Cinta sungguh tidak bisa di duga. Tak pernah terbayangkan oleh Rizky Ade Bramantyo yang biasa di panggil Bram, akan jatuh cinta kepada keponakannya sendiri.
Zavira putri Bramantyo, gadis polos berusia delapan belas tahun yang merupakan keponakan Bram.
Bagiamana kisah cinta mereka? akankah Vira menerima cinta Bram?? Akankah cinta mereka bersatu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian
Pagi ini bram bangun lebih awal dan senyum tak lepas menghiasi wajahnya.
Yome baru saja keluar dari kamarnya setelah menyediakan semua kebutuhan Bram.
Dia duduk di meja makan, namun yome belum juga terlihat, hingga Bram merasa kesal dan marah.
"Dimana yome?" tanya Bram
"Dikamar nya tuan." jawab paman Danu.
"Panggilkan cepat!!"
Berani kali dia membuatku menunggu, geram Bram.
Yome keluar dengan seragam sekolahnya. Dia mengikat rambutnya dan duduk disamping Bram.
"Ambilkan sarapanku," ucap Bram terdengar dingin.
Yome segera mengambilkan sarapan untuk Bram.
Bram meliriknya, karena Yome hanya mengambilkan sarapannya, dia tidak mengambil sarapan untuknya sendiri.
Bram meletakkan sendoknya di piringnya,
"Suapin aku!" ucap Bram.
Vira terkejut mendengar ucapan Bram.
Apa apaan ini, aku disuruh nyiapin yang benar aja. bathin Vira.
Vira kesal namun dia tidak berani menolak. Diambilnya piring Bram dan di sendok kan nasi goreng penuh, lalu diarahkan kepada Bram.
Bram belum membuka mulutnya, dia masih memandang wajah yome.
Vira semakin kesal karena Bram tidak juga membuka mulutnya, dia meletakkan kembali sendoknya.
"Bram mengambilnya dan menyendok nasi kemudian dia mengarahkannya ke wajah Vira.
"Buka mulutmu!" ucapnya.
Vira diam dan bingung mendengar ucapan Bram.
"Kau mau aku suapin dengan sendok atau pakai ini.." ucap Bram sambil memajukan bibirnya.
Vira kaget dan menggeleng cepat. Dia segera membuka mulutnya dan Bram segera menyuapinya.
Setelah nya Bram menyuap kan nasi goreng untuknya sendiri. Begitu dia lakukan beberapa kali.
"Sudah, cukup!" ucap Vira.
Bram meletakkan sendoknya dan minum. Dia segera berdiri. "Aku tunggu di depan, jangan membuatku menunggu." ucapnya.
Bram berlalu meninggalkan Vira. Vira secepat mungkin mengambil tasnya dan berjalan ke depan.
Vira melihat ke kiri dan kanan. Mencari mang Udin.
"Siapa yang kau cari?" ucap Bram.
"Aku menunggu mang udin, om." jawab Vira.
"Ayo aku antar. Hari ini Udin libur." Jadi kau akan ke sekolah bersama ku." ucap Bram
Dengan langkah berat, Vira masuk kedalam mobil.
"Jalan " ucapnya pada Henry.
Vira diam tak bersuara. Dia hanya melihat kesamping. Melihat gedung gedung pencakar langit sepanjang perjalanan.
Bram diam diam terus mencuri pandang padanya. Bram menarik ikat rambut Vira dan membiarkan rambutnya terurai.
Vira akan protes, namun kalimat yang diucapkan Bram membuatnya bungkam.
"Jangan pernah mengikat rambutmu, aku tidak suka. " ucapnya.
Mobil sampai di halaman sekolah Vira. Vira turun dikuti oleh Bram. Vira sudah berjalan meninggalkan Bram, namun Bram kembali memanggilnya.
"Ada apa om?" tanya Vira.
Tidak menjawab namun Bram mengulurkan tangannya kepada Vira. Vira semakin bingung, apa maksud Bram.
Karena Vira tak juga mencium tangannya, Bram mendekat dan menarik Vira kemudian mencium keningnya.
Vira terkejut dan terdiam, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Sungguh Bram sudah membuatnya mati kutu. Vira lemas dan tak tahu harus berbuat apa.
Setelahnya Bram langsung kembali masuk kedalam mobil. Dan mobil melaju dengan kencang menuju kantornya.
Bram tersenyum tipis, Bram yakin saat ini Vira pasti panas dingin karena tindakan nya.
"Aku akan terus membuatmu jatuh dalam pesona ku yome, tunggu saja." ucapnya dalam hati
Cici datang menghampiri vira yang masih berdiri.
"Kamu kenapa vir?" kesambet ya..." tanya Cici.
"Eh...Nggak aku nggak apa apa, ayo masuk!" ucap Vira menarik tangan Cici.
"Bohong ah, ayo ceritain. Aku ngambek nih!" ucap Cici pura pura merajuk.
Vira tertawa kecil. Dia tahu jika Cici hanya pura pura.
"Ntar aku ceritain, sekarang kita masuk kelas dulu, ok." ucap Vira semangat.
Mereka berdua berjalan bersama menuju kelasnya.
Cici manyun karena Vira belum mau menceritakannya pada dia.
Sampai dikelas Vira meletakkan tasnya. Bell berbunyi tanda pelajaran pun di mulai.
Cici dan Vira mengikuti pelajaran dengan seksama, Vira fokus dan mendengarkan dengan seksama berbeda dengan Cici yang sangat penasaran dengan cerita Vira, dia tidak berkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran.
Bell istirahat berbunyi, Cici langsung menarik Vira dan membawanya ke belakang.
"Sekarang ceritakan kemana saja kau selama ini!" ucapnya. Gayanya seperti seorang polisi mengintrogasi tersangka.
"Akan aku ceritakan, tapi aku lapar, kita makan dulu ya..." ucap Vira.
Sebenarnya Vira hanya mengelak, dia bingung harus jujur atau tidak,
"Kau menghindari ku!" ucap Cici cepat.
"Bukan, aku hanya malas membahas masalah itu. kemarin om Bram membawaku ke Bali. Dia ada pertemuan dengan klien, dan kliennya membawa istri nya, lalu dia meminta om ku membawa istri atau pacarnya." ucap Vira.
"Lalu mengapa kau yang di bawa?" tanya Cici.
"Ya karena....",Vira menggantung kalimatnya.
Hampir saja aku keceplosan jika aku istri nya om Bram.
"Mungkin om Bram malas mengajak pacarnya, maka dia mengajak ku. Ternyata Bali itu indah ya, aku senang sekali berada disana." ucap Vira mengalihkan perhatian Cici.
"Oh ya, aku belum pernah ke Bali vir, tapi om Bram nggak nyiksa loe disana kan?" tanya Cici masih penasaran.
"Ya enggak lah, selama disana aku menemani kak Bianca, ke pantai, shopping dan mengobrol. Orangnya asyik, aku senang mengenalnya." ucap Vira.
"Siapa Bianca?"
"Bianca itu, istri dari klien om Bram. Orangnya cantik bangeeeet. Dan juga baik, aku senang bisa mengenalnya."
"Syukur deh jika om Bram tidak menyiksa mu lagi. Tapi kau harus ingat, jangan mudah luluh dengan semua kebaikannya.
Tujuan utama mu adalah segera keluar dari sana. Agar kau bisa bebas menentukan hidupmu sendiri.
Pergi jauh dari penjara yang dia buat, hidup mu berharga Vira, jangan sia siakan itu."
"Aku tahu, terima kasih. Aku beruntung memiliki sahabat baik, seperti mu " jawab Vira.
Mereka berdua berpelukan, maafkan aku ci, aku bohong, aku tidak bisa bilang jika aku dan om bram sudah menikah." ucap Vira dalam hati
Bell berbunyi dan mereka kembali ke kelas melanjutkan pelajaran.
Sepulang sekolah, Vira langsung pulang di jemput mang Udin.
Vira memasuki kamarnya dan terkejut karena tak menemukan satupun barangnya disana.
"Bi.....bibi nancy.." panggil Vira.
"ya non..." jawab Bu nancy.
"Bi, kemana barang barang Vira, bi. Mengapa dibuang?" tanya Vira bingung.
"loh non nggak tahu. Barang barang non dipindahkan ke kamar tuan muda." jawan nancy.
"Dipindahkan??? sejak kapan bi, kok aku nggak tahu?" tanya Vira bingung.
Mendengar keributan paman Danu datang melihat, "Tuan Bram yang meminta ku memindahkan semua barang nona, karena nona dan tuan, akan tinggal dikamar yang sama " jawab paman Danu.
" tinggal satu kamar?' ucap Vira terkejut.
"Iya, non. Kenapa non Vira kaget. Non Vira kan istri tuan, maka sudah sewajarnya non Vira tinggal sekamar dengan tuan." ucap paman Danu.
"Eh...iya paman, terima kasih." ucap Vira.
Dia menutup pintu kamarnya dan bergegas ke lantai atas menuju kamar Bram.
Bantu penulis dengan klik like, vote dan koin seiklasnya. Terima kasih