"Fania, kamu tahu pernikahan ini hanya sebuah formalitas saja. Aku harap kamu merelakan aku untuk menikah dengan Zelina." __ Raditya Mahardika.
"Mas, beri aku 30 hari saja untuk mengabdi sebagai istri yang Solehah untukmu. Aku hanya ingin mewujudkan wasiat Ayah. Setelah itu, kamu berhak menceraikan aku, dan kamu bisa menikah dengan wanita itu."
Hidup Raditya Mahardika kacau sejak dijodohkan dengan Fania Azalea. Semua terjadi karena Raditya mempunyai wanita idaman lainnya.
Fania Azalea meminta waktu agar dirinya bisa mewujudkan wasiat mendiang Ayahnya. Dia ingin menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya. Namun, takdir berkata lain. Raditya justru ingin menikah lagi dengan wanita pujaan hatinya. Dia ingin berpoligami dan meminta Fania untuk menyetujui niatnya.
Baca selengkapnya di sini!
Follow IG : romansa_love94
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romansa Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29 (Surga yang Hilang)
Fania merasa kosong setelah tahu kebenarannya. Dia tidak ingin bertemu dengan suaminya yang sudah membuat hidupnya hancur. Devan ingin melaporkan Raditya ke polisi, tetapi dilarang oleh Fania. Gadis itu beranggapan jika melapor ke polisi pasti masalahnya akan tambah panjang. Sedangkan dia tidak ingin beruruan lagi dengan pria jahat itu.
Devan hanya menurut saja, dia segera mengurus perceraian itu agar segera tuntas. Dia sangat mengupayakan kasus itu agar cepat terlaksana dan sidang putusan itu tiba. Fania menunggu Ibunya yang kritis dalam ruang ICU. Dia terus berdoa dan berdzikir untuk sang Ibu agar diberikan mukjizat bisa sadar kembali.
Beberapa jam berlalu, Fania yang sejak tadi duduk di ruang tunggu beranjak dari tempatnya. Dia ingin melakukan ibadah solat isya. Dalam langkah pelan, Fania berjalan menuju ke mushola yang ada di dekat kantin rumah sakit. Sesampainya di luar, Fania berdiri sejenak melihat berita yang ditayangkan di televisi.
Dalam layar itu menampilkan rekaman kecelakaan Ibunya pagi tadi. Fania menghela napas panjang, dadanya tiba-tiba sesak saat melihat Ibunya yang tergeletak di aspal dengan luka yang parah. "Astagfirullah, Ya Allah, sembuhkan lah Ibuku."
Fania melanjutkan langkahnya lagi. Dia berada di halaman sekarang, saat ingin menuju ke tempat wudhu, tiba-tiba saja tangannya dihentikan oleh seeorang. Fania menoleh dan melihat Zelina sedang berdiri di belakangnya dengan tatapan sinis.
"Ikut aku sekarang!" Zelina menarik tangan Fania untuk diajak ke tempat yang sepi. Fania pun ikut, dia berjalan cepat mengikuti langkah Zelina. Keduanya sampai di taman samping rumah sakit. Mereka berdiri berhadapan.
"Mbak mau ngapain ke sini? Aku tidak ada waktu untuk berdebat. Apalagi membicarakan tentang suamimu," ucap Fania ketus, dia sangat kesal dengan orang di depannya.
Zelina tersenyum sinis, dia memulai pembicaraan, dia menatap Fania dengan ekspresi penuh kebencian. "Kamu kapan menghilang dari dunia ini? Aku sudah muak melihat kamu yang selalu menjadi pusat perhatian Raditya. Harusnya kamu itu pergi jauh dan jangan kembali lagi."
"Mbak tidak perlu khawatir. Aku sudah mengajukan perceraian. Tinggal menunggu sidang saja. Setelah itu aku akan pergi dari tempat ini. Mbak pikir aku senang hidup bersama pria jahat seperti dia. Awalnya aku ingin bertahan dengan kalimat mungkin suatu hari dia kan berubah baik. Ternyata aku lah yang denial, dia tidak ada baiknya sama sekali. Bahkan sangat buruk, cocok jika bersanding dengan Mbak Zelin." Fania membalas tak kalah angkuh. Dia mencoba tegas untuk melawan.
Zelina langsung tersinggung, dia meraa terhina dengan balasan itu. "Kamu sudah berani melawan, ya? Kamu tidak ada hak untuk melawanku."
Tangan Zelina terangkat ke atas, dia ingin menampar Fania, tapi dengan cepat ditepis. Sikap berani itu membuatnya kaget dan semakin murka. "Kamu udah berani melawan? Hebat kamu, ya! Awas saja aku akan membalas semuanya."
"Mbak juga sedang apa di sini? Soal suami aku sudah mengalah. Aku tidak akan berebut lagi. Silakan miliki sendiri pria itu karena aku sudah tidak butuh. Penyesalan terberatku adalah bertemu dengan kalian semua. Semoga kalian mengunduh apa yang sudah kalian tanam. Permisi ...." Fania mengakhiri perseteruannya.
Zelina yang merasa terhina pun marah besar, rasa bencinya semakin meningkat. "Baiklah, ayo kita lihat apa kamu bisa bersikap sombong seperti ini lagi? Aku sudah berkata akan membalas perbuatanmu yang memuakkan itu."
Zelina tidak ingin diam saja, dia melangkah masuk ke dalam rumah sakit untuk mencari tempat Halimah dirawat. Entah apa yang ingin direncanakan oleh wanita itu. Setelah mendapatkan informasi tersebut, Zelina segera menari ruangan tersebut.
Sesampainya di sana, Zelina berdiri mematung di depan pintu. Dia sedang berpikir sesuatu sembari melihat ke kana dan ke kiri seperti memastikan semuanya aman. Akhirnya, dia masuk ke dalam ruangan ICU dan menemukan Halimah yang sedang kritis dengan alat medis yang menempel.
"Orang tua inilah sumber kekuatannya, bagaimana jika wanita tua ini yang pergi dari dunia? Apa mungkin si bodoh itu akan bertahan? Aku berharap dia ikut menghilang karena itulah impianku," gumam Zelina dengan tatapan sinis ke arah Halimah yang tidak sadar.
Zelina membuka alat bantu pernapasan yang terpasang di mulut Halimah. Dia sengaja melepasnya dengan senyum sinis. "Pergilah dengan tenang Ibu. Jangan salahkan saya, salahkan saja putrimu. Dia lah yang menyebabkan semua ini terjadi. Selamat jalan, semoga tenang di neraka."
Suara tawa Zelina terdengar saat alat bantu pernapasan Halimah terlepas. Dia menunggu sampai bereaksi. Dalam sepersekian detik, Halimah mengalami sesak napas. Alat detak jantung pun berbunyi ramai. Sementara itu Zelina menunggu dengan santai, dia akan memasang lagi alat itu saat Halimah tidak bernapas lagi.
Hingga akhirnya, Halimah mengembuskan napas terakhir setelah sekitar lima menit berjuang melawan maut. Zelina tersenyum tipis, dia memasang lagi alat bantu pernapasan itu untuk menyamarkan jejak. Setelah semuanya aman, dia langsung keluar dari ruang tersebut. Hatinya sangat senang sudah melakukan hal terbaik dalam hidupnya.
Di mushola, Fania sudah selesai beribadah. Dia melipat mukena dan segera keluar dari sana. Saat santai berjalan, dia melihat segerombolan dokter dan suster yan berlari tergesa-gesa. Dia juga melihat kepanikan dokter yang menangani Ibunya. "Ada apa?" pikirnya.
Perasaan tidak enak mulai datang, Fania berlari menuju ke ruangan Ibunya dirawat. Betapa terkejutnya dia saat melihat ruang ICU yang sangat ramai. "Ibu, ada apa dengan Ibu?"
Fania berlari kencang untuk melihat apa yang terjadi. Dia menerobos masuk di kerumunan dokter yang ada di dalam. Langkahnya terhenti saat mendapati alat medis Ibunya yang sudah dilepas semua. Air matanya mulai berkumpul, semuanya tumpah saat dokter menutup wajah Ibunya dengan selimut.
"Dokter ada apa ini? Apa yang terjadi? Dokter tolong jawab saya apa yang terjadi? Ada apa, Dok?" tanya Fania dengan air mata yang berlinang.
Dokter menarik napas panjang, setelah itu menjawab dengan penuh sesal. "Maaf, Ibu Halimah sudah menghadap Yang Kuasa. Ada komplikasi yang menyebabkan Ibu Halimah tidak tertolong."
Fania menggeleng tidak percaya, dia langsung menghampiri Ibunya dengan langkah berat. "Ibu, bangun. Ibu aku mohon bangun. Jangan tinggalin aku, Bu. Ibu bangun! Ibu aku mohon bangun. Ibu, jangan seperti ini. Fania masih butuh Ibu, jangan pergi seperti ini, Bu.Ibu, Ibu, bangun. Ibuuuuuu ...."
Tangisan Fania terdengar sangat pilu, dia menangis di tubuh Ibunya yang sudah tidak bernapas lagi. Kali ini Fania benar-benar sendiri, penopangnya sudah pergi dam tidak ada siapa-siapa lagi. Dokter membujuk Fania untuk tenang dan ikhlas, tapi tidak dihiraukan sama sekali. Dia terus menangis sambil memeluk jasad Ibunya.
Sementara itu di luar pintu, senyum mengembang terlihat di wajah Zelina. Dia merasa puas saat melihat Fania hancur. "Itulah balasan karena sudah meremehkanku. Nikmatilah penderitaanmu wanita sialan."