Kehidupan Adistya yang awalnya tenang dan biasa saja tiba-tiba terganggu oleh kedatangan seorang lelaki bernama Darren Bramastya. Lelaki itu mengklaim dirinya sebagai istri, bahkan memaksa dirinya untuk kembali ke rumah.
Tentu mendapat perlakuan seperti ini, Adistya menjadi sangat risih. Namun, semakin hari melihat kegigihan Darren untuk meluluhkan hatinya membuat Adistya memberikan kesempatan pada Darren.
Adistya mengajukan permintaan agar mereka menjalani hubungan layaknya sepasang kekasih, bukan sebagai suami istri. Apakah permintaannya ini akhirnya bisa di setujui Darren, atau malah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emak Gemoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DD - 29
Hari demi hari berlalu, kini Adistya merasa lega karena sudah tahu siapa orang tua kandungnya. Meski begitu, Adistya juga tak pernah lupa dengan Ardi. Dia meminta agar Galvin juga Yoga bisa menerima ayahnya, karena bagaimanapun Ardi sangat berjasa sekali padanya.
"Tya, kamu jangan khawatirkan itu. Tentu saja Papa menerima pak Ardi, jika bukan karena beliau mungkin kita nggak ada harapan untuk bisa bertemu denganmu," ujar Yoga.
Adistya sangat senang mendengar itu, dia langsung menoleh ke arah Ardi dan tersenyum lega. "Terima kasih, Papa."
Yoga sambil terhuyung ke belakang, saat Adistya tiba-tiba memeluknya sangat erat. "Sama-sama, Nak."
"Pak Yoga, sebelumnya saya sangat berterima kasih karena masih mengizinkan saya bertemu dengan Adistya. Jujur, awalnya saya takut sekali kalau nantinya tak bisa bertemu Adistya." Ardi sampai mengeluarkan air mata, dia merasa sangat beruntung sekali, masih bisa bertemu anaknya setiap hari.
"Bapak berpikirnya terlalu kemana-mana, Pak. Saya nggak sejahat itu, apalagi yang mengasuh Tya dari kecil Bapak, mana tega saya memisahkan kalian."
Ardi hanya mengangguk, dia masih belum bisa berkata-kata mendengar jawaban Yoga. Namun, tak lama setelah mereka berbincang-bincang Bu Ni datang menyampaikan sesuatu.
"Permisi Tuan. Di luar ada tamu, katanya mau mencari Tuan dan keluarga," kata Bu Ni.
"Siapa, Bu?" tanya Yoga.
"Saya nggak paham, Tuan. Tapi saya hanya mengenali mas Zidan saja, untuk yang lain sepertinya orang baru," balas Bu Ni.
Yoga menatap putrinya sebagai pertanyaan apakah dia tau akan hal ini, namun dengan cepat Adistya menggeleng. "Aku nggak tau kalau Zidan mau ke sini, Pa," ucapnya juga kebingungan.
"Aku yang menyuruh dia ke rumah dan segera melamarmu, Tya."
"Apa!" seru tiga orang bersamaan.
Mereka sangat terkejut dengan ucapan Galvin. Yang bertindak sesuka hatinya tanpa berunding, apalagi ini bukan main-main.
"Bisa-bisanya kamu mengambil keputusan seperti ini, Galvin!" Yoga terlihat marah besar.
"Adistya sudah setuju untuk menikah dengan Zidan, jadi untuk apa di tunda-tunda lagi? Lebih cepat itu lebih baik, daripada nanti Adistya berubah pikiran dan kembali pada orang seegois Darren!" serunya sambil berjalan santai menghampiri adiknya.
"Tapi nggak begini juga, seharusnya kamu bilang sama Papa! Kita belum menyiapkan apapun, terus yang diserahkan ke tamu apa?" Duh Yoga sangat gemas dengan anaknya ini.
"Papa tenang saja, aku sudah memesan catering sebentar lagi datang dan kamu siap-siaplah, Tya. Dandan yang cantik, jangan kecewakan Kakak."
Adistya tak bisa membantah, dia hanya bisa menurut meski hatinya belum siap karena semua terlalu mendadak sehingga membuatnya sangat gugup.
Di dalam kamar, Adistya segera membersihkan badan. Setelah itu dia mencari baju yang pas, tapi sebelum benar-benar berganti pakaian, Adistya terlebih dulu mengirim pesan pada Zidan.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau mau datang ke rumah?" Adistya menaruh ponselnya dan kembali memilih baju.
Ting!
'Maaf, aku lupa. Ku pikir kak Galvin sudah memberitahu kamu.'
Adistya memutar kedua bola matanya. "Mana ada, dia baru saja bilang dan kamu tau, aku belum siap-siap sekarang aku kebingungan mau pakai baju apa!" serunya malah keasikan tukar kabar dengan Zidan.
'Pakai apa aja kamu tetap cantik, Tya.'
"Mana bisa, aku mau bertemu orang tuamu dan nggak mungkin kan aku pakai kaos!"
'He he he, sini kirim foto baju yang kamu punya, biar aku pilihkan.'
Adistya menurut, dia memfoto semua baju yang dia punya sampai akhirnya Adistya mendapat balasan kalau dia sangat cocok memakai dress berwarna nude yang baru dibeli beberapa hari lalu.
Seketika Adistya terdiam, dia berpikir keras. Ternyata pilihan Zidan dan Darren sama, waktu dia bingung memilih antara dress ini atau lainnya, Darren memilih dress berwarna nude yang dia pilih dari awal.
"Sudah, lupakan Darren Adistya! Kamu sudah memutuskan untuk menikah dengan Zidan, jadi buang jauh-jauh perasaanmu!"
Tak mau terlalu larut dalam kesedihan, Adistya segera memakai bajunya dan segera turun. Ternyata saat dia sampai bawah, mereka sudah membahas hal pernikahan sampai ke tanggal-tanggalnya.
Jantung Adistya berdetak sangat kencang apalagi ketika Zidan tak berhenti menatapnya, jika bukan karena ada orang banyak mungkin Adistya akan mencolok mata Zidan.
"Jadi kita semua sepakat pernikahan akan dilakukan satu bulan lagi, semoga semua urusan selesai sampai hari H dan untuk sekarang kalian tukar cincin dulu sebagai pengikat kalau kamu saat ini tunangan Zidan," kata papanya Zidan.
Adistya hanya menganggukkan kepala, setelah itu zidan memakaikan cincin di jari manis Adistya begitu juga sebaliknya, namun saat Adistya selesai memasukkan cincin itu tiba-tiba matanya menangkap sosok lelaki yang sampai saat ini masih ada di hatinya.
Ya, Darren ternyata dari tadi berdiri di ambang pembatasan ruang tamu dan ruang depan, dia terlihat sangat sedih melihat Adistya bertunang dengan Zidan.
Sedangkan Adistya, menjadi gugup dan tak mau menatap Darren. Jika dia terus-terusan melihatnya, Adistya yakin tak akan bisa menahan air matanya untuk saat ini.
"Terima kasih, Zidan." Adistya tersenyum paksa agar semua orang tak curiga jika hatinya kini tak karuan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
Judulnya POSESIF HUSBAND (CEO KEJAM JATUH CINTA) Author RAHAYU NINGTIYAS BUNGA KINANTI jangan lupa ya 😍😍