Karena ingin melihat putri kembarnya (Agatha & Amanda) segera menikah, Edward menjodohkan mereka dengan pria-pria pengusaha muda tampan yang kaya, putra dari relasi-relasinya.
Agatha di jodohkan dengan Jonathan.
Amanda dijodohkan dengan Vincent.
Pertentanganpun terjadi. Agatha dan Amanda juga Jonathan dan Vincent menolak dijodohkan.
Apa yang terjadi jika Agatha bertemu dengan Vincent (jodoh buat Amanda) dan Amanda bertemu dengan Jonathan (jodoh buat Agatha).
Apakah mereka akan jatuh cinta dengan pria yang dijodohkan untuk saudara kembarnya?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-25 Pernyataan Jonathan
Elsa sedang berada di kamarnya saat kepala pelayan memberitahukan kalau ada Jonathan di ruang tamu. Tentu saja Elsa keheranan, bukankah Jonathan pergi bersama Agatha, kenapa kepala pelayan menyampaikan ada tamu? Kemana Agatha? Buru-buru dia keluar dari kamarnya menemui Jonathan di ruang tamu.
“Mrs,” sapa Jonathan, dia langsung berdiri saat Elsa menghampirinya.
“Kau sendiri?” tanya Elsa menatap Jonathan.
“Iya, aku ingin bertemu dengan Agatha,” jawab Jonathan membuat Elsa terkejut. Tapi dia tidak bicara apa-apa, memebri jeda buat Jonathan menjelaskan.
“Ada sedikit kesalahfahaman, maaf Agatha pulang tidak diantar olehku,” ucap Jonathan lagi. Dia mengira kalau Agatha ada di rumah.
Amanda menuruni tangga menuju ruang tengah. Tiba-tiba dia mendengar ada suara orangbercakap-cakap diruang tamu, dan dia hafal suara itu seperti suaranya Jonathan tapi dia belum yakin kalau tidak melihatnya.
“Sepertinya ada tamu, siapa ya?” gumamnya. Diapun berjalan menuju pintu pemisah ruang keluarga dengan ruang tamu. Diintipnya siapa tamunya, ternyata benar, Jonathan bertamu. Diapun bersembunyi dibalik pintu. Hatinya bertanya-tanya kenapa Jonathan datang sendirian? Kemana Agatha?
“Bukankah Agatha bersamamu?” tanya Elsa pada Jonathan, membuat pria itu terkejut ternyata Agatha tidak pulang ke rumah.
“Jadi Agatha tidak pulang ke rumah?” tanya Jonathan.
Elsa menggeleng, dia masih menatap pria itu dengan heran.
“Duduklah,” kata Elsa. Jonathanpun duduk kembali diikuti Elsa.
“Katakan ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Elsa, penasaran apa yang telah terjadi dengan Agatha.
Jonathan terdiam sebentar.
“Sebenarnya aku juga tidak tahu, mungkin hanya sedikit salahfahaman saja, kami sedang memilih katu undangan,” jawab Jonathan.
Amanda masih mendengarkan dibalik pintu.
“Kalian tidak bertengkar?” tanya Elsa.
“Tidak,” jawab Jonathan, menggeleng.
“Tapi Agatha tidak pulang ke rumah,” ucap Elsa, membuat Jonathan bingung. Dia harus bisa membuat hubungannya dengan Agatha membaik kalau tidak orangtuanya akan marah padanya.
Elsa menatap Jonathan.
“Ada yang ingin aku tanyakan, tapi kau harus menjawabnya dengan jujur,” kata Elsa.
“Apa itu Mrs?” tanya Jonathan balas menatap calon mertuanya itu.
“Apa kau ada hubungan dengan Amanda? Maksudku apa kau menyukai Amanda? Atau kalian memang sudah pacaran?” tanya Elsa. Pertanyaan itu membuat Jonathan terkejut.
Dibalik pintu Amanda menajamkan pendengarannya, dia ingin tahu apa jawaban dari Jonathan.
Jonathan merasa bingung harus menjawab apa, kalau dia jujur mengatakan dia menyukai Amanda, semuanya akan bertambah runyam, bagaimana dengan Agatha? Belum pertentangan dengan orangtuanya, dengan Amanda juga dengan keluarganya Vincent.
Orangtuanya sedang mencetak undangan pernikahan mereka, semuanya benar-benar akan berantakan. Dia juga ingat perkataan orangtuanya yang memintanya menempati janjinya karena dia sudah mengatakan menerima dijodohkan dengan Agatha.
“Kau belum menjawab pertanyaanku,” kata Elsa, menyadarkan Jonathan.
“Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Amanda,” jawab Jonathan.
Mendengar jawaban dari Jonathan itu sontak membuat Amanda kecewa dan bersedih. Matanya langsung memerah menahan tangis. Jadi ternyata Jonathan tidak menyukainya? Atau menyukainya tapi tidak mau jujur seperti dirinya karena tidak mau menyakiti semua orang?
“Aku dan Amanda hanya berteman. Kebetulan aku mengenalnya sebelum mengenal Agatha,” jawab Jonathan, menjelaskan pada Elsa.
Perlahan air mata yang ditahan tahan itu tidak bisa di tahan lagi, airmata menetes dipipinya Amanda, diapun berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Dilihatnya boneka panda besar itu yang duduk diatas tempat tidurnya. Diambilnya boneka itu dan dipeluknya, diapun menangis sambil memeluk panda itu, airmatanya membasahi boneka panda itu.
“Jadi kau tidak ada hubungan dengan Amanda?” tanya Elsa, memastikan.
“Tidak, Mrs,” jawab Jonathan.
Elsa diam. Dia tidak percaya apa yang diucapkan Jonathan, tapi itulah keputusan yang Jonathan pilih, dia memilih untuk tidak jujur dengan perasaannya dan tentunya Jonathan juga punya alasan tersendiri dan sudah tahu konsekuensi yang akan ditanggungnya. Elsa tidak bisa lagi memaksanya untuk jujur.
“Kira-kira Agatha pergi kemana? Aku akan mencarinya,” ucap Jonathan.
“Entahlah, dia pergi kemana ya? Sudah kau coba telpon?”tanya Elsa.
“Tidak aktif,” jawab Jonathan.
“Nanti kalau Agatha pulang, aku akan mencoba bicara dengannya supaya dia menelponmu, bagaimana?” usul Elsa.
“Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu,” kata Jonathan. Elsapun mengangguk, sambil kepalanya terus berfikir kemana kira-kira Agatha pergi. Kalau dia dulu, dia suka ke taman kota untuk bermain, selain tempatnya sejuk, taman kota juga letaknya ada dipusat kota jadi tidak terlalu jauh untuk dikunjungi. Banyak kenangan di taman itu.
Jonathan bangun dari duduknya, akan pamit tapi Elsa memanggilnya.
“Jo!” panggil Elsa sambil dia juga bediri. Jonathan menatapnya.
“Coba kau cari ke taman kota barangkali Agatha pergi kesana,” kata Elsa.
“Taman kota?” tanya Jonathan. Elsa mengangguk.
“Baiklah, aku akan mencoba mencari kesana. Aku permisi,” ucap Jonathan. Elsa hanya mengangguk dan melihat pria muda itu keluar dari rumahnya.
Kepala Elsa rasanya terasa pusing memikirkan putri-putrinya dengan calon- calonnya itu. Dia juga tidak mengira pernikahan mereka akan serumit ini. Dia fikir dengan waktu yang diberikan untuk saling mengenal akan memudahkan semuanya, ternyata tidak begitu.
Elsapun meninggalkan ruang tamu itu, dia akan kembali ke kamarnya, dia ingin beristirahat, setelah dari pagi mengurus bunga-bunga anggreknya.
Setelah menaiki tangga, ketika menuju kamarnya, dia merasa mendengar seseorang menangis dari kejauhan. Diapun menghentikan langkahnya. Dicarinya sumber suara itu, sepertinya dari kamarnya Amanda, letak kamarnya itu ada di sebelah kiri kamarnya, jadi diapun menuju kamarnya Amanda.
Saat sampai dipintu kamar itu ternyata Amanda tidak menutup pintunya sepertinya dia lupa menutup pintu kamarnya. Elsa mengintip melongokkan kepalanya sedikit melihat ke dalam kamar Amanda. Dilihatnya Amanda sedang menangis memeluk boneka panda itu.
Diapun tertegun. Kenapa Amanda menangis? Apakah Amanda mendengarkan percakapannya dengan Jonathan? Melihat cara Amanda memeluk boneka itu, apakah boneka itu dari Jonathan? Elsa menarik kepalanya tidak lagi melihat ke dalam kamar itu. Dia merasa tidak tega melihat putrinya menangis. Tapi apa boleh buat? Jonathan yang memilih sendiri jawaban yang diberikan padanya kalau mereka tidak ada hubungan apa-apa.
Elsapun meninggalkan kamarnya Amanda, masuk ke kamarnya.
Jonathan menjalankan mobilnya perhalan memasuki taman kota, dibukanya kaca jendela mobilnya, barangkali dia bisa melihat Amanda di dekat parkiran, tapi ternyata tidak ada.
Tampak banyak orang yang berlalu lalang. Taman itu memang tempat pavorite untuk menghilangkan penat di tengah kota karena letaknya tepat ada di tengah kota. Yang sedang istirahat dari pekerjaannya juga bisa mampir dulu ke taman kota untuk menjernihkan fikirannya yang mumet karena pekerjaan.
Akhirnya Jonathan turun dari mobilnya, dia berjalan perlahan menyusuri jalan ditaman itu yang berkelok kelok, dilihatnya kanan kiri barangkali ada Agatha disana, ternyata tidak ada. Dia pun terus masuk ke dalam taman yang dekat air mancur. Apa yang dicarinya ada disana. Gadis itu duduk disebuah kursi yang menghadap airmancur bundar yang tidak terlalu besar.
Diapun menghampiri Agatha. Gadis itu tampak terkejut saat melihat kedatangan Jonathan.
Jonathan tidak bicara apa-apa, dia langsung duduk disamping Agatha.
“Aku tadi ke rumah tapi kau tidak ada,” kata Jonathan.
Agatha tidak menjawab.
“Kau masih ingin disini atau kau akan pulang, aku akan mengantarmu,” ucap Jonathan. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain berbaikan dengan Agatha atau orangtuanya akan marah. Semua ini benar-benar sulit baginya.
“Aku ingin sendiri, kau pergilah,” usir Agatha.
“Aku tidak bisa membiarkan kau sendirian,” kata Jonathan.
“Kau tidak perlu memperdulikanku, pergilah,” usir Agatha lagi.
Jonathan kembali diam. Dia sudah susah payah meredam perasaannya, Agatha malah tidak bisa dibujuk.
“Aku ingin pernikahan kita dibatalkan,” kata Agatha membuat Jonathan terkejut. Gadis itu langsung bangun dan meninggalkan Jonathan yang masih tidak percaya dengan ucapannya. Dia melihat Agatha pergi meinggalkannya.
“Agatha tunggu!” panggil Jonathan. Agatha tidak menggubrisnya, dia terus melangkah meninggalkan Jonathan, pria itu terus mengejarnya.
“Agatha, kau tidak bisa begitu saja membatalkan pernikahan kita,” kata Jonathan.
“Kenapa? Kau juga tidak menyukaiku. Kau tidak perlu berbohong lagi, aku tahu kau menyukai Amanda,” kata Agatha, terus saja berjalan.
“Agatha aku juga tidak tahu harus berbuat apa, hanya saja untuk membatalkan pernikahan kita harus bicara dengan orangtua kita,” ucap Jonathan.
“Aku akan bicara dengan Mommy dan Daddy,” kata Agatha.
“Bukan itu maksudku,” ucap Jonathan, masih menjajari langkah Agatha.
Agatha menghentikan langkahnya dan menatap Jonathan. Jonathanpun menatapnya.
“Kalau yang kau fikirkan adalah orangtuamu, aku akan bicara dengan orangtuamu,” ucapnya, membuat Jonathan berdiam seribu bahasa. Dia melihat sorot mata serius dimatanya Agatha.
“Aku melihat foto kau dan Amanda di toko eskrim, aku tahu kalian sebenarnya saling menyukai kan?” kata Agatha, membuat Jonathan semakin terkejut.
“Kau tidak perlu berbohong lagi padaku. Katakan saja kalau kau menyukai Amanda,” lanjut Agatha.
Jonathan bernar-benar tidak bisa bicara, dia bingung sungguh bingung. Dia memang menyukai Amanda, tapi harus melawan kedua orangtuanya dia harus berfikir dua kali, kondisi ayahnya sedang sakit sakitan, dia tidak mau ayahnya terpuruk gara-gara masalah yang dia timbulkan.
Baju baju sudah dipesan, segala persiapan pernikahan sedang dikerjakan dan undangan akan dicetak, bagaimana mungkin pernikahan dibatalkan begitu saja? Ayahnya pasti akan marah besar.
Karen Jonathan tidak membalas perkataannya lagi, Agathapun pergi meninggalkan Jonatahn yang kini hanya berdiri menatap kepergiannya.
Agatha pulang ke rumah dengan menggunakan taxi. Hatinya sudah hancur remuk redam, dia tidak bisa menikah dengan pria yang tidak mencintainya. Dia tau Jonathan tidak mencintainya tapi dia masih bisa menerima dan berusaha menjalin hubungan baik dengannya. Tapi tidak dengan pria yang mencintai wanita lain, itu akan lebih menyakitkan dan tidak akan mudah untuk pernikahannya jika ada bayang-bayang orang ketiga, terlebih yang disukai Jonathan adalah saudara kembarnya.
Agatha sampai di rumah langsung disambut ibunya. Elsa dari tadi gelisah terus memikirkan keadaannya, entah ada dimana putrinya itu. Mendengar suara mobil memasuki halaman, dia langsung turun melihat siapa yang datang, begitu dilihatnya Agatha yang datang, hatinya merasa lega.
“Sayang, kau sudah pulang?” tanya Elsa. Menatap wajah putrinya yang sembab seperti habis menangis.
“Mommy aku ingin pernikahanku dibatalkan,” jawab Agatha begitu bertemu dengan ibunya.
“Tapi sayang, kenapa? Kau ada masalah dengan Jonathan?” tanya Elsa.
Agatha tidak menjawab, dia meninggakan ibunya, berlari menaiki tangga menuju kamarnya yang bersebelahan dengan ruang kerja Edward.
Elsa menatap putrinya dengan hati sedih. Dua putrinya menangis hari ini, hatinya terasa lebih sakit.
Agatha melempar tasnya ke tempat tidur, langsung menjatuhkan badannya ke tempat tidur, menelungkup dan menangis.
Elsa hanya berdiri dipintu kamar putrinya yang tertutup itu. Dia semakin sedih saja melihat Agatha menangis, di kamar sebelah Amanda juga menangis.
Jonathan pulang ke rumah dengan lesu. Begitu sampai langsung saja di tegur ayahnya.
“Kau sudah bertemu Agatha?” tanya Mr.darwin.
“Sudah Daddy,” jawab Jonathan.
“Kalian sudah baikan?” tanya Mr.Darwin lagi.
“Dia ingin membatalkan pernikahan kita,” jawab Jonathan bicara jujur.
“Apa?” Mr.Darwin sangat terkejut.
“Sayang! Kau sudah pulang? Kau sudah bertemu Agatha?” terdengar suara ibunya Jonathan dari ruangan lain.
Ibunya tampak bingung saat melihat putra dan suaminya berdiri mematung tidak ada yang bicara.
“Kau sudah bicara dengan Agatha? Kalian sudah baikan kan?” tanya ibunya.
Jonathan tidak menjawab, membuat ibunya bingung dan menoleh pada suaminya.
“Ada apa sayang?” tanya ibunya lagi.
“Agatha ingin membatalkan pernikahan kami,” jawab Jonathan.
“Apa?” ibunya sangat terkejut.
“Kau benar-benar membuat malu!” maki Mr.Darwin lalu beranjak dan meninggalkan ruangan itu.
“Apa? Kenapa Agatha ingin membatalkan pernikahan kalian? Apa yang kau lakukan?” tanya ibunya dengan kesal.
Jonathan tidak menjawab.
“Cepat katakan!” bentak ibunya. Jonathan masih tidak menjawab.
Ibunya menoleh pada suaminya yang pergi meninggalkan ruangan itu. Diapun segera menyusulnya.
“Sayang, tunggu mungkin ini salah faham, mungkin mereka berselisih faham, tapi masih bisa dibicarakan,” ucap ibunya Jonathan tapi Mr.darwin tidak menggubrisnya dia pergi tanpa menghiraukan perkataan istrinya.
Ibunya Jonathan menghentikan langkahnya dan kembali menoleh pada Jonathan.
“Sebenarnya apa yang kau lakukan?” tanya Ibunya.
Jonathan masih tidak menjawab, dia memilih pergi meninggalkan ibunya.
“Jonathan! Jonathan! Cepat katakan ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi?” teriak ibunya tapi Jonathan tidak mau bicara lagi, dia terus saja berjalan pergi menuju kamarnya.
***************
Semangat terus berkarya Kakak author 🔥😘
daripada mencintai..
karena cinta akan tumbuh seiring waktu..
karena kasih yang diberikan setiap hari akan mengikis kebekuan hati..
❤❤❤❤❤❤