[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA! BUDAYAKAN PULA TINGGALKAN JEJAK!]
[BACA [RDY'S#1] LAA TAHZAN! DULU BIAR PAHAM ALUR DAN KONFLIKNYA!]
[FOLLOW IG; SUGIATIDAHLAN]
[NO PLAGIAT! SANKSI BERLAKU]
Kisah tentang;
"Dia adalah orang yang kerap membuatku merasa perih, tetapi dia juga yang kerap membuatku merasa rindu."
@Anniza Az-Zahra Rulen
Anniza Az-Zahra Rulen. Gadis berhijab dengan akhlak yang mulia, tubuhnya ditutupi kain lebar dengan hijab yang membalut kepalanya. Kesabarannya sudah tidak dapat diragukan lagi saat ia dengan hati yang tabah kembali terjun ke masa empat tahun yang silam.
Verrel Aryanka Radeya. Lelaki tanpa ekspresi yang tengah menjabat sebagai mahasiswa jurusan fotografi, sekaligus pemilik studio pemotretan VR. Terhenyak saat kilatan masa lalu yang terbenam di hatinya kembali muncul kepermukaan.
®picturebypinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sugiatiidhln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Destiny 29
━━━━━━━━━••☆●☆••━━━━━━━━━━━
❝Dunia ini hanyalah mimpi, dan engkau akan terbangun disaat engkau mati.❞
[Ali bin Abi Thalib]
━━━━━━━━━••☆●☆••━━━━━━━━━━━
Rumah dengan nuansa putih yang lumayan besar ini dihebohkan oleh teriakan gadis yang tengah memakai sepatu di ruang tengah. Gadis itu adalah Jessica, dengan setelan kaos putih dan training hitam, tak lupa dengan topi putih dengan rambut terikat yang keluar dari lubang pengaitnya.
"ADEKNYA RAIHAN, BURUAN!" Teriakan itulah yang selalu Jessica ulang-ulang. Namun, gadis yang diteriakkan masih sibuk dengan urusan sendiri hingga tak memedulikan teriakan itu.
Jessica berlari-lari kecil ke arah kulkas, lalu mengambil satu buah apel di sana. Seraya mengigit apel itu Jessica berjalan ke arah tangga ingin memastikan keadaan Zahra.
"ZAHRA."
Dari dalam kamar Zahra mendengus, hari ini dia tidak ingin kemana-mana. Tetapi, Jessica selalu saja memaksa agar dirinya ikut jogging di taman kota.
Gadis itu masih sibuk dengan ponselnya, semalam Zahra puas bisa vidcol dengan Dede bayi. Zahra sengaja tidak menghubungi Sabil, itu salah satu trik Zahra agar Raihan cepat pulang ke rumah. Kasihan Sabil jika ditinggal kerja terus.
Suara bantingan pintu yang cukup keras membuat Zahra spontan menoleh ke arah sana. Dan nampaklah Jessica dengan wajah gemas ingin menabok seseorang. Zahra cengengesan, saat mata Jessica sengaja dibuat tajam.
"Ra, ayok!" Jessica berjalan ke arah Zahra dan langsung menarik gadis itu. Tapi Zahra tetap tidak beranjak, dia malah memegang pinggiran kasur untuk di jadikan pegangan.
"Nggak mau." Zahra bersikeras, walau tangannya semakin ditarik sekuat tenaga. Zahra pula tetap berusaha dengan memegang pinggiran kasur, hari ini dia benar-benar ingin di rumah saja. Zahra tidak mau makan hati lagi, karena Zahra yakin di sana akan ada Verrel dan satu gadis yang lebih nakal dari Jessica.
"AYOOKK!" Jessica mengerahkan semua tenaga, hingga dia tersenyum miring dan menggelitik pinggang Zahra hingga pegangan gadis itu terlepas.
"Eh-eh, Jessi, nggak mau," keukeh Zahra tetap menolak. Namun, Jessica tetap menarik Zahra hingga kedua gadis itu menampakkan kaki di lantai bawah.
"Duduk sini!" titah Jessica. Lalu, berjalan ke rak sepatu untuk mengambil sepatu Zahra.
Zahra diam dengan tangan bersedekap. Gadis itu bersandar di sandaran sofa, runtuh sudah harapan dirinya untuk stayhome seharian.
Hari ini, kedua gadis itu kompak tidak ada kelas. Hingga Jessica teringat percakapan Rangga dan Daniz beberapa hari yang lalu, mengingat itu Jessica jadi bersemangat. Berbeda dengan yang Zahra menolak mentah-mentah ajakan Jessica, mengingat sewaku SMA saja dia sering menolak ajakan Raihan, apalagi jika Jessica yang mengajaknya. Tentu saja Zahra menolak.
"Hari ini gue, Rangga, Daniz dan Verrel. Kita udah rencanain ini matang-matang, mau jogging bareng," seru Jessica dengan tangan yang menenteng sepatu tali milik Zahra.
Jessica menyimpan sepatu itu di depan Zahra, lalu berkacak saat tak ada pergerakan dari gadis itu. "Pakai cepetan! Entar kita telat," decaknya.
"Bodo amat!" Zahra mencibir, lalu bangkit hendak kembali ke kamar. Ternyata benar dugaan Zahra, laki-laki itu ikut, dan Zahra benar-benar tidak mau bertemu dengan dia, sudah cukup saat di kampus saat mereka tidak sengaja bertemu.
Jessica menahan kedua lengan Zahra dari belakang saat gadis itu hendak melengos pergi. Zahra ditarik mundur, mau tidak mau dia kembali duduk saat Jessica menghempas tubuhnya ke sofa.
"Pakek, adeknya Raihan!" sungut Jessica. Tatapan matanya sengaja dibuat tajam dengan tangan bersedekap. Jessica sedikit bersyukur karena setelah mandi Zahra langsung menggunakan training dengan kaos biru kebesaran berlengan panjang. Jadi, Jessica tidak perlu repot-repot meminta Zahra untuk memakai pakaian olahraga lagi.
Zahra memakai sepatu dengan raut cemberut. Lalu, bangkit seraya menghentakkan kaki.
Jessica tersenyum puas, lalu mengulurkan tangan untuk Zahra genggam. "Ayo, sayang," riangnya seraya terkekeh kecil.
Zahra mencebikkan bibir dan menerima uluran tangan gadis itu. Dirinya ditarik sampai ke sisi mobil. Sesungguhnya, Zahra juga ingin melihat suasana luar. Sudah lama sekali Zahra tidak mengunjungi tempat apapun di kota ini, selain kampus dan kembali lagi ke rumah, plus-nya saat Bella mengajak Zahra ke rumah sakit.
Tetapi, Zahra tidak ingin bertemu Verrel untuk hari ini. Hati Zahra tidak tenang jika melihat laki-laki itu digoda oleh Keysa dan Jessica, walaupun Zahra sudah berlatih menjadi aktris yang baik hingga tak ada satupun yang curiga.
Bahkan, Jessica tidak membahas lagi kenapa Zahra pergi saat itu. Malamnya saat ditanya Zahra menjawab, 'bahwa perutnya sakit hingga dia langsung berlari pergi'. Dengan mudahnya Jessica percaya, dan mengatakan bahwa tindakan Zahra sangatlah konyol.
Kini, dua gadis itu sudah duduk di jok mobil. Mobil sport merah mengkilat milik Jessica melesat pergi bergabung dengan pengendara lain yang tidak terlalu banyak.
Zahra melirik ke arah arloji biru kecil yang melingkar di tangannya dan mendapati pukul 05.45 am.
####
Lain lagi dengan Rangga dan Daniz. Kedua laki-laki itu berkacak di depan Verrel yang menutupi tubuh dengan selimut. Katanya, laki-laki itu sedang tidak enak badan, makanya setelah sholat subuh dia kembali tidur. Tentu saja Rangga dan Daniz tidak percaya, yang mereka lihat adalah tubuh bugar dan sehat, raut wajahnya saja yang terlihat banyak pikiran.
Rangga langsung menarik selimut yang Verrel gunakan. Hingga nampaklah penampakan laki-laki yang sedang memejamkan mata dengan memeluk erat bantal guling.
Daniz sendiri memilih duduk di sofa single. Tangannya bersedekap dengan tubuh yang bersandar, dengan kepala yang menggeleng pasrah 'susah sekali membangunkan bos besar mereka'.
Rangga menarik lengan kekar Verrel, hingga tubuh Verrel tergeser ke samping, semakin dekat ke pinggir ranjang.
"Verrel bangun, woy!" geram Rangga.
"Yang ikut siapa aja?" Lama Verrel membiarkan mereka melakukan apa saja untuk membujuknya. Ini adalah kalimat pertama yang meluncur dari mulut Verrel, kasihan juga melihat Rangga dan Daniz yang sudah bersusah-payah membujuknya.
Rangga nampak dia berpikir. Perjanjian awalnya hanya mereka bertiga saja, tapi entah dari mana datangnya dua sompret Verrel hingga kedua gadis itu memaksa untuk ikut. Dan semalam pula, Rangga meminta Jessica untuk mengajak Zahra. Awalnya Jessica menolak dengan alasan gadis seperti Zahra cocoknya di rumah, itu benar. Tapi Rangga juga ingin jika Zahra bisa menikmati ciptaan Allah SWT yang lainnya.
"Kita bertiga, Jessica dan Keysa." Daniz yang menjawab, bukan Rangga. Dan untuk itu Rangga menghela nafas lega, secara tidak langsung Daniz sudah membantunya.
"Oke," datar Verrel. Lalu mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk, sedikit mengusap wajah dan masuk ke kamar mandi setelah mengambil baju kaos hitam oblong dengan training hitam di dalam lemari.
Daniz dan Rangga melempar tatapan bingung, namun merasa lega karena akhirnya usaha mereka tidak berakhir sia-sia.
Rangga duduk di pinggir ranjang, lalu merogoh saku training dan mengeluarkan benda pipih dari sana.
Rangga Al-Ghifari
Assalamualaikum...
Lokasi?
Tak lama balasan chat dari Jessica masuk ke ponselnya.
Jessica Sava Key
Wa'alaikumsalam. Tujuan.
Rangga mengangguk singkat lalu kembali memasukkan benda itu ke dalam saku. Selang beberapa menit, Verrel keluar dengan wajah dan rambut yang basah. Lelaki itu mengusap rambutnya ke belakang saat beberapa helai rambut melekat pada keningnya.
"Yuk, cabut," seru Daniz. Rangga dan Verrel mengangguk singkat.
Ketiga laki-laki berpakaian hitam itu turun dari lantai atas dan langsung menghampiri seorang wanita yang duduk di sofa ruang tengah.
Wanita itu adalah Widya, mama Verrel.
Verrel menghela nafas berat, saat lagi-lagi dia mendapati Widya dalam keadaan melamun. Setelah kecelakaan yang menimpa Martin dua tahun yang lalu, hingga pria itu dilarikan ke rumah sakit dan dinyatakan koma oleh dokter yang bersangkutan, Widya merasa sangat terpukul. Tak jarang wanita itu menangis secara diam-diam.
Verrel juga sama, saat dirinya sudah bertekad untuk berubah dan membuat Martin bangga padanya, saat itu pula sesuatu yang tidak Verrel inginkan terjadi. Verrel kalap saat itu, merasa orang yang dia sayang perlahan meninggalkan dirinya satu persatu.
"Ma." Verrel berujar lirih. Daniz dan Rangga memilih keluar dan menunggu Verrel di dalam mobil saja.
Widya tidak bergeming. Manik mata abu miliknya memandang kosong ke layar televisi yang menyala tanpa suara. Seperti tidak ada roh yang hidup di dalam tubuh Widya, hingga wanita itu hanya diam tidak tahu akan keberadaan Verrel yang sudah duduk di sampingnya.
"Ma." Suara Verrel kian mengeras saat tak ada pergerakan dari Widya. Verrel mengusap wajah kasar, lalu memeluk tubuh Widya yang semakin hari bertambah kurus.
"Sayang, kamu sejak kapan di sini?" Barulah Widya sadar saat tangan kekar Verrel memeluk dirinya dari samping.
Verrel tidak menjawab, laki-laki itu menyembunyikan wajah di ceruk leher Widya yang sekarang mengusap-usap tangannya.
"Jangan kayak gini, Verrel mohon," lirih Verrel belum mengubah posisinya.
Widya mengangguk. Tak terasa buliran bening menetes di kedua sisi pipi wanita itu. Kepulasan Martin berdampak hebat akan semangat hidup Widya, hingga saat Martin dinyatakan koma Widya langsung luruh ke lantai seperti tak ada tenaga ditubuhnya.
Verrel mengurai pelukannya hingga terlepas. Laki-laki itu beralih meraih punggung tangan Widya dan menciumnya. "Verrel pamit, Ma. Mau keluar, bareng Rangga dan Daniz," ujarnya.
Widya mengangguk dan mencium kening Verrel sekilas. Wanita itu tersenyum lembut. "Udah, sana. Kasian teman-teman kamu nungguin," ujarnya.
"Assalamualaikum ..."
"Wa'alaikumsalam ...," Jawab Widya.
Di dalam mobil, Daniz dan Rangga duduk sembari bermain game. Laki-laki itu larut dalam aplikasi game mobile legends yang baru-baru ini mereka download.
"Wih, gila. Hebat lo, Ngga! Rank kita naik gara-gara lo," seru Daniz bahagia. Saat mereka baru saja memenangkan permainan itu karena Rangga yang lumayan pro dalam dunia game. Padahal, mereka men-download aplikasi itu sama-sama, itu juga karena paksaan si CEO muda yang tak lain adalah Daniel.
Suara pintu mobil terbuka yang pelakunya adalah Verrel. Lelaki itu masuk dengan wajah datar dan aura dingin seperti biasanya.
Verrel mengatur kopling dan mulai melajukan kendaraan beroda empat ini. Pak satpam berseragam putih yang berdiri di depan pos dengan cekatan membuka gerbang untuk tuan mudanya.
Baru saja mobil Verrel ingin melesat pergi, sebuah mobil sport biru berhenti tepat di depan mobilnya.
Keysa. Gadis itu turun dengan tergesa-gesa, lalu berlari ke arah Pak satpam dan memberikan kunci mobilnya untuk di masukkan ke garasi rumah Verrel.
Verrel sendiri sudah memijat pelipis. Rangga bersiap-siap untuk turun karena dipastikan Keysa akan memaksa duduk di samping Verrel.
Dan benar. Tak lama kemudian pintu mobil di samping Rangga terbuka, hingga memperlihatkan tubuh gadis dengan tanktop putih yang dibalut blazer merah.
"Rangga, turun!" titahnya.
Rangga menghela nafas malas. "Iya-iya," sahutnya pasrah.
"Ngapain, sih, lo nyamperin gue pagi-pagi gini?" cecar Verrel. Lelaki itu kembali mengatur kopling dan melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang.
"Pengen berangkat bareng lo ke taman kota," jawab Keysa sembari memukul gemas lengan Verrel.
Verrel mendelik. "Lo, kan, punya mobil," tukasnya jengah.
Keysa menggeleng. "Nggak mau, gue datang sendiri jomblonya keliatan," jawabnya sembari mengedipkan sebelah mata.
"Terserah lo!"
🌻
🌻
🌻
FOR YOU INFORMATION!
BERHUBUNG SEMALAM ADA REGULASI BARU DARI EDITOR PAKAI LEVEL-LEVEL NOVELNYA, AKU MAU NGASIH INFORMASI BAHWA THE DESTINY! BAKAL AKU UP SETIAP HARI SATU EPISODE! DENGAN JUMLAH KATA 1500+ SEBENARNYA SETIAP NULIS 1 PART ITU 1500+ AKU TARGETIN. TAPI SETIAP AKU UP, AKU BAGI JADI 2 EPISODE, JADINYA DIKIT TAPI EPISODE NYA BANYAK:-D
DAN PAS! TEPAT SASARAN ADA REKOMENDASI JUMLAH KATA 1000+ JADI UDAH NGGAK BISA AKU BAGI 2 LAGI\=_\=
YAH, AKU NGGAK MAU LEVEL TURUN GARA-GARA NGGAK UP SETIAP HARI:)
MAKA DARI ITU, BESOK AKU UP LAGI NGGAK NUNGGU SENIN:(
BAGAIMANA MENURUT KALIAN?
KOMENT, YAH:)
3x tetap engk bosen
.. ahahhaha
𝘣𝘤 𝘵𝘳𝘴, 𝘴𝘶𝘬𝘢 bgt👍
ngga kebayang jadi Kesya suruh siapa dia yang keras kepala kerendahan harga diri demi dapetin hati cowo yang dia suka padahal udah di tolak mentah", bukan salah untuk cerita cinta verell dan Zahara yang rumit sampai membawa nama Kesya dan Daniel toh ngga ada yang nyuruh juga dari pihak verell dan Zahara ko mereka hadir dengan sendirinya.
hati Kesya ngga sesakit hati Zahra dengan gampangnya Jessica ngomong kaya gitu ke Zahra. di sini Zahra lah yang paling menderita Jes.
huuuu ..... jadi coment lagi kan padahal tahun udah jadi 2022 untuk coment di cerita thn 2020 🤦
ngga kebayang jadi Reihan dan Zahra terutama Reihan dari umur 5 thn membesarkan adiknya dari umur 3 thn sampai dewasa manusia manah yang kuat anak kecil udah kenal yang namanya bekerja.
kasian juga untuk bunda Aisyah dan ayah Juna belasan tahun di kurung di tempat yang tak layak pakai akibat ulah seseorang yang gila harta dia menyakiti seseorang yang memiliki banyak harta hanya karna merasa iri sampai sebegitu'nya kalau aku jadi Zahra juga ogah sih sama Verrel yang notabenenya anak seorang penjaht yang jelas udah misahin kluarga nyampe belasan tahun.
tapi yah gitu namanya persaan susah untuk di lupakan buat pelajaran mencintai seseorang jangan terlalu dalam 🤣