur aja bye." ucapnya, suara kecewa terasa jelas dan dia berbalik untuk meninggalkan ruangan, meninggalkan Kael yang masih berdiri, bingung dengan respons dari kekasihnya itu.
Malam itu, Vanya terbaring di tempat tidur, pikirannya melayang pada ide tato yang telah lama ia impikan.
Di sisi lain, Kael duduk di ruang tamu, merenungkan percakapan mereka, bertanya-tanya apakah ia terlalu keras dalam menolak permintaan Vanya.
Kedua hati itu, meski terpisah oleh ruang dalam rumah yang sama, terasa jauh.
Kegelisahan menggantung di udara, sepi menyelimuti malam yang seharusnya diisi dengan kehangatan cinta mereka.
"Vanya sayang jangan marah, tato gak baik sebenarnya sayang." ujar Kael sambil berjalan ke arah lantai atas.
"Buka pintunya." titah Kael dengan raut wajah seriusnya.
"Gak mau, kamu jahat, orang aku pengen punya tato kecil aja gak di bolehin. Kita putus aja kal...."
"Vanya laraysa....!" ucap Kael dengan suara rendahnya.
Kalau sudah begini mau tak mau Vanya langsung membuka pintu kamarnya.
Kedua kakinya ia hentakkan sekeras mungkin, "berhenti," ucap Kael.
"Apa sih, kan udah aku bukain." jawab Vanya ketus. "Apanya? belum tuh, nih celana aku masih utuh belum terjun ke bawah." jawab Kael sambil terkekeh pelan.
"KAEL AKU SERIUS AKU GAK MAU BERCANDA YA!" teriak Vanya dengan raut wajah yang sudah memerah. Antara kesal bercampur malu.
"Kenapa sih, jangan marah marah ya, sini aku kasih tato gratis aja yang gak sakit," ujar Kael dengan suara lembutnya.
"Gak mau, emang aku gak tau apa sama otak licik kamu itu." sahut Vanya sambil melirik sinis kekasihnya itu.
Namun tak lama dari itu Velia Garamosador tiba di mansion Kael. Padahal ini sudah pukul 23.00 tengah malam.
CEKELK!
Tentu saja Kael dan Vanya langsung menoleh kaget bukan main.
"Mama...." ujar Kael.
"Mama....? What the hell! ini Mama nya Kael. Wah bakalan jadi rendang nih gue, gimana kalau sampai Mamanya Kael mikirmacem macem. Duh harga diri gue hilang kalau gini caranya.." ujar Vanya bingung di dalam hatinya.
"KAEL KAMU BAWA ORANG HАН? ANAK SIAPA YANG KAMU CULIK INI? DASAR ANAK NAKAL KEMBALIKAN DIA SEKARANG....!" teriak Velia Garamosador dengan suara kerasnya.
"Mama ini gak seperti yang Mama kira aargh aw aw lepas mah sakit woy....!" pekik Kael saat telinganya di jewer Mamanya.
"Tan...tante...." ujar Vanya terbata-bata.
Velia Garamosador langsung menoleh ke arah Vanya, "Ya ampun sayang kamu cantik sekali, rumah kamu di mana ayo Mama anter. Kamu pasti di culik kan sama anak Mama yang jelek itu...?" ujar Velia Garamosador panjang lebar sambil memegang kedua tangan Vanya.
"Hah..." Vanya yang bingung hanya bisa menatap mereka berdua.
"Enggak gitu tante tenang dulu. Biar Vanya jelasin. Kita bersua ini gak ada apa apa Tan..."
"Dia calon istri Kael." potong Kael.
Kedua mata Mama Velia terbuka lebar, "yang bener aja Kael?!" ujar Mama Velia sambil menatap tajam putra semata wayangnya itu.
Tentu mendengar jawaban Mama Kael membuat Vanya takut bukan main, sudah bisa ia pastikan kalau Mamanya ini tak akan suka dengannya.
"Masa iya gadis secantik ini mau sama kamu yang kaya kanebo kering ini?" lanjut Mama Velia sambil menarik lengan Vanya.
"Sayang tatap kedua mata Mama. Apa bener kamu calon istrinya anak Mama?" tanyanya dengan lembut namun tak sabaran.
Vanya yang syok pun dengan cepat langsung menatap Kael seolah mencari jawaban dari kekasihnya itu.
"Hey sayang lihat Mama jangan lihat Kael. Apa kamu di paksa sama anak Mama hmm? ayo bicara sayang jangan takut." ujar Mama Velia yang malah seperti udah kenal lama dengan Vanya.
"Kami baru pacaran Tan..."
"Hey panggil aku ini Mama Velia. Kamu pacar anak Mama kan, jadinya panggil Mama aja. Kamu udah Mama anggap seperti anak Mama sendiri sekarang." potong Mama Velia dengan raut wajah bahagianya.
Tentu bahagia, karna tengah malam dia ke sini karna Kael di rumahnya cuma waktu malam, eh sampai di sini malah dapat kejutan yang membuatnya bahagia bukan main.
"Mah, jangan bikin takut Vanya." ujar Kael.
"Hey kamu diam ya anak nakal, kenapa kamu gak bilang sama Mama kalau udah punya pacar, dasar ya kamu itu bisanya cuma buat Mama pusing!" kesal Mama Velia pada Kael.
"Hmmm" sahut Kael dengan deheman pelan.
"Sayang kamu anaknya siapa tinggal di mana hmm?" tanya Mama Velia.
"Aku..."
"Dia ditinggal di sini sama Kael Mah, namanya Vanya Laraysa Montgomery. Dia masih sekolah SMA kelas 3." jawab Kael cepat.
"APA....! KALIAN TINGGAL BERSAMA?GAK BISA DI BIARKAN! Sayang besok kalian harus nikah pokoknya." ujar Mama Velia sambil memeluk erat Vanya.
Sungguh dalam hati ia sangat bahagia sekarang karna dengan begini ia akan punya mantu dan punya cucu.
"Bahagianya aku hari ini, gak sia sia tengah malem ke sini. Mas Valino kita mau punya cucu sebentar lagi." ujar Mama Velia di dalam hatinya.
"Tapi Tan Vanya masih sekolah, gak bisa nikah gitu aja. Vanya bahkan gak akur sama orangtua Vanya. Mama udah gak ada Papa nikah lagi jadinya Vanya pergi dari rumah." ujar Vanya dengan jujur tanpa ada yang di tutupi lagi.
Karna menurut Vanya satu kebohongan akan menciptakan kebohongan yang lainnya nantinya.
"Sayang, sini peluk Mama nak. Sekarang kamu jadi anak Mama ya. Anggap Mama seperti Mama kandung kamu sendiri. Jangan sedih ya." ujar Mama Velia dengan kedua mata yang sudah berkaca kaca. Kael menatap Mama Velia dan kekasihnya yang saling berpelukan itu, entah kenapa hatinya sangat damai sekarang.
Kael langsung tersenyum miring, "Mah, kita akan nikah tapi tunggu Vanya lulus dulu." ujar Kael.
"Gak bisa, kalian nikah privat aja dulu, tapi kalau mau nunggu Vanya lulus dulu, biar Vanya tinggal sama Mama. Mama gak bisa percaya sama kamu gitu aja." sahut Mama Velia memberi dua pilihan pada putranya itu.
"Tinggal sama Ma...."
"Gak bisa, harusnya kita tinggal berdua. Aku gak bisa jauh dari kamu." potong Kael.
Tentu Kael langsung mendekat ke arah Vanya dan memeluknya dengan erat.
Kedua mata Mama Velia melotot tajam, "hey kalian belum muhrim jangan aneh-aneh kamu Kael!" tegur Mama Velia.
Padahal dalam hati Mama Velia sangat bahagia melihat putranya kini kelihatan normal, tidak seperti dulu yang sangat anti dengan perempuan.
"Mama janji akan menyayangi kamu seperti anak kandung Mama sendiri Vanya. Kamu anugerah bagi kami, makasih udah datang dan buat bahagia anak Mama satu satunya." ucap Mama Velia di dalam hatinya.
Ia mengusap air matanya yang tiba tiba jatuh itu, sungguh demi apapun kebahagiaan ini tak bisa di tukar dengan apapun.
"Mama sayang kalian berdua. Darimana pun kamu berasal, Mama gak akan permasalahkan itu Vanya." ujar Mama Velia dengan suara seraknya.
"Hikss hikss Mama jangan nangis, Vanya jadi ikut nangis kan hikss hiksss...." jawab Vanya sambil menangis sesenggukan.
"Hey kalian kalian berdua ini kenapa sih, jangan nangis." ujar Kael sambil memeluk kedua wanita paling berharga dalam hidupnya itu.
"Mama bahagia Kael...."
"Vanya juga bahagia kok...."
Kael terkekeh pelan mendengar ucapan mereka berdua ini.
"Vanya sekarang katakan kamu udah di apain aja sama anak nakal Mama ini? ayo bicara jangan takut. Ada Mama di sini, Kalau Kael marah biar Mama yang marahin balik. Ayo jujur sama Mama sayang.....?"
"Udah ya, ini udah malem, Mama tidur di kamar tamu ya. Daaa Mah besok lagi." ujar Kael dan langsung menggendong Vanya seperti karung beras.
Tentu saja Vanya berteriak keras, ia sangat mual dan ingin muntah rasanya kalau di gendong seperti ini.
"KAEL BERHENTI KAMU! JANGAN BAWA VANYA KE KAMAR, KALIAN GAK BOLEH TIDUR BARENG, BELUM MUHRIM! KEMBALI KAEL...!!" teriak Mama Velia dengan suara kerasnya.
"Mama tolong uhuk...uhuk....huwek.... huwek....!" teriak Vanya dengan suara kerasnya.
"Janji gak akan Kael apa apain Mah, Vanya akan aman. Kalau pun hamil duluan Kael langsung akan tanggungjawab." ujar Kael sambil terkekeh pelan.
BRAK!
Pintu kamar langsung Kael kunci, tentu saja Mama Velia menendang bahkan memukul pintu itu dengan keras, "KAEL KELUAR KAMU JANGAN ANEH ANEH YA! BERIKAN VANYA PADA MAMA!!" teriak Mama Velia dengan raut wajah kesalnya.
"Vanya akan aman Mama sayang tenang aja." jawab Kael dari dalam.
Kael langsung menidurkan Vanya di atas ranjang empuknya.
"Kamu tuh gila tau gak, di luar ada Mama jangan aneh aneh ya, kita tidur kepisah malem ini, aku keluar ya." ujar Vanya pada Kael.
"No, kita tidur bersama malam ini kalau perlu kita buatkan Mama cucu, gimana hmm?" tawar Kael sambil menarik turunkan kedua alisnya.
"HUAAA MAMA VELIA TOLONGIN VANYA, ANAK MAMA INI JADI PREDATOR GILA TOLONG....emmh...shhh...Kael....lep-lepas...shhh....!" "Ssst! jangan teriak diam dan nikmati...." bisik Kael dengan suara seraknya.