Bahaya!
Seorang gadis manis menjual dirinya sendiri pada kakak iparnya. Kirana namanya dia mendapat perlakuan sadis dari sang suami yang menyuruhnya menjadi wanita malam.
Kirana tidak pernah di sentuh oleh suaminya, sehingga hubungan terlarang antara dirinya dan kakak iparnya perlahan menjadi sebuah kerangka cinta.
Mampukah cinta mereka meruntuhkan norma, dan membebaskan Kirana dari cengkeraman suaminya?
Simak kisah lengkapnya dalam Novel Pelacur tapi Perawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah paham
Setelah bersama para Petani itu, Kirana akhirnya memutuskan pulang dan nampak di depan gerbang vilanya Zahara bersama Alvin tengah berbincang.
Nampak senyum tergambar di wajah Alvin dan entah apa yang sedang mereka perbincangkan, Kirana tidak menyapa keduanya karena gerbang Vila yang terbuka dia langsung masuk tidak memperdulikan dua orang yang sedang mengobrol.
"Eh, sayang kamu dari mana?" Alvin akhirnya bertanya, Kirana tidak menjawab dan langsung masuk ke dalam vila itu dengan wajah marah. Kirana menahan sesak di dadanya memang benar bila dia tidak apa apanya dari Zahara tapi kenapa semenyesakkan ini?
Kirana akhirnya memutuskan untuk mengunci pintu kamar dari dalam dan memasukan seluruh pakaiannya ke dalam koper, Kirana sudah tidak sanggup lagi, air matanya juga kini sudah berjatuhan.
Kenapa seperti ini? Kenapa sesakit ini? Kenapa mereka berbincang saat tidak ada aku? Kenapa suamiku sendiri tidak mengkhawatirkan aku saat aku tidak ada? Kenapa?
Kirana menangis sejadi jadinya batinnya terus di penuhi dengan rasa sesak, dia menghubungi nomor ponsel Keenan saat itu juga. Keenan yang memang libur hari itu langsung mengangkat panggilan dari sang kakak.
"Iya Kak?" Keenan menjawab saat terdengar suara sang kakak yang serak dan terisak.
"Keenan, jemput kakak di puncak ya?" Keenan yang tidak pernah mendengar isak separah itu dari sang kakak langsung tertegun, dan tanpa bertanya kenapa dia langsung menyanggupi keinginan sang kakak.
"Oke, tunggu aku kak." Keenan langsung membawa mobilnya dengan tergesa gesa, Momy yang melihat Keenan keluar dengan wajah serius itu nampak kebingungan.
"Ada apa?" Tanya Momy yang penasaran denga. apa yang terjadi pada Keenan.
"Kak Kirana nangis minta di jemput dari puncak, Momy gak usah ikut. Aku agak khawatir dengan Kak Kirana." Keenan merasa tidak tepat bila mengajak Momy karena yang di hubungi Kirana adalah dirinya tentulah hanya dia yang boleh ke puncak menjemput sang kakak. Momy mengangguk paham dan membiarkan Keenan pergi.
Kirana di dalam kamar terus menangis selama satu jam lamanya, Alvin yang masih berada di gerbang bersama Zahara merasa perasaannya tidak enak dia juga merasa perubahan sikap istrinya terlalu drastis.
"maap ya Zahara, saya rasa saya harus ke dalam dulu." Zahara mengangguk, namun tak lama kemudian sebuah mobil mewah masuk ke dalam gerbang Vila tersebut.
"Itu mobil Keenan? Mau apa dia kesini?" Tanya Alvin dalam hati, Zahara juga masih berada di sana. Memang selama satu jam terakhir Zahara dan Alvin tengah berbincang mengenai perubahan sikap ibu hamil yang terkadang sangat drastis, Alvin tidak sengaja melihat Zahara melintas dan meminta nasihat dari gadis manis itu.
Zahara juga merasa tidak enak hati sejak awal, di tambah saat itu tidak ada siapapun dan Kirana yang datang dengan wajah marah membuat Zahara semakin merasa tidak enak.
"Keenan kok di sini?" Tanya Alvin, Keenan melihat sekilas ke arah pintu gerbang nampak seorang gadis manis menghampiri wanita yang menggunakan hijab itu.
Keenan paham sekarang apa yang menjadi beban sang kakak, dia menatap seorang gadis manis bertubuh mungil nampak tersenyum ke arah sosok wanita berhijab yang tidak lain adalah Zahara.
"Heh BUNGA ******! Ajak kakak lo itu dari sini, buat hati orang sedih aja." Keenan yang mengenali sosok gadis yang merupakan teman sekelasnya itu langsung menyemburkan bon cabe level 50nya.
"Bisik lo kulkas bau cabe, jadi orang gak akhlak banget si!" Teriak gadis mungil itu, Keenan langsung bergegas meninggalkan mereka semua menuju dalam vila.
Alvin yang merasa ada sesuatu yang tidak beres bergegas mengikuti langkah Keenan dan Zahara bersama gadis manis itu pergi meninggalkan mereka. Keenan mengetuk pintu kamar Kirana.
"Kak ini aku." Keenan berbicara lirih, memang ada kalanya Keenan sangat menyebalkan namun ada kalanya dia bersikap dewasa dan selalu menjadi orang tengah dalam sebuah masalah. Kirana membuka pintu kamarnya dan nampak di belakang Keenan ada Alvin, Kirana langsung menarik tangan Keenan dan menutup pintu itu kembali.
Alvin yang melihat sekilas wajah sembab Kirana kini mulai khawatir, mungkinkah ada sesuatu hal yang tidak dirinya ketahui sehingga membuat hati Kirana tersakiti?
"Kenapa Kak?" Keenan yang baru datang langsung di peluk oleh Kirana kian merasa tidak enak pada perasaanya sendiri, dia melihat wajah Kirana yang memerah dan tangis kakaknya itu kian meledak ledak.
"Alvin jahat Nan, hiks.. dia malah mesra mesraan sama perempuan saat aku gak ada." Isak Kirana, Keenan mengangkat alisnya mungkin yang di maksud Kirana adalah wanita yang di gerbang itu.
"Kak, jangan gitu dong. Aku yakin kak Alvin bukan tipe pria semacam itu, dia mungkin punya alasan sendiri berbicara dengan perempuan saat kakak tidak ada." Keenan mengusap pundak Kirana yang kini terasa bergetar.
Alvin yang berada di balik pintu dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka perbincangkan, Alvin merasa sangat bersalah pada istrinya. Alvin bahkan tidak tahu perasaan apa yang di rasakan istrinya saat dirinya berdekatan dengan wanita lain, padahal bila Kirana berdekatan dengan pria dirinya sendiri akan murka dan marah besar, tapi Kirana justru menutupinya dan tidak menampakkan wajah marah selain diam.
"Aku mau pulang aja, hiks.. kita balik aja ke tempat kita dulu. Kita jualan kue lagi aja, aku gak sanggup Nan." Kirana menangis dalam pelukan Keenan, Keenan yang merasa ini tidak tepat, memutar kunci di belakang tubuhnya.
Alvin yang melihat pergerakan Kunci mengerti dengan kode yang di berikan Keenan, dia langsung memutar gagang pintu dan tampaklah Kirana yang menangis dalam pelukan Keenan.
"Aku mau bicara sama Kirana." Ucap Alvin dan seketika itu juga mata Kirana terbelalak dan menatap Keenan, Keenan mengangguk dan meyakinkan kakaknya bila itu adalah jalan terbaik.
Perlahan Keenan melepaskan pelukannya dari Kirana dan keluar kamar, Alvin memasuki kamar dan menatap wajah sendu Kirana. Sebuah penyesalan agaknya kini meresapi hati Alvin dan tentu saja itu akan menjadi pembelajaran penting bagi Alvin.
"Sayang?" Alvin mengusap air mata Kirana yang terus jatuh, dia memeluk tubuh Kirana yang kini bergetar benar benar menyesal perasaan Alvin.
"Sayang, kamu hanya salah paham. tadi istrinya Galuh kemari hanya ingin mengantarkan makanan bagi pekerja yang memetik daun teh, aku bertanya sama dia akhir akhir ini kamu banyak berubah dan karena dia seorang Dokter kandungan jadi dia menjelaskan apa yang tidak aku tahu." Kirana terdiam seketika.
Apa? Zahara itu istrinya Galuh? Tapi pada malam itu, ya malam itu aku tidak memperhatikan wajah Galuh dengan seksama tapi saat dia mengatakan tentang Zahara ada perasaan hangat di sana dan mungkinkah aku sudah salah paham terlalu dalam?
Mbak baru mau maraton lagi dikarya kak Nuah yang sudah tamat
ceritanya bagus👍👍