SPIN OFF DARI "REMEMBER ME PLEASE, HUBBY!"
Demi menyelamatkan sang Abang dan puluhan anak-anak panti asuhan, Teresa terpaksa menjadi bahan percobaan untuk William Atmadja yang katanya mandul dan tak bisa mempunyai keturunan.
Will yang sudah menikah dengan Audrey, memang tak kunjung diberi keturunan dan Audrey selalu menuduh Will yang mandul. Sedangkan keluarga Atmadja menganggap Audrey yang mandul dan tak bisa memberikan mereka cucu.
Teresa diberi pilihan untuk menikah dengan Will, lalu memberikan keluarga Atmadja seorang cucu.
Peringatan dari Audrey tentang Will yang memilki masalah reproduksi, sempat membuat Teresa bimbang dan sedikit ragu.
Namun kondisi sang Abang yang butuh biaya perawatan tak sedikit, akhirnya membuat Teresa menerima pernikahannya bersama Will, meskipun Teresa tahu kalau itu menyakiti hati Audrey.
Sebulan setelah pernikahan Teresa dengan Will, akhirnya Teresa dinyatakan hamil dan tentu saja keluarga Atmadja langsung memojokkan Audrey, hingga Audrey akhirnya menyerah dan memilih berpisah dari Will.
Apa sebenarnya alasan keluarga Atmadja ingin cepat-cepat mendapatkan cucu?
Lalu siapa sebenarnya diantara Will dan Audrey yang mandul?
Benarkah anak yang dikandung Teresa adalah anak Will?
"Dia yang kalian pikir adalah Abangku, bukanlah benar-benar Abang kandungku. Dia lebih dari seorang Abang bagiku. Dia...." -Teresa-
Disini akan diceritakan lengkap tentang kandasnya ikatan pernikahan Will dan Audrey.
Konflik sedikit rumit.
Tidak UP setiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGINAP
"Belum tidur?" Suara Will dari balik punggung Teresa, membuag wanita itu terlonjak kaget.
"Masih menyiapkan bahan-bahan kue untuk besok pagi," jawab Teresa tanpa memalingkan wajahnya dan masih sibuk berkutat dengan tepung dan gula di depannya.
"Sejak kapan kau dan Timmy tinggal disini?" Tanya Will lagi yang sudah berdiri di samping Teresa.
"Enam bulan yang lalu," Teresa mengendikkan kedua bahunya.
"Siapa yang memberimu informasi kalau aku dan Timmy tinggal disini? Kau memata-matai kami?" Tuduh Teresa selanjutnya sedikit sinis pada Will.
"Aku hampir menabrak Timmy siang tadi," jawab Will jujur yang langsung membuat Teresa menghentikan aktivitasnya.
"Apa katamu?"
"Aku baru saja menemui Sita, dan dia mengatakan kalau dia tak tahu dan tak mau tahu kau tinggal dimana sekarang. Lalu setelahnya aku bingung harus mencarimu kemana. Aku hanya mengemudi tanpa arah dan tujuan, dan sambil melamun." Will menjeda cetitanya sesaat.
"Lalu aku lewat di jalan di samping taman bermain itu, melihat bola menggelinding, dan Timmy yag tiba-tiba berlari ke tengah jalan u tuk mengambil bola," lanjut Will menceritakan kronologi pertemuannya dengan Timmy.
"Kenapa kau membiarkan Timmy bermain sendiri di taman, Teresa? Bagaimana jika ada orang jahat yang menculik Timmy?" Will akhirnya tidak tahan untuk tidak mengungkapkan kekesalannya tentang sikap ceroboh Terea tersebut.
"Timmy tidak sendirian!" Kilah Teresa cepat.
"Biasanya ada satu atau dua anak yang bermain bersama Timmy," sambung Teresa mencari pembenaran.
"Tapi tadi siang Timmy hanya sendirian dan tidak ada anak lain di taman. Hanya ada Timmy!" Sergah Will sedikit emosi.
"Mungkin temannya Timmy sedang pergi!" Sahut Teresa yang masih tak berhenti memberikan alasan dan pembenaran.
"Lagipula, aku selau mengawasi Timmy. Aku selalu memeriksanya setiap lima belas atau dua puluh menit sekali," ujar Teresa lagi sedikit kesal karena tuduh dan dan penghakiman dari Will.
"Aku harus membuat pesanan, dan tidak bisa jika hanya diam mengawasi Timmy."
"Timmy juga anaknya mudah bosan dan tidak betah jika hanya aku kurung di dalam rumah. Tidak ada televisi atau mainan lain di rumah ini yang bisa Timmy mainkan. Hanya ada bola plastik itu, mainan Timmy," tutur Teresa panjang lebar lagi seakan sedang menjelaskan pada Will kondisinya saat ini.
Will menghela nafas dan merangkul pundak Teresa.
"Maaf, jika aku sok tahu dengan keadaanmu," ucap Will merasa bersalah.
"Aku hanya ingin memberikan kehidupan yang baik untuk Timmy. Aku bisa saja bekerja seperti sebelumnya tapi aku tak mau meninggalkan Timmy dan menitipkannya pada orang lain. Jadi aku memutuskan untuk memulai usaha rumahan ini saja, agar aku tetap bisa menjaga Timmy sepanjang waktu dan tak perlu meninggalkannya," ungkap Teresa lagi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Apa Timmy masih menjalani pengobatannya?" Tanya Will yang tiba-tiba ingat dengan sakit Timmy beberapa bulan yang lalu.
"Hanya sebulan sekali aku membawanya ke rumah sakit untuk check up. Kata dokter transplantasinya berhasil, dan tubuh Timmy merespon dengan baik. Sekarang Timmy sudah bisa tumbuh normal seperti anak-anak lain," jelas Teresa yang langsung membuat Will tersenyum lega.
"Syukurlah kalau begitu! Kau benar-benar sudah menyelamatkan nyawa putramu," ucap Will penuh syukur.
Sesaat suasana hening karena Will dan Teresa sama-sama membisu.
"Kau sebenarnya sedang apa di kota ini, Will?" Tanya Teresa akhirnya seraya menyeka butir bening di sudut matanya.
"Mencari kau dan Timmy," jawab Will jujur.
"Untuk apa?" Tanya Teresa lagi yang kali ini sudah menatap ke arah Will yang masih merengkuh kedua pundaknya.
"Agar aku bisa menjaga kau dan Timmy. Menjadi papa untuk Timmy. Memulai semuanya dari awal bersama kau dan Timmy," jawab Will yang sontak membuat Teresa membeku.
"Timmy bukan anak kandungmu, dan aku sudah menipumu habis-habisan," ujar Teresa mengingatkan Will.
"Aku tak peduli. Bukankah itu semua hanya masalalu," jawab Will tetap keras kepala.
"Mama dan Papamu akan menentang hubungan kita. Mereka sudah sangat benci kepadaku," cicit Teresa lagi yang masih berusaha menghalangi langkah Will.
Will diam sejenak dengan pernyataan Teresa yang terakhir.
"Aku yang akan bicara pada mereka nanti," tekad Will bersungguh-sungguh.
Will mendekatkan wajahnya ke arah Teresa yang kasih diam di tempatnya.
"Bisakah kita rujuk dan memulai semuanya lagi dari awal, Tere?" Will mengecup singkat bibir Teresa yang begitu ia rindukan.
"Aku rasa kita sudah tidak bisa rujuk dan harus menikah ulang," jawab Teresa berpendapat.
"Baiklah! Kita bisa menikah ulang kalau begitu. Kau mau menikah denganku?" Will mengecup lagi bibir Teresa dengan dalam dan lama kali ini.
Teresa juga membalas kecupan bibir Will dan dua orang itu langsung larut dalam ciuman yang dalam dan hangat.
"Kau mau, kan?" Tanya Will sekali lagi mendesak jawaban dari Teresa.
"Aku bukan calon istri yang sempurna," jawab Teresa di tengah lenguhannya karena ciuman Will yang sudah mulai turun ke leher Teresa. Tangan Will juga sudah menyusup masuk ke dalam kaus longgar yang dikenakan Teresa dan merem*s payudara wanita tersebut.
"Aku tidak peduli!" Ucap Will cepag yang tiba-tiba sudah menarik lepas kaus Teresa. Will mengangkat tubuh Teresa dan membawanya ke ruang depan. Meletakkan dengan hati-hati tubuh setengah naked Teresa lalu menindihnya dengan posesif.
"Matikan lampunya!" Bisik Teresa pada Will yang hendak menurunkan celananya.
"Apa?"
"Matikan lampunya agar tak ada yang melihat dari luar," Teresa mengendikkan dagunya ke arah jendela di samping pintu masuk yang hanya tertutupi gorden tipis.
Will segera bangkit berdiri dan mematikan lampu ruang depan sekalian menurunkan celananya seraya menanggalkan bajunya sendiri.
Teresa sendiri sudah tak memakai apa-apa lagi, setelah Will melucuti bajunya dengan cepat tadi.
Teresa mengalungkan lengannya di leher Will dan memperdalam ciuman mereka, saat milik Will mulai menyentak masuk ke dalam miliknya.
"Besok kita menikah, ya!" Ajak Will yang sudah mulai bergerak dengan berirama di atas Teresa.
"Mendadak sekali."
"Agar kau tidak membwa Timmy kabur dan meninggalkan aku lagi," jawab Will terang-terangan.
"Aku benar-benar merana karena kau meninggalkanku!" Will semakin menghentak dengan dalam hingga membuat Teresa melenguh.
"Kita menikah besok!" Ucap Will sekali lagi yang sudah ganti mempercepat gerakannya sekarang.
"Terserah saja!" Jawab Teresa yang sudah mulai meracau tak karuan. Will buru-buru membungkam bibir Teresa dengan bibirnya agar istrinya itu tak membuat Timmy bangun.
Will terus mempercepat gerakannya, dan Teresa seakan mengimbangi danikut menggerakkan bokongnya di bawah Will.
Ah!
Membuat semakin bersemangat saja.
Dua tubuh yang saking memeluk itu sudah dipenuhi oleh Pelih saat kefuanya mrngejang bersamaan dan mencapai pelepadan mereka bersama.
Will mengecup bibir Teresa dengan sangat lama, sebelum ia berguling ke samping dan mendekap tubuh polos Teresa.
Tak ada kasur atau selimut, namun rupanya itu juga tak menghalangi pergelutan panas Will dan Teresa.
"I love you!" Bisik Will di telinga Teresa.
"I love you too," balas Teresa yang untuk pertama kalinya mengungkapkan kalimat cinta itu pada Will.
Senyjman sumringah langsung tersungging di bibir Will dan pria itu srmakin mengeratkan dekapannya pada tubuh Teresa.
"Sebaiknya kita berpakaian sekarang, sebelum Timmy memergoki kita, Will!" Usul Teresa seraya mengusap lengan Will yang masih melingkari tubuhnya.
"Lima menit lagi," gumam Will yang sudah menyerukkan kepalanya di pundak Teresa dan menghirup aroma tubuh Teresa.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
BSA KTAUAN NI KLO TIMMY BKN ANAK WILL