Cerita ini mengisahkan tentang seorang pemuda bernama Andreas yang bernasib menyedihkan selama bersama keluarganya sendiri.
Setelah ibunya dan kakak pertamanya membawanya pulang ke rumahnya, alih-alih mendapat kasih sayang dari keluarganya, malah dia mendapat hinaan serta penindasan dari mereka.
Malah yang mendapat kasih sayang sepenuhnya adalah kakak angkatnya.
Akhir dari penindasan mereka berujung pada kematiannya yang tragis akibat diracun oleh kakak angkatnya.
Namun ternyata dia mempunyai kesempatan kedua untuk hidup. Maka dengan kehidupan keduanya itu dia gunakan sebaik-baiknya untuk balas dendam terhadap orang-orang yang menindasnya.
Nah, bagaimanakah kisah selengkapnya tentang kisah pemuda yang tertindas?
Silahkan ikuti terus novel PEMBALASAN PUTRA KANDUNG YANG TERTINDAS!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikri Sa'ati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPKYT 030. Rasa Sakit yang Sesungguhnya, Bukan Kepura-puraan
"Kalau begitu tujuan kamu datang ke sini apa, Andre?" tanya Lucas Grayden seolah belum tahu masalah, atau ingin mendengar langsung dari mulut Andreas.
"Ingin mengukuhkan tentang pernyataan saya yang ingin memutus hubungan keluarga dengan keluarga Grayden," sahut Andreas dengan tenang namun bernada mantap dan tegas.
Tentu saja perkataan Andreas yang lugas itu dapat didengar oleh semua orang yang ada di gedung itu, sepertinya. Dan perkataan sekaligus pernyataan itu sukses membuat mereka semua kembali terkejut.
Tidak kalah terkejutnya Lucas Grayden saat mendengar langsung pernyataan Andreas itu, bahkan amat terkejut.
Kenapa pemuda itu begitu berani melontarkan pernyataan demikian? Apa dia tidak tahu konsekuensi dari perkataannya itu?
Hal itu sama saja menghina keluarga Grayden. Sama saja Andreas menganggap keluarga Grayden tidak punya kesakralan sama sekali.
"Apa kamu sudah mempertimbangkan pernyataan kamu itu, Andre?" tanya Lucas Grayden tidak marah dan tidak tersinggung.
"Bagi saya hal Itu bukan sesuatu yang harus dipertimbangkan, Tuan Lucas," sahut Andreas bernada sopan dan tersenyum ramah, "akan tetapi sesuatu yang harus saya putuskan... dengan cepat. Biar tidak membawa beban pikiran bagi saya di kemudian hari."
Maksud penggalan kalimat terakhir Andreas itu adalah apabila dia sudah siap melancarkan balas dendamnya terhadap keluarga Grayden, dia tidak perlu sungkan dan khawatir lagi karena dia bukan lagi termasuk keluarga Grayden.
Tapi sepertinya ucapan itu cuma Andreas sendiri yang dapat memahami. Karena tampaknya para hadirin lebih memikirkan tentang pernyataannya yang amat berani.
Memutus hubungan keluarga dengan keluarga Grayden! Sungguh hal itu belum pernah terjadi dalam keluarga Grayden dari turun temurun.
Barulah pemuda sombong ini, begitulah pikiran sebagian besar para hadirin, sepertinya.
Lucas Grayden masih menikmati keterkejutannya mendengar semua perkataan Andreas barusan dalam diam. Sampai dia belum bisa berbicara untuk beberapa saat lamanya.
Sedangkan Samuel Grayden dan Elvina Grayden juga hanya bisa terpaku diam di tempat mereka berdiri. Mereka menatap sengit pada Andreas, penuh rasa tidak percaya.
Sementara Leonard, Evelyne, Nyonya Victoria dan Stephanie juga menatap Andreas lekat-lekat dengan ekspresi yang berbeda-bedan dan pikiran yang berbeda-beda pula.
Sementara itu William Barnett serta putranya Draven Barnett cuma diam saja sejak tadi. Mereka seperti lebih asyik dan senang mendengar dan menyaksikan adegan yang berlangsung amat seru itu, ketimbang ikut berpartisipasi.
"Baik, aku menerima tantanganmu, anak sialan," kata Pak Hendrick seketika memecah kebisuan dan kesunyian yang melanda. "Aku mau lihat sampai di mana kau bertahan dengan pernyataan konyolmu."
"Keputusan saya bukan sebuah pernyataan tantangan, Tuan Hendrick Grayden," kata Andreas bernada kalem tapi tegas sambil tersenyum tenang, menyebut lengkap nama ayahnya. "Tapi ini sebuah pernyataan yang final."
"Andre, pikirkan lagi keputusanmu, sayang!" Nyonya Victoria masih berusaha membujuk, tidak perduli jika sejak tadi Andreas tidak menghiraukannya. "Kamu mau tinggal di mana kalau tidak bersama keluarga Grayden lagi, sayang...."
Perlahan Andreas menggerakkan kepadanya menoleh pada Nyonya Victoria, lalu menatap wanita itu dengan datar. Wajah Andreas kini berubah dingin. Lalu terdengar dia bertanya bernada dingin.
"Nyonya Victoria, Anda bertanya kepada saya di mana saya tinggal kalau tidak bersama keluarga yang Anda banggakan itu, maksudnya menyarankan saya tempat tinggal yang nyaman, begitu?"
"Benar, Andre, kamu akan nyaman tinggal bersama kami ketimbang tinggal di luar saja," sahut Nyonya Victoria sambil menatap lembut pada putranya yang malang. "Cabut saja keputusanmu, sayang, ya...."
"Dengar, Nyonya Victoria! Saya tinggal di panti asuhan sejak bayi hingga 18 tahun itu jauh... lebih nyaman dan lebih baik, ketimbang saya tinggal di rumah Anda selama 4 tahun...."
Nada suara Andreas mulai sedikit meninggi dan berapi-api, tapi dia tetap menjaga ketenangan emosinya.
Hati Nyonya Victoria langsung terhenyak kaget mendengar ucapan Andreas barusan. Bukan karena suara ucapan itu yang seperti membentaknya. Tapi karena kandungan ucapan itu yang mengungkapkan perasaan Andreas selama ini saat tinggal di tengah-tengah mereka.
Stephanie semakin sedih melihat Andreas sudah mulai memberontakkan perasaannya, perasaan yang gadis itu yakin kalau selama ini Andreas telah lama memendamnya.
Lucas Grayden, Nayshilla, Nathan maupun beberapa orang lainya makin terhenyak kaget menyaksikan kenyataan yang terkuat pada Andreas. Mereka yakin itu luapan kejujuran dari perasaan Andreas yang selama ini dipendam.
Sementara Pak Hendrick, Pak Samuel, Nyonya Elvina, Evelyne maupun beberapa orang lainnya yang satu spesies dengan mereka hanya bisa diam mendengar ucapan Andreas barusan.
Namun tatapan mereka begitu sengit dan tajam menatap Andreas.
Sedangkan Leonard tetap berusaha menjaga sikap santun dan baik hati-nya. Padahal di dalam hatinya semakin meruntuk Andreas setengah hidup.
★☆★☆
"Jadi, jangan pernah berpikir saya merasa nyaman tinggal di kediaman Anda yang megah itu," intonasi suara Andreas sudah turun, tapi nadanya semakin dingin. "Dan jangan pernah berpikir saya masih bertahan hidup selama 4 tahun karena tinggal di kediaman Anda...."
"Bahkan saya menemui kematian di rumah yang Anda banggakan itu, Nyonya Victoria...."
Andreas benar-benar telah mampu merubah suasana di dalam gedung menjadi mencekam, amat mencekam dengan ucapan-ucapannya. Bahkan lebih mencekam lagi dan lebih menghenyakkan lagi dengan perkataannya yang barusan.
Dia menemui kematian di kediaman induk keluarga Grayden? Apa maksud perkataan Andreas yang ambigu itu?
"A-a-apa mak-sudmu..., Andre?" Nyonya Victoria langsung gemetar mendengar ucapan Andreas yang terakhir.
"Anda tahu yang membunuh saya siapa, Nyonya Victoria?" makin dingin ucapan Andreas, seolah tidak menggubris ketakutan ibunya yang bertanya bingung.
"Ka-kamu bicara... a-apa, Nak?"
"Anda dengar baik-baik, Nyonya! Yang membunuh saya adalah putra kesayangan Anda yang Anda sanjung-sanjung itu dan suami Anda yang Anda banggakan itu!"
Sambil berkata Andreas menunjuk berani penuh penghinaan pada Leonard, lalu berlanjut pada Hendrick Grayden. Dan semua orang bisa melihat siapa saja yang Andreas tunjuk. Membuat suasana makin mencekam, makin menghenyakkan.
Nyonya Victoria langsung tesuruk mundur saking kagetnya. Terus tersuruk mundur karena tubuhnya sudah lemas.
Sepasang matanya yang membulat masih menatap kaget pada Andreas. Kalau tidak cepat ditangkap oleh orang yang terdekat dengannya, dia akan jatuh lemas.
Sedangkan Stephanie cepat-cepat menggapai meja karena tubuhnya seketika lemas mendengar ucapan Andreas yang mengerikan itu. Terus dia langsung duduk di kursi begitu saja bagai orang linglung.
"Sekarang saya sudah mati, hati saya sudah mati, Nyonya," lanjut Andreas bernada datar tapi terselip kesedihan yang mendalam. "Jadi jangan pernah lagi membujuk saya, karena hati saya sudah mati."
"Jangan asal bicara kau, anak sialan!" bentak Pak Hendrick memuntahkan kemurkaannya. "Apa kau sudah menjadi gila sekarang hah?"
"Jaga bicaramu, Andre!" Evelyne ikut mengecam. "Jangan asal bicara seperti orang sinting!"
"Kamu sudah berlebihan, Andre!" Leonard tidak dapat lagi mempertahankan keeleganannya dengan membentak garang. "Kamu sudah menuduhku yang bukan-bukan!"
Leonard seketika panik mendengar ucapan Andreas. Jelas dia paham ucapan Andreas yang menyinggung tentang kematian menurut persepsinya. Karena dia telah meracuni minuman Andreas malam itu.
Yang dia tidak mengerti kenapa Andreas masih hidup?
"Kamu harus dikasi pelajaran!" berang Leonard seolah memutuskan.
Dengan cepat dia maju menyerang Andreas dengan anggapan bahwa semua orang tak ada yang akan melarang tindakannya. Begitu sampai dia hendak menampar Andreas dengan keras. Telapak tangan kanannya sudah bergerak dengan cepat.
★☆★☆
Namun belum juga telapak tangannya yang kotor itu sampai ke tujuan, Andreas sudah menangkap tangannya itu dengan mantap dan cepat lagi kuat.
"Kau mau melakukan apa, munafik?" dengus Andreas bernada dingin sambil menyeringai dingin. "Mau menindasku lagi..., di depan orang banyak?"
Leonard langsung tercekat tanpa bisa berkata apa-apa dan tanpa bisa berbuat apa-apa untuk sejenak. Sepasang mata liciknya menatap Andreas dengan berbagai ekspresi.
"Apa yang hendak kau lakukan terhadap Leon, anak sialan?" bentak Hendrick Grayden terkejut melihat Andreas menangkap tangan Leonard.
"Andre, hentikan tindakanmu!" bentak Evelyne ikut murka.
"Sudah cukup kau menindasku, sialan, sekarang nggak akan pernah terjadi lagi!" lanjut Andreas, tak menggubris peringatan Hendrick Grayden dan bentakan Evelyne.
"Dulu kau selalu berpura-berpura merasa kesakitan dan membuat situasi seolah-olah aku yang telah menindasmu.... Sekarang... aku benar-benar akan membuatmu merasakan kesakitan yang sesungguhnya, tanpa berpura-pura!"
Setiap ucapan yang diucapkan Andreas bernada dingin menakutkan sekaligus mengintimidasi. Membuat Leonard menelan salivanya setengah mati karena sudah merasa takut, benar-benar takut.
Entah kenapa nyalinya seketika hilang begitu berhadapan dengan Andreas.
Dan seolah setiap ucapan dan tindakan Andreas merupakan hipnotis yang kuat, sehingga semua orang seolah tidak bisa melakukan apa-apa, selain hanya bisa mendengar ucapan hebat Andreas dan menyaksikan setiap tindakannya.
Lalu, seakan mendapat keberanian, sekuat tenaga Leonard menarik tangannya yang dicekal kuat oleh Andreas, sehingga berhasil terlepas. Tapi memang sengaja cekelan Andreas dilepas.
Belum juga Leonard melakukan sesuatu yang ingin dilakukan, telapak tangan kanan Andreas seketika melayang dengan amat cepat, dan menampar wajah Leonard dengan amat telak dan amat keras, tanpa mampu dielakkan atau ditangkis oleh Leonard.
Plaaakkk!
"Aukh!"
"Andre....!"
"Beraninya kau melakukan itu pada Leon, anak durhaka!"
"Jangan kurang ajar kamu, Andre!"
"Beraninya kau melakukan tindak kekerasan di sini, anak sombong!"
Demikian kuat dan kerasnya tamparan Andreas, membuat Leonard terjajar ke samping belakang sebelah kanan dengan limbung sambil menjerit tertahan.
Belum juga dapat menguasai keseimbangan tubuhnya, Leonard langsung jatuh ke lantai tanpa dapat dicegah. Dan untuk beberapa saat lamanya dia hanya bisa terkapar diam di lantai.
"Itulah rasa sakit yang sesungguhnya, Leon!" kata Andreas bernada dingin sambil menatap tajam pada Leonard yang masih tergeletak mengerang di lantai. "Bukan kesakitan yang pura-pura...."
"Kau pasti dapat merasakan betapa sakitnya sebuah penindasan...."
Sikap Andreas sama sekali tidak memperdulikan kecaman dan bentakan kemarahan terhadap orang-orang yang mengecam dan menegur perbuatannya.
Sejenak dia menatap puas pada Andreas yang terbujur kesakitan di atas ubin putih.
★☆★☆★
🙏🙏🙏🙏🙏