"The General's Captive Lady" adalah novel fiksi romantis-militer yang penuh ketegangan politik, trauma masa lalu, dan pembalasan dendam.
Claudia, seorang putri yang terbuang dan disiksa sejak kecil oleh faksi Crimson Raven. Demi menutupi ketamakan mereka, reputasi Claudia dihancurkan di mata publik hingga ia dicap sebagai wanita glamor yang buruk. Saat faksi Raven kalah perang, ia dikorbankan menjadi sandera politik dan dikirim kepada Reymond Oliver Smith, seorang panglima perang aliansi yang terkenal dingin dan kejam.
Hubungan mereka awalnya dipenuhi kebencian dan kesalahpahaman, bahkan Claudia sempat dijebloskan ke ruang bawah tanah karena fitnah dari bapaknya. Namun, jeritan trauma masa kecil Claudia di tengah sakit parah akhirnya meruntuhkan dinding es di hati Reymond. Penyelidikan rahasia pun dimulai, membongkar asal-usul Claudia yang sebenarnya sebagai pewaris sah bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Dinding Mansion
Setelah deru mobil Rey menjauh dari halaman mansion, keheningan yang mencekam perlahan mencair. Cla menyandarkan punggungnya ke kursi, merasa separuh energinya habis hanya untuk menghadapi sarapan canggung tadi.
"Nona Cla, supnya mau saya hangatkan kembali?"
Sebuah suara lembut yang familier memecah lamunan Cla. Di ambang pintu dapur, Bibi Suri berdiri dengan celemek putih bersihnya, tersenyum hangat sembari memegang nampan perak. Kepala pelayan paruh baya itu adalah satu-satunya oasis di mansion yang dingin ini.
"Tidak usah, Bi. Ini sudah cukup," jawab Cla, membalas senyuman itu dengan tulus. "Kemarilah, Bi. Jangan berdiri di sana. Temani aku mengobrol."
Bibi Suri sempat ragu, melirik ke arah pintu keluar seolah takut sang tuan besar tiba-tiba berbalik arah. Namun melihat gurat kelelahan yang nyata di wajah Cla, wanita tua itu akhirnya melangkah mendekat dan duduk di kursi sebelah Cla.
"Bagaimana keadaan Nona? Semalam badan Nona seperti bara api. Saya sangat cemas," ucap Bibi Suri, tangannya yang mulai keriput terulur mengusap lembut punggung tangan Cla.
Sentuhan hangat itu seketika membuat ingatan Cla melayang pada kejadian semalam—dan pagi tadi. Wajahnya kembali merona samar. "Sudah jauh lebih baik, Bi. Obat dari dokter sepertinya sangat manjur."
Bibi Suri terkekeh pelan, sebuah tawa penuh arti yang membuat Cla mengernyit bingung. "Obat dokter memang bagus, Nona. Tapi obat yang paling manjur semalam adalah Tuan Rey."
Deg. Jantung Cla berdegup kencang. "Bi-Bibi tahu?"
"Tentu saja saya tahu, Nona. Saya yang membukakan pintu untuk dokter semalam," ujar Bibi Suri, matanya menerawang mengingat kejadian beberapa jam lalu. "Seumur hidup saya bekerja di mansion ini, saya belum pernah melihat Tuan Rey se-panik itu. Saat menggendong Nona masuk ke kamar, tangannya gemetar hebat. Wajahnya putih bersih seperti kehilangan darah."
Cla tertegun. Di kepalanya, Rey adalah sosok pria berhati batu yang tidak punya rasa takut. Mendengar pria itu panik karena dirinya terasa sangat tidak nyata.
"Tuan Rey itu... dia tidak pintar mengekspresikan perasaannya," lanjut Bibi Suri dengan nada suara yang melembut, penuh rasa sayang seorang ibu. "Masa lalunya yang keras membuatnya terbiasa membangun dinding tinggi di sekelilingnya. Dia pikir, dengan bersikap dingin, dia bisa melindungi dirinya—dan melindungi Nona."
"Melindungiku?" Cla mendengus kecil, ada nada pahit dalam suaranya. "Dia lebih sering mengurungku dan memerintahku seperti tawanan, Bi."
Bibi Suri tersenyum tipis, menggenggam tangan Cla lebih erat. "Seseorang yang takut kehilangan sesuatu yang berharga biasanya akan menggenggamnya terlalu erat hingga terkadang menyakiti, Nona. Tapi percayalah pada mata tua saya ini. Semalam, saat dokter memberikan saran... itu, Tuan Rey tidak berpikir dua kali. Dia membuang seluruh gengsi dan egonya demi Nona."
Bibi Suri bangkit berdiri, menepuk bahu Cla perlahan sebelum membereskan piring-piring di meja. "Dia menjaga Nona semalaman tanpa memejamkan mata sedikit pun. Baru menjelang fajar saya melihatnya tertidur di sebelah Nona. Tuan Rey sangat memedulikan Nona, lebih dari yang Nona bayangkan."
Bibi Suri melangkah kembali ke dapur, meninggalkan Cla yang terpaku di kursinya. Kata-kata kepala pelayan itu berputar-putar di kepalanya, perlahan mulai meruntuhkan dinding prasangka yang selama ini ia bangun terhadap Rey. Ada rasa hangat yang aneh mulai menjalar di dadanya, menggantikan rasa canggung yang sempat menyiksanya pagi ini.
Cla mengembuskan napas panjang. Duduk diam merenungi kejadian semalam hanya akan membuat jantungnya berdegup tidak karuan. Ia butuh sesuatu untuk menyibukkan diri dan mengusir rasa bosan yang mulai menyergap.
Cla beranjak dari kursi meja makan, lalu melangkah menuju dapur tempat Bibi Suri sedang merapikan peralatan makan.
"Bi," panggil Cla lembut, membuat wanita paruh baya itu menoleh dengan senyum hangatnya yang khas.
"Iya, Nona Cla? Ada yang bisa Bibi bantu? Apa Nona butuh sesuatu?"
Cla menggeleng pelan, lalu menyandarkan tubuhnya di konter dapur. "Bibi, aku bosan sekali kalau harus seharian mengurung diri di kamar. Aku ingin memulai kegiatan baru untuk mengusir rasa bosan ini."
Cla menjeda kalimatnya sejenak, menatap Bibi Suri dengan binar penasaran. "Bibi... kebiasaan di wilayah ini yang lagi ramai apa ya, Bi? Maksudku, hobi atau kegiatan kerajinan tangan yang sedang tren di kalangan ibu-ibu atau anak muda di sekitar sini?"
Bibi Suri tampak berpikir sejenak, mengetuk-ngetuk dagunya. "Ah, kalau di wilayah kita sekarang, anak-anak muda dan para nyonya sedang gemar sekali membuat crochet (rajutan) tas mini atau menyulam linen hias, Nona. Ada juga yang sedang ramai membuat lilin aromaterapi sendiri di rumah dengan bunga-bunga kering. Katanya bisa bikin pikiran rileks."
Mendengar itu, mata Cla seketika berbinar. Merajut atau membuat lilin aromaterapi terdengar sangat menyenangkan dan menenangkan.
"Itu terdengar seru, Bi!" Cla meraba saku pakaiannya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan besar yang memang selalu ia simpan. Ia menyodorkannya ke tangan Bibi Suri.
"Apakah Bibi bisa tolong membelikannya untukku siang ini? Tolong belikan perlengkapan rajut dasar dan bahan membuat lilin aromaterapi yang paling bagus," ucap Cla tulus. Ia kemudian menambahkan beberapa lembar uang lagi ke dalam genggaman tangan wanita tua itu.
"Pakailah uang ini untuk membeli bahannya, dan ini... yang lembaran ini khusus untuk Bibi. Tolong diterima ya, Bi. Anggap saja sebagai tanda terima kasihku karena Bibi sudah merawatku dengan sangat baik semalam."
Bibi Suri tertegun melihat jumlah uang di tangannya. Ia mencoba menolak dengan halus, "Aduh, Nona Cla, tidak usah repot-repot memberi Bibi uang sebanyak ini. Merawat Nona sudah menjadi tugas dan kewajiban Bibi..."
"Tolong diterima, Bi. Aku memaksa," potong Cla sembari menutup jemari Bibi Suri dengan lembut agar mau menerima uang tersebut.
"Kalau Bibi tidak mau menerima, aku tidak enak hati ingin merepotkan Bibi membelikan bahan-bahan hobiku nanti."
Melihat ketulusan di mata Cla, Bibi Suri akhirnya luluh. Ia tersenyum haru dan mengangguk.
"Baiklah, Nona. Terima kasih banyak. Siang ini juga, setelah pekerjaan dapur selesai, Bibi akan meminta sopir mansion untuk mengantar Bibi ke toko kerajinan tangan terbesar di kota. Bibi akan pilihkan benang rajut dengan warna yang paling cantik untuk Nona."
Cla tersenyum lega. Akhirnya, ia punya alasan untuk tersenyum hari ini. Setidaknya, fokusnya malam nanti tidak akan lagi terpaku pada jam dinding, menunggu kepulangan pria yang telah mengacak-acak hatinya semalaman.
***
"Apakah ada pergerakkan?"
"Tidak, Tuan Rey. Nona hanya duduk membaca dirumah kaca. Tak lama ia meminta Bibi Suri membelikannya peralatan sulam. Dari penuturan bibi, nona merasa sangat bosan." Jelas Rafael. Mata-mata yang ditugaskan untuk melihat pergerakkan Claudia.
"Baiklah, kau boleh kembali ke posisimu. Setiap ada pergerakkan yang mencurigakan segera hubungi aku."
"Baik tuan. Saya permisi."
Brak
'Sulam?'