NovelToon NovelToon
Dokter, Heal Me Please! (My Sweet Banana)

Dokter, Heal Me Please! (My Sweet Banana)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Anak Yatim Piatu / Identitas Tersembunyi / Dokter / Tamat
Popularitas:3.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: mbu'na Banafsha

Blurb :

Seorang dokter muda, tanpa sengaja bertemu dengan gadis SMA.
Gadis tanpa orang tua itu diam-diam mengidap satu gejala penyakit yang berbahaya jika terlambat ditanganinya.

Mereka kembali dipertemukan sebagai pemilik dan penyewa rumah yang akhirnya terpaksa harus tinggal bersama.

Bukan hanya cerita tentang Dokter dan pasien-nya, melainkan ada kisah cinta di antara dua manusia yang berbeda usia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Pikirkan Baik-Baik

Sekembalinya dari masjid, Zidan melihat adiknya sedang sibuk di dapur. Dia memanggil Shasha, seperti yang dia janjikan, karena ingin bicara.

"Sha, ikut kakak sebentar, ya!" seru Zidan dari gang pintu.

"Bentar Kak, nanggung nih." Shasha masih bergelut dengan penggorengan di atas kompor yang menyala.

Anita menghampirinya lalu mematikan kompor. Ia mendorong tubuh Shasha keluar dari dapur dan mengambil alih pekerjaannya. "Biar teteh yang lanjutin. Kamu ikut kakakmu sana!"

"Ya udah, bentar ya, Teh." Sambil melepas apron lalu mencuci tangannya sebelum pergi.

"Oke." Anita mengulas senyum sambil membulatkan jari telunjuk dan jempolnya.

 

*****

 

"Mau ngomong apa, sih, Kak? Penting banget emangnya? Kan bisa ngobrol sambil bantu masak di dapur?" Shasha mendudukkan diri di kursi kerja yang ada dalam ruangan itu.

"Sha, kamu baik-baik aja?" Tiba-tiba Zidan memeluk Shasha hingga gadis itu sedikit menahan karena sesak.

"Kakak kangen aku, ya. Hehe ... aku juga kangen." Gadis itu membalas pelukan sang Kakak.

"Kakak tanya kabar kamu."

"Seperti yang Kakak lihat, aku baik-baik saja. Sangat baik malah."

Begitulah Shasha. Gadis itu tidak suka berkeluh kesah. Mungkin dia memang lupa bagaimana caranya mengeluh. Atau, dia sudah terbiasa menyembunyikan perasaannya.

"Kamu bohong lagi, Sha. Kenapa harus bohong, sih?" tukas Zidan lirih.

"Bohong? Maksudnya?" Shasha mendongak. Dia menatap sambil mengerutkan kening.

"Kenapa selalu bilang gak ada masalah, padahal kamu lagi gak baik-baik saja? Apa gunanya seorang kakak jika kamu selalu menanggung bebanmu sendirian?"

Shasha yang tengah nyaman di pelukan sang kakak, kembali menyandarkan kepalanya di dada Zidan. Selama ini kakaknya tidak pernah bicara seserius itu.

"Kenapa ngomongnya gitu, sih, Kak? Kakak kan satu-satunya keluarga yang Shasha miliki di dunia ini. Kakak adalah orang yang paling berjasa apalagi setelah Ayah sama Ibu meninggal. Kakak membiayai hidup Shasha dan juga membayar uang sekolah Shasha, Kakak sudah cukup bekerja keras buat Shasha. Kurang apalagi peran seorang Kakak buat aku?" tuturnya.

"Kakak belum menjadi tempat ternyaman buat kamu berbagi kesedihan ya, Sha? Kenapa harus orang lain yang tau lebih dulu tentang penyakitmu? Tentang Tante Mira dan juga rumah kita?"

"Kakak sudah tau semua?" Shasha kembali menatap sambil melonggarkan pelukannya. "Maafin ya, Kak. Shasha gak ada maksud seperti itu."

Shasha tersenyum sambil mengusap kedua tangan kakaknya. "Kakak masih ingat pesan mendiang Ibu? Dia bilang, kita harus pandai bersyukur. Tak boleh banyak ngeluh. Ayah juga bilang, kita tak boleh menunjukkan kelemahan kita di depan orang lain. Kita harus kuat."

"Kamu memang baik dan bijak seperti Ibu. Kamu juga kuat seperti Ayah. Tapi, yang kamu sebut orang lain itu siapa, Sha? Kakak apa Luthfie? Kenapa Luthfie bisa lebih tau dari Kakakmu sendiri? Apa yang membuatmu lebih nyaman berbagi dengan Luthfie dibanding Kakak?" cecarnya membuat Shasha menggaruk kepala sambil berpikir.

Iya juga, kenapa bisa begini ceritanya?

Wajah sedih Zidan, tiba-tiba berubah menjadi tatapan penuh selidik. Sambil memegang bahu adiknya itu, dia menatap lekat menunggu jawaban. Melihat kakaknya yang menatap begitu lama lalu tiba-tiba tersenyum, Shasha tidak tahu harus menjawab apa. Dia bingung.

"Kakak mau tanya tapi kali ini jawab dengan jujur."

"Oke." Shasha mengangguk yakin.

"Terlepas dari masalah penyakit kamu dan masalah Tante Mira, apa hati kamu merasa bahagia?"

"Ya, tentu. Dengan sejujur-jujurnya, aku katakan bahwa aku bahagia." Gadis itu tersenyum lepas. Dia pikir, dengan berkata jujur, kekhawatiran kakaknya akan berakhir. Namun, dugaannya salah.

"Apa yang udah bikin kamu bahagia? Jangan bilang kalau dokter narsis itu alasannya?" tanya Zidan penasaran dengan suara yang dipelankan. Khawatir jika orang yang dia maksud, akan mendengar ucapannya.

Kedua alis Shasha saling bertaut. Dia tidak menyangka kakaknya akan melontarkan pertanyaan seperti itu. Dia sendiri tidak menyadari jika dokter Luthfie-lah yang membuat hari-harinya sedikit berbeda.

Sampai Zidan menyentuh wajah adiknya sambil dia tatap dari semua sisi, wajah Shasha sudah memerah. Kakanya kembali menggoda sambil tersenyum. "Kamu masih kecil, Sha. Masa menyukai laki-laki yang lebih dewasa?"

"Siapa yang menyukai orang aneh seperti dia? Aku gak bilang gitu," jawab Shasha cepat sambil menggoyangkan telapak tangannya.

"Wajah kamu yang bilang. Emang dasar orang itu, gak dulu gak sekarang, menang terus," gerutunya meski pelan, tetapi terdengar jelas oleh telinga Shasha.

"Menang apa?" tanya Shasha polos.

Shasha yang memang sudah tersipu, langsung mengerutkan bibirnya karena malu. "Dokter narsis itu kan teman Kakak? Meskipun dia aneh, tapi ternyata, baik orangnya. Cuma itu aja."

"Baik gimana? Masa dia jauh-jauh datang ke sini cuma buat marah-marah. Untung dia gak mukul kakak tadi."

"Nanti aku bilangin. Biar dia gak kurang ajar sama Kakak."

"Gak usah dibilangin. Mana berani dia ngapa-ngapain orang yang mau dia jadiin Kakak Ipar." Zidan tertawa puas.

"Kakak Ipar?" Shasha mengerutkan kening dengan mulut yang menganga.

"Kamu gak tahu 'kan tadi dia mohon-mohon?"

"Mohon buat apa? Dia mau apa emangnya?"

"Izin buat nikahin kamu." Zidan menarik satu sudut bibirnya. "Tolong ya, Sha, jangan bikin kakak mengira sudah terjadi sesuatu antara kalian berdua."

"What?!" Shasha membulatkan matanya. "Kakak menganggap serius ucapannya? Emang gak di mana-mana Kak Luthfie suka gitu ngomongnya. Jangan percaya apalagi mengira yang tidak-tidak. Kakak harus tahu kalau teman Kakak emang seaneh itu orangnya." Shasha heran tapi rasanya ingin tergelak juga.

"Menurut kamu dia aneh? Sepertinya kamu tau betul karakternya."

"Ya taulah Kak, orang kita tiap hari sama-sama terus," ucapnya sambil berdecak.

"Tiap hari sama-sama terus? Pantesan kamu sangat mengenalnya melebihi kakak sebagai teman kuliahnya. Luthfie juga kek udah kenal kamu melebihi kakakmu sendiri. Sebenarnya, sejauh mana kalian saling mengenal? Kakak gak tau harus senang apa harus khawatir, Sha?" Wajah Zidan tiba-tiba berubah. Dia sedikit cemas.

"Dia emang baik sama aku, Kak. Mungkin karena aku pasiennya. Sama seperti pada pasien lain, perlakuannya selalu baik. Terlebih, karena dia kan menyewa rumah kita. Mau gak mau tiap hari harus berinteraksi. Tapi Kak Luthfie sangat mengerti etika. Jangan khawatir, Kak."

"Cuma itu? Rasanya gak mungkin kalau dia cuma nganggap kamu pasien dan pemilik rumah sewaan. Tadi dia ngotot mau nikahin kamu, aneh." Zidan mengangkat bahunya. Namun, pandangannya tak lepas dari mata Shasha yang saat ini mencoba tenang. Gadis itu, tak mengerti dengan apa yang diucapkan sang Kakak. Bagaimana mungkin seorang dokter memutuskan hal sepenting ini tanpa berpikir panjang.

Tiba-tiba Shasha menepiskan tawa kecil sambil menggelengkan kepala. "Ish! Emang dasar dia gak kreatif banget kalau lagi becanda. Pada semua pasien juga dia bilang aku ini calon istrinya, Kak."

"Kakak pikir juga dia pasti lagi becanda. Tapi ... keknya dia serius, Sha. Lagipula, wajar aja kalau dia pengen nikah. Itu artinya, dia laki-laki normal." Zidan tertawa.

"Ya udah. Suruh aja dia nikah daripada keburu tua," ledeknya.

"Kamu siap? Kan masih sekolah."

"Kok, aku?" Shasha menunjuk dadanya dengan telunjuk, lalu menunjuk ke luar rumah. "Itu, loh. Banyak cewek-cewek yang antre di luar sana."

"Kalau itu, kakak juga gak tahu. Kenapa dia cuma mau nikah sama kamu. Coba aja kamu tanya sama orangnya," ucap Zidan seraya menatap wajah Shasha yang dipenuhi tanda tanya.

"Sha, maksud Luthfie itu bukan nikah sekarang tapi setelah kamu lulus sekolah dan setelah umur kamu genap 19 tahun." Dia kembali menjelaskan.

"Tetap saja Shasha gak ngerti maksudnya apa." Shasha masih menunjukkan kebingungan dengan gelengan kepala.

"Jujur, Luthfie adalah teman yang paling kakak percaya dibanding yang lainnya. Dia pasti bisa menggantikan Kakak untuk menjagamu lebih baik dari siapa pun. Kakak mengenalnya cukup lama, tapi itu bukan alasan juga untuk menerima lamarannya. Kakak sempat khawatir karena dia terlalu diminati oleh kaum wanita, jadi kakak takut suatu hari ada yang mengganggu hubungan kalian."

"Taaapi ...." Zidan segera melanjutkan ucapannya. "Yang kakak tau, Luthfie cukup tegas dalam menentukan pilihan. Sejak dulu, dia selalu berhati-hati sebelum membuat keputusan. Kamu pikirkan saja dulu baik-baik. Jika sudah ketemu jawabannya, segera beri tahu kakak."

Wajah gadis itu tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Ia hanya mengangguk demi menyudahi obrolan yang membuatnya berpikir cukup keras tentang lamaran yang tidak diduga sebelumnya.

BERSAMBUNG....

#Terima kasih telah membaca novel ini, mohon maaf atas kekurangannya. Jangan lupa like, vote and rate 5 ya 😘

1
albyan
hadir membaca baru nih
albyan: yahh si dia..huum ini😁
total 2 replies
anna
entah lah, sudah kali ke berapa yg ku baca, belum bisa move on dari cerita mu ini Thor 😅
Ryana Ana
assalamualaikum mbu..apa kbr ny... aku mengulang membaca lgi... dan ini sudah kesekian kali ny aku baca..dan tetep aja aku senyam senyum membaca.. " kita mau tunangan apa konser sih sbnr ny?"
ᴹᴮ𝓕𝓐𝓜✿𝔐𝔟𝔲𝔫𝔞: Waalaikumussalam.
Terima kasih sudah baca ulang novel ini. 🙏😘
total 1 replies
Anonimous
👍👍👍
Memyr 67
tidak ada zidan dan junaedi di "terjebak cinta polisi"
Memyr 67
akad nikah langka. mahar setengah gelas air putih
Memyr 67
boomerangnya seperti apa? nggak kebaca?
Memyr 67
kok nggak ada keterangn. alasan tante mira menyewakan rumah sasha. dan kemana uang sewa rumah keponakannya? nggak jelas gini ya?
Memyr 67
memang bodoh itu banana. kenapa nggak dilaporin ke kakaknya, zidan? kelakuan sadis tante mira?
Rosmawati/jnr
Bagus
Indri Ani40
awal cerita kynya seru👌👌👌
Samsuna
maharnya Laen dr yg Laen 😂luar binasa😂🤭
Yani Ladutana
gimana dengan mimin siapa suaminya
Yani Ladutana
langsung lamar aja
Yani Ladutana
janju ciritanya bagus
Yani Ladutana
ceritanya bagus
Yani Ladutana
kerkini bangat
Yani Ladutana
kirkin
Yani Ladutana
tante tidak baik
Yani Ladutana
mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!