Seorang CEO penderita Post Traumatic Relationship syndrome, tidak bisa jatuh cinta lagi ketika kehilangan calon istrinya dikejutkan ketika melihat ada seorang gadis begitu mirip dengan calon istrinya yang telah tiada.
Tanpa berpikir panjang, gadis malang itu dipaksa menjadi pengantin pengganti sang CEO.
Aluna, gadis berusia 25 tahun yang dalam titik terendah dalam hidupnya.
Ayahnya terkena serangan jantung, calon suaminya selingkuh dengan sahabatnya sendiri, dan hutang menumpuk untuk biaya pengobatan ayahnya.
Rasanya dunia tempat ia berpijak dipenuhi oleh duri kaca yang menyakitinya.
Sampai ketika dia bertemu dengan seorang CEO bernama Edgar Brown (30), pengusaha terkaya namun terkenal dingin dan kejam.
Pertemuan itu membawa Aluna ke kehidupan yang jauh berbeda, semua masalah hidup dan finansial semuanya terpecahkan atas bantuan Edgar.
Namun ada bayaran untuk semua itu, dimana Aluna harus menjadi pengganti untuk Edgar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anak Kost, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 : Sikap natural Aluna yang menggemaskan.
Episode 29 : Sikap natural Aluna yang menggemaskan.
.
.
"Fiona ..." nama itu terdengar lagi.
Sekarang, Edgar seperti melihat Fiona kembali secara nyata ke hadapannya.
Fiona yang ia rindukan setengah mati selama ini.
"Tuan ..." Aluna segera menghadap ke arah Edgar, menundukkan wajahnya dan tangannya ia kepal di depan.
Edgar menggelengkan kepalanya ketika mendengar suara itu, lalu ia tersadar lagi jika yang ada di dekatnya ini bukanlah Fiona melainkan Aluna.
"Ehem!"
Edgar berdehem tidak jelas untuk mencair kan suasana.
Ia melihat lekat ke arah jam tangannya ...
"Kau terlambat 30 menit dari waktu yang sudah aku berikan, enaknya kau diberikan hukuman apa ya?"
"Baru pertama kali kau sudah melawan aku!"
Seru Edgar membuat Aluna panik, Aluna langsung mengangkat wajahnya dan matanya terlihat memelas sekarang.
Mata bulat Aluna yang sekarang terluka seperti anak kucing yang memohon.
"Tuan ... jangan berikan aku hukuman, ukuran rumah mu sangat luas, bahkan ruangan pakaian mu lebih luas dari rumahku, jadi kaki kecil ku membutuhkan waktu lebih banyak untuk menyusuri rumah mu ..."
"Sungguh, aku tidak sengaja untuk datang terlambat kesini ... jadi tolong jangan hukum aku ya ..." seru Aluna benar-benar memelas.
Dia terlihat terlalu menggemaskan malam ini.
Edgar sampai terdiam, bagaimana Aluna sangat pandai mencari jawaban melarikan diri dari hukuman yang ia katakan.
'Kenapa dia lucu sekali? matanya jauh berbeda dari Fiona tapi entah mengapa mata Aluna memiliki pesona nya sendiri ... apakah aku sudah gila?'
Edgar berbicara pelan dalam dirinya, dia masih berpangku tangan dengan wajah yang mengerikan dan tatapan yang sangat tajam.
Aluna yang sadar dia menjadi cerewet lagi-lagi terdiam, dia selalu saja lupa jika kedudukan nya di sisi Edgar sama sekali tidak bernilai.
"Tu ... Tuan, jika ingin menghukum ku, tolong jangan berat ya ... katakan saja akan aku lakukan." dengan lemas dan lunglai Aluna menundukkan wajahnya.
Dia menghela nafasnya berat, dan penasaran dengan hukuman apa yang harus ia terima lagi.
Padahal ini adalah hari pertama dia berada di kediaman Edgar Brown, tapi suasana sudah sangat mencekam.
Mendengar itu Edgar menyeringai tajam, dia kemudian menepuk pahanya.
"Kalau begitu kemarilah, duduk di pangkuan ku, suapi aku makan!"
"Itu hukuman untuk mu!" seru Edgar sungguh sangat ingin selalu bersentuhan dengan Aluna.
Mungkin kerinduannya terhadap Fiona dan gairahnya yang tiba-tiba kembali setelah melihat Aluna membuatnya ingin dimanja dan selalu bersentuhan dengan gadis ini.
Mata Aluna melebar ketika itu, Aluna segera melirik ke semua pelayan yang melayani Edgar Brown disekitar meja makan.
Mereka ada banyak disitu, dan kebanyakan dari mereka adalah wanita-wanita cantik yang sepertinya sebenarnya menyamar jadi pelayan untuk menggoda Edgar Brown.
"Tuan ... ada banyak orang disini ..." Aluna yang sangat malu mendekatkan wajahnya dan membisik pelan sekali.
Wajah serius nan memerah yang memperlihatkan rasa malu itu dekat sekali dengan Edgar Brown karena sekarang Aluna tengah membisik.
"Siapa peduli! aku lihat kau suka sekali menolak aku dengan berbagai alasan! apakah ..." belum sempat Edgar memarahi Aluna dengan puas.
Aluna yang sadar jika dia telah membangunkan bom hidup itu langsung dengan cepat duduk di pangkuan Edgar Brown.
"Aku sudah duduk Tuan, jangan marah ... aku juga akan menyuapi mu sekarang ..."
Dengan sedikit gemetaran dan gugup, dia langsung mengambil sendok dan hendak menyuapi Edgar.
'Demi keselamatan hidup dan masa depan yang cerah, aku harus menuruti lelaki mesum yang aneh dan menyebalkan ini!'
'Tidak peduli aku hidup jadi wanita lain atau tidak, yang penting aku mendapat uang untuk masa depan! itu yang penting sekarang!'
Seru Aluna dalam dirinya sendiri, di dalam imajinasi nya dia tengah berada di puncak gunung dan menyalakan obor semangat yang membara.
'SEMANGAT ALUNA!' serunya sendiri dari dalam dirinya untuk menyemangati diri sendiri.
.
.
.
gak nyambung lah dengan sindrom"nya atau penyakit apalah itu. karena pd nyatanya mau fiona salah atau tdk ttp fiona yang diinginkan.