Dua puluh tahun berlalu, Zaki dan Adhelia sudah hidup berbahagia bersama kedua putra mereka Farel Al Farabi, dan Muhammad Fathan Al Farabi. Kebahagiaan keluarga mereka semakin lengkap dengan adanya Mutiara Salsabilla, putri bungsu Bi Ita yang sudah dianggap anak oleh Zaki dan Adhelia.
Zaki dan Adhelia sudah berencana menjodohkan Farel dengan Tiara. Namun sayangnya Farel justru tewas dalam kecelakaan satu hari sebelum pernikahan digelar. Akhirnya, Fathan si bungsu memutuskan untuk menggantikan posisi kakaknya : Menikah dengan Tiara.
Nb : Kisah ini hanya fiktif dan murni hasil pemikiran penulis. Jika ada kesamaan peristiwa, waktu dan tempat kejadian itu hanya kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Trie Afni Ramadhany II, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
"Bro, jangan ganggu wanita dong. Gak gentle banget."
Johan mencoba mengingatkan Ricky.
"Kalau kamu masih mau bekerja dengan aman disini, jangan ikut campur."
Ricky menatap Johan dengan sorot mata tajam.
"Bukan gitu bro, bersikaplah sopan pada wanita. Ingat, ibu kamu juga wanita."
Johan masih mencoba bersikap tenang. Dia tahu persis bagaimana sikap pria yang sekarang ada di hadapannya ini.
Adhelia yang mulai ketakutan langsung mundur dan mengambil posisi dibelakang Johan.
"Banyak bacot ya."
Ricky yang tampak mulai kesal mencoba menarik Adhelia, namun di halangi oleh Johan.
"Dengar Jo, aku gak punya masalah apapun sama kamu. Jadi jangan membuatku kesal.
Kamu tahu kan siapa aku."
Ricky menyeringai licik dan langsung menarik tangan Adhelia.
"Ricky lepasin Rick.."
Adhelia berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Ricky, namun tentu saja dia kalah tenaga.
Sedangkan Cherry dan Vina, entah dimana kedua gadis itu sekarang.
Ricky menarik Adhelia dan hendak membawanya pergi dari club tersebut.
Namun tiba-tiba..
"Adheliaaa..!!"
Seorang pria berusia 40an berteriak memanggil namanya. Wajahnya tampak sedang menahan amarah. Dan yang lebih mengejutkan, seorang pria yang ada disampingnya.
"Mas Zaki?"
Melihat kedatangan orang yang paling tak diharapkan, Ricky langsung melepaskan cengkramannya.
Ricky hendak melarikan diri, namun dua anggota TNI yang merupakan ajudan Pak Dermawan langsung meringkusnya.
"Masih berani kamu mengganggu anak saya?"
Pak Dermawan berjalan mendekati Ricky yang berusaha melepaskan diri dari cengkraman dua pria berotot di sampingnya.
"Brakk!"
Pak Dermawan menerjang tubuh Ricky hingga terpental.
"Siapapun yang berani melepaskan kamu dari penjara, nantinya akan berurusan dengan saya."
Ancam Pak Dermawan.
Ricky merasa ciut. Dia tahu persis posisi dan jabatan Pak Dermawan.
"Malam ini juga saya sendiri yang akan memastikan kamu akan dihukum sesuai dengan kejahatan yang kamu lakukan."
"Bawa dia!
Pak Dermawan memberi perintah pada bawahannya yang langsung bergerak sigap.
Adhelia merasa lega.
Setidaknya, dia selamat dari cengkraman pria brengsek itu.
Namun dia tetap harus menyelesaikan persoalannya dengan Zaki, dan dengan ayahnya.
Adhelia baru saja akan mengatakan sesuatu, namun ayahnya hanya berlalu tanpa mengatakan apapun. Bahkan tanpa melihatnya.
"Ayo pulang."
Zaki menarik tangan Adhelia.
Kedua lelaki yang paling dia sayangi, kini justru bersikap dingin padanya. Bahkan sepanjang perjalanan pulang Zaki tidak mengatakan apapun.
Dia juga tidak menanggapi apa yang di katakan istrinya.
Saat ini emosinya sedang bergejolak.Bagaimana tidak?
Istrinya, pergi hingga larut malam tanpa ijinnya ke sebuah club. Bahkan juga membohongi ayahnya sendiri.
Zaki merasa sangat kecewa dengan sikap Adhelia.
Dia mengira Adhelia sudah benar-benar berubah, namun baru beberapa hari saja kembali ke Jakarta dia juga kembali pada kenakalannya.
Adhelia yang menyadari kesalahannya hanya bisa menunduk. Memang sejak awal semua kesalahannya.
Seharusnya dia tidak pergi. Jika saja dia menolak ajakan Cherry, pasti tidak akan begini jadinya.
"Mas, tolong dengarkan aku. Biarkan aku menjelaskan semuanya."
Adhelia mencoba membujuk Zaki, namun pria itu hanya diam.
Bahkan setibanya di rumah, Zaki langsung pergi ke masjid setelah membersihkan diri dan baru kembali setelah sholat subuh.
Adhelia menangis semalaman. Matanya tampak bengkak dan sembab. Dia bahkan tak bisa tidur memikirkan apa yang sudah terjadi.
"Mas, tolong katakan sesuatu. Jangan diamkan aku seperti ini."
Pinta Adhelia dengan nada memohon.
Namun Zaki tetap tak menghiraukannya, dan justru sibuk mengemasi barang ke dalam koper.
"Mas dengarkan aku dulu!"
Adhelia menarik lengan Zaki, namun langsung di tepis olehnya.
"Baiklah, terserah kamu mas."
Akhirnya Adhelia menyerah.
Dia benar-benar telah pasrah. Apapun yang akan terjadi dengan dirinya, terjadilah.
Sejak semalam tak ada seorangpun yang bersedia bicara dengannya dirumah ini. ayahnya, suami, bahkan neneknya juga.
Pukul sembilan pagi, Zaki sudah bersiap dan langsung membawa dua buah koper ke dalam mobil.
"Kita akan berangkat satu jam lagi. Gak ada bantahan."
Ucapnya datar.
Akhirnya Adhelia hanya bisa mengikuti kemauan Zaki.
Hari itu juga mereka kembali ke Jogja.
"Mas, sampai kapan kamu mau mendiamkanku?"
Tanya Adhelia saat mereka baru saja tiba dirumah.
Namun lagi-lagi Zaki tidak menggubrisnya, bahkan seperti menganggapnya tak ada.
Adhelia sudah kehabisan cara untuk membujuk suaminya, akhirnya dia juga berdiam diri.
Malam hari selepas sholat isya, Zaki belum juga kembali. Adhelia merasa semakin tak tenang.
Mas, sudah sebesar apa kesalahanku sampai kamu mendiamkanku seperti ini?
Kenapa kamu tidak memberiku kesempatan untuk bicara?
Aku merindukan kamu mas, sangat merindukan kamu.
Kenapa kita jadi seperti ini?
Batin Adhelia sambil menangis.
Tiba-tiba tanpa diduga, listrik padam.
Keadaan menjadi gelap gulita.
Adhelia yang sejak dulu sangat takut pada gelap berusaha meraba-raba sambil memanggil Zaki.
Namun percuma saja, Zaki sedang tak ada dirumah sekarang.
Akhirnya Adhelia mencoba meraba mencari sesuatu yang bisa dia gunakan.
Namun dia tak bisa berpikir jernih.
Dia meraba kesana kemari, napasnya mulai terasa sesak.
Percuma, dia tidak akan bisa bertahan dalam kegelapan ini.
Semakin dia berusaha, dia semakin merasa terhimpit. Di sisa kesadarannya dia merasa seseorang menarik tangannya, kemudian memeluk tubuhnya.
Wangi parfum itu, jelas itu adalah parfum milik suaminya. Dan hanya dalam pelukan Zaki lah dia merasa aman.
Zaki terus memeluknya, hingga akhirnya lampu menyala.
Wajah Zaki tampak cemas, namun kemudian dia kembali bersikap dingin.
Baru saja Zaki berbalik, Adhelia langsung memeluk tubuhnya dari belakang.
"Mas, tolong maafin Adhel. Adhel tahu Adhel salah. Adhel pergi tanpa ijin mas, bahkan Adhel membohongi ayah. Adhel hanya tidak ingin mengecewakan Cherry karena itu adalah hari ulang tahunnya. Tolong percaya sama Adhel. Adhel benar-benar gak tahu kalau Ricky juga ada disana."
Adhelia menangis sesegukan.
Mendengar tangisan Adhelia, akhirnya Zaki pun luluh.
Dia membalikkan badannya, kemudian berdiri tepat di hadapan Adhelia.
"Sejujurnya, mas sangat kecewa dengan sikap kamu. tidak hanya melanggar perintah suami, kamu juga membohongi ayah kamu sendiri. Mas malu Dhel. Mas merasa sangat malu pada ayah kamu. Mas sudah gagal membimbing kamu. Mas sudah gagal menjalankan amanah ayah kamu. Sekarang, semuanya terserah kamu. Jika memang kamu ingin kembali ke diri kamu yang dulu, mas akan melepaskan kamu."
"Melepaskan?"
Adhelia menatap Zaki dengan nanar.