Menikah adalah impian setiap wanita, tak terkecuali Tiyah Citanin, seorang wanita dewasa berbadan gemuk. Umurnya telah 28 tahun, ia tak memiliki tambatan hati, jadi belum ada yang melamar hingga sekarang.
Dilamar oleh seorang pria yang pertama kali ia lihat, pemuda tampan dengan mobil keren. Tak terlalu berpikir panjang, ia meneruskan kesalahpahaman keluarganya dengan menerima lamaran pria itu.
Pria yang ia nikahi terlalu misterius baginya, ataukah ... ia yang terlalu sering salah paham? Pernikahan mereka dibumbui dengan kesalahpahaman satu sama lain.
Hingga sebuah kenangan dimasa kecil muncul di kepala Tiyah. Janji untuk selamanya bersama.
Apakah pernikahannya akan berlangsung lama? Atau ia mencari pria di masa kecilnya?
Mari simak cerita ini! Karya orisinil Rozh! Hanya ada di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Juli 1995
Aya masih melambaikan tangannya, begitupula dengan Gibran juga melambaikan tangannya, sampai mobil mereka menghilang dari pandangan. Entah kenapa anak perempuan itu berwajah sedih sejak kepergian Gibran.
“Ambilah ini, sepertinya tadi Tuan Muda Gibran lupa memberikannya kepadamu, Sayang.” ucap Nek Romlah sambil memberikan bingkisan kepada Aya.
Aya langsung tersenyum puas. Ia segera menyembunyikan hadiah itu kedalam kantongnya dan memukul bahu Nurhasanah.
“Apa lihat-lihat! Dia cuma kasih buat aku, gak ada buat mu!” ucapnya dengan sombong pada Nurhasanah.
“Nenek yakin, cuma satu aja hadiahnya? Gak ada buatku gitu?” tanya Nurhasanah.
“Iya, cuma satu Nur. Mungkin Nak Gibran Lupa. Ini aja juga karena ketinggalan. Makanya nenek berikan. Nanti saat datang ke desa lagi, pasti dia bawa banyak hadiah untuk kalian.” bujuk Nek Romlah agar anak perempuan itu tidak menangis karena cemburu kepada temannya.
Aya menjitak kepala Nurhasanah. “Ayo kita pulang Nur. Nanti kita harus mengaji sama Kong Kimin. Kalau telat, bisa dihukum bawa air 10 ember.” Aya berkata kepada Nurhasanah mengajaknya pergi.
“Kami pamit dulu Nek. Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikumsalam.” jawab Nek Romlah dengan tersenyum kepada mereka.
Gibran teringat kembali jepit rambut yang belum ia kembalikan kepada Aya saat ia berada didalam mobilnya yang telah jauh meninggalkan rumah Nek Romlah. Ia menggenggam jepit itu.
“Tenang saja, aku akan membawamu kehadapan pemilikmu lagi. Saat aku liburan nanti.” Ia berkata kepada jepit rambut itu. Seolah jepit itu memahami apa yang ia ucapkan, ia terus-menerus menatap jepit rambut yang ada di genggamannya itu.
Beberapa jam kemudian mereka sampai dikota. Ia menceritakan pengalamannya selama 2 minggu ini di desa kepada Gina dan Gino. Mereka tidak percaya dengan semua cerita Gibran, bagi mereka Jesman dan kawan-kawannya adalah bocah nakal yang bodoh tapi sok pintar.
Menurut pengalaman Gino dan Gina beberapa tahun lalu berkunjung disana, anak-anak desa lebih bandel dari anak-anak kota. Bodoh dan memiliki pikiran yang udik dan kuno. “ITU TIDAKLAH BENAR!” teriak Gibran tak mau terima pendapat Gina dan Gino.
“Tidak semuanya bodoh, Kak. Jika mereka tidak mengetahui sesuatu bukan berarti mereka bodoh. Hanya saja mereka belum pernah diajari atau berpengalaman tentang itu. Iya kan, Ma?” Gibran berkata sambil meminta persetujuan ibunya, Getri.
Beberapa bulan telah berlalu.
Gibran sudah tidak sabar ingin bertemu Aya. Saat selesai ujian naik kelas ia pergi membeli bola dan robot power ranger berwarna merah untuk teman masa kecilnya itu.
Juli 1995.
Getri mendapatkan kabar kalau Desa Batukambing, desa kecil tempat tinggal Nek Romlah mengalami bencana alam.
Galodo, sebutan nama banjir besar itu. Bencana itu ditayangkan disebuah televisi, tepatnya saluran TVRI. Banjir yang membawa pohon-pohon serta sampah-sampah menghancurkan semua yang ia lewati. Hancur luluh lantah rumah penduduk, kebun, sawah, peternakan menjadi rata di desa ini.
Sungai yang kemarin air nya jernih kini telah melebar seperti danau. Airnya berwarna coklat keruh, mengeluarkan suara benturan batu-batu yang saling bertubrukan di dalam sungai itu. Kayu-kayu besar yang hanyut melintang membawa semua yang ia lewati dengan arus air yang kuat.
Begitu banyak kerugian, bukan hanya harta dan benda. Tapi, korban nyawa dari hewan dan manusia. Mushola Nurul Fallah tempat yang paling tinggi di desa itu telah penuh dihuni para penduduk yang selamat.
Ratapan tangis pilu menyayat hati, rapalan doa-doa kepada Allah juga mengiringi tangisan itu. Hanya doa dan pertolongan Allah yang mereka miliki sekarang.
Hujan memang anugrah, tapi jika hujan terlalu lama akan menjadi sebuah bencana. Sebenarnya hujan tidak pernah salah. Mungkin saja yang salah adalah manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab menggunduli bukit-bukit dan gunung.
Sehingga saat hujan datang, tiada yang menampung tumpahan air yang jatuh dari langit itu.
Mushola yang selalu ramai dengan suara anak-anak yang sedang belajar mengaji setiap sore itu, kini berganti menjadi tangisan demi tangisan. Kehilangan ibu dan bapak, kehilangan anak, kehilangan sanak keluarga.
Pedih, tak berdaya. Saat melihat rumah yang mereka perjuangkan hancur. Sakit tak berdarah, melihat penduduk hanyut. Walaupun hampir semua penduduk desa bisa berenang.
Apalah daya... Jika berenang melewati bebatuan yang bergulir, kayu-kayu yang besar serta sampah-sampah yang hanyut dengan air. Hanya takdir dan pertolongan Allah yang mampu menolong.
Tangisan Getri pecah saat ia menonton berita itu disiarkan malam hari setelah adzan isya dikumandangkan di televisi itu.
Kejadian itu telah berlalu selama 3 hari yang lalu. Tapi reporter, wartawan dan relawan baru bisa memasuki tempat kejadian dan mendapatkan berita tadi siang.
Dikarenakan cuaca hujan terus menerus mengguyur. Air yang besar memutuskan jembatan penghubung jalan antar desa. Setelah air surut, barulah relawan berani menyebrang menggunakan perahu.
Para relawan membantu korban yang hidup, banyak diantara mereka menderita demam dan flu. Mereka kedinginan dan kelaparan. Bantuan yang diberikan para relawan sangat bermanfaat bagi mereka. Rasa syukur mereka ucapkan kepada Allah tiada hentinya.
2 minggu kemudian.
Banyak perantau yang mulai pulang kampung mengunjungi dan memantau keluarga mereka yang menjadi korban bencana. Bahkan salah satunya juga Getri.
Gibran merengek ingin pergi bersama ibu dan ayahnya. Tapi keinginannya dilarang keras oleh ayahnya, Hendru. Ia menangis, ia ingin bertemu dan melihat keadaan teman masa kecilnya itu.
“Sayang, jika kamu ikut ini sangat berbahaya. Mungkin kamu tidak akan bisa bertemu dengan temanmu itu. Walaupun sekarang air sudah surut. Tapi banyak jalan yang putus dan tanah longsor disekitar desa.”
“Mama dan Papa akan mencari temanmu itu. Jadi, dirumah saja ya! Ada Bibi, kak Gino dan Gina dirumah.” Getri berusaha membujuk Gibran.
Cukup lama Getri dan Hendru membujuk Gibran. Akirnya Gibran mengizinkan mereka pergi dengan berjanji akan memberikan bola dan robot itu kepada Aya.
Setelah Getri dan Hendru sampai didesa dengan penuh perjuangan bersama team yang lain. Penduduk mengejar mereka. Menangis menerima bantuan mereka penuh syukur.
Getri dan Hendru berkeliling mencari Nek Romlah ditempat pengungsian disekitar Musholla Nurul Fallah itu. Bahkan ia mencari di Mushola itu juga. Berharap sang nenek dan cucunya sedang mengaji di dalam.
Hanya orang lain di dalam. Mereka terus mencari bahkan ikut menelusuri sungai dan tempat yang telah surut dari banjir itu. Hingga sore pun tiba, beberapa relawan memopong 3 orang mayat yang mereka temukan.
Getri mulai melihat mayat itu satu persatu. Tangis Getri keluar, ia segera memeluk Hendru suaminya. Salah satu mayat itu adalah Nek Romlah, keadaan tubuhnya patah-patah.
Getri menangis tersedu-sedu, mengatupkan kedua bibirnya agar tidak mengeluarkan suara tangisan. Tapi hidungnya tidak bisa berbohong, hidung itu mengeluarkan suara tangisan yang dipendam.
Kemudian ia berdiri dibantu Hendru. “Sabar Istriku, sekarang kita harus mencari Dimas cucu Nek Romlah dan Aya teman Gibran.” ucap Hendru sambil memeluk dan mengusap kepala istrinya itu.
BAGUS TU KHALIL DINIKAHIN, BIAR GK PLAYBOY LGI..
BARU TAU LO DICKY KLO SUAMI TIYAH LVLNYA DI ATAS LO.. DN TU GIBRAN SUDH MNCINTAI TIYAH SEDARI KECIL, KRN TIYAH ALAMI SUATU MASALH SAAT BNCANA BANJIR HINGGA LUPA GIBRAN, LUPA DIMAS, HINGGA TIYAH BNYK MNTAN COWOK TRMASUK SI DICKY YG PRMAINKNNYA..
MSKI TIYAH MNOLAK DICKY MNTAH2, TPI TIYAH TTP SALAH KLUAR BRTEMU DICKY TNPA IZIN.. DN SI DICKY KIRA SI KHALIL SUAMI NYA TIYAH, PNTAS SI DICKY BLANG KLO KHALIL BKN LKI2 BAIK2 KRN KHALIL PLAYBOY.. JDI DICKY BLG SUAMI TIYAH BKN LKI2 BAIK..
TPI LO YG DEKATI DN RAYU ISTRI ORG DN INGIN JDI PEBINOR APA LKI2 BAIK, DN LO DLU JUGA JDIKN TIYAH CWEK TARUHAN
APA KIRA2 JAWABN GIBRAN..
TPI SBAGAI ISTRI. DN SBAGAI WANITA BRSUAMI, TK PANTAS BRJALAN DGN LAKI2 YG BUKAN MAHRAMNYA, BHKAN TNPA DITEMANI, DN TNPA IZIN SUAMI.. APAPUN ALASAN NYA APA YG DILAKUKN TIYAH TTP SALAH... KRN MMBERIKAN CELAH PEBINOR DLM RMH TANGGA NYA
DN GIBRAN, KNP GK DICKY YG LO HAJAR, LO SAMPERIN TU KPRUASAHAANNYA..
INI KHALIL & DIMAS YG LO HAJAR..
DN LO JELASIN JUGA TU K TIYAH SIAPA TU RAYA..
TRUS KNP GIBRAN GK PEKA DGN TIYAH,, NTAR TIYAH BLAS SAMA DICKY, MKIN RUNYAM..