Ini adalah cerita dewasa yang ditokohutamai oleh anak remaja. Jadi, anak di bawah umur, tetep enggak boleh baca, ya 😉
💃💃💃
Zeo adalah anak SMA yang sangat cantik sehingga membuatnya menarik perhatian para murid laki-laki. Sialnya, di usia 18 tahunnya ini, dia malah mencium seorang laki-laki paruh baya. Lebih sialnya, laki-laki itu adalah seorang guru di sekolahnya. Bagaimanakah Zeo menghadapi kerumitan hidupnya saat ini?
Season 2
Zeo sudah menikah. Namun, di tengah-tengah kehidupan pernikahannya, ia malah terjebak oleh cinta di masa lalu.
Instagram: @citragtw_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Citra Gtw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Menarik Tanggung Jawab
Berbeda dari biasanya, kini Zeo berdiri lama di parkiran ujung, tempat Satria memarkirkan motornya. Dia sengaja keluar dari kelas lebih dulu untuk menunggu Satria. Satria yang melihat Zeo di sana, menatap sinis perempuan itu. Rupanya kekesalan Satria belum menghilang.
“Minggir! Gue mau lewat!” usir Satria.
Zeo tidak bergerak dari tempatnya. Dia balas menatap sinis Satria. “Enggak mau,” tolak Zeo.
“Hei! Bukannya lo anggap gue sebagai orang yang enggak penting?” sindir Satria.
“Emang, sih.”
Perempuan itu bertingkah lagi. Membuat Satria merasa gemas. Beruntungnya dia cantik sehingga Satria mampu menahan dirinya.
“Tapi lo enggak bisa lari gitu aja dong, setelah ngehancurin kehidupan gue!” protes Zeo.
“Bukannya lo yang lari setelah mempermainkan gue?” sindir Satria.
Sungguh, Zeo ingin memukul laki-laki ini sekarang.
“Tapi gue enggak ngerusak kehidupan lo, kok. Enggak kayak lo. Gara-gara lo, gue jadi dipecat dari pekerjaan.” Zeo masih bisa mengelak.
“Terus apa mau lo?” tanya Satria.
“Karena sekarang gue nganggur, lo harus bantu gue cari uang,” jawab Zeo.
“Jadi lo butuh uang berapa? Sepuluh juta? Dua puluh juta? Atau lima puluh juta?” tawar Satria.
Zeo tergoda dengan tawaran itu. Jika bisa, dia akan memilih ketiga-tiganya.
“Kalo—“
“Tapi enggak bakal gue kasih,” tambah Satria sebelum Zeo menjawab.
“Lagian gue enggak butuh uang lo, Bodoh!” sentak Zeo menjaga harga dirinya yang hampir luntur. “Gue butuh pekerjaan.”
“Ujung-ujungnya uang juga.” Satria tersenyum sinis.
“Lebih tepatnya pertanggung-jawaban.” Zeo benar-benar ratu pengelak.
Satria mendesah. Dia mengalah. Pada akhirnya dia tidak akan menang melawan perempuan ini.
“Ya udah, jadi babu gue,” kata Satria jail.
“Lo kira gue apaan?” protes Zeo.
“Sehari seratus ribu,” tambah David.
Zeo langsung terdiam. Dia mengangkat jemarinya untuk menghitung jumlah penghasilan.
“Gue enggak yakin lo bisa berhasil ngehitung,” goda Satria.
Zeo melirik kesal. “Gini-gini gue bisa juara satu tahu!” tegasnya. “Di kelas satu SD ….”
Akhirnya Satria tersenyum sampai memperlihatkan giginya.
“Pekerjaan lain, deh. Gue enggak mau nempel-nempel sama lo di sekolah,” kata Zeo memberikan syarat.
“Bersihin kamar gue atau enggak sama sekali.” Satria menutup negoisasinya. Kemudian mendorong Zeo sehingga dirinya bisa menaiki motor itu.
Setelah mengenakan helmnya, Satria menoleh. “Naik atau enggak?”
Zeo diam memikirkan. Akhirnya dia menaiki boncengan itu juga. Lagipula dia tidak memiliki pilihan.
***
Meski sudah melihat rumah Satria sebelumnya, Zeo masih terperangah saat berdiri di depannya. Rumah itu sangat besar dan mewah. Dia belum pernah melihat langsung selain dari televisi. Padahal Satria mengatakan kalau dia tinggal sendirian di rumah itu.
Setelah memasuki kamar Satria, Zeo lebih terperangah. Tempat itu bisa disebutnya neraka di dalam surga. Begitu kotor dan berantakan. Benar-benar cocok ditempati pendosa layaknya Satria.
“Lo rapiin semua ini seperti semula dan bersihin sampai enggak ada satu pun debu yang tertinggal,” Satria memberikan perintah yang sama setiap harinya. Zeo bahkan tidak bisa mengeluh. Apalah daya di bawah majikan.
Padahal kemarin Zeo sudah membersihkan kamar Satria, tetapi kamar itu hancur lagi dalam waktu sehari. Entah apa yang sebenarnya dilakukan Satria di dalam kamar ini. Entah dia benar-benar manusia atau seorang monster. Bagi Zeo, untuk mengembalikan kamar ini seperti semula, dia tidak perlu menyentuh apa pun. Karena memang inilah bentuk semula dari kamar ini. Sedangkan untuk membersihkannya sampai tidak menyisakan debu, Zeo berpikir untuk mengangkut semua barang-barang ini ke kampung halamannya.
Jika bukan karena rasa tanggung jawab Zeo kepada Tiwi, Zeo tidak akan sudi menjadi pembersih kamar Satria.