Glenca Lysandra, seorang gadis yang terkenal di desanya sebagai penakluk hutan yang tak seorang pun berani memasukinya. Dia lah satu-satunya gadis yang berhasil keluar masuk hutan dalam keadaan selamat, berbeda dengan beberapa orang desa lainnya.
Namun, apa jadinya ketika dia bertemu seorang pemimpin mafia, Ethan Frederick Denaro, di sebuah villa kosong yang terkenal angker di dalam hutan yang ia jelajahi. Pertemuan tak sengaja yang membawanya menyaksikan kekejaman dan transaksi gelap seorang Ethan, juga menjadi awal hidup rumit nya.
Ethan tidak pernah membiarkan saksi mata transaksi terlarang nya hidup. Tapi, Glenca adalah pengecualian. Membawanya ke Mansion dan dijadikan mainan, cukup menghibur dirinya yang penuh dengan keseriusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquilaliza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlalu Banyak Tersenyum
Sudah seminggu lebih Glenca tak muncul di Mansion besar itu. Semua pelayan bahkan hampir semua penghuni Mansion percaya bahwa Glenca benar-benar di hukum di ruang bawah tanah.
Semua pelayan bergidik ketika membicarakan tentang Glenca dan pelayan wanita yang ikut terlibat pada kejadian tersebut. Mereka selalu membayangkan bagaimana nasib kedua perempuan itu di ruang bawah tanah.
"Aku rasa, hukuman Glenca pasti tidak terlalu berat. Dia kan hanya korban," ucap seorang pelayan pada pelayan lainnya. Teman bicaranya itu langsung mengangguk setuju. Semua orang di Mansion ini sudah tahu kebenarannya.
"Iya. Kalau dipikir-pikir, jadi Glenca juga kasihan. Dia tidak—"
"Kalau begitu, kau saja yang menggantikannya." Julie tiba-tiba ikut dalam pembicaraan dua pelayan itu, yang sontak membuat keduanya langsung menghentikannya.
"Kenapa diam? Kalian kasihan pada Glenca, kan? Sudah, ikut ke ruang bawah tanah saja."
"Tidak. Kami lanjut kerja dulu." Dua pelayan itu langsung berlalu dari hadapan Julie. Wanita itu mendengus sinis. Dia sangat tidak suka ada yang berpihak pada Glenca.
Julie berbalik dan langsung membawakan sarapan Adeline ke kamarnya. Beberapa hari ini dia sudah cukup menjelek-jelek kan Glenca di hadapan Adeline. Hari ini dia ingin menambah kejelekan Glenca di hadapan Adeline.
Sementara di kamar rahasia yang Glenca tinggali, gadis itu sama sekali belum bangun. Tidurnya lelap dengan sebuah selimut yang membungkus tubuh polosnya.
Di sofa, Ethan duduk santai sambil menikmati batang rokoknya dengan pemandangan Glenca yang tertidur lelap. Beberapa hidangan sarapan sudah siap di atas meja. Tapi, Ethan tak menyentuhnya sama sekali.
Asap mengepul di udara ketika Ethan menghembuskan dari mulutnya. Sebuah smirk tipis terukir di bibirnya, dengan mata yang tak sedikitpun berpaling dari Glenca yang tengah tertidur. Hingga satu panggilan di handphonenya membuatnya berpaling sejenak.
"Katakan!" ucapnya tanpa basa basi setelah menjawab panggilan dari Mickey.
"Kau terdengar tak suka aku menelpon."
"Mickey?" Suara Ethan rendah penuh peringatan, berhasil membuat Mickey terkekeh karena sukses membuat Ethan kesal.
"Hehehe... aku hanya ingin memberitahumu, Katty tiba sekitar 3 jam lagi. Jangan menyuruhku untuk menjemputnya. Aku tidak sanggup menghadapi wanita gila. Apalagi Mike tidak ikut. Kalaupun Mike ikut, aku pasti akan memilih untuk tidak ikut menjemputnya."
"Tidak perlu menjemput."
"Sungguh, Eth? Kau—"
Panggilan langsung terputus sepihak. Ethan tidak tahan dengan tingkah berisiknya Mickey. Untungnya sedang tidak bersama Martin dan Mike. Dua orang itu juga sama berisiknya.
Menaruh asal handphonenya, Ethan kemudian menekan ujung batang rokok ke dalam asbak, lalu beranjak mendekati ranjang. Ia duduk tepat di samping Glenca yang terlelap. Tangannya terulur menyentuh wajah gadis itu.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Ethan. Matanya terus tertuju pada Glenca yang terlihat sedikit lebih kurus.
"Emm...." Glenca bergumam pelan dalam tidurnya. Dia lalu menepis tangan Ethan yang bertengger di pipinya.
"Kau brengsek Ethan!" ucapnya dengan mata yang masih terpejam.
Ethan terkekeh. Bahkan dalam tidur pun Glenca masih memakinya.
Ethan mendekatkan wajahnya, lalu memberi satu kecupan di bibir Glenca. "Bibirmu ini harus di beri pelajaran," ucapnya lalu lanjut mencium Glenca.
Tindakan Ethan jelas mengusik tidur nyenyak Glenca. Gadis itu terbangun dan langsung mendorong wajah Ethan, lalu kembali tertidur membelakangi lelaki itu.
"Kau semakin berani..." bisik Ethan pelan tepat di telinga Glenca.
"Kau selalu mengusik ku saat aku tidur. Aku sangat lelah."
Ethan tersenyum tipis. Sikap Glenca yang seperti ini membuatnya jadi tak rela untuk menyerahkan gadis itu ke adiknya, Adeline.
"Bangun dan bersihkan dirimu. Hari ini kau kembali bekerja."
Glenca berbalik dan langsung bangun terduduk. Tangannya dengan erat menahan selimut yang menutupi tubuh polosnya.
"Sungguh? Tuan tidak berbohong kan?"
"Hm. Cepatlah."
Glenca langsung mengangguk. Dia segera ke kamar mandi sambil tetap melilitkan selimut ke seluruh tubuhnya.
Ethan hanya memperhatikan Glenca yang sedikit kesulitan berjalan karena ulahnya, juga karena selimut yang terlalu merepotkan nya. Senyum tipis terukir di bibirnya, sebelum akhirnya lenyap di gantikan dengan ekspresi datarnya.
"Aku sepertinya terlalu banyak tersenyum akhir-akhir ini," gumamnya pelan.
Ethan kemudian melangkah ke arah lemari. Ia segera mengganti kimono yang ia kenakan. Ethan juga mengeluarkan stelan baju pelayan juga dalaman yang nantinya Glenca gunakan.
Setelah selesai mengenakan pakaian, Ethan berbalik ke arah sofa dan duduk santai disana. Ia kembali menyalakan rokoknya sambil menunggu Glenca selesai membersihkan diri.
Klek
Pintu kamar mandi terbuka sedikit. Glenca menyembulkan kepalanya di antara celah pintu yang terbuka, hanya wajah yang terlihat, sementara seluruh tubuhnya berada di balik pintu.
"Tu-Tuan," panggil Glenca dengan nada suara gugup.
Ethan hanya berdehem pelan. Mata tajam yang sempat fokus pada layar handphone kini beralih menatap ke arah kamar mandi.
"Ada apa?" tanya Ethan tenang, nada suaranya tanpa emosi.
"A-aku... aku bisa minta tolong antarkan kimono—"
"Tidak ada kimono. Aku sudah mengenakannya tadi."
"Handuk?"
Tatapan Ethan menjadi lebih tajam. Ia beranjak dan berjalan mendekat ke arah Glenca, membuat Glenca dengan cepat menutup pintu kamar mandi.
"Glenca?" Suara Ethan terdengar berat, dipenuhi nada tak suka. Glenca tahu, Ethan pasti tidak suka karena ia menutup pintu.
"Kau ingin terus tinggal di kamar mandi?" tanya Ethan.
"Tidak. Aku tidak ingin terus tinggal disini. Karena itu aku minta tolong pada Tuan untuk membawakan handuk. Selimut yang aku gunakan tadi basah. Tidak bisa ku gunakan lagi."
Ethan tersenyum miring. "Apa keuntungan ku jika aku membawakan mu handuk?"
"Tidak ada keuntungan yang khusus. Tapi, Tuan tahu, aku akan menuruti apa kata Tuan. Bukankah aku sudah berjanji? Untuk kali ini, aku minta tolong pada Tuan."
Ethan tersenyum cukup lebar mendengar ucapan Glenca. Dia berbalik, berjalan ke arah lemari, meraih handuk dan kembali mendekati kamar mandi.
"Sudah ku bawakan. Buka pintunya."
Glenca menggigit bibirnya, cukup merasa ragu untuk membuka pintu. Ethan adalah orang yang tidak bisa ditebak. Ia takut Ethan malah mengerjainya.
"Glenca?"
"Tuan sungguh sedang tidak mengerjai ku?"
"Kau meragukan ku?"
"Tidak! Tapi—"
"Buka pintunya, Glenca!"
Glenca menarik nafasnya panjang. Dia lalu memutuskan untuk membuka pintu kamar mandi, sedikit, cukup untuk meloloskan tangannya keluar agar bisa meraih handuk yang Ethan berikan.
Melihat tangan Glenca yang menjulur, Ethan langsung menyerahkan handuk, sedikit membiarkan tangannya menyentuh tangan—putih, mulus, dan lembut—milik Glenca.
Dan seketika otaknya memikirkan berbagai macam adegan penuh keringat yang belakangan ini sering ia lakukan bersama Glenca. Senyum tipis terukir di bibirnya. Dia baru sadar setelah mendengar bunyi pintu yang tertutup.
"Cepatlah! Jam kerjamu sudah lewat satu jam," ucap Ethan, lalu berbalik menuju sofa.
Ethan duduk terang sambil terus memperhatikan pintu kamar mandi. Tak berapa lama pintu tersebut terbuka, Glenca keluar dengan handuk yang melilit tubuhnya, menutupi bagian dada—yang ternyata masih sedikit terekspos dan memperlihatkan bekas-bekas cumbuan Ethan, juga bagian bawahnya yang hanya tertutup hingga pertengahan paha. Sisanya terekspos dengan jelas.
Glenca sangat malu. Wajahnya memerah, namun ia tetap berjalan sambil terus menunduk. Dia tidak berani mengangkat wajahnya.
"Kemarilah!" Suara Ethan terdengar sangat jelas. Tapi Glenca justru pura-pura tak mendengarnya. Dia baru berhenti setlah Ethan mengulang ucapannya.
"Kau sengaja?" tanya Ethan, terselip nada tak suka dalam pertanyaan tersebut.
Glenca menggeleng pelan. "Maaf. Aku—"
"Kemarilah!"
"Tapi, aku belum mengenakan—"
"Handuk itu sudah cukup menutupi tubuh kecilmu."
Pria sialan! Kalau tahu tubuhku kecil, kenapa kau justru merusaknya? Sekarang pun aku merasa semakin kurus, dan itu karena ulahmu sialan!Maki Glenca dalam hati.
"Glenca?"
"Aku datang," sahutnya pelan. Dia mendekati Ethan dan langsung ditarik lelaki itu untuk duduk di atas pangkuannya.
Glenca terkejut. Selain dalam kegiatan panas mereka, Ethan tidak pernah memangkunya. Ini adalah yang pertama kalinya setelah pernah sekali di awal ia datang ke Mansion ini.
Jantung Glenca berdetak lebih cepat. Ada setitik perasaan yang tidak bisa ia jelaskan, tak bisa ia pahami—perasaan seperti apa itu? Terlebih ketika Ethan melingkarkan kedua tangan di pinggang rampingnya, memeluknya sedikit erat, saat itulah perasaan tersebut semakin kuat. Namun, Glenca tidak benar-benar paham, perasaan seperti apa yang tengah ia rasakan saat ini.
"Tuan—"
"Sarapan ini, mana yang ingin kau makan lebih dahulu?"
Tatapan Glenca langsung tertuju pada semua hidangan yang tertata di meja kecil tersebut. Beberapa detik kemudian, ia memutuskan untuk memilih pancake yang terhidang.
"Aku ingin pancake."
"Baiklah. Aku akan menyuapi mu."
"Ti—"
"Aku tidak meminta pendapatmu."
glecha sabar yaa,mansion menunggu mu😂😂😂
pasti kangen banget tuh sama glencha🥰
katty masih aja sombong, padahal ethan udh cuek🤔
duh glencha udh ada yg deketiin aja nih, klo ethan tau pasti ambyar🤣🤣🤣
semangat thor, aku selalu menanti chapter selanjut nya😄😄😄😄