“Menikahlah denganku, Jia.”
“Berhentilah memikirkan masa lalu!! Kita tidak hidup di sana!!”
“Jadi kamu menolakku?”
“Apa yang kamu harapkan?? Aku sudah menikah!!!!”
Liel terdiam, sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan. Sorot matanya yang tajam itu kembali lagi. “Aku tahu kamu sudah bercerai. Pernikahan macam apa yang sehari setelah menikah sudah tidak tinggal satu atap?”
Sebelas tahun lebih, mereka memutuskan untuk menyerah dan melupakan satu sama lain. Namun, secara ajaib, mereka dipertemukan lagi melalui peristiwa tidak terduga.
Akan kah mereka merajut kembali tali cinta yang sudah kusut tak berbentuk, meski harus melawan Ravindra dan anaknya Kay, wanita yang penuh kekuasaan dan obsesi kepada Liel, atau justru memilih untuk menyerah akibat rasa trauma yang tidak pernah sirna.
Notes : Kalau bingung sama alurnya, bisa baca dari Season 1 dulu ya, Judulnya Beauty in the Struggle
Happy Reading ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Avalee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyusulmu?!
Dua jam berlalu. Tony menelepon Liel kembali, dengan sejumlah informasi yang di dapatnya. Mendengar hal itu, dia mempersilahkan Tony untuk menyampaikan informasi tersebut.
“Tuan, sepertinya nona jia berangkat ke kota Bali, ada Pertemuan Ilmiah Nasional yang membahas tentang perkembangan neurosains dan peran teknologi digital, yang harapannya dapat mendukung diagnosis dan kesehatan jiwa.”
“Oh, dia ke Bali ya,” ucapnya tenang.
Mereka pun kembali terdiam untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Liel menyadari apa yang Tony katakan.
“APA?? KE BALI?”
“Ya tuan, itu sebabnya nona tidak ada di apartemen maupun kliniknya.”
Liel terdiam, mencari solusi untuk masalahnya.
“Baiklah, aku akan ke sana! Tony, pesanlah tiket penerbangan untukku.”
“Full booking tuan, tidak ada penerbangan menuju Bali hari ini, kecuali besok pagi. Lagipula, bukankah masih banyak dokumen dan proposal yang belum anda analisa, tuan.”
“Aaargh, sial! Di mana dan kapan acara tersebut berlangsung? tanyanya lagi.
“Ah, sebentar tuan … hm … ya, di Safited Nusa Dua Beach Resort. Acara pertemuan akan dilaksanakan di sana, itu sebabnya nona Jia memilih untuk menginap di sana.”
Liel terdiam sejenak, dia seperti pernah mendengar nama resort tersebut. “Safited ya … hm, mengapa aku seperti pernah mendengarnya??”
Keheningan panjang terjadi. Tony tetap setia menunggu jawaban dari tuannya, tanpa menutup teleponnya. Kemudian Liel melebarkan matanya, dia seperti mengingat sesuatu.
“Siaaal!! Aku baru ingat, jika wanita sialan itu beberapa hari yang lalu mengirimkan pesan padaku!! Tony, untuk berjaga-jaga, kirimkan 2 orang yang memang berdomisili di sana untuk menjaga Jia dari jarak yang aman, jangan sampai Jia tahu.”
“Hah? Eh, baik tuan muda,”
...****************...
Safited Nusa Dua Beach Resort
Kay dengan gayanya yang luwes dan kepercayaan diri yang tinggi, sedang menjalani dua pemotretan sekaligus mempromosikan resort tersebut.
Kay bertarung melawan rasa kantuk, karena kegiataannya diadakan sejak matahari terbit. Kebaya brokat pertama yang di kenakannya berwarna abu yang dihiasi oby berwarna kuning dan songket berwarna hijau tua bermotif daun emas.
Tidak cukup sampai di situ, Kay juga harus menjalani pemotretan kedua pada saat hawa mulai terasa panas, yaitu siang hari. Kali ini, Kay memakai kebaya brokat berwarna putih dengan oby berwarna merah dan songket berwarna coklat tua dengan motif daun emas.
Setelah kegiatan pemotretan selesai. Para kru, tata rias dan busana serta photographer sangat berterima kasih kepada Kay, karena dapat bekerjasama dengan baik. Mereka pun beranjak pergi, meninggalkan Kay beserta asistennya yang masih berada di gazebo, di tepi pantai.
“Aku akan memesan jus timun dan steak daging sapi dengan mash potato, tanpa garam? Benar kan?” ucap asistennya.
Kay mengangguk pelan tidak berdaya. Tenaganya serasa terkuras habis. Meski begitu, dia merasa senang dengan pekerjaan yang dilakukannya.
Kemudian matanya menatap ke arah laut biru yang indah dan menenangkan, membuat rasa lelahnya sedikt berkurang, namun tetap saja, hatinya hampa, terasa kosong.
“Andai Liel ada di sini … padahal aku sudah cukup lama memeberitahunya, namun dia tidak merespon pesanku sama sekali.” ucapnya lirih.
“Ting! Ting!”
Sebuah pesan masuk, menghiasi layar ponselnya.
Pria Klub : “Aku sudah berada di kamarku. Datanglah setelah makan siangmu selesai. Aku merindukanmu, Kay.”
Kay tersenyum. Setidaknya pria lain mampu menghiburnya, meskipun di hatinya hanya ada Liel. Baginya, Liel tidak akan pernah tergantikan, selamanya.