"Adek itu penerang hidup kami semua. Mas janji, Mas akan melakukan cara apapun agar Adek bisa sembuh dari kanker. Mas janji, Sayang."
Apalah daya jika janji yang terucap, akan terkalahkan jua oleh takdir yang mutlak. Manusia memang punya rencana, tapi tetap Tuhan yang mengambil kendali dalam segalanya.
Berurai air mata, Ammar berusaha menenangkan sang adik tersayang. Ditemani Sadha dan Dhana yang tak kalah sedih melihat kesedihan sang adik. Dhina menatap ketiga masnya dengan mata yang sembab. Tak menyangka akan hal yang kini terjadi pada dirinya, membuatnya takut, suatu saat nanti penyakit mematikan itu akan merenggut nyawanya.
Ammar, Sadha dan Dhana pun tak kalah terpukul akan kabar buruk yang menimpa sang adik. Takut, khawatir, dan sedih semuanya bercampur aduk. Membuat ketiganya harus tetap kuat dan tegar menerima semua ini, demi sang adik dan kedua orang tua mereka yang tak kalah lebih terpukul.
Akankah Dhina bisa sembuh dari sakitnya?
Apakah Dhina sanggup melewati semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DN YM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 ~ Utang Penjelasan
...🍀🍀🍀...
Waktu terus berjalan namun tidak ada tanda-tanda dari Dhina yang akan sadar dari pingsannya. Sementara Ammar masih berada di dalam UGD dan menangis seraya menggenggam tangan adik perempuannya itu.
"Adek... Mas minta maaf karena sikap Mas yang seperti tadi, membuat Adek jadi seperti ini." ujar Ammar yang menangis seraya mengelus wajah Dhina.
Menyesal, itulah yang tengah dirasakan oleh Ammar saat ini. Guratan penyesalan sangat terlihat jelas dari sorot matanya yang menatap sendu sang adik.
"Mas mohon bangun, Dek. Kita semua menunggu Adek di sini. Mas tidak bisa melihat Adek seperti ini. Bangun, Dek. Bangun." ujar Ammar seraya menggoyangkan tangan Dhina.
Ammar sangat menyesali perbuatannya saat bertengkar dengan Dhina. Emosi dan amarah yang menguasai dirinya membuat Ammar lupa dengan kondisi Dhina yang tidak sehat. Sejak sampai di rumah sakit, Ammar masih saja berada di dalam ruangan dan tidak mau beranjak dari sisi adik perempuannya itu.
***
Di luar ruang UGD, Pak Aidi dan yang lainnya masih duduk di kursi tunggu untuk menunggu Ammar keluar. Sejak tadi, Dhana terus memperhatikan ekspresi Sadha yang terlihat berbeda setelah keluar dari UGD. Dhana pun menghela nafas panjang dan beringsut mendekati Sadha.
"Mas... bisa bicara sebentar?" bisik Dhana yang duduk di sebelah Sadha agar kedua orang tuanya tidak mendengar.
"Bicara saja." jawab Sadha yang ikut berbisik seraya melihat ke arah Dhana.
"Tidak bisa disini, Mas. Nanti terdengar oleh Ayah dan Ibu. Ayo kita ke sana sebentar." seru Dhana yang berbisik sambil menarik tangan Sadha.
Mendengar permintaan adik kembarnya itu, Sadha pun meminta izin pada orang tuanya. Lalu...
"Ayah dan ibu di sini dulu ya. Sadha dan Dhana ingin membeli minuman sebentar." ujar Sadha pada kedua orang tuanya.
"Iya, Nak. Kalian jangan lama-lama ya." jawab Pak Aidi sambil melihat ke arah putra-putranya itu.
"Iya, Ayah." ucap Sadha lalu pergi bersama Dhana ke suatu tempat menjauh dari ruangan UGD.
Sadha dan Dhana pun berjalan ke arah lobi dan itu cukup dekat dengan ruangan Ibel. Setelah mereka sampai, Sadha yang merasa heran dengan sikap Dhana langsung bertanya.
"Kamu kenapa Dhana? Kenapa kamu membawa Mas ke sini?" tanya Sadha yang tangannya masih dipegang oleh Dhana.
"Mas duduk dulu, baru enak bicaranya." ujar Dhana seraya duduk dan meminta Sadha untuk duduk.
"Ada apa? Ini Mas sudah duduk. Ayo bicara." seru Sadha yang sudah duduk di sebelah Dhana.
"Mas Sadha kenapa? Saat keluar dari ruangan UGD, wajah Mas seperti sedang marah." tanya Dhana yang memutar tubuhnya ke arah Sadha.
"Marah? Marah kenapa? Mas tidak sedang marah. Kamu jangan asal bicara, Dhana." jawab Sadha yang memalingkan wajahnya dari adik kembarnya itu.
"Tidak perlu menutupi wajah marah Mas itu dari Dhana, Mas. Mas bisa menutupi semuanya dari Ayah dan Ibu, tapi tidak dengan Dhana." ujar Dhana yang mendekati wajahnya ke wajah Sadha.
"Kamu bicara apa sih Dhana? Mas tidak mengerti maksud kamu." ucap Sadha yang masih memalingkan wajahnya dari Dhana untuk menutupi rasa kesal di wajahnya.
"Saat Mas Ammar masuk, Mas Sadha tiba-tiba keluar. Mas keluar dengan raut wajah yang kesal. Mas marah sama Mas Ammar?" jelas Dhana seraya kembali menatap tajam pada Sadha.
Sadha hanya diam saat mendengar pertanyaan adik kembarnya itu. Ia tidak tau harus menjelaskan rasa kesalnya pada Ammar seperti apa pada Dhana. Saat mereka sedang bicara tentang masalah tadi, tanpa mereka sadari Ibel yang baru keluar dari ruangannya melihat mereka berdua.
Ibel tidak sengaja melihat Sadha dan Dhana yang berada di lobi sedang berbicara sesuatu. Melihat itu, Ibel pun mendekati mereka tapi tidak langsung menghampiri mereka. Namun ia melihat dan mendengar dari kejauhan. Untuk mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan.
Dhana menghela nafas karena merasa belum mendapatkan jawaban dari Sadha. Lalu Dhana pun bertanya lagi pada Sadha.
"Mas... kenapa Mas diam? Jawab pertanyaan Dhana, Mas?" tanya Dhana seraya melihat ke arah Sadha.
"Iya, Mas marah pada Mas Ammar. Sikap dan perbuatan dia yang seperti anak-anak saat di kantor Ayah, menyebabkan Adek pingsan dan masuk rumah sakit seperti ini. Tapi sekarang dia menangis di dalam, minta maaf sama Adek. Setelah itu, dia bersikap aneh lagi seperti tadi. Lalu Adek masuk rumah sakit lagi. Lalu dia minta maaf lagi. Seperti itu saja terus sampai Mas Ammar puas melihat Adek masuk rumah sakit." tutur Sadha pada Dhana yang beranjak dan melihat ke arah Dhana.
Ibel yang sedang bersembunyi pun mendengar semua pembicaraan Sadha dan Dhana yang mengatakan bahwa Ammar yang menyebabkan Dhina pingsan saat ini.
Apa? Dhina pingsan karena Mas Ammar? Apa yang dilakukan oleh Mas Ammar hingga membuat Dhina pingsan seperti ini? Apakah benar, kalau mereka sedang bertengkar? Tapi kenapa mereka bertengkar. Gumam Ibel dalam hati.
Dhana yang melihat Sadha terbawa emosi saat menjawab pertanyaannya itu pun langsung berdiri dan menghampiri mas tengahnya itu.
"Sabar, Mas. Dhana mengerti dengan apa yang Mas Sadha rasakan saat ini. Tapi di sini, bukan hanya Mas Ammar yang salah. Dhana salah, Adek juga salah, Mas. Dari awal Adek sudah tau kalau mood Mas Ammar sedang tidak baik, tapi Adek tetap kekeuh bertengkar dengan Mas Ammar. Dari awal, Mas sudah memperingatkan Dhana untuk tidak ikut campur tapi Dhana keras kepala dan malah ikut dalam pertengkaran itu." jawab Dhana yang meraih bahu Sadha yang membelakangi dirinya.
Sadha terdiam, berusaha mencerna perkataan Dhana yang memang banyak benarnya itu.
"Andai saja Dhana tidak ikut campur dan kita berhasil mencegah pertengkaran Mas Ammar dan Adek, pasti situasi dan kondisinya tidak akan seperti ini, Mas. Lagi pula tidak hanya itu penyebab Adek pingsan tapi Adek tidak minum obat tadi pagi. Jadi semua ini bukan salah Mas Ammar sepenuhnya." ujar Dhana lagi yang kini berdiri di depan Sadha dan membuat Sadha melihat adik kembarnya itu.
"Tapi kamu sampai ditampar oleh Mas Ammar, Dhana. Dan kamu masih bilang kalau dia tidak bersalah?" ujar Sadha seraya memegang bahu Dhana.
"Tamparan ini bukan apa-apa, Mas. Ini juga bukan keinginan Mas Ammar untuk menampar Dhana. Dia hanya emosi dan emosi itu yang membuat Mas Ammar bersikap seperti tadi." ucap Dhana seraya meraih tangan Sadha yang ada di bahunya.
Sementara Ibel yang masih memantau Sadha dan Dhana merasa terkejut saat mendengar bahwa Ammar telah menampar Dhana saat di acara kantor Pak Aidi yang mereka hadiri tadi pagi.
Mas Ammar menampar Dhana? Apa yang Mas Ammar lakukan pada adiknya? Kenapa sampai bermain tangan seperti itu? Mas Ammar memang keterlaluan. Ada masalah apa sebenarnya sampai menampar adik kandung sendiri? Sifat pria itu memang tidak pernah berubah. Dia memang baik, bahkan sangat baik. Tapi kalau sudah emosional, baiknya akan hilang seketika. Mas ammar, mas ammar... Gumam Ibel dalam hati.
Ibel masih terus memantau keduanya. Sementara Sadha tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung memeluk Dhana yang bersikap dengan sangat dewasa dalam menghadapi masalah ini. Sadha terharu dengan pola pikir Dhana yang dewasa. Bahkan dirinya sendiri pun masih kalah dengan sang adik.
Sadha bingung pada Dhana yang memaafkan Ammar dengan mudah walaupun sudah bersikap buruk padanya. Sementara Dhana membalas pelukan mas tengahnya itu dengan erat. Dhana bersyukur karena Sadha sudah tidak emosi lagi.
"Apa Mas masih marah? Maafkan Mas Ammar ya, Mas. Dia juga sedih seperti kita saat tau Adek pingsan. Mas mau 'kan memaafkan Mas Ammar?" ucap Dhana seraya melepaskan pelukannya dari Sadha.
"Iya, Mas sudah memaafkan Mas Ammar. Nanti kita bicara dengan dia. Ada hal yang harus Mas tanyakan pada Mas Ammar tentang penjelasan yang akan dia katakan pada Ayah dan Ibu." ujar Sadha yang menepuk bahu Dhana.
"Iya, Mas. Dhana juga penasaran dengan itu, lebih baik kita kembali ke Ayah dan Ibu sebelum mereka mencari kita." seru Dhana sambil melihat ke arah UGD.
"Ayo kita ke sana." jawab Sadha lalu mereka berdua pun pergi menuju UGD.
Melihat Sadha dan Dhana yang sudah pergi untuk kembali ke UGD, Ibel pun juga ikut pergi dan keluar dari tempat persembunyian. Ibel ingin mengikuti Sadha dan Dhana. Namun Ibel teringat kalau ia harus memeriksa pasien terlebih dahulu. Lalu Ibel pun pergi untuk memeriksa pasien sebelum menyusul Sadha dan Dhana yang kembali ke UGD.
Setelah bicara panjang lebar berdua, mereka pun kembali ke UGD dan disana masih ada Pak Aidi dan Bu Aini yang menunggu Ammar keluar dari UGD. Melihat kedua orang tua mereka yang masih duduk di luar, Sadha dan Dhana pun langsung menghampiri mereka.
"Ayah, Ibu... Ayah sama Ibu belum masuk ke dalam? Mas Ammar belum keluar juga?" tanya Sadha yang duduk di sebelah Bu Aini.
"Belum, Nak. Mas kamu itu kanapa lama sekali sih di dalam? Ibu sudah tidak sabar ingin melihat adik kamu." ujar Bu Aini pada Sadha seraya melihat ke ruangan UGD yang tertutup.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Bu Aini membuat Sadha dan Dhana saling pandang. Mereka memberi isyarat satu sama lain bahwa Ammar di dalam sedang menyesali perbuatannya yang menyebabkan Dhina pingsan. Sadha tidak bisa berkata apa-apa pada sang ibu. Ia memilih untuk diam dari pada membuat ayah dan ibunya curiga.
Tidak lama kemudian, setelah Sadha dan Dhana kembali dari lobi. Ammar pun keluar dengan raut wajah yang sangat lesu dan tidak bersemangat. Melihat putra sulungnya sudah keluar, tanpa berkata apa-apa Pak Aidi dan Bu Aini langsung masuk ke dalam untuk melihat kondisi Dhina. Dengan tampang lesu di wajahnya, Ammar langsung duduk di sebelah Sadha. Tanpa sadar kalau kedua adiknya berada di sana.
Melihat kondisi Ammar yang seperti itu, membuat Sadha dan Dhana menjadi tidak tega pada mas sulung mereka itu. Sadha yang tadinya sudah memaafkan Ammar, kini berusaha untuk mengajak Ammar untuk bicara baik-baik.
"Mas... Mas tidak apa-apa? Mas ingin Sadha atau Dhana ambilkan minum?" tanya Sadha seraya mendekati Ammar yang masih melamun.
Ammar masih terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Sadha. Sedangkan Dhana yang tadinya berdiri pun berjalan menuju kursi untuk duduk di samping Ammar. Lalu...
"Mas... Dhana minta maaf karena sikap Dhana tadi yang sudah berlebihan pada Mas Ammar, sampai bersikap kurang ajar sama Mas." tutur Dhana yang duduk di samping Ammar.
Ammar yang termenung tidak memberi respon apa pun pada Dhana. Pandangannya kosong entah ke mana. Namun itu tidak menyurutkan niat Dhana untuk meminta maaf dan mengakhiri pertikaian di antara mereka.
"Mas tidak usah merasa bersalah seperti ini. Kejadian ini di luar rencana kita. Hanya karena membela teman masing-masing kita jadi bertengkar seperti tadi. Dhana minta maaf ya, Mas." ujar Dhana yang meraih tangan Ammar.
Mendengar perkataan sang adik yang meminta maaf, membuat Ammar tersadar dengan apa yang sudah ia lakukan pada adik kembarnya itu. Bahkan ia sampai menampar Dhana hingga Dhana terjatuh. Ammar pun meraih tangan Dhana. Lalu...
"Mas yang seharusnya minta maaf, Dhana. Tangan ini sudah menampar pipi kamu. Mas juga sudah bicara keras sama kamu dan Adek. Mas minta maaf, Mas minta maaf sama kamu." jawab Ammar yang menangis sambil menggenggam tangan Dhana dan tertunduk.
"Mas... Mas jangan seperti ini. Dhana yang salah, Dhana ikut campur saat Mas bertengkar dengan Adek. Padahal Dhana tau, Mas sedang emosi. Mas tidak salah, jangan seperti ini Mas." ujar Dhana yang berusaha menegakkan tubuh Ammar.
"Tidak, Mas yang salah. Akibatnya Adek yang menjadi korban pertengkaran ini." ucap Ammar yang masih menggenggam tangan Dhana.
"Mas... dengarkan Dhana! Mas tidak salah, jadi Mas jangan merasa bersalah seperti ini. Oke, kita berdua yang salah. Kita sama-sama keras kepala karena membela orang lain. Tapi Dhana mohon, Mas tidak boleh seperti ini. Adek butuh Mas, Ayah dan Ibu butuh Mas, Dhana dan Mas Sadha juga butuh Mas. Kita semua membutuhkan Mas di sini. Kalau Mas bersikap seperti ini terus, lalu siapa yang bisa mengobati Adek?" tutur Dhana yang berusaha menenangkan Ammar.
"Dhana benar, Mas. Tidak ada gunanya merasa bersalah seperti ini. Adek butuh Mas, butuh kita agar bisa menguatkan Adek." timpal Sadha yang mendekati Ammar.
Tanpa menjawab apa yang di katakan oleh adik-adiknya, Ammar langsung memeluk keduanya sambil terus meminta maaf.
"Mas minta maaf sama kalian, Mas seperti anak kecil yang tidak bisa mengontrol emosi sendiri. Mas bangga mempunyai adik-adik seperti kalian, kalian lebih dewasa dari pada Mas. Terima kasih karena kalian sudah mengerti dengan sifat Mas." tutur Ammar yang memeluk kedua adiknya itu.
"Kita sudah memaafkan Mas Ammar. Mas tidak perlu meminta maaf lagi sama kita. Sadha harap ini yang terakhir kali dan Mas tidak akan emosional lagi." ujar Sadha seraya melepaskan pelukan Ammar.
"Mas janji dan akan berusaha untuk mengontrol emosi. Terima kasih Sadha, Dhana." ucap Ammar yang sudah mulai tenang.
Sadha dan Dhana merasa lega karena kini Ammar sudah menyesali perbuatannya dan meminta maaf. Melihat sang kakak yang sudah lebih tenang, Sadha kembali teringat dengan utang penjelasan Ammar pada ayah dan ibu mereka yang sempat dikatakan Pak Aidi. Lalu...
"Mas... Mas ada utang penjelasan apa pada Ayah dan Ibu?" tanya Sadha yang melihat ke arah Ammar.
"Utang penjelasan? Maksud kamu?" tanya Ammar balik pada Sadha karena merasa heran dengan pertanyaan sang adik.
"Ayah bilang kalau Mas akan menjelaskan semuanya saat sampai di rumah sakit. Mas ingin memberitahu Ayah dan Ibu tentang penyakit Adek?" ujar Sadha dan membuat Ammar teringat dengan perkataannya saat di perjalanan tadi.
"Mas juga ragu, Sadha. Apalagi saat melihat Ibu di mobil tadi. Ibu sangat syok saat mendengar Adek pingsan dan masuk rumah sakit. Menurut kalian bagaimana?" ujar Ammar pada kedua adiknya itu.
"Menurut Sadha, lebih baik Mas lakukan niat Mas itu. Ayah dan Ibu juga berhak tau kondisi kesehatan putrinya. Kalau hanya kita yang berjuang rasanya kurang lengkap jika tidak ada do'a dari Ayah dan Ibu, Mas." jawab Sadha yang berusaha meyakinkan Ammar untuk memberitahu orang tua mereka.
"Dhana setuju, Mas. Lebih cepat Ayah dan Ibu tau, maka akan lebih baik dan itu tidak akan membuat mereka terlalu kaget dengan berita ini." timpal Dhana yang ikut meyakinkan Ammar.
"Setelah Mas beritahu Ayah dan Ibu, baru kita pikirkan bagaimana cara memberitahu Adek tentang penyakitnya." ujar Sadha yang beranjak dari tempat duduknya.
"Iya, Mas. Bagaimana pun juga, Adek berhak tau kondisi kesehatannya sendiri. Mas harus pelan-pelan memberitahu Ayah dan Ibu. Termasuk Adek juga, Mas." ujar Dhana seraya meraih tangan Ammar.
"Baiklah, Mas akan ikuti saran kalian berdua. Mas akan bicara nanti pada Ayah dan Ibu saat hasil tes labor Adek yang diperiksa Dokter Ronald sudah keluar." jawab Ammar pada kedua adiknya itu.
Sadha dan Dhana hanya tersenyum mendengar jawaban Ammar. Mereka berhasil meyakinkan Ammar untuk bicara yang sebenarnya pada orang tua mereka. Saat mereka bertiga sedang menunggu Pak Aidi dan Bu Aini keluar dari UGD, Dokter Ronald pun datang dan menghampiri mereka karena ada hal penting yang ingin ia bicarakan pada semuanya.
"Am..."
"Dokter Ronald..."
"Saya ingin bicara dengan kamu dan keluarga kamu. Ada hal penting yang harus saya katakan mengenai kondisi Dhina. Hasil tes darah Dhina sudah keluar. Apakah kita bisa bicara sekarang?" ujar Dokter Ronald pada Ammar.
"Bisa, Dok. Saya akan memanggil Ayah dan Ibu saya dulu di dalam." jawab Ammar yang hendak melangkah masuk UGD namun dicegah oleh Dokter Ronald.
"Tunggu, Am. Kita bicaranya di ruangan saya saja. Nanti kamu ajak saja Ayah, Ibu dan adik-adik kamu ke ruangan saya." ujar Dokter Ronald sambil meraih bahu Ammar.
"Baik, Dok. Dokter tunggu saja di ruangan. Nanti saya akan menyusul. Saya panggil kedua orang tua saya dulu." jawab Ammar yang berlalu pergi dan kembali masuk ke UGD untuk memanggil ayah dan ibunya.
Dokter Ronald pun pergi ke ruangannya setelah Ammar masuk ke ruangan UGD untuk memanggil Pak Aidi dan Bu Aini. Sementara Sadha dan Dhana memilih untuk menunggu Ammar dan orang tuanya di luar karena tidak ingin mengganggu istirahat Dhina.
.
.
.
.
.
Happy Reading All❤️❤️❤️
biasanya klau tokoh utamanya sakit, ya udah pasti bakal kesana mikirnya
tapi ngeliat kebahagiaan, canda tawa, rasanya gak rela bgt kalau dhina dah gak ada
thanks buat author yang membuat cerita keren dan membuat banjir air mata
ttp aja nangis...
tingglkn jejak dulu ya