"Cerai, atau kamu mau jadi yang kedua!"
Pagi itu Elena dan Arsen suaminya tengah melakukan sarapan bersama seperti biasanya, namun satu kalimat tanya dari Arsen sukses menghancurkan hati Elena berkeping-keping.
Arsen memiliki wanita lain yang ia cintai, dan Arsen akan menikahinya. Menduakan Elena yang sudah setia menunggunya selama dua tahun bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
#28
Sepeda yang kukayuh melaju kencang, melewati satu rumah dan beberapa rumah lain, bergerak menjauh dari komplek, menuju hutan taman.
Hari sudah sangat sore. Dan langit juga mendung, aku berhenti mengayuh saat sampai di jalanan memasuki hutan. Napasku terengah, lelah, tapi sakit hatiku mengalahkan segala rasa, Ingin masuk ke sana dan duduk pada gazebo kayu yang terletak di pinggir jalan.
Aku turun dari sepeda seperti orang tak bernyawa. Menangis tanpa suara, melepas pegangan tanganku pada sepeda hingga benda itu jatuh tergeletak begitu saja.
Kulangkahkan kakiku yang terasa berat diiringi deraian air mata, memejamkan kedua mataku menikmati perihnya hati oleh rasa kecewa. Terus melangkah.
Terkenang kembali kebersamaan yang dulu-dulu pernah kulalui bersama Kak Arsen. Kami yang bersepeda bersama, makan bakso bersama, kehujanan, main kembang api, belanja kebutuhan rumah bersama, juga malam di mana Kak Arsen menyentuhku sebagai istrinya. Dan kini, aku berjalan gontai seorang diri tanpa dirinya, bertemankan sepi, menghitung hari, menunggu ajal menjemputku pergi.
Tubuhku lemas, aku terjatuh terbaring di tengah jalan, samar-samar penglihatanku mulai buram, darah kembali keluar dari hidungku, dan rintik hujan menetesiku.
"Mah,,,, Pah,,,,"
Hujan turun semakin deras, aku menangis kencang dalam posisi yang sama, terbaring di jalanan dan aku tak berniat untuk berdiri, hutan nampak semakin gelap, suara hujan yang deras meredam segala suara yang ada termasuk tangisku.
Setelah langit benar-benar berubah malam. Aku bangun, duduk dan mengusap hidung yang masih menyisakan sedikit darah. Hujan belum juga berhenti. Namun rasa dingin yang menyergap tak mampu mengalihkanku dari rasa sakit hati.
Kuraih sepeda yang tadi tergeletak, dengan tubuh menggigil aku mulai menaikinya kembali, pulang.
Sesampainya di rumah, aku turun dan kubiarkan sepeda jatuh tergeletak begitu saja di halaman depan teras. Aku sangat kedinginan tapi ingatanku masih dipenuhi Kak Arsen.
Kulangkahkan kaki memasuki rumah dan aku masuk ke dalam kamar, kembali menangis menjerit dalam diam, teringat kalimat Kak Arsen yang mengataiku keterlaluan, aku sakit, tapi Kak Arsen tak percaya. Hatiku sangat sakit menerima semua kenyataan ini.
Darah kembali menetes, aku berdiri, menuju kamar mandi, membersihkan diri, mandi, kemudian berganti pakaian hangat, meminum beberapa butir obat, lalu membaringkan diri di atas ranjang, menarik selimut sampai batas leher.
"Kak Arsen,,,, jika kau tidak percaya dengan sakitku, mungkin kau akan percaya dengan kematianku," lirihku perih.
***
Kubuka mata lamat-lamat saat mendengar suara ketukan pintu kamarku. Diiringi suara teriakan memanggil namaku.
"Elena? Kau belum bangun? Elena?" itu suara Kak Arsen.
Kulirik jam yang ada di atas nakas. Pukul 11. Aku tidur selama itu? Tubuhku rasanya sakit semua, seakan tulang-tulangku dipatahkan bersamaan. Dan kurasakan sedikit demam. Tidak apa, aku memiliki obat yang lengkap.
Aku turun dari ranjang, menyingkap selimut berjalan malas ke arah pintu dan membukanya, Kak Arsen berdiri dan kami saling berhadapan.
"Haatcuh!" kututup hidung dengan kedua tangan cepat. Aku bersin.
"Kau sakit? Flue?" tangan Kak Arsen hendak menyentuhku dan aku menepisnya kasar. Masih marah dan sakit hati oleh sikapnya kemarin.
Aku keluar dari kamar melewatinya begitu saja, menuju dapur, menuang air putih, duduk di kursi meja makan, dan menenggak minuman itu hingga tandas.
"Kakak langsung menuju kemari setelah mengantar Nindy pulang."
Catat, setelah mengantar Nindy pulang.
"Ini, Kakak beliin kamu baju baru, ada sepatu juga."
Kulirik barang yang Kak Arsen keluarkan di kursi lain. Sebuah dress putih tanpa lengan dengan tali spageti sebagai penyangga di bahu, dan sepatu highheels warna nude.
"Sejak kapan aku memakai dress? Dan kapan Kak Arsen pernah melihatku memakai highheels?"
Gerakan tangan Kak Arsen terhenti. Menatapku yang kemudian memalingkan muka.
"Kau bisa memakai ini di hari resepsi pernikahan Kakak. Nindy yang memilihkannya khusus untuk kamu."
"Apa? Apa Kak Arsen sadar dengan apa yang Kak Arsen katakan?" aku sangat marah, mendengar pernyataan Kak Arsen yang sangat melukai hatiku.
"Elena, dengar dulu, Nindy itu sangat baik, dia sudah mau menerima kamu sebagai adiknya, tapi kenapa kamu bersikeras untuk bermusuhan dengannya, apa kamu tidak mau menghargai kebaikan yang Nindy berikan sedikit saja?"
'Cyack!' kulempar sebuah mangkuk kaca hingga pecah membentur dinding.
"ELENA!" tangan Kak Arsen terangkat, aku beringsut takut. Dan tangisku pecah. Kak Arsen hampir saja memukulku.
Ia memejamkan kedua matanya berusaha meredam emosi, menggenggam erat tangannya dan menurunkannya kembali.
"Belajarlah untuk menghargai orang lain, jika kau pun ingin dihargai, Kakak tidak akan pernah pulang sebelum kamu merenungi kesalahannu dan meminta maaf."
Kak Arsen melangkah pergi setelah mengatakannya. Aku hanya bisa menangis tergugu dengan semua ketidak adilan ini.
***
Sepanjang hari aku hanya melamun di meja kasir, seringkali melakukan kesalahan saat para pelanggan datang untuk melakukan transaksi pembayaran.
"Mbak, kembalian saya kurang 20 ribu, tapi mbak malah ngasih saya 50 ribu, mbak mau cafenya lama-lama bangkrut?" ujar ibu-ibu sambil tersenyum, guyon.
"Ah, maaf, Bu. Saya kurang fokus," kuambil uang 50 ribu dari tangan ibu itu dan menggantinya dengan 20 ribu.
"Makasih, ya, mbak. Kalau ada masalah, semoga cepat selesai, ya! Dan bisa fokus kembali dengan pekerjaannya!" ledek ibu itu masih mengulas senyum, aku hanya membalas senyum ibu itu seramah mungkin, tanpa berniat menimpali ucapannya.
"Ayo, Mi,,,, berhenti menggoda mbak kasir!" ucap Bapak-bapak yang kuyakin suaminya.
Kuulas senyum manis pada mereka berdua yang melangkah keluar dari pintu kaca keluar masuk, dan kembali melihat pada mesin kasir yang sudah tak dapat mengumpulkan konsentrasiku.
"Mbak Elena, kenapa?" tanya Hadi membawakan secangkir kopi.
"Terimakasih," ujarku menerima kopi yang Hadi bawakan.
"Apa ada yang mengganggu pikiran mbak Elena?" Hadi kembali bertanya dan menelisik.
"Tidak, aku nggak papa kok, Di,"
Hadi mengangguk meski nampak di raut mukanya ia tak yakin dengan jawabanku.
Segerombol pelanggan baru memasuki pintu kaca, tapi mereka adalah orang-orang yang sudah sangat familiar, Nindy dan teman-temannya.
Aku melihat tidak suka kehadiran Nindy, apalagi saat ia menatapku dengan sudut mata memicing, dan seutas senyum yang seolah mengejekku.
Hadi ternyata menyadari perang dingin di antara kami.
"Mbak,,,,"
"Hemm?"
"Nggak usah diladeni, mbak istirahat aja di ruang staf."
"Kau benar, sepertinya Mbak butuh tidur siang."
Aku dan Hadi melangkah bersama, aku menuju ruang staf, dan Hadi yang melangkah ke meja pantry.
"Pelayan!" teman Nindy melambaikan tangan ke arahku, Hadi mencegahku dan dia yang akan menangani mereka.
"Selamat siang, silahkan lihat buku menu, dan buat pesanan." ucap Hadi sopan. Sama seperti saat ia melayani pelanggan yang lain.
"Aku mau pelayan itu yang melayani kami." tunjuk teman Nindy padaku, dan tawa mereka menggema.
"Maaf, beliau bukanlah pelayan di cafe ini, tapi beliau adalah pemilik cafe ini, dan_"
"Pemilik?" Nindy angkat bicara, sambil menyedekapkan tangan sedada.
"Apa kau bercanda, pelayan? Pemilik dari cafe ini adalah suamiku, Arsen."
Hadi menggenggam erat tangannya. Aku tahu, emosinya terpancing. Dan aku segera mendekati mereka.
"Maaf, Nona. Tapi setahu kami, wanita yang menikah dengan Mas Arsen adalah Mbak Elena, bukan anda. Dan cafe ini, sudah berubah nama atas namanya."
"Hadi, cukup." aku sampai, menghentikan Hadi untuk tidak bicara lagi.
"Silahkan buat pesanan, saya yang akan melayani kalian."
'Byuurr,,,,'
Aku mematung, terkejut, air sudah membasahi wajahku oleh siraman dari teman Nindy.
"KAU!" Hadi emosi, dia menunjukkan tangan pada wanita yang menyiramku, Sisca dan Yoyo datang untuk memegangi Hadi.
Kami menjadi pusat perhatian para pelanggan.
"Kita cabut, guys. Aku sudah kehilangan selera untuk menikmati kopi di sini." ucap Nindy ketus.
"Oh,,,, pergilah. Selama kau ngopi di sini, juga Mas Arsen yang membayar, dasar wanita ja.lang tak tahu malu, merebut istri Elena dengan menjual tubuhmu." teriak Sisca yang semakin mengguncang ketenangan cafe, dan semua pelanggan terfokus pada kami.
"TUTUP MULUTMU,"
'Plak!'
Nindy menampar pipi Sisca. Melihatnya aku tidak terima. Dan aku pun menampar pipi Nindy balik.
'Plak!' tamparan balasan. Kuacungkan telunjukku tepat di hadapan wajah Nindy dengan raut amarah. Mereka semua terkejut melihat sikapku yang diluar dugaan.
"Kau bisa menyakitiku, melakukan apapun padaku, tapi tidak dengan sahabat-sahabatku. Jika kau berani menyentuhnya, maka aku tidak pernah takut untuk mematahkan tanganmu."
"Elena," lirih Sisca terbaru.
"Mbak Elena!" begitupun Yoyo.
"Kau akan menerima akibatnya karena berani menamparku, Elena. Kupastikan Arsen sendiri yang akan membalasnya." geram Nindy sambil menangis.
"Aku tunggu saat itu," tantangku berani.
Nindy dan teman-temannya keluar setelah membuat kekacauan, Sisca dan Yoyo meminta maaf pada para pelanggan lain karena suasana cafe yang kurang nyaman. Dan aku melangkah masuk ke ruang staf. Menangis.
'Brak!'
***
btw lanjut donk yg banyak up nya.
sayang kl nanggung