"Aku tidak menyangka kau begitu tega padaku. Di saat aku bertugas di luar kota, kau malah selingkuh di belakangku. Aku menyesal karena sudah menikahi wanita sepertimu!"
Devina ditalak dan dituduh telah berselingkuh dengan pria lain yang tak lain adalah sahabat dari mantan suaminya, Marcell. Hidupnya jadi menderita dan terlunta-lunta ketika berpisah dari suaminya. Fitnah keji itu membuat anak kembar yang dilahirkannya harus menanggung beban penderitaan karena keegoisan orang tua. Dalam keadaan serba kekurangan, Devina berdiri sendiri untuk menjadi ibu sekaligus Ayah buat kedua anaknya.
Mampukah Devina melewati segala cobaan yang datang silih berganti dalam hidupnya?
Mungkinkah dia bersatu kembali dengan mantan suami setelah tahu dia memiliki anak yang harus dijaga bersama?
Kisah Devina hanya ada di Noveltoon, dengan judul Bayi Kembar Presdir Tampan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Dedek Jangan Pergi
"Ya ampun Vina, kenapa kamu bicara seperti itu! Aku tidak ada niatan untuk membuatmu menderita di luar. Aku sudah tekankan padamu agar kau mau berbaikan denganku, dan aku juga punya niatan untuk mengajakmu rujuk kembali. Mana mungkin aku tega membiarkanmu dan anak-anakku menderita di luar sedangkan aku hidup enak di rumah mewah dengan fasilitas yang lengkap. Kamu saja yang selalu keras kepala dan sulit untuk dibujuk."
Cukup kesal Marcell akhirnya menegur ucapan Devina yang terlalu menyudutkannya.
Dia sendiri juga tidak ada niatan untuk membuatnya menderita, kesalahannya hanya satu, terlalu percaya aduan orang tuanya hingga membuat rumah tangganya hancur.
Jika saja waktu bisa diputar kembali, ia tidak akan pernah mempercayai siapapun, walaupun itu keluarganya sendiri.
"Bagaimana nanti kalau sampai orang-orang tidak percaya sama ucapanmu tadi. Mungkin pemilik kontrakan ini percaya padamu, tapi bukan berarti warga sekitar sini juga mempercayaimu. Jika aku diminta untuk menjelaskan di mana rumahku yang sedang direnovasi, aku harus bilang apa? Aku hanyalah orang miskin yang tidak memiliki apa-apa, apakah mereka percaya kalau aku di sini hanya tinggal sementara karena rumahku sedang direnovasi? Kurasa alasanmu itu berlebihan, bisa-bisa mereka menghujat buruk tentang diriku."
Devina berkali-kali menghela nafasnya berat, yang kini ia rasakan hanyalah rasa takut, takut jika warga sekitar mulai mencurigainya buruk dan menganggapnya sebagai pembohong.
Kini kepalanya mulai berdenyut, setiap memiliki masalah sekecil pun ia langsung merasakan kepalanya sakit, hal itu dirasakan semenjak iya masih mengandung si kembar.
"Kamu kenapa? Apakah kepalamu sakit? Kamu sih, mikirin hal-hal yang nggak penting. Sudah kubilang jangan pernah panik, kalaupun mereka mempermasalahkannya, biar aku yang akan hadapi. Kalau kamu setuju dengan pendapatku, Aku ingin kalian tinggal bersamaku, dengan begitu aku juga bisa setiap hari bertemu dengan anak-anak."
Refleks Devina menoleh dengan tatapannya melotot.
Dia berpikir kalau Marcell hanya ingin mencari kesempatan dalam kesempitan. Di saat ia sedang bingung, pria itu datang untuk menjadi pahlawan penolongnya.
Dengan menyerahkan piring berisi makanan untuk anaknya, ia menggerutu dan mencaci Marcell.
"Jadi tujuanmu seperti itu? Di saat aku sedang gelisah kau datang ingin menjadi pahlawan penolong buat aku dan anak-anakku? kau pikir mudah untuk merayuku? sayang sekali rayuanmu itu tidak akan mempan. aku akan tetap bertahan di sini, apapun yang terjadi."
Tidak peduli kalaupun Marcell mengapanya sebagai wanita sombong dan egois demi harga dirinya ia tidak akan pernah tinggal satu atap dengan laki-laki yang bukan muhrimnya.
Marcell hanyalah masa lalunya, dan hubungannya sudah berakhir di meja hijau.
Walaupun diantaranya sudah memiliki anak, tapi tak mudah bagi Devina untuk selalu menurut keinginan mantan suaminya.
"Kamu itu terlalu sombong Dev! Kamu itu benar-benar sudah berubah. Aku bahkan sangat sulit untuk bisa mengenalimu dengan baik. Dulu kau begitu lembut dan penyayang, kenapa sekarang kau berubah menjadi garang seperti ini. Seakan-akan kau mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Bahkan orang tuamu sendiri kau abaikan hanya untuk menutupi egomu."
Atmosfer perdebatan mereka kian memanas, tidak ada salah satu diantaranya yang mau mengalah.
Sebagai seorang anak, Azalea merasa sangat kecewa melihat perdebatan kedua orang tuanya yang sama-sama keras kepala dan tidak ada yang mau mengalah.
Gadis kecil itu langsung menangis, seketika ia malas untuk menelan sesuap nasi yang diberikan oleh Ayahnya.
"Kenapa cih, Mommy cama Daddy belantem telus. Apa kalian nggak cayang cama aku? Apa belantem itu tanda-tanda caling cayang? Kalau begini lebih baik aku cendili caja, nggak mau tinggal cama mommy cama Daddy. Lea nggak cuka liat kalian belantem!"
Lea kembali merajuk dengan menekuk mukanya dan tak mau lagi digendong oleh Marcell.
Dia turun dari pangkuan Marcell dan berlari keluar dengan menangis.
Sontak Devina dan juga Marcell langsung beranjak dari tempat duduknya lalu mengejarnya keluar halaman.
"Lea! Azalea! Berhenti!"
Marcell dan juga Devina sangat panik ketika mendapati anaknya yang sudah ada di pinggiran jalan raya.
Azalea yang masih terlalu kecil dan tidak mengerti apa itu celaka, iya langsung berlari menyeberang jalan hingga tanpa kesadarannya ia ditabrak oleh pengemudi motor.
Duarr
Suara motor terjatuh, tidak bisa mengimbangi saat menabrak anak kecil.
Azalea juga terpental ke pinggiran aspal dengan kepalanya membentur aspal.
"Azalea ...! Azalea ...!"
Devina menjerit histeris melihat dengan mata kepalanya sendiri anak perempuannya Tengah terpental ke pinggiran jalan dan dikerumuni oleh warga sekitar.
Tanpa memikirkan keselamatannya, wanita muda itu langsung menerobos jalanan yang begitu ramai.
Kendaraan seketika macet total, dan banyak warga yang berkerumun untuk melihat kejadian itu.
"Azalea! Azalea anakku!"
Marcell maupun Devina sama-sama lemas mendapati anaknya yang sudah tidak berdaya dengan kondisi luka yang cukup parah.
Banyak darah segar yang keluar membuat Devina semakin histeris saja.
"Azalea anakku, buka matamu nak, ayo bertahanlah, jangan tinggalkan mommy!"
Marcell langsung mengangkat tubuh mungil anaknya dan membawanya pulang untuk dibawanya ke rumah sakit.
Dia tidak menggubris ocehan warga yang memintanya untuk menunggu sampai pihak berwajib datang.
"Azalea, jangan tinggalin mommy nak, mommy mohon buka matamu, Azalea."
Seketika Devina lemas, tubuhnya gemetar sempoyongan tidak bisa berjalan dengan baik.
Tapi demi anak, dia tidak akan mengabaikannya walaupun ia sendiri sangat sulit untuk melangkahkan kakinya tetap saja ikut pergi ke rumah sakit bersama mantan suaminya.
"Vina, kamu di rumah aja ya? Biar aku yang akan membawa Lea ke rumah sakit. Aku janji nanti akan mengabarimu. Jangan abaikan Kenzo yang ada di dalam rumah. Temani dia di rumah saja."
Devina menggeleng dengan menangis. Diad tidak ingin mengabaikan anaknya yang kini butuh dukungannya saat berjuang melawan maut.
apapun yang terjadi, ia ingin menghadapinya sama-sama. Dia tidak ingin kehilangan momen bersama anaknya.
"Tunggulah sebentar aku akan ikut bersamamu. aku akan panggil Kenzo dulu."
dengan berjalan lunglai, Devina memasuki rumah dan mengajak Kenzo untuk ikut bersamanya.
Kenzo sendiri juga tidak tahu kalau kembarannya telah mengalami kecelakaan di depan rumahnya sendiri.
Tanpa bertanya apapun, Kenzo mengikuti ibunya keluar dan masuk begitu saja ke dalam mobil.
"Mommy, ini dedeknya kenapa? Kok dedeknya beldalah?"
Kenzo terkejut mendapati kembarannya berlumuran darah segar di area pelipisnya.
sebelumnya dia sempat bermain dengan Azalea bahkan menegur Azalea agar tidak menunggu Ayahnya kembali.
"Nak, dedek lagi sakit barusan dia jatuh. kamu doain dedek supaya lekas sembuh ya?"
Anak laki-laki itu pun mengangguk dengan tangan mungilnya memegang pipi gembul kembarannya.
"Dedek, kamu halus cembuh ya? Jangan pelnah tinggalin kakak. Kamu udah janji cama kakak tidak akan pelnah meninggalkan kakak. Kalau kamu pelgi, kakak cama ciapa?"
Tangis Devina seketika pecah, dia benar-benar takut akan kejadian buruk menimpa anaknya.
katanya udah memaafkan