Mikayla, wanita pekerja keras yang telah mengorbankan segalanya demi keluarga, justru terbaring sendiri di rumah sakit karena sakit lambung kronis akibat kelelahan bertahun-tahun. Di saat ia membutuhkan dukungan, keluarganya justru sibuk menghadiri pernikahan Elsa, anak angkat yang mereka adopsi lima tahun lalu. Ironisnya, Elsa menikah dengan Kevin, tunangan Mikayla sendiri.
Saat Elsa datang menjenguk, bukan empati yang ia bawa, melainkan cemooh dan tawa kemenangan. Ia dengan bangga mengklaim semua yang pernah Mikayla miliki—keluarga, cinta, bahkan pengakuan atas prestasi. Sakit hati dan tubuh yang tak lagi kuat membuat Mikayla muntah darah di hadapan Elsa, sementara gadis itu tertawa puas. Tapi akankah ini akhir cerita Mikayla?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Dekranasda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Keluarga
Sesampainya di dalam, mereka menaiki tangga menuju kamar Mikayla. Saat mereka sampai di depan pintu kamar, Mbak Kiki menoleh sambil menatap Mikayla dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Non... kok kelihatannya agak kurusan, ya?"
"Biasalah, namanya juga habis sakit," sahut Dinda ringan, sambil membuka pintu kamar.
"Iya juga, sih," gumam Mbak Kiki pelan.
Setelah menaruh barang-barang di lantai kamar, Bi Nini dan Mbak Kiki berpamitan.
"Kalau gitu, kami turun dulu," ucap Bi Nini penuh perhatian.
"Iya, makasih, Bi... Mbak Kiki," balas Mikayla pelan.
Begitu pintu tertutup, kini hanya tersisa Mikayla dan Dinda di kamar luas itu. Mikayla berjalan pelan menuju mejanya, lalu menarik kursi dan duduk. Matanya menatap meja kerja yang beberapa hari ini tak ia sentuh.
Dinda mengangkat alis, lalu mengikutinya pelan, "Kamu mau ngapain, Kayla? Bukannya istirahat dulu?" tanya Dinda sambil meletakkan tas di sofa kecil.
"Em, aku mau gambar dulu," jawab Mikayla seraya mengambil pensil mekanik dan kertas gambar. "Mau ngedesain perhiasan sebelum pergi ke Paris."
Mikayla menarik laci mejanya dan mengeluarkan sebuah buku sketsa yang penuh desain indah. Ia menyerahkannya pada Dinda.
"Ini desainku sebelumnya. Jangan lupa daftarin hak ciptanya, ya."
Dinda menerima buku itu dengan dua tangan, mengangguk mantap. "Siap, bos."
Mikayla lalu mulai menggambar di lembaran baru, tangannya lincah membentuk garis-garis yang teratur. Dinda masih berdiri di dekatnya, memperhatikan.
"Kamu gambar apa lagi, Kayla?"
"Desain baru. Ini mau kukirim ke Miss Grace. Beliau ingin ikut sertakan desainku di acara L'Éclat International Jewelry Showcase di Paris."
Dinda tercengang. "Itu acara bergengsi banget, kan?"
"Iya. Sebelum aku berangkat, aku pengin kamu urus pendaftarannya juga. Desain ini belum dipatenkan."
"Baiklah, nanti aku urus."
Mikayla hanya mengangguk tipis.
"Kamu, istirahat dulu sana. Tunggu aku selesai gambar," ujarnya sambil terus menggoreskan pensil.
"Siap, Bos Mikayla," jawab Dinda sambil merebahkan diri di kasur, menggulung bantal kecil dan menatap Mikayla yang begitu fokus.
Suara gesekan pensil di atas kertas menjadi satu-satunya suara yang terdengar.
Beberapa menit berubah menjadi hampir satu jam. Sunyi mengisi kamar Mikayla, hanya terdengar suara gesekan pensil yang menari di atas kertas. Mikayla duduk bersila di kursinya, tubuh sedikit membungkuk ke meja kerja yang dipenuhi sketsa. Di sisi tempat tidurnya, Dinda sudah tertidur pulas, dengan selimut ringan yang menutupi kakinya. Lampu meja menyala hangat, menyoroti wajah serius Mikayla.
Tong sampah di sisi kanan meja sudah penuh dengan gulungan kertas. Beberapa lembar bahkan tergeletak sembarangan di lantai, hasil revisi yang tak memuaskan. Mikayla menghela napas pelan setiap kali merasa desainnya tak sesuai harapan. Namun, ia tidak menyerah.
Akhirnya, setelah coretan terakhir tertuang dan garis terakhir ditarik, senyum tipis muncul di wajah Mikayla. Tangannya berhenti, lalu ia meletakkan pensilnya, meregangkan leher yang sedikit kaku. Ia menatap hasil kerja kerasnya, tiga lembar desain perhiasan yang menurutnya paling layak dikirim ke Miss Grace untuk dipilih salah satunya untuk disertakan dalam ajang internasional di Paris, sedangkan sisanya ia jual di toko nya.
Mikayla bangkit perlahan dan mendekati Dinda.
“Din… Dinda…” panggilnya lembut sambil menyentuh lengan sahabatnya itu.
Dinda menggeliat sebentar, lalu membuka matanya yang masih berat. “Hmm? Udah selesai, Kay?” gumamnya sambil duduk perlahan, mengucek matanya yang masih sayu.
Mikayla mengangguk dan tersenyum. “Coba lihat, bagaimana menurutmu?”
Ia menyodorkan beberapa lembar kertas kepada Dinda. Dinda menerima dan menatapnya satu per satu dengan mata yang kini membulat karena terkesima.
“Ya ampun… Kayla… ini… ini indah banget,” ucapnya pelan. “Beneran, ini cantik semua. Liat yang ini, kalung dengan ukiran bentuk angsa dan butiran permata di lehernya… siapa yang bisa nemu ide kayak gini?”
“Angsa melambangkan keanggunan dan kesetiaan,” jawab Mikayla pelan, duduk di sampingnya. “Aku ingin sesuatu yang bukan hanya sekadar indah, tapi juga punya makna.”
“Dan ini, yang gelangnya… ada ukiran seperti ranting kecil, terus ada batu kecil di ujungnya. Ini lucu banget. Elegan, tapi nggak norak,” Dinda terus memuji sambil membalik kertas desain.
Mikayla tertawa kecil. “Itu namanya Whisper of Nature. Terinspirasi dari daun gugur yang aku lihat waktu masih dirawat di taman rumah sakit.”
Dinda mengangguk dengan kagum. “Gila sih, ini harus banget di daftarin. Kalau nggak, bisa-bisa ditiru orang. Oke, yang ini aku daftarkan ya. Terus yang sebelumnya juga.”
“Iya,” Mikayla tersenyum puas. “Terima kasih ya, Din. Selalu bantu aku.”
Dinda menatap Mikayla, lalu menggenggam tangannya. “Sama-sama. Aku bangga sama kamu.”
Dinda tersenyum, hangat dan tulus.
Di lantai bawah mansion keluarga Wicaksono, aroma masakan khas Bi Nini mulai menyebar memenuhi udara. Bi Nini tampak sibuk di dapur, menyiapkan berbagai hidangan untuk menyambut kedatangan para majikan tercinta.
Tiba-tiba, terdengar suara pintu depan dibuka. Dengan gesit, Bi Nini berlari ke arah ruang tamu.
“Selamat datang, Tuan, Nyonya, Tuan Muda dan nona muda,” ucap Bi Nini sambil membungkuk sedikit dengan penuh hormat.
Julio mengangguk tenang. Vivi melepaskan syal di lehernya lalu berkata, “Mikayla mana, Bi?”
“Sudah di rumah dari tadi, Nyonya. Nona Mikayla ada di kamarnya di lantai atas. Datangnya hanya bersama Nona Dinda,” jawab Bi Nini, masih dengan senyum setianya.
Mendengar itu, Kevin yang berdiri di samping Julio langsung berinisiatif, “Biar aku saja yang ke atas, aku ingin...”
Namun Elsa cepat-cepat memegang lengannya, menghentikannya dengan lembut.
“Biar aku saja yang naik, Kak.” ucap Elsa pelan, suaranya lembut dan matanya tampak berkaca-kaca namun penuh keteguhan.
Vivi memandang Elsa dengan sedikit ragu, “Elsa… kamu yakin?”
Elsa tersenyum tipis. “Ya, Ma. Ini kesalahan Elsa waktu itu.”
Julio dan Vivi saling berpandangan sejenak. Ryan dan Nathan hanya mendesah, belum bisa menebak bagaimana situasi akan berkembang. Akhirnya, mereka setuju.
“Oke, kamu saja yang naik. Kami tunggu di ruang makan,” ujar Julio akhirnya.
Elsa mengangguk mantap. “Iya, Papa.”
Mereka semua kemudian beranjak ke ruang makan, menunggu sambil berbincang ringan. Sementara itu, Elsa menaiki anak tangga satu per satu.
Di depan pintu kamar Mikayla, ia mEngangkat tangannya dan mengetuk pelan.
Tok... Tok...
Di dalam kamar, suara ketukan membuat Mikayla dan Dinda langsung menoleh.
“Sepertinya keluargamu sudah datang,” gumam Dinda sambil bergegas merapikan gambar-gambar desain perhiasan Kayla dan memasukkannya ke dalam tas nya.
Mikayla berdiri dan berjalan ke pintu. Wajahnya tenang, namun sorot matanya dingin dan tak menunjukkan emosi.
Begitu pintu dibuka, wajah mungil Elsa langsung tersenyum lembut padanya.
“Kak Kayla...” sapa Elsa dengan suara pelan dan penuh harap.