NovelToon NovelToon
Perindu Senja

Perindu Senja

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:53.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ata~Tenareten

Mencintai bukan berarti sepenuhnya memiliki karena takdir tak pernah kita tahu rencana yang Kuasa. Memiliki bukan berarti sepenuh mencintai karena cinta tulus setia hanya untuk seseorang saja.

Simak Kisah "Perindu Senja."
By : Farit Rittan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ata~Tenareten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amarah

"Ada apa Metal?" tanya Nia seraya menarik tangannya yang di pegang erat Metallo.

"Jangan terburu-buru."

"Memangnya ada apa sehingga engkau menahan aku?"? tanya Nia dengan raut yang sangat cemberut.

"Tolong bawakanlah buku ini, serta simpalah diatas meja belajarku," pintanya seraya memberikan buku yang ingin ia titip.

"Baiklah, sini. Eh... Tapi ada syaratnya."

Metallo mengerutkan dahinya serta menatapnya penuh tanya, dilain sisi ia ingin menjalani misi yang telah direncanakan bersama Festo untuk menjebak Nia, tetapi keadaan sungguh sangat tidak menguntungkan baginya.

"Ini anak banyak maunya..." ia berpikir sesaat sebelum menerima syarat yang belum terungkap dari Nia, "Apa syaratnya."

Nia memasang wajah manja terhadapnya diselimuti senyuman tipis yang menawan, hingga membuatnya merasa sedikit girang melihat gadis munggil yang telah dewasa bertingkah seperti anak kecil di hadapannya.

"Cepat, katakan apa yang engkau mau?" ia kemudian mendorong kepala gadis yang kini memasang ekspresi manja terhadapnya, "Aku muak melihat engkau begini," cetusnya.

"Antarkanlah aku ke rumahku," Nia menatapnya dengan sangat sinis, sebelum berlari menghampiri Indri yang yang berdiri di depan pintu ruangan mereka, "Aku akan menunggu engkau disana bersama Opa dan Omamu."

"Iya," jawab Metallo tertawa kecil menatapnya. Dilain sisi ia sedikit girang, oleh karena apa yang telah direncanakan bersama Festo berjalan mulus tanpa adanya pengorbanan.

*****

"Apa yang kalian bicarakan, Na?" tanya Indri dengan raut wajah yang sangat cemberut, oleh karena melihat sahabatnya begitu riang setelah selesai berbicara dengan Metallo.

"Kami tidak membicarakan apapun," jawabnya seraya menarik tangan Indri.

"Hm..." Indri memasang raut wajah cemberut, dia kemudian menatapi Metallo sesaat, sebelum melangkah pergi bersama Nia, 'Apa yang mereka sembunyikan dariku,' benaknya.

Batinnya merasa sangat terganjal dengan kelakuan Nia yang tak terlihat seperti biasanya, hingga muncul rasa penasaran yang terus memburunya.

"Na, Apa yang kalian bicarakan? Jikalau engkau tak mau memberitahukannya kepadaku, maka aku sendirilah yang akan mencari tahunya," pintanya dengan raut wajah yang sangat cemberut..

Nia memandangnya dengan penuh ceria, "Aku meminta Metal untuk mengantarku pulang ke rumah," dia kemudian tersenyum penuh manja kepada Nia, "Dia mau mengantarkan aku," bisiknya pelan.

Indri mengelengkan kepalanya pelan, "Na, sadar... Sadar. Mana mungkin itu bisa terjadi, sedangkan dia saja tidak membawa kendaraannya."

"Memang dia tidak membawanya untuk mengantarku, tetapi aku akan menunggunya di pondok."

"Jangan gegabah, dia tidak mungkin pulang secepat yang kamu bayangkan."

"Aku tidak mau tahu, intinya aku akan menunggunya disana sampai dia datang," pintanya sembari menunjuk pondok kecil tempat Metallo tinggal.

"Terserah, jikalau engkau ingin mati kelaparan disitu," pinta Indri sembari membuang mukanya karena dia sendiri tahu bahwa Opa dan Oma Metallo tidak ada disitu.

"Aku pulang lebih dahulu, tunggu saja dia disana," pinta Indri seraya mempercepat langkahnya, dilain sisi dia ingin mengajak Nia ke rumahnya yang tidak jauh lagi dari situ, tetapi Nia tidak mau mendengarkannya sehingga niat baiknya tetap terkurung.

*****

"Metal, bagaimana dengan apa yang telah Aku katakan kepadamu semalam?" tanya Festo.

"Santai, semuanya pasti berjalan dengan baik."

Festo memasang wajah cemberutnya saakan-akan tidak yakin dengannya, "Apakah engkau telah mengatakan semuanya kepada dia?"

"Tidak, sama sekali. Justru dia sendirilah yang menempatkan dirinya pada jebakan kita."

Raut wajah Dabllo cemberut ketika mendengarkan kata [Jabakan], dia kemudian mengerutkan dahinya, "Jebakan apakah itu?" pintanya penuh tanya dalam benak sebab baru kali ini Metallo dan Festo menyembunyikan sesuatu darinya.

Metallo mengangkat kedua alisnya serta menatap Dabllo dengan sinis. Ia ingin memberitahukannya kepada Dabllo namun dirinya juga tidak mau membuat Festo kecewa, oleh sebab itu dia berniat memberitahukan semuanya kepada Dabllo, setelah apa yang mereka rencanakan telah terlaksana dengan baik sesuai apa yang diinginkannya.

"Nanti kamu akan mengetahui," pintanya.

Dabllo sama sekali tidak berkutik selain menuruti apa yang dikatakan Metallo sehingga dirinya tidak bertanya-tanya lagi.

"Nanti akan aku beritahukan semuanya kepadamu," cetus Festo.

Ketiganya pun mempercepat langkah menuju ke kantin untuk menikmati rokok, seperti biasa yang mereka lakukan sebelum pulang ke pondok mereka.

"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Pak Sil membuat mereka kaget.

"Dia lagi, dia lagi," bisik Metallo dengan raut wajah yang sangat sinism, "Bukan urusanmu," jawabnya tanpa ada peduli dengan siapakah ia berbicara, dilain sisi waktu belajar di sekolah telah selesai hingga membuat dirinya begitu angkuh.

Pak Sil memasang wajah geram sebab telah beberapa kali, di hari yang sama Metallo memperlakukannya dengan tidak baik,"Akan aku tunggu engkau minggu depan," pintanya seraya melangkah pergi dari kantin menuju ke sekolah.

Metallo tertawa kecil akan perlakuan Pak Sil terhadapnya, "Terserah, Pak. Aku juga pasti akan menunggu engkau.".

Kedua temannya tak dapat berkutik menatapi Metallo yang begitu mental menghadapi Pak Sil, dilain sisi mereka mulai menduga, bahwa minggu depan Metallo pastinya tidak akan sekolah mengingat kejadian yang baru saja terjadi.

Festo memukul jidatnya, tatapan sinisnya mengarah tajam pada Metallo yang berjalan di samping kirinya, "Jangan pernah engkau katakaan, bahwa minggu depan engkau tidak sekolah."

Metallo tertawa girang seakan-akan tidak mendengarkannya hingga membuat amarahnya memuncak, sebab kerap kali dia menjadi sasaran ocehan guru-guru, atas perbuatan yang dilakukan Metallo mengingat mereka berdua tinggal sepondok.

"Berani berbuat! Harus berani pula bertanggung jawab, sebab anda memakai celana bukan rok!" tegasnya.

"Iya, tentu. Apakah aku pernah meminta engkau bertanggung jawab atas tindakan yang aku lakukan?" tanyanya.

"Iya, elah... Kalian berdua sama saja, tidak ada keberanian sama sekali seperti aku," cetus Dabllo yang kini mulai membeli rokok untuk mereka nikmati.

Metallo dan Festo saling berpandangan sesaat sebelum tertawa mengejeknyamengejeknya, "Mental kerup... Dibelakang lantang bicaramu, tapi coba berhadapan langsung."

"Aku memang begini adanya, jikalau aku telah melakukannya, aku selalu siap sedia bertanggung jawab atas tindakan yang aku lakukan."

"Sejak kapan engkau berubah drastis," Festo menggelengkan kepalanya pelan, "Aku belum pernah melihat engkau seperti ini."

"Apa yang merasukimu, hingga engkau begitu berani?" pinta Metallo menatapnya penuh girang, "Sudahlah, sini rokoknya."

*****

"Tunggu engkau minggu depan," guman Pak Sil seraya memasuki ruangan guru, "Dimanakah guru-guru yang lain?" tanya kepada Pak Rian yang kini menatapnya penuh tanya.

"Mereka telah pulang," pintanya mantap tajam Pak Sil.

"Hey, Rian... Janganlah engkau menatapku seperti ini."

Pak Rian mengerutkan dahinya, "Apakah ini Silatus yang aku kenal? Oh... Mungkin dia, tetapi raganya kemasukan setan."

"Apa yang engkau katakan Rian?"

"Ada apa dengan dirimu, sehingga terlihat sangat geram," tanyanya.

Pak Sil menarik nafasnya dalam-dalam sebelum memberikan penjelasan kepada Pak Rian, "Anakmu itu, sungguh sangat menyebalkan."

"Apa yang dilakukannya lagi terhadap engkau?"

Pak Sil mulai menjelaskan beberapa kejadian yang dialaminya, sedangkan Pak Rian mendengarkan seraya memasukan segala perlengkapannya, berupa buku paket serta beberapa buku lain yang sangat mendukungnya dalam kegiatan mengajar.

"Ingat, Rian. Ajarilah bagaimana cara beretika yang baik kepada anakmu itu."

Pak Rian menggelengkan kepalanya pelan, "Sudahlah, mari kita pulang," pintanya tak mau menghiraukan lagi penjelasan dan juga arahan dari Pak Sil untuknya.

Bagi dirinya mengajari orang lain beretika yang baik akan sangat mudah merubah karakter mereka, dari memberikan arahan untuk Metallo yang hampir tiap melakukan hal-hal konyol, baik terhadap dirinya maupun orang lain.

"Nanti akan aku beritahukan kepada kepala sekolah," pinta Pak Rian, karena dia tahu bahwa Metallo sangat takut kepada kepala sekolah, walaupun sulit untuk dirubah krakternya namun setidaknya, Metallo dapat mengikuti apa yang kepala sekolah mau.

"Bagus, jikalau demikian."

Bersambung....

1
Reaz
semagat Thor.../Ok//Good/
mampir juga ya.../Coffee//Coffee/
Abu Yub
luar biasa
Abu Yub
Aku kasih bintang masuk ngak dedek
Abu Yub
Aku mampir dedek/Rose//Rose/
Abu Yub
sedih
Abu Yub
dapat melihat
Abu Yub
Tumben
Abu Yub
indah namun aneh
Larina
Turut prihatin dengan keadaan listrik di wilayah Metallo, ternyata cukup payah
Larina
mereka sama-sama menarik nya
Larina
pH no,, dia salah sangka
KIA Qirana
Wah, kalian jadi lebih sakit kan, terjatuh, dan tertimpa 🤔🤔
Adinda
Kasihan Mey, jiwanya jadi murung
ALONE ⭕
Astaga, itu para ibu-ibu rombengan banget mulutnya
Zelyn ⭕
Hey Metallo sabarlah sedikit
Nina ♋
Apa aku seindah senja 🤔🤔🤔
Dhina ♑
Sungguh miris keadaan Mey.
Dikelilingi kebencian
Jazz ♋
Dia siapa
Jazz ♋
Pukulan kamu sungguh dahsyat Mey
Jazz ♋
Karena tidak ada cara lain untuk menyadar........

Thor, itu maksudnya bagaimana ya??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!