Pernikahan yang tak dilandasi oleh cinta. Dan rasa ingin mempertahankan sebuah pernikahan membuat Zahra harus berusaha sangat keras untuk meluluhkan hati suaminya. Meski ribuan luka yang menusuk hati, Zahra tetap harus mempertahankannya karna dia adalah imam baginya.
SELALU AKU YANG TERSAKITI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon olifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Melihat kondisi Ibu Zahra yang sudah sembuh, Azka dan Zahra memutuskan untuk pulang ke Jakarta. Mereka berpamitan dengan warga dan tetangga sekitar. Sebenarnya rasanya berat bagi Zahra untuk meninggalkan Ibunya, namun mau bagaimana lagi, mau tidak mau Zahra harus kembali bersama suaminya. Zahra memeluk Ibunya dengan sangat erat, membiarkan kehangatan mengisi seluruh relung hatinya. Meninggalkan semua yang amat dicintainya. Berjalan pergi dengan pandangan masih melihat kebelakang. Sebuah mobil sudah melaju meninggalkan bayang-bayang yang mulai terlihat samar. Tanpa sadar, butiran krista jatuh begitu saja, meluap dengan bebasnya. Azka yang melihatnya memberikan sebuah tisu kepada Zahra.
Dengan tisu yang diberikan, Zahra menyeka air matanya. Mencoba mengalihkan pikiranya dengan memandang keluar dari balik kaca mobil. Setelah cukup lama mengemudikan mobil, Azka merasa lelah. Dengan keadaanya sekarang, tidak baik bila dia terus melanjutkan perjalanan. Dia putuskan untuk menginap di sebuah Hotel, dan besok paginya baru kembali melanjutkan perjalanan pulang. Zahra juga seprtinya lelah, hingga membuatnya tertidur saat perjalanan. Azka sudah memesan satu kamar, dengan menggendong Zahra yang tengah tertidur, Azka berjalan menuju kamar tersebut. Dia memang tak tega membangunkan Zahra, maka dari itu, dia menggendong Zahra menuju kamar. Dia merebahkan tubuh Zahra ke atas ranjang, kemudian menyelimutinya agar tetap merasa hangat. Azka pun juga merebahkan tubuhnya disamping Zahra, melepaskan rasa penat yang ia rasa. Disaat ia memiringkan tubuhnya, dia melihat wajah polos Zahra yang tengah tertidur. Tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh wajah Zahra, dengan lembut dan perlahan terus membelainya.
"Sebenarnya perasan apa yang aku rasakan kepadamu, Zahra. Kenapa sepertinya perasaan ini semakin kuat saja." Azka memandang lekat-lekat wajah Zahra yang berada di sampingnya.
Lambat waktu Azka tertidur dengan posisi memeluk tubuh Zahra. Didalam tidurnya, dia memimpikan sebuah mimpi yang membuat tubuhnya mengejang sampai mengeluarkan kringat yang bercucuran. Zahra yang terbangun menyadari kondisi Azka, yang sedang mengalami mimpi buruk. Zahra membangunkan Azka dengan memanggil-manggil namanya.
"Mas Azka, bangun Mas." Zahra menggoyang-goyangkan tubuh Azka. Mencoba menyadarkan Azka.
Azka mulai membukak matanya dan dengan sepontan dia memeluk tubuh Zahra yang ada disampingnya.
"Tenang Mas, Itu cuma mimpi." Ujar Zahra yang menenangkan Azka, dengan membelai lembut kepala Zahra.
"Sebaiknya Mas Azka tidur kembali." Melepaskan tangan Azka yang melingkar memeluk tubuhnya, dan menaikkan kembali selimut Azka.
Zahra beranjak dari ranjang untuk mengambil minum untuk Azka, namun belum sempat bangkit, tangan Zahra sudah dicekal Azka.
"Jangan pergi." Ujar Azka yang memelas.
"Saya cuma mau mengambilkan minum untuk Mas Azka." Ucap Zahra.
Azka pun melepaskan tangan Zahra dari genggamannya. Membiarkan Zahra untuk pergi. Zahra pun segera berdiri berjalan mengambil sebotol air dari dalam tas. Dia memberikan air tersebut kepada Azka.
"Minum dulu Mas, agar Mas lebih tenang." Ujar Zahra yang menyodorkan sebotol air, sambil mengambil duduk ditepi ranjang.
"Bagaimana, Mas Azka sudah merasa lebih baik?" Tanya Zahra yang menatap lekat suaminya.
"Em...Terima kasih." Ucap Azka yang membalas menatap Zahra.
"Sama-sama Mas, sekarang sebaiknya Mas tidur kembali." Ujar Zahra.
"Iya, tapi bisakah aku tidur di pangkuanmu sampai aku tertidur." Pinta Azka.
"Tentu saja, aku akan menjaga Mas Azka sampai Mas tertidur." Ucap Zahra yang mulai memposisikan diri agar Azka bisa tidur dipangkuannya.
Azka menempatkan kepalanya dipangkuan Zahra, sambil memeluk kaki Zahra yang tengah disejajarkan. Dia mulai merasa sedikit nyaman saat ini, dan mulai tertidur kembali. Zahra pun dengan pelan membelai rambut Azka. Mencoba mengusir rasa takut akibat mimpi buruk tadi. Zahra tak menyangka bahwa Azka bisa bermimpi buruk sampai seperti itu. Karena yang dia tahu, Azka yang memiliki sifat yang keras. Jadi bagaimana bisa, sebuah mimpi dapat membuatnya ketakutan seperti tadi. Bila difikirkan kembali, terasa tak mungkin, namun memang itulah yang terjadi. Semakin lama, Zahra juga ikut tertidur. Dia tertidur masih dengan posisi seperti itu. Dan bisa-bisa disaat dia terbangun akan merasa pegal-pegal dan kesemuatan.
Benar saja, keesokan paginya, tubuh Zahra terasa seperti mau remuk. Kakinya pun mati rasa. Sementara Azka masih tidur nyenyak dipangkuannya. Bagaimana bisa sekarang dia untuk berdiri. Zahra berusaha melepaskan diri dari Azka, dengan pelan perlahan dia memindahkan tubuh Azka darinya.