Pernikahan memang idealnya lahir dari persiapan, cinta, dan harapan yang matang. Tapi hidup kadang berjalan di luar rencana bahkan lewat jalan yang tak pernah kita bayangkan sama sekali.
Ketika pernikahan terjadi secara mendadak karena sebuah insiden, rasa bahagia dan sakral itu bercampur dengan kaget, takut, bahkan kebingungan.
Apakah pernikahan dadakan bisa membawa kebahagiaan??
Apakah pernikahan tanpa cinta dan saling mengenal lakan berjalan mudah?
yuk ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AA 29
Tiga hari sudah Arka tinggal di pondok,dan selama ini pula dirinya merasa nyaman saat berada di pondok asal bersama sang istri.
Tidak banyak kegiatan yang Arka lakukan, hanya sekedar shalat berjamaah di mesjid dan menghadiri beberapa kali kajian yang di adakan pihak pondok. Beruntung ada beberapa permintaan desain bangun ringan yang ia dapat sehingga ia tidak terlalu jenuh di pondok saat di tinggalkan Alya belajar.
Seperti saat ini, dirinya sedang melakukan zoom dengan salah satu klien baru nya.Arka mendengarkan beberapa permintaan dari kliennya, tangannya sesekali mencatat bergantian dengan kepalanya yang mengangguk tanda menanggapi permintaan sang klien.
"Kalau bisa saya ingin ruangannya jangan terlalu full colour, kasih warna yang natural aja biar tidak terlalu mencolok."
"Baik Pak."
"Saya juga mau di sudut ruangan ada child area soalnya anak saya masih kecil, terkadang suka minta ikut ke kantor."
"Iya Pak. Saya sudah punya gambarannya, tapi mungkin nanti akan ada beberapa sudut yang saya rubah sedikit."
Obrolan terus berlanjut sampai pintu terbuka pelan.Alya masuk dengan pelan-pelan seolah tak ingin mengganggu sang suami.Ia baru saja pulang dari kelas Ustadz Ali.
Arka menoleh sejenak kemudian tersenyum manis pada sang istri dan mengangguk kecil saat Alyana memberi kode padanya untuk pamit ke kamar mandi. Setelah itu ia kembali fokus pada kliennya.
Tak lama Alya keluar dengan pakaian santainya.Ia kemudian duduk di sisi Arka yang tentunya tetap berjarak agar tidak terlihat di layar monitor.
Arka langsung membelai surai Alya yang tergerai bebas. "Sebentar" Bisiknya hampir tak terdengar.
Alyana hanya mengangguk sambil tersenyum, ia tak mau menganggunya.Dan Arka pun faham, ia langsung menyalakan HP nya dan menyerahkan pada sang istri agar ia bermain hp Arka dulu supaya Alyana tidak bosan memenunggunya.
Alyana langsung mengambil HP sang suami dan langsung memainkannya.Ia membuka beberapa aplikasi media sosial milik sang suami, tidak ada yang aneh bahkan cenderung monoton.Tak ada postingan aneh, bahkan tak ada foto-foto Arka yang di unggah.Hanya dua buah foto motor sport miliknya dan juga mobil balap yang Alya yakini masih milik sang suami juga.
Bahkan aplikasi pesan pun tak luput dari matanya.Seperti sosial media, pada aplikasi pesan pun hanya ada pesan dari teman-teman, keluarga dan para rekan bisnisnya.Tak ada pesan dari mantan pacarnya karena mungkin Arka sudah menghapusnya.
Arka masih asyik berbincang denga klient nya, begitupun dengan Alya. Hingga ketenangan Alya kembali terusik saat mendengar suara seorang wanita di seberang monitor sana.Bukan perkara suaranya, namun kalimat-kalimat yang keluar dari mulut wanita itu membuat Alyana terusik.
"Hai, Ka Arka." Sapa seorang wanita di seberang monitor sana.
"Kenalkan Pak.Arka, ini adik saya Marsha."
Arka hanya mengangguk, namun dadanya berdebar tak karuan apalagi melihat Alyana yang terdiam sejenak.
"Ka Arka apa masih kuliah? Soalnya masih kelihatan muda banget." Tanya Marsha
"Iya, sebentar lagi wisuda."
"Oh pantesan, tapi serius deh Ka Arka kelihatan masih muda.Ganteng"
Alyana melotot, ia langsung menoleh ke arah Arka.Arka sendiri sudah mulai ketar ketir melihatnya namun ia masih bertahan.
"Oh iya, kapan Ka Arka ke kantornya abang? Nanti aku boleh ketemu langsung kan sama Ka Arka?" Nada suaranya terdengar begitu semangat dan antusias.
"Eu...itu,saya belum tau kapan."
"Atau gak nanti aku aja yang main ke kantor Ka Arka.Dimana sih alamat kantor Ka Arka, aku boleh minta kan alamatnya?"
Arka semakin gelagapan, apalagi ujung matanya melihat Alyana menggenggam erat HP nya dengan wajah yang sudah tak bersahabat.
Mampus! bini gue udah fix marah ini... lagian tuh cewe pake bikin masalah segala sih,bikin ribet aja jir.
"Ka, gimana? Boleh minta alamatnya gak?" Tanya Marsha kembali.
"Tenang saja Pak.Arka, adik saya masih single kok baru masuk kuliah juga." Tambah James kaka dari Marsya.
"Tapi Pak_"
Belum selesai Arka berbicara James sudah memotongnya terlebih dahulu. "Ya, kali aja proyek ini salah satu tanda kalau kalian berjodoh."
Bukannya senang Arka justru semakin berdebar.Tiba-tiba udara di sekitarnya terasa pengap,detak jam begitu lambat dan suhu kamar terasa sangat dingin.
Arka menoleh ke arah Alyana, wajahnya terlihat merah, bibir nya sudah cemberut, matanya berkaca-kaca membuat Arka panik bukan main.
"Eh." Paniknya segera mengambil tangan sang istri dan mengangkatnya.
Terlihat di layar tangan putih Alyana yang tersemat cincin. "Maaf Pak, saya sudah menikah."
Seketika suasana berubah hening.Namun tak lama suara James langsung memecah kesunyian diantara semuanya.
"Oh maaf Pak.Arka saya kira anda masih single.Dan untuk Nyonya Arka yang ada disana, maaf sekali kami tidak tahu."
Bebeda dengan James yang terlihat tak enak, Marsha justru terlihat biasa-biasa saja.
"Ya, gak apa-apa lah kali aja Ka Arka mau nambah istri."
Air mata Alyana tak bisa terbendung lagi membuat Arka semakin panik,buru-buru ia mengakhiri zoom nya membuat napasnya sedikit lega.
"Sayang." Panggilnya.
Alyana malah terisak dengan bibir yang masih cemberut. "Kok Kaka kaya gitu sih."
"Aduh yang, udah ya jangan nangis." Arka buru-buru menyeka air mata yang mengalir di kedua pipi Alyana yang merah dengan bibir yang tetap bertahan cemberut.Terkesan lucu namun Arka berusaha menahan senyumnya.
"Kaka mau nikah lagi?"
"Eh, enggak.Bukan gitu_"
"Terus apa?"
"Itu_" Arka gelapan dibuatnya "Aduh gimana ngomongnya sih ah,gini loh Ya...sini dulu."
Arka menarik pelan Alyana agar duduk di pangkuannya."Tadi klien aku cuma becanda, sumpah aku gak punya niat sedikitpun buat ke cewe apalagi sampai nikah lagi.Klient aku emang gak tau kalau aku udah nikah, makanya tadi dia becanda."
Gila aja kalau sampe nikah lagi, yang ini aja belum di unboxing.Udah cinta mati juga masa mau cari yang baru.
"Kaka gak bohong?"
"Sumpah yang, beneran deh.Gak mungkin lah, yang ada tar di gorok sama Pak Altheza dan Pak Alfath...eh sama Mr.Arkana juga. " Ujar Arka mencairkan suasana.
Alyana mencapit pelan bibir Arka dengan jarinya. "Ih, Ayah sama Papi." Protes Alya begitu lucu membuat Arka gemas dibuatnya.
"Iya deh iya, Ayah dan Papi." Ucap Arka di barengi tawa kecil.
Kemudian memeluk Alyana. "Udah ya jangan ngambek lagi, sekarang kan udah pada tau kalau aku udah nikah.Udah punya istri cantik,pinter dan sholeha."
Alyana tersenyum malu, "Aya baru pertama jatuh cinta, jadi Alya mohon jangan patahkan hati Alya.Karena itu akan bikin hati Aya hancur dan mungkin akan sulit untuk memaafkan.Alya mungkin memang cewe yang manja, tapi bukan cewe yang akan gampang memaafkan jika sudah kecewa apalagi sampai menghancurkan hati Aya." Suaranya terdengar lembut namun begitu tegas dan serius, suara yang baru pertama kali Arka dengar.
Arka terdiam mendengarnya, tidak menyangka dibalik sikap manjanya ada ketegasan yang tak pernah ia bayangkan.
...🌻🌻🌻...