NovelToon NovelToon
LUDIRA

LUDIRA

Status: tamat
Genre:Romantis / Janda / Chicklit / Tamat
Popularitas:244.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Bahureksa

Namaku Ludira.
Janda berusia kepala tiga dengan anak perempuan berusia dua belas tahun. Hidup kami, aku dan putriku begitu tenang Damai dan lurus seperti jalan tol, hingga usaha pria bernama Narendra membuat kehidupan kami berdua menjadi berbeda.

Dekat dengan Narendra membuatku juga mengenal semua anggota keluarga Narendra, pria tampan baik hati cerdas dan bonusnya dia memang sedikit mirip dengan suamiku.

Narendra, pria yang membuatku harus berada di zona rumit dengan kondisi perasaan yang tidak menentu. Rasa ingin pergi meninggalkan Narendra begitu besar, namun saat menatap wajah berseri milik Almeera, putriku. Aku lelah, aku memilih bertahan dan menjalani semua ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahureksa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh Sembilan

Setelah pria bernama Syailendra itu pamit pulang, kami semua memutuskan untuk sesuai dengan rencana yang kami susun. Berkebun, menanam jagung di lahan kosong belakang rumah. Aku menyiapkan biji jagung yang memang sudah di sediakan sebagai bibit, kemudian aku membuat beberapa lobang di tanah.

"Tante, ini gimana tanamnya ya?" tanya Aksara penuh rasa ingin tahu.

"Buat bedengan di lahan ini, Dek. Nah ginii, terus jaraknya itu sekitar seratus sentimeter kali empat puluh senti meter, naaah teruus kita ini harus dalam jugaa yaa, empat sampai lima senti meter deh, habis itu masukin biji jagung dia ajah cukup. Terus tutup lagii, siram sedikit sajaa." aku menjelaskan pelan dan juga telaten, wajah Aksara berubah ubah, antara takjub, bingung dan lucunya dia itu pura pura paham, cuma oke oke saja sampai kakaknya yang sedang merekam kegiatan ini tertawa. "Imuut bangeeet deh, Adeknya Kakak. Senyum ke kamera sayaang." perintah Almeera.

Aksara itu tertarik sekali dengan kegiatan berkebun ini, dia biasanya ikut memanen buah kesukaannya di tempat keluarga Narendra, seperti awal kali berjumpa dengan aku dan juga Almeera, minggu lalu.

Teringat tentang Narendra, aku berusaha mencari HP di saku bajuku, ternyata tidak ada. Aku meninggalkan benda ajaib itu di atas meja.

"Adek sama Kakak dulu ya." ucapku pada Aksara sebelum menoleh ke arah Almeera, putriku. "Mama kedalam dulu, sayang. Jaga adek ya." Pintaku pada Almeera. Putriku mengangguk pelan.

Entah kenapa aku ingin sekali melihat benda itu, barangkali ada pesan masuk dari Narendra atau dari kedua orang tua Narendra. Mengingat percakapan kami yang terakhir, aku khawatir. Aku sungguh khawatir dengan pria usil yang tidak pernah merasa bosan memaksa masuk kedalam hidup kami.

Iya kan? dia belum bosan kan?

Kosong,

Tidak ada pesan dari Narendra, tidak ada panggilan atau video call tidak terjawab dari pria itu. Sakit, entah kenapa hatiku sesakit ini.

[Happy Weekend sayang, masih sama Aksara yaa? salam rindu dari eyang.]

Mataku berembun, bahkan aku harus menggerakkan kelopak. mataku supaya bisa melihat dengan jelas pesan di layar HP ini. Pesan yang di kirimkan oleh Orang Tua Narendra. Dan ternyata ada beberapa panggilan tidak terjawab dari beliau.

Aku mencoba menghubungi Narendra, percumah jika aku hanya mengirimi dia pesan singkat. Namun sayangnya tidak ada yang di jawab hingga tiga kali panggilan masuk.

Baiklah, hatiku mulai sakit. Sangat sakit, aku merasa bahwa Narendra menjadi pria yang begitu egois, seenaknya masuk kedalam hidup kami lalu seenaknya juga memberi jarak pada kami. Ingin marah, namun hati ini menolak, justru yang ada semakin gelisah.

Ada apa dengan diriku?

****

Setelah makan siang, kami memutuskan untuk mengantar Aksara pulang ke rumahnya, resah juga hati ini. Bertemu dengan papanya Aksara yang menurut aku itu mulutnya itu licin sekali. Berasa ketemu pria yang punya kemampuan nyinyiir ala emak emak kurang bahagia. Sabar.. Sabar, pokoknya harus sabar.

Sesekali aku menoleh ke arah Aksara dan juga Almeera yang sedang asyik menyanyi bersama itu. Hatiku menghangat, tapi ada bagian di mana aku merasa gelisah dengan kondisi Narendra saat ini.

"Sudaah sampaai." Teriak Aksara. "Turunnya pelan pelan, Dek." ucapku begitu Aksara dan putriku membuka pintu mobil.

"Ayoo tantee, cepaaat." ajak Aksara yang sudah duluan menggandeng tangan Almeera dan berlarian menuju pintu rumahnya. Bahkan suara peringatan dari putriku untuk hati hati saja tidak di perdulikan. "Nanti Aksara mau nunjukin koleksi buku ensiklopedia milik Aksara ya, Kak." Ujar Aksara antusias. Memang dulu saat kita mengantar Aksara pulang, dianya tertidur pulas. "Pencet belnya, Kakk." perintah Aksara yang di penuhin oleh Almeera dengan suka cita, tidak merasa terbebani atau merasa tersinggung sedikitpun.

"Papaaaaa!!!" Teriak Aksara begitu papanya membuka pintu. "Salam dulu, Dek." Aku menegur balita kesayanganku itu pelan. "Eh iyaa, Assalamu'alaikum, Papa." sahut Aksara sambil tersenyum malu malu. "Waalaikumsalam, Jagoan." jawab Syailendra lembut, pelan. Berbeda sekali saat mulai berbicara nyinyir padaku, berasa ada cabainya. Pedas.

"Ayoo, Kak. Ayooo Adek tunjukin kamar adek yaaa." ajak Aksara sambil berusaha menyeret putriku. Almeera hanya mengaduh, menatap canggung ke arah Syailendra. "Sana, ndak papa kok. Anggap rumah sendiri ya Kakak." ucap Syailendra dengan nada lucu.

"Kalau mau tertawa, tertawa aja kali Diraa, geratis kok. Nggak di pungut biaya sedikitpun."

Mulai deh ini sok kenal sok dekatnya, coba kalau dia ini bukan papanya Aksara. Udah aku hempas pokoknya.

"Aduuh, Ngapain berdiri di situ ajaaa, mau jadi patung kamu Dira? masuk masuk, silahkan duduk ya mamanya Almeera." Aku duduk, masih diam dan mencoba untuk mencegah bibirku tersenyum. "mau minum apa? Cokelat hangat saja ya, biar enjoy gitu. Pasti suka cokelat hangat kan."

Aku menghembuskan nafas kasar, "Oke." ucapku mencoba tetap serius saat wajah papanya Aksara penuh komedi. Lihat wajah konyolnya saja sudah bisa membuat tertawa. Apa lagi kalau dia ngomong kalimat lucu pakai mimik wajah serius, aduuuh.. Lucuu banget.

"Jadi apa kabar Narendra?" tanya pria itu tiba-tiba setelah kembali dari memanggil asisten rumah tangganya. Tentu saja aku terkejut, ini orang.. Hadeh!

"Why? wajahnya nggak enak gitu. Ngomong deh, Dira. Jangan suka diem mulu, nggak bakalan menyelesaikan keadaan."

Baiklah,

"Kenapa tiba-tiba langsung bertanya tentang Narendra?"

"Karena penasaran aja, bagaimana bisa Narendra membiarkan kamu dan Almeera bertemu sama tanpa dirinya. Pasti ada yang nggak beres."

Mungkin memang aku harus jujur, berbicara apa adanya. Toh, dia keluarga dekat Narendra.

"Saya sempat membahas tentang Sofia dan Narendra bercerita sedikit tentang kronologi meninggalnya putri mereka." sahutku tenang, namun di dalam dada ini ada getaran rasa nyeri karena teringat tangis Narendra yang memilukan. "Serius? Daebak!!" ujar Syailendra terkejut, bahkan pandangan matanya seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan. "Sejauh apa dia cerita sama kamu?" lanjut Syailendra pelan, lebih bisa menguasai intonasi suaranya di bandingkan tadi.

"Sampai jatuh dari balkon, udah itu aja." kataku malas, sungguh.. aku tidak ingin merasa terganggu dengan kenyataan memilukan ini. "Sofia pelakunya? dia bilang itu?" tanya Syailendra yang aku jawab dengan anggukan kepala.

Percakapan kami terhenti saat perempuan yang di panggil Mbok Nah oleh Syailendra itu membawakan dua gelas berisi cokelat hangat.

"Terima kasih, mbok." ucap Syailendra pelan, perempuan itu mengangguk. "Sebentar, Mbok. Tantenya Aksara, Almeera suka ngemil apa ya sama minum apa gitu?" tanya Syailendra padaku. "Buah aja kalau jam segini, oh iya.. Tadi saya bawa sesuatu tapi masih di dalam mobil." jawabku pelan, teringat kue kering cokelat yang aku bawa untuk Aksara dan juga papanya, ada juga susu kedelai. "Biar di ambil sama pak Diman, sini pinjam kontaknya." pinta Syailendra. Aku mengulurkan kontak ke arah pria itu, dan dengan sangat sopan Syailendra memberikan intruksi kepada mbok Nah untuk di sampaikan ke Pak Diman.

"Jadi kita sampai mana? oh yaaa. Sampai Sofia pelakunya."

Suara Syailendra berubah menjadi sangat eksaited, sangat tertarik dengan apa yang akan di bahas. Mendadak aku merasa seperti akan ada sesuatu yang buruk. Wajah Narendra yang childish, suara tangis memilukan dan Wajah serius namun menakutkan milik Syailendra.

1
matcha
duuuh hiruk pikuk bgt sih hatinya mbk ludira..pusiiing
matcha
duuh lelah..ludira sma Narendra tarik ulur terus..
matcha
rumit sekalih batiniahnya semua tokoh2 dsni..jd terbawa batin ini ikutan lelah
Wiwin Jazf
benar benar cerita dg banyak moral values di dalam nya, salut. berharap ada season 2 nya, sayangnya baru Nemu cerita ini sekarang
Oka Luthfia
jane salahe janda ki opo to ,kok di rendahkan bgt
Erni Fitriana
mampir thor
Deti Endung Aufa
dr part² pertama hgga part ini...Ludira kesannya jd seorang ibu yg egois..memaksakan kehendak dan pikirannya serta zona nyamannya kepada anak semata wayangnya...yg terpaksa harus menutupi segala ingin dan rasanya hanya untuk membuat sang ibu bahagia..
Nur AdaChihara
awal yang sedih thoor😓.
Nur AdaChihara
awal yang sedih thoor😓
Noorhayati Noorhayati
ceritanya bagus...dari bab pertama ampe sini mataku pedih thor...smgt ya thor buat promosiin novelnya...
Kiki Dhevin
ahaha sesuai ekspektasi gw thanks you
Kiki Dhevin
yampun berarti aksara anak nya rendra? pantesan kata nya mirip rendra astaga..
itu syailendra kasian bgt ya idup nya..
untung dia ga selemah rendra mental nya..
pliss ludira sama syailendra aja, lebih hidup dia tuh kalo sama lendra
Kiki Dhevin
fix gw ngeship syailendra aja..
ga labil, dewasa, walopun konyol..
tapi dia bisa nge cover kelemahan nya dira..
Queen Bee
nggak ada kelanjutannya?
Astri Yunianti
vote dan bunga sekebon untuk ending nya.. terimakasih author 😘🥰
Astri Yunianti
berarti Aksara tuh anak nya Narendra 😯
Lili Faiz
ini asli ludira yang rempong,gampang nyaman sama orang lain,lama² aku jadi ilfil sama ludira,
Astri Yunianti
yg bilang novel ini bagus, yg bilang novel ini keren, yg suka baca novel ini...bagi vote dan hadiah donk..biar tambah semangat author nya..💕
Lili Faiz
iya kayanya Dira kesannya murahan ya,dipeluk² sampai dikelonin juga loh.....padahal udah dihormati banget sama rendra
Lili Faiz
tambah runyammmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!