Jatuh cinta pasti dirasakan setiap manusia
Dan banyak sekali rintangan didalamnya
baik suka maupun duka
mau tidak mau kita harus melewatinya
Setiap hubungan juga tidak akan berjalan
dengan mulus layaknya jalan tol
akan ada waktunya jalan itu berlubang
Akibat kesalahpahaman dan keegoisan kita
Jadi, mau happy atau sad endingnya
kitalah yang tentukan sendiri
dan mungkin ada hati yang akan dikorbankan
atau tidak sama sekali diantara kita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourdream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Yuan sudah berada di rumah pohon yang dimaksud Jessy. Tapi saat ia sudah diatas sana, didalam rumah itu kosong. Alias tidak ada siapapun didalam rumah itu.
"Irine! Lo dimana?" Yuan berteriak sambil memanggil namanya.
Yuan menemukan ikat rambut yang sering dipakai Irine di tanah. Ia mengambilnya dan melihat ke depan.
Sebuah jejak. Yuan mengikuti semua jejak itu. Dan jejak itu berakhir di depan sebuah gubuk yang sudah reot.
Yuan melihat di celah-celah dinding itu. Dan samar-samar ia mendengar suara teriakan yang tertahan. Ia yakin jika orang itu adalah Irine.
###
Irine berteriak sekuat tenaga. Tangannya terikat dan mulutnya yang disumpal oleh sapu tangan membuatnya tidak bisa bergerak bebas.
"Lo mau ngapain? Mau teriak?" Orang yang menculiknya itu terkekeh.
"Percuma lo teriak. Karena disini gak ada orang satu pun," ucapnya lagi.
Salah seseorang yang lain masuk kedalam ruangan itu. Dan menarik orang yang bersamanya tadi keluar.
"Gimana sama Ersa?"
Irine mengernyit meskipun samar-samar ia mendengar percakapan itu.
Ersa? Jadi dalang semua ini itu Ersa? Kenapa dia ngelakuin itu?
"Telponnya gak diangkat."
Salah satunya mendecak.
"Ck! Selalu begitu. Pokoknya awas aja kalau sampai dia ingkarin janji dia. Kita bakal habisin dia," ucapnya.
Gawat! Ersa dalam bahaya.
Irine berusaha untuk melepaskan ikatan di tangannya. Ketika ia sedang berusaha, sesuatu terlempar ke arahnya. Ia menoleh ke belakang.
Yuan? Bagaimana dia bisa ada disini?
"Lo tenang aja. Gue bakal keluarin lo dari sini," ucap Yuan pelan.
Irine menggeleng. Ia tidak ingin Yuan celaka karena menyelamatkannya.
Pergi! Pergi, Yuan!
Irine selalu membatin. Ia berharap ia bisa mengatakan itu pada Yuan. Tapi ia tidak bisa.
Yuan menghilang dari hadapannya. Irine mencari-cari Yuan.
"Lo lagi ngapain?" Irine menoleh ketika kedua orang itu selesai bicara.
Irine menggeleng.
Orang itu berjongkok di hadapan Irine.
"Gue jadi kasihan sama lo. Hidup lo gak beruntung banget. Lo punya temen, tapi gak tulus. Lo punya sahabat, tapi udah gak perduli sama lo. Dan sekarang, ada seseorang yang pengen lo itu mati," ucapnya.
Irine tidak mengerti semua yang diucapkan orang itu. Apa semuanya ini? Siapa dia?
Irine mencoba untuk bicara. Tapi sapu tangan menghalanginya. Orang itu tahu jika Irine ingin bicara. Ia pun membantunya membuka sapu tangan itu.
"Siapa lo sebenernya?"
Ia tertawa.
"Gue? Gue anak yang lugu. Gue anak yang petakilan. Gu--" belum saja orang itu menyelesaikan ucapannya, Irine memotong terlebih dahulu.
"Gak mungkin lo itu Secil!"
Ia tersenyum lagi.
"Kenapa gak mungkin?"
"Gue tahu gimana Secil! Secil gak mungkin ngelakuin ini semua!" jerit Irine.
Penutup wajah itu terbuka. Dan Irine benar-benar terkejut bukan main. Karena seseorang yang ada di hadapannya saat ini adalah gadis yang sangat lugu, dan gadis yang baik. Secil.
"Secil."
"Ya, ini gue."
"Bawa dia." Seseorang yang lain masuk kedalam ruangan itu. Irine menoleh.
"Jangan bilang kalau lo itu Vinkan?!" tanyanya.
Secil menoleh ke orang itu yang juga menatapnya. Secil berdiri dan mengangguk.
"Dia udah tahu gue."
Orang yang masih tertutup wajahnya itu akhirnya membuka penutupnya juga. Irine benar-benar tidak menyangka, jika kedua temannya begitu tega berbuat ini padanya.
"Kalian semua tega! Kenapa kalian ngelakuin ini ke gue?" tanya Irine dengan sakit.
"Lo terlalu naif, Rin. Gue, udah capek harus pura-pura lagi dan nanggung batin gue sendiri," ucap Vinkan.
"Lo beruntung bisa deket sama Yuan. Tapi lo malah sia-siain dia. Lo tahu, gue udah lama suka sama Yuan sebelum kalian itu deket!" kesal Vinkan.
Irine tidak percaya dengan semua ini.
"Dan apa hubungannya sama Ersa?"
"Ersa? Entahlah. Mungkin dia juga bakal bernasib yang sama dengan elo. Ayo, bawa dia." Vinkan dan Secil membawa Irine dengan tangannya yang masih terikat. Irine terus berontak dan berteriak.
Irine bisa saja berteriak memanggil Yuan, namun bukan waktu yang tepat untuk melakukan itu. Irine dibawa mereka berdua melewati hutan yang begitu gelap.
"Secil, Vinkan. Denger, ini semua bukan sifat kalian berdua. Kalian gak akan mungkin ngelakuin ke gue. Kita ini sahabatan, kan?"
Vinkan terkekeh.
"Sahabat? Gue udah muak, Rin."
"Cil, kita masih sahabat, kan?" Irine kini menoleh ke Secil.
"Dulu sih iya. Tapi setelah lo deket sama Sastra, gue mulai ngebenci lo. Disaat gue yang harusnya ada disamping Sastra, tapi lo yang gantiin posisi itu," ucap Secil.
"Jadi lo suka sama Sastra? Kenapa?"
"Kenapa? Jadi menurut lo, gue gak berhak buat suka sama Sastra gitu?" tanya Secil dengan tidak percaya.
"Bukan. Disaat semua cewek suka sama Yuan, kenapa lo suka sama Sastra? Lo pun juga gak menunjukkan kalau lo suka sama Sastra, Secil," balas Irine.
Irine diikatkan disebuah pohon tinggi. Irine masih menatap mereka berdua satu per satu. Berharap mereka akan berhenti melakukan ini padanya.
"Lo disini aja. Mungkin lo bakal mati dengan dimakan binatang buas disini," ucap Vinkan dengan tersenyum miring.
"Sorry, kita harus ngelakuin ini sama lo. Lo emang udah baik sama kita, Rin. Tapi kebaikan lo itu yang justru buat gue muak," ucap Secil.
Mata Irine berkaca-kaca karena tidak menyangka jika kedua temannya akan melakukan semua ini hanya karena cinta. Cinta telah membutakan mereka untuk berbuat yang salah.
"Secil, Vinkan. Gue mohon, kalian cuma dibutakan oleh cinta! Gue bakal jauhin Yuan atau Sastra jika itu yang kalian mau! Gue bakal lakuin itu ke kalian! Tapi tolong lepasin gue!" jerit Irine.
"Lo jerit aja situ sepuas lo. Karena kita tetep gak akan lepasin lo sebelum lo mati dimakan binatang buas." Vinkan mengucapkan itu dengan senang.
Irine menangis. Apa yang akan terjadi padanya setelah ini?
"Udah ayo. Tinggalin dia sendiri disini. Sekarang kita urus si cewek ular itu," ucap Vinkan. Secil mengangguk dan berjalan mengekori Vinkan.
Hanya tinggal Irine disana sendiri di sebuah hutan yang begitu gelap. Tidak ada siapapun dan tidak ada penerangan sedikitpun. Irine menangis, hatinya begitu sakit ketika melihat kedua temannya bersikap tega padanya.
"Sst, Irine." Irine belum menyadari bisikan itu. Irine terlalu takut untuk melihat sekitar.
"Irine, mereka udah pergi?"
Irine seperti mendengar suara tidak asing. Ia menoleh ke kiri. Dan melihat Yuan yang sedang bersembunyi.
"Mereka udah pergi belom?"
Meskipun tidak terlalu terdengar jelas, Irine mengangguk. Akhirnya Yuan keluar dari balik persembunyiannya. Dan menghampiri Irine.
"Lo gak papa?" tanya Yuan. Irine menggeleng dengan dirinya yang masih menangis.
"Lo gak usah nangisin mereka berdua. Mereka gak pantes lo tangisin." Yuan sambil berusaha melepaskan ikatan di tangan Irine.
"Kenapa lo bisa disini?"
"Gue nemuin ikat rambut lo. Dan tanpa sengaja gue ngeliat gelang manik-manik lo yang jatoh berserakan," ucap Yuan. Irine segera melihat ke arah tangannya. Gelang itu sudah tidak ada.
Irine langsung memeluk Yuan ketika ikatannya sudah terlepas. Yuan membalasnya.
"Kita harus balik ke villa, Yuan. Ersa dalam bahaya," ucap Irine.
"Lo kenapa masih perduliin tentang dia meskipun dia udah berbuat kayak gini ke elo?" tanya Yuan. Irine menggeleng.
"Gue gak mau terjadi apapun ke Ersa, Yuan."
Yuan menghela napas.
"Yaudah, kita balik ke Villa."
Yuan memapah tubuh Irine untuk berdiri.
"Lo pikir, lo bisa bawa Irine dari sini?"
Yuan dan Irine terkejut. Vinkan kembali dengan seorang diri.
"Lo apa-apaan sih? Udah dikasih hati malah minta jantung. Mau lo apa, hah?" tanya Yuan dengan kesal. Sementara Irine begitu ketakutan.
Vinkan tersenyum.
"Dulu gue mau kalian itu pisah. Tapi sekarang, gue mau cewek yang sekarang ada disamping lo itu." Vinkan menggantungkan kalimatnya, Ia berjalan mendekati Yuan dan Irine.
"Lo gak usah maju!" perintah Yuan pada Vinkan.
"Gue pengen dia mati," lanjut Vinkan.
"Lo gila! Gak akan gue biarin lo sentuh Irine sedikitpun!" ucap Yuan, begitu tegas.
Vinkan tersenyum miring. Yuan memang tidak terlalu jelas melihat Vinkan karena penerangan yang minim.
"Oh ya? Tapi sekarang kalian udah dikepung. Jadi kalian gak bisa kemana-mana," ucap Vinkan.
Yuan dan Irine melihat ke sekeliling. Ternyata benar, mereka sudah terkepung dengan begitu banyak orang yang bertutupan masker. Artinya, mereka tidak tahu siapa orang-orang itu.
"Mundur! Jangan beraninya kalian maju sedikitpun!" teriak Yuan sambil melindungi Irine.
"Lo cuma kasih Irine ke gue dan lo selamat. Atau lo pilih kalian berdua bakal tinggal jasadnya aja disini? Biar jadi makanan binatang buas."
"Lo bener-bener udah gak waras!"
"Ya, gue menjadi gak waras setelah lo mulai suruh gue buat jauhin lo! Dan lo lebih milih cewek naif kayak dia yang jelas-jelas udah sia-siain lo!" pekik Vinkan.
"Irine tetep sahabat gue meskipun dia gak bisa suka sama gue," ucap Yuan.
Sekarang, Irine tahu bagaimana ketulusan Yuan padanya selama ini. Dan selama ini, Yuan begitu mencintainya meskipun ia tidak tahu.
Dan Irine baru menyadarinya. Irine tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika pisau itu tiba-tiba tertancap di perutnya dari arah belakang.
"Yuan," lirihnya membuat Yuan menoleh ke arahnya.
"Irine!"
To be continued
Aku sudah like ya, mampir yuk keceritaku
Dia Untukku. Terimah Kasih
Mencintaimu kaka
Salam manis "Scandal pewaris tunggal"
tetap semangat up nya 😀
jangan lupa di feedback ya kakak 😀
mari saling mendukung