Pagi yang cerah dengan jalanan ibu kota yang padat dengan kendaraan. Terdapat satu keluarga dengan seorang anak gadis yang sangat cantik.
Kehidupan mereka sangat bahagia sampai akhirnya ada satu kejadian yang di harus kan ayah dari gadis itu di penjara.
Setiap hari gadis itu mendapatkan bully di sekolah karena ayah nya yang berada di dalam penjara. Sampai akhirnya dia bertemu salah satu pria yang menemani dia saat semua orang menghinanya.
Pria itu sangat baik, tetapi dari kebaikan nya itu ada maksud tersendiri, sampai akhirnya gadis itu mengetahui apa maksud pria itu mendekati nya.
Sampai pada suatu hari ayah dari gadis itu akhir nya bebas dari tuntutan yang membuat gadis itu sangat senang, tetapi kesenangan itu tidak berlangsung lama gadis itu harus menuruti perkataan orang tuanya.
Dia harus menikah dengan seorang pria yang sudah di tentukan oleh orang tua nya, pria itu ternyata satu sekolah dengan dia dan bisa di bilang musuh nya sejak awal masuk sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
“Pagi om, tante,” ujar Elfaro sopan sambil menyalami tangan kedua orangtua Adira.
“Dih sok banget,” gumam Adira dalam hati saat melihat Elfaro.
“Pagi Elfaro,” ucap kedua orangtua Adira.
“Udah sarapan El?” tanya mamah Adira.
“Udah Tan, tadi udah sarapan.”
“Ya udah kalau gitu kamu makan rotinya sambil di jalan aja Dir,” ujar mamah Adira.
“Dih kok gitu sih mah?” protes Adira.
“Udah Dir, kasian Elfaro udah nungguin kamu,” ujar papah Adira. Dan Adira pun hanya menuruti saja.
“Kalau gitu kita berdua pamit dulu ya om, tan,” ucap Elfaro kepada kedua orang tua nya Adira sambil mencium tangan nya.
“Hati-hati ya nak,” ucap mamah Adira.
“Iya tan.”
Adira sudah keluar rumah terlebih dahulu, kemudia di ikuti Elfaro di belakangnya.
Saat berada di depan motor, Adira pun heran kenapa wajah Elfaro tidak seceria waktu di dalam rumahnya.
“El loe tuh di depan orangtua gue aja sok baik, tapi ke gue aja jutek?” tanya Adira kesal.
“Emang maunya gimana?” Elfaro memakai helmnya, dan naik ke motornya. Kali ini Elfaro membawa dua helm, untuk diri nya dan juga untuk Adira, calon istri nya.
“hemm... ya gitu” jawab Adira tidak terlalu peduli.
Kini Elfaro membuka tas nya dan mengambil jaket kulit milik nya.
“Nih!!” Elfaro memberi jaket dan helm nya kepada Adira.
“Hemm..” Adira hanya berdehem.
Adira hanya memakai jaket yang di berikan oleh Elfaro, tetapi tidak dengan helmnya, dia tidak memakai helm yang tadi di berikan oleh Elfaro.
“Naik!”perintah Elfaro agar Adira menaiki motornya.
Adira tidak menjawab sama sekali ucapan Elfaro, ia langsung naik ke atas motor Elfaro.
Saat Elfaro melihat Adira dari kaca spion nya...
“Di pakai helmnya, bukan cuman di pegang doang,” ucap Elfaro ketika melihat Adira hanya memegang helm itu, bukannya di pakai malah di pegangin saja.
“Gue gatau cara pake helm gimana”, jawab Adira cengengesan.
“Buset loe ini pakai helm aja kagak bisa,”ucap Elfaro kaget.
Elfaro pun memberhentikan motornya dan turun dari motor itu, Adira ingin turun juga tapi di tahan oleh Elfaro.
“Ga usah turun!”ujar Elfaro yang menahan Adira agar tidak turun.
Lalu Elfaro memakaikan helm di kepala Adira. Tanpa mereka sadari, saat ini mereka sedang tatap tatapan.
“Datar banget sih mukanya, tapi ganteng juga. Enggak nyangka yang awalnya musuh gue, sekarang jadi calon suami gue,” ucap Adira dalam hati.
“Lucu sekali calon istriku ini,” batin Elfaro.
“Udah.”
“Besok-besok enggak usah pakai motor lagi ribet tau,” kesal Dira, karena dia tidak tahu cara pakai helm.
Elfaro tidak menjawab sama sekali perkataan Adira, ia langsung naik lagi ke motornya dan jalan menuju sekolah.
Di perjalanan.....
“Mau sarapan enggak?” tanya Elfaro.
“Hah?” ucap adira tidak bisa mendengar jelas apa yang di ucap kan Elfaro. "Nanti aja di sekolah,” jawab Adira. Elfaro pun tidak menjawab apa pun lagi.
Lama di perjalanan...
“Pegel naik motor, besok-besok enggak usah naik motor lagi,” teriak Adira.
“Pegangan!!” teriak Elfaro.
“Enggak mau," tolak Adira.
“Nanti kamu jatuh."
Tanpa menunggu waktu lama Elfaro langsung menarik tangan Adira untuk memeluknya dari belakang. Tangan Adira yang di tarik Elfaro pun tidak bisa berkutik, yang saat ini Adira rasakan hanya lah kenyamanan.
“Hangat ” gumam Adira, tapi tidak terdengar jelas oleh Elfaro.
“Apa?” tanya Elfaro.
“Enggak” teriak Adira.
“Untung Elfaro enggak denger,” batin Adira.
“Ini ternyata bukan mimpi ya Tuhan, ini benar-benar nyata,” batin Elfaro gembira.
Setelah setengah jam diperjalanan menuju sekolah, akhirnya mereka berdua pun sampai di sekolah.
*Parkiran sekolah
Elfaro memakirkan motornya
Banyak sepasang mata melihat ke arah Elfaro dan Adira, lalu mereka berbisik-bisik. Tetapi keduanya tidak menghiraukan mereka.
Di saat itu juga terdapat Zahra yang melihat Elfaro dan Adira, saat ini Zahra kembali seperti awal dia tidak memiliki teman, Ica dan Aliya sudah di maafkan oleh Adira dan mereka berteman seperti dulu lagi. Sudah tidak ada kata musuh di antara mereka bertiga.
Zahra yang melihat itu sangat panas, bagaimana bisa Elfaro berangkat bareng bersama Adira, bukan kah Adira sudah memiliki pacar? Zahra tidak mengetahui tentang hubungan Adira dan Alfino yang sudah selesai, memang tidak banyak orang yang tahu.
Adira pun turun dari motor Elfaro.
“Nih helmnya,”ucap Adira sambil memberikan jaket dan helm nya kepada Elfaro.
Elfaro pun turun dari motor, ia hanya mengambil helm dan menaruhnya di atas motor.
“Ini jaketnya juga,” ucap Adira sambil memberikan jaket itu.
“Bawa aja,” kata Elfaro singkat, jelas dan padat.
“Enggal mau ah ribet, bikin susah gue aja loe ini,” ucap Adira menaruh jaket itu di motor lalu pergi meninggal kan Elfaro.
“Eitss... tunggu dulu,” ucap Elfaro sambil menarik tas Adira. Tubuh Adira yang lebih kecil dari Elfaro, dengan entengnya Elfaro menarik Adira.
“Apa lagi sih?” kesal Adira.
“Sama-sama” ujar Elfaro langsung menarik tangan Adira berjalan masuk ke dalam sekolah, dan menggenggam tangannya erat.
“Apaan sih El? lepasin!” pinta Adira karena dia risih banyak pasang mata yang memperhatikan mereka, namun Elfaro tidak menghiraukan perkataan Adira
Ketika mereka menuju kelas Adira tiba-tiba saja Alfino menahan mereka.
“Dir,” panggil Alfino.
“Apa?” sahut Adira.
Alfino yang melihat Elfaro menggenggam tangan Adira pun mengangkat satu alisnya seolah olah bertanya ada hubungan apa mereka berdua.
“Kenapa?” samber Elfaro.
“Aku mau ngomong sebentar sama kamu Dir,” kata Alfino.
“Enggak bisa,” dengan cepat Adira menolaknya.
“Sebentar aja Dir,” Alfino memohon.
“Apalagi sih yang mau di bicarakan, semuanya sudah jelas.”
“Aku mau jelasin, Dir.”
“Waktu untuk ngobrol udah habis,” Elfaro tiba-tiba buka suara.
Sontak Adira dan Alfino pun melihat ke arah Elfaro.
“Apaan sih El?” kata Adira.
“Apa hubungan loe sama Adira? kenapa loe jadi ngatur?” Alfino marah.
“Kenapa emangnya? Ada masalah sama loe? emang loe harus tau banget gue sama Adira ada hubungan apa? kan loe bukan siapa siapanya Adira lagi, jadi gue berhak deket sama Adira,” ucap Elfaro sambil terus menggenggam tangan Adira.
Alfino yang mendengar itu pun langsung pergi meninggalkan mereka, seolah dia sudah di buat malu oleh Elfaro dengan perkataan yang keluar dari mulutnya. Di tambah banyak sepasang siswa yang melihat kejadian tersebut dan salah satu di antara siswa itu terdapat Zahra yang saat ini di dalam pikirannya sedang bertanya-tanya ada hubungan apa Elfaro dan Adira, bagaimana mereka bisa sedekat itu?
akhir nya setelah lama menunggu Dira sadar juga.