Riana tidak mengetahui wajah dibalik topeng CEO Angkasa, bahkan banyak desas desus wajahnya hancur dan mengerikan yang menyebabkan siapa saja yang melihatnya akan terkena kutukan.
Suatu ketika Riana melihat wajah dibalik topeng itu, ia terkejut melihat betapa menakjubkannya paras lelaki yang ada dihadapannya itu dan tunggu... bukankah dia terlihat familiar? Tidak salah lagi! dia adalah Awan, orang yang Riana kenal!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shafa4, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keraguan
Waktu pulang tiba, Riana membawa tasnya untuk pulang. Tiba tiba ia berpapasan dengan Mitha yang saat itu sedang bersiap siap akan pulang. "Mitha!" panggil Riana. Mitha pura pura tak mendengar, ia berjalan lurus ke depan seraya memegang alat pelnya.
"Enggak ngedenger? Perasaan udah kencang." gumam Riana.
Tiba tiba ia menerima chat whatsapp dari Irfan, isinya "Saya tunggu di parkiran." Chat Irfan, lalu Riana menjawabnya. "Oke, aku kesana." balasnya.
Baru akan melangkah, tangannya tiba tiba dipegang. "Jangan pergi." ucap seseorang yang ternyata adalah Angkasa.
Riana terkejut bukan kepalang, ia melihat tangannya yang baru baru ini dipegang oleh Angkasa. "Kerjaan kamu masih banyak." ucap Angkasa
"Kerjaan yang tadi sudah saya selesaikan pak, dan untuk tugas selanjutnya bisa besok kan ya pak. Soalnya sekarang sudah waktunya pulang."
"Jangan pergi."
"Kenapa?"
"Apa kamu sebegitu mudahnya jalan dengan lelaki lain sementara kamu bilang kamu mencintai lelaki itu?"
Riana langsung terkejut, kenapa tiba tiba Angkasa mengatakan hal seperti itu? Dan kenapa yang terlintas di kepalanya sekarang adalah Awan?
"Apa maksud bapak ini menyangkut tentang Awan? Atau jangan jangan sebenarnya bapak kenal dengan Awan?"
Angkasa terdiam. Riana semakin curiga dengannya. Angkasa perlahan melepas tangan Riana ketika beberapa orang melewati mereka. Angkasa masih terdiam.
"Kenapa bapak tidak menjawab pertanyaan saya?"
Tiba tiba ada telepon dari Irfan. Riana menyadarinya, mungkin ia telah lama membuatnya menunggu. "Maaf pak saya harus pergi." Riana perlahan menjauhinya dan bergegas pergi. Angkasa berkata.
"Pilihlah salah satu, jangan memberi kesempatan untuk orang lain ketika dia tidak ada."
Riana terkejut, langkahnya terhenti sebentar. Ia semakin curiga dengan Angkasa. Suara teleponnya berdering jelas, ia terpaksa pergi.
Angkasa mengepal kuat. Rasa kesalnya sudah melampaui batas.
Di tempat parkiran rumah sakit Riana terus melamun saat Irfan sedang memarkirkan motornya. Irfan yang menyadari Riana terus melamun bertanya. "Kamu kenapa Rian? Ada yang dipikirin?" tanya Irfan. "Eh? Enggak pak."
"Kalo ada hal yang kamu rasa enggak nyaman bilang aja sama saya. Saya bersedia kok jadi teman curhat kamu." ucap Irfan. Riana tersenyum "Makasih banyak ya pak. Enggak apa apa kok pak. Cuma pemikiran random aja."
"Yakin?"
"Iya hehe."
"Yaudah, lepas dulu helmnya. Mau pake helm ke dalam?"
"Oh iya lupa."
"Dasar kamu, masih muda udah pelupa."
"Hehehe."
Di lain tempat, Angkasa yang sudah berganti baju dan mengenakan pakaian sport sedang berada di tempat olahraga khusus miliknya Ia memukul bantal tinju berulang ulang melampiaskan kekesalannya yang tidak tertahankan sejak tadi di kantor, sejak Riana lebih memilih pergi bersama Irfan dan meninggalkannya. Shin yang saat itu melihat Angkasa sangat kesal langsung terheran. Apa gerangan yang menyebabkan tuan mudanya seperti itu?
Angkasa yang melihat Shin didekatnya dan sudah berganti pakaian langsung berkata.
"Shin, ayo bertarung "
Shin terkejut, jarang sekali Angkasa mengajaknya bertarung tinju. Terakhir Angkasa kalah darinya saat masih SMA. Suatu kehormatan jika ia menawarkan padanya bertarung lagi.
Shin adalah asisten pribadinya termasuk bodyguard yang selalu melindungi Angkasa sejak SMA. Shin memiliki tubuh yang atletis dan cukup kekar. Seperti kata Mitha, wanita satu kantor pasti akan langsung mimisan ketika melihat tubuh lelaki ini. Ia pandai beladiri seperti judo, karate dan taekwondo.
Shin adalah anak dari teman Sanjaya yang tinggal di Jepang. Kedua orang tuanya meninggal saat Shin SMP. Kemudian Sanjaya mengangkatnya sebagai anak dan melatihnya bela diri lalu menyekolahkannya di Indonesia hingga akhirnya menjadi bodyguard Angkasa sampai sekarang.
Shin tahu betul, ketika tuan mudanya sedang merasa kesal ia pasti akan langsung mengajaknya bertarung, entah itu tinju, karate atau taekwondo.
Didalam ring tinju, Angkasa dan Shin sudah memakai pelindung kepala dan sarung tinju. Mereka mulai bertarung dan saling memukul satu sama lain. Angkasa terlihat agresif, ia nampak melampiaskan rasa kesalnya dengan meninju Shin berulang kali, Shin yang tidak tahu kekuatan Angkasa yang entah datang dari mana langsung dijadikan bahan bully. Shin mencoba melawan namun Angkasa mensleding dan meninju Shin berulang ulang hingga Shin terkapar diatas ring. Shin tertawa. "Anda menang tuan." ucap Shin.
Angkasa tiduran di samping Shin. "Apakah hal yang wajar jika saya cemburu Shin?"
"Maksudnya tentang gadis bernama Riana itu tuan?" tanya Shin
"Memikirkan tentangnya benar benar membuat saya gila."
"Ini pertama kalinya saya mendengar tuan seperti ini."
"Saya bingung ketika menghadapinya, saya sangat ingin mengungkapkan kalau saya sebenarnya adalah Awan. Tapi saya ragu."
"Kenapa ragu?"
"Bagaimana jika dia merasa tidak nyaman dengan status saya? Bagaimana jika dia lantas merasa ilfeel melihat saya yang selalu mengenakan topeng?"
"Apakah Riana mengatakan kalau dia menyukai tuan?"
"Iya dia menyukaiku."
"Kenapa tuan harus merasa cemburu?"
"Karena saya khawatir perasaannya berubah."
"Jika dia benar benar mencintai tuan, pasti perasaannya tidak mungkin berubah."
"Saya juga berharap seperti itu Shin."
KNP GK MITHA YG DPT BUKET BUNGA....???