Dilarang Spam promo!!!
Promo boleh tapi jangan spam...
Diasingkan dan dikurung di bulan oleh Ayah yang dia kira Ayah kandungnya sendiri hanya karena difitnah oleh adik angkatnya membuat hati kecilnya tersakiti.
sampai suatu hari sang Ayah palsu membunuh seorang gadis hanya karena tidak sengaja menggores lengan putri kesayangannya Fedora dengan anak panah, sang kakek dari gadis tersebut mengutuk ayahnya.
Dan dia harus menunggu malam di mana bulan merah di kelilingi tujuh bintang barulah dia bisa keluar dari bulan.
"Aku kembali hanya untuk membuat kalian menderita seperti yang pernah kalian perbuat kepada... Bunda"
-Chiarina Ayla Aezar-
Namun siapa yang tahu perubahan saat di akhir. Yang dia kira adalah kebahagiaan nyatanya hanya kepedihan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cute summer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penguntit Kecil
Kami berjalan kaki untuk melanjutkan perjalanan karena disini tidak ada kuda sama sekali,jika ingin menunggangi kuda maka kami harus naik dulu keatas,ada yang aneh dengan perjalanan kami kali ini aku dan Bary merasa seperti sedang diikuti seseorang.
...~•~...
Aku belum memberi tahu kalau di bawah jurang sihir tidak bisa dipakai jadi otomatis baik di Desa Jeruk ataupun Kota tenggelam kami tidak bisa sihir,karena itu waktu ada penyerangan kami tidak memakai sihir yang kami punya.
Saat berjalan kami merasa sedang diawasi dan diikuti,karena tidak ingin orang yang sedang sembunyi curiga,kami bersikap netral seolah tidak menyadari keberadaannya.
kami berjalan dengan santai saat berada disebuah tikungan kami segera melompat keatas pohon dan bersembunyi.terlihat semak-semak bergerak kemudian muncullah seorang apa itu belum jelas.
seorang anak kecil yang waktu itu aku tolong,dia menengok kesana kemari seperti mencari seseorang,karena melihatnya hampir menangis kami segera turun.
'Brukg'
"Ka-kalian?hiks kenapa meninggalkan aku sendiri hiks."gumam anak itu menangis.
"Hey jangan menangis,sudah sudah kenapa kamu mengikuti kami."aku berusaha menenangkannya.
"aku aku tidak punya tempat tinggal,tempat tinggal ku yang sebelumnya sudah rusak hiks."jawabnya sambil menunduk.
"Kumohon bawa aku juga,aku tidak akan merepotkan kalian."ucapnya yakin.
"Baiklah siapa namamu?."
"Hanzi."
"tuan Anda yakin dia tidak akan merepotkan? lihat saja badannya bahkan kurus kerempeng."bisik Bary ditelinga ku.
"apa kau ingin aku dicap sebagai pangeran yang tidak Ber pe ri ke ma nu sia an." jawab ku mengeja setiap kata.
Aku terus menatap anak bernama Hanzi ini,dia menundukkan kepalanya saat pandangan kami bertemu sepertinya dia malu karena aku melihat ingusnya keluar.
aku bertanya,"Apa kamu lapar?."
dan dia hanya mengangguk,"Bary berikan daging bakar itu."ucapku menunjuk bungkusan makanan didalam daun jati.
"ini."ucap Bary memberikan sepotong daging kepada anak itu.
bukannya menerimanya dengan tangannya Hanzi justru langsung menggigit dagingnya, sepertinya dia mengira jika Bary sedang menyuapinya."Kau sudah cocok menjadi seorang ayah Bary pfft."ucapku menahan tawa.
"Tuann."ucap Bary sambil menggertakan giginya kesal.
"Dasar penguntit kecil."ucapku kepada Hanzi.
"Hehe maaf kak."jawab Hanzi masih mengunyah dagingnya.
Kami duduk beralaskan daun pisang,menunggu Hanzi keyang makan,"oh ya selama ini kamu makan apa?."
"Hanya... jeruk yang tumbuh dipinggir jalan."
"kamu kenyang?."Bary bertanya.
"Iya."
Setelah Hanzi selesai makan,kami melanjutkan perjalanan dengan Hanzi digendongan Bary,karena tidak memungkinkan jika Hanzi sanggup naik keatas sana, badannya saja kurus,kakinya pendek pasti mudah lelah.
kami melewati hutan gantung sebelum naik keatas,sebuah hutan yang semua pohonnya menggantung di bebatuan tebing jurang,hampir tidak ada yang menempel ditanah,
kami tidak jadi mengunjungi desa Cermai karena desa itu sedang terkena wabah yang mengharuskan gerbang desa ditutup jadi kami tidak akan bisa masuk.
"Hah aku rindu udara ini."ucapku merentangkan kedua tangan.
setelah melewati hutan gantung kami sekarang sudah berada diatas jurang meninggalkan desa dan kota dibawah sana.
"wah ini bahkan lebih indah dari pada desaku."ucap Hanzi berbinar kagum.
"Ayo kita cari kuda kita yang sempat ditinggal."ucapku melangkah mendekati kandang kuda.
"Tuan terimakasih telah merawat kuda kami selama kami tidak ada."ucapku menyalami tuan pemilik kandang.
"sudah kewajiban ku tuan."jawabnya tersenyum.
"kalau begitu kami permisi."ucapku setelah Bary membayar tuan itu.
Aku menaiki kuda berwarna putih sedangkan Bary dan Hanzi menaiki kuda hitam,"ihihihi ini menyenangkan."gumam Hanzi.
"Dasar kampungan."gumam Bary menyindir Hanzi.
"aku berasal dari desa kak,bukan dari kampung."ucap Hanzi mengingatkan.
"hahaha jangan berdebat dengannya Bary dia masih kecil."ucapku menepuk bahu Bary yang tidak jauh dariku.
"Sabar orang sabar jodohnya lebar."batin Bary.
"Tuan kita akan kemana?."tanya Bary mengalihkan pandangannya kepada ku.
"kita akan ke pelabuhan dikota Yingoka,"
jawabku.
"Kita akan melakukan perjalanan laut." ucap Bary saat pandangan Hanzi menunjukan tanya.
"Laut?!aku belum pernah lihat."ucap Hanzi terkejut.
"Ahaha aku beruntung bisa bertemu dengan kalian,aku harap bisa menjadi Kesatria seperti kalian."ucap Hanzi semangat.
"Aku ini seorang pangeran tahu."ucapku sambil tersenyum.
"Woah jika kak Nathan adalah pangeran berarti kak Bary adalah Kaisar?."tanya Hanzi semangat.
mulutku berkedut mendengar ini,aku heran kenapa Bary selalu berada diatasku,baik itu soal wajah ataupun posisi,padahal dia hanya seorang kesatria tapi bocah ini malah mengiranya seorang Kaisar."saya hanya seorang kesatria yang bertugas menjaga pangeran Nathan."jawab Bary meluruskan.
"oh begitu!kalau begitu aku akan menjadi Kaisar nya,kak Nathan sekarang adalah putraku dan kak Bary kesatria anakku hahaha."ucap Hanzi tertawa sendiri.
"Baiklah Yang mulia Kaisar."ucap kami berdua.
"Hahaha."kami tertawa bersama.
Kami melanjutkan perjalanan kekota Yingoka,sebelum sampai kesana kami harus melewati sebuah sungai kecil yang berbau harum karena dipinggir sungai terdapat pohon bunga Jasmine,setelah itu kami melewati jembatan gantung yang dibawahnya merupakan air yang sangat kotor seperti saat banjir bandang,dan didalam airnya kulihat ada beberapa buaya yang sedang berenang mencari mangsanya,beruntung sekali kami tidak terpeleset saat menyeberang kalau tidak maka kami akan...
MATI...