Jika orang lain memilih pergi saat tahu suaminya mendua, aku memilih bertahan dan memberi kejutan manis untuk suamiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon susan saliman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengintai
" Mas kapan ada waktu, kita ke dokter!", Ucap Menur pagi itu.
" Besok ya, mas mau besok saja", ucap Yoga.
" Beneran mas", Menur terpekik saking senengnya, akhirnya suaminya mau menepati janji.
Hati Menur sebenarnya tak seantusias dulu, namun harus bsgaimana lagi, beberapasaran yang pernsh dikemukakan dokter Gita dan Dokter Widjaya akan Menur coba.
Memang, setelah tahu jika Yoga tak setia pada pernikahannya Menur sudah pasrah pada takdir kehidupannya, namun saat bu Salim mengatakan jika 65% harta miliknya akan langsung di wariskan ke cucunya, Menur akhirnya mencetus ide agar segera punya anak
Menur terdiam sejenak dadanya sesak, menangispun rasanya tiada guna, tapi ketidak setiaan Yoga pada dirinya, dan siapa orang yang membuat Yoga tidak setia itu, hati Menur jelaslah kecewa.
Meskipun mereka tidak pernah menjalani tahab pacaran, tapi bagi orang kampung di tempat Menur tinggal jika sudah menerima pernikahan mereka harus setia.
Tapi kenapa Yoga tidak bisa seperti orang lain di kampungnya, apa karena uang atau apa sih ini semua, hati Menur berontak.
Menjelang sire selepas ashar Menur mengajak Dani pergi bersamanya, rencananya Menur mau melihat kantor Yoga, tetapi saat Menur sudah dekat dengan kantor Yoga dia melihat mobil Yoga keluar namun arahnya ke kiri bukan kekanan arah pulang.
Menur berinisiatif mengikuti mobil Yoga, di trmani Dani tentu.
" Mas, ikuti mobilnya mas Yoga, jangan sampai ketahuan atur mobil pada jarak aman ya", Menur sebenarnya was was tetapi juga penasaran.
" Mau kemana mbak kira kira pak Yoga?", Dani pun ikut penasaran.
" Entahlah, kita ikuti saja, aku juga baru pertama kali berencana datang ke kantor mas Yoga, aku belum pernah mendatangi dia sebelumnya... eh malah mendapat kejutan seperti ini", Terang Menur.
Hampir satu jam Menur mengikuti mobil Yoga, hingga mobil itu berakhir atau berhenti di sebuah perumahan kuldesak yang hanya satu jalan, ada beberapa bangunan rumah mungkin 25 atau 30 rimah saja dengan type minimalis 6*15m saja, bangunan rumah tanpa pagar.
Mobil Yoga berhenti di rumah Nomor 15, tepatnya pas di paling ujung jalan mentok tembok pembatas, rumah terakhir yang menghadap ke barat.
" Rumah siapa mbak?", Tanya Dani penasaran sementara Menur jangan ditanya, hatinya terbakar sudah, kakinya lemas namun dalam bensknya harap harap cemas menunggu hal selanjutnya yang akan terjadi.
Seorang wanita cantik, berambut panjang, memakai hot pan biru telor asin dan kaos thank top keluar menyambut Yoga langsung merangkul dan memeluknya erat, Yoga pun tak kalah mesra dia langsung mencium ganas bibir wanita itu.
" Astagfirulloh", Ucap Menur dan Dani bersamaan, membuat langsung lemas di kaki, bukan hanya kaki Menur yang tiba tiba terasa tanpa tulang, namun Dani pun ikut lemas, terkejut.
" Mbak, sabar mbak, mungkin itu saudara pak Yoga, atau temannya atau bahkan hanya relasi usahanya", Dani mencoba menengksn Menur dengan kata kata lembutnya.
" Iya mas, aku harus bagaimana ya mas, hik hijs", Menur terisak.
" Tenangkan pikiran mbak, atau mau pulang saja?", Dani mencoba menenangkan Menur.
" kita tunggu saja ya mas, sampai mas Yoga keluar", ucap Menur.
" Kalau begitu aku ijin dulu ke satpam ya mbak, nongkrong disini terlalu lama takutnya nanti di pergoki warga dan satpam jika tidak ijin", Terang Dani diangguki Menur.
Menur melihat Dani kearah pis satpam, Menur pun ikut turun dan betjslan prlan kearah rumsh nomer 15 itu, Menur memasang telinga baik baik, bersimpuh dibawab cendela.
" Run, mas kangen banget", Ucap Yoga terdengar jelas di pendengaran Menur.
" Mas ihhh... Nanti dulu jangsn langsung nyosor gini dong!", Jawab Seruni.
" Habis mas sudah ga tahan Run", Jawab Yoga lagi, membuat hati Menur benar benar hancur, dengan sekuat tenaga Menur menahsn tangisnya.
" Kok kamu kayak loyo banget sih Run, apa kamu terima tamu disiang hari juga?", Tanya Yoga.
" Iya mas, si tante kampret bener deh ah, masak aku kudu ngelayani tamu di siang hari", jawab Seruni.
" Run, tolong berhenti dari pekerjaan mu itu Run, apa kurang uang yang mas kasih hemmm?", Yoga bertanya lagi.
" Mas harus berapa kali Seruni bilang, ini pekerjaan Runi mas, dan sampai saat ini maaf mas, Runi belum bisa berhenti", Ucap Seruni terdengar jelas membuat Menur penasaran dengan pekerjaan pacar suaminya ini.
" Oke Run, dari bolehin kamu punya pacar lebih dari satu tapi jangan melayani tamu juga Run, berhentilah Run, itu semua demi kebaikan kamu juga, resiko penyakit yang akan dapatkan nsntinya Run, jika kurang hati hati".
" Sebenarnya apa sih pekerjaan perempuan itu, sebegitu perhatian mas Yoga", Menur masih belum ngeh sampai disini.
Sementara di pos satpam Dani bertanya panjang lebar dengan satpam berjaga di tempat itu, sehingga dari situ Dani tahu banyak tentang Seruni dan juga Yoga menurut satpam disana.
" Makanya mas jangan minta dulu ya, selain cape karena tadi aku melayani tamu hingga tiga orang mas, dan baru beres kira kira setengah jam sebelum mas datang, aku langsung pulang kesini, ingin istirahat mas lagian aku belum ke dokter periksa, lebih baik hari ini tidak usah main dulu sama aku ya... nanti di rumah aja sama istri mu mas", Bujuk Seruni, Menur yang mendengar langsung merinding, mual ingin muntah, terjawab sudah pekerjaan Seruni, batin Menur.
" Run, istri ku sepertinya mulai tahu jika aku bukan suami yang baik, kemarin waktu terakhir mas kesini dan kita minum hingga akhirnya main dua ronde, isttiku menungguku pulang dan mendapati bekas gigitan mu yang ganas itu di dada, leher jadi dia seperti jijik pada ku Run, sekarang merayu dia untuk melayani ku menjadi susah", Jawab Yoga jujur pada Seruni.
" Ternyata kamu bisa seterbuka itu mas dengan perempuan murahan itu.... hebat kamu mas", Menur bergumam dengan air mata yang terus membanjiri pipinya, hatinya sakit, seluruh hidup dan kesuciannya dia persembahkan untuk suami bedebahnya.
" Brengseekkk", Menur bergumam, marah, kecewa, sakit hati, susminya berselingkuh dengan wanita seperti itu, rasanya jijik sudah Menur tidak lagii bisa membayangkan jika Yoga menyentuh tubuhnya.
" Cekkkk... Lain kali kalau siang jangan terima tamu, jadi bisa melayaniku saat aku kesini, kalsu begini mas marah Run".
" Ya maaf mas..... Runi lagi butuh uang banyak mas".
" Buat apa? Bukannya aku selalu mentranfer mu? ".
" Ya mas kebutuhan ku kan banyak, memang aku ini seperti istri mu yang tak pernah perawatan, yang bulug dan katrok itu, aku kan butuh perawatan semua mas".
" Stop!!! Jangan bandingkan dirimu dengan istri ku, meskipun dia begitu, dia begitu murni, suci dan sangat terhormat, meski aku tak bisa mencintainya seperti aku mencintaimu tapi siapa pun tak boleh menghinanya, termasuk kamu", Seruni tahu Yoga marah sekali saat ini, dan saat ini juga Seruni langsung tahu perasaan Yoga pada istrinya itu.
Sama tokoh yoga,gak ada insyafnya
Semakin tua,bukannya keimanan diperkuat,dipeluk diam aja,kaya kucing
Garong,udah thor pisahin aja mereka
Biar aja menur jadi janda daripada dibohongi terus,tobat sambel
bagus ceritanya
sukses
semangat