NovelToon NovelToon
Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:959.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: Komalasari

Kisah ini merupakan spin off dari novel berjudul : Pesona Tuan De Luca. Disarankan untuk membacanya juga, ya.

Love is blind. 𝚀uote yang cocok untuk menggambarkan hidup Adriano D’Angelo, bos mafia Tigre Nero yang memiliki jaringan terbesar di Benua Eropa. Dia jatuh cinta pada wanita bersuami, yaitu Florecita Mia.

Cinta yang begitu besar tak membuat Adriano mendendam, meskipun Mia telah menembaknya. Dia juga dibuang ke samudera oleh suami wanita itu. Adriano memilih menghilang dan menutup masa lalu.

Namun, takdir mempertemukan kembali dirinya dengan Mia yang telah menjanda. Wanita yang dulu pernah mencelakai, kali ini meminta bantuan Adriano untuk mengungkap pelaku dari pembunuh sang suami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

A Drop of Hope

Mia baru saja selesai menidurkan Miabella ketika pintu kamar putrinya dibuka secara paksa. Adalah Valerie yang berdiri di sana dengan tatapan tajam. Terkejut, Mia segera mengarahkan pandangannya kepada gadis yang kini tak lagi mengepang rambutnya. Meskipun merasa tak enak, tetapi Mia dapat mengerti sepenuhnya alasan Valerie begitu benci terhadap dirinya. Tentu saja, karena dialah yang telah menyebabkan Adriano terluka dan diperlakukan secara tidak manusiawi oleh Matteo beserta anggota klan de Luca lainnya.

“Katakan semuanya padaku!” Valerie berkata dengan demikian nyaring, sampai-sampai Miabella yang sudah tertidur tampak menggeliat pelan sambil meraba-raba tangan ibunya.

Mia kembali menepuk-nepuk pinggul Miabella dengan lembut, lalu menoleh kepada Valerie. “Bisakah kau pelankan suaramu? Kau boleh marah dan membenciku, tapi jangan lampiaskan hal itu terhadap Miabella. Dia masih kecil dan sama sekali tak tahu apa-apa,” ujar Mia lirih.

Memdengar jawaban dari Mia, seketika raut wajah Valerie berubah. Dia yang awalnya berdiri garang dengan tatapan tak bersahabat, segera menutup pintu kamar pelan kemudian berjalan mendekati Mia. “Bagaimana Ma ... Matteo de Luca bisa meninggal?” tanya Valerie dengan mata berkaca-kaca. Posisinya masih tegak berdiri menghadap Mia yang setengah berbaring di samping Miabella.

Mia tak segera menjawab. Diselimutinya tubuh mungil Miabella. Setelah itu, dia lalu berdiri sejajar dengan Valerie. “Suamiku. Ehm ... maksudku ... mendiang suamiku ditembak oleh orang tak dikenal saat kami baru saja keluar dari gereja di Milan,” terang Mia dengan sorot sendu.

“Sampai sekarang, kami belum berhasil mengungkap pembunuhnya. Oleh karena itu, aku meminta bantuan Adriano ....”

“Dengan cara menikahinya?” potong Valerie ketus. “Apa tujuanmu menikahi kakakku? Apa kau akan mencelakainya seperti dulu lagi?” cecarnya masih dengan nada bicara yang terdengar sangat tajam.

Mia menggeleng cepat. Setitik air mata terjatuh di pipinya. “Tidak! Jangan bicara seperti itu. Kau tak tahu bagaimana rasanya tersiksa oleh perasaan bersalah karena melukai seseorang, apalagi jika kau mengira bahwa orang itu sudah mati. Padahal nyatanya ....” Mia menunduk dan menghapus air matanya.

“Aku tahu, mungkin kematian suamiku adalah hukuman dari Tuhan akibat perbuatan tak manusiawi yang kami lakukan terhadap Adriano. Jadi, aku tak mungkin ... aku tak mungkin menyakitinya lagi,” Mia mende•sah pelan sebelum melanjutkan penjelasannya. Sementara Valerie terlihat sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya. Dengan sabar dia mendengarkan cerita Mia. Bagaimanapun juga, Valerie sempat mengenal sosok Mia yang baik dan lemah lembut.

“Aku meminta tolong kepada Adriano untuk menyelidiki kematian Matteo. Aku tahu dia memiliki kekuasaan yang tak terbatas di dunia hitam. Akan tetapi, aku tidak bisa meminta tolong tanpa memberikan imbalan apapun padanya, karena misi ini memiliki risiko yang sangat besar. Aku tak mau Adriano terluka lagi karena diriku. Itulah mengapa aku menawarkan diri untuk menjadi istrinya. Aku tak akan merasa leluasa untuk meminta bantuan padanya jika ... jika kami tak memiliki ikatan apapun. Setidaknya, aku akan tetap bersama Adriano jika situasi memburuk. Aku tak akan meninggalkan dan akan terus mengabdi padanya. Inilah janji dan harga yang harus kubayar untuk kebaikannya,” terang Mia. Sorot matanya terlihat begitu sendu sekaligus menyedihkan bagi Valerie.

“Adriano adalah kakakku. Meskipun kami tak dilahirkan dari rahim yang sama, tapi dia tetap kakakku. Aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk padanya. Aku juga tak akan tinggal diam seandainya kau hanya berniat untuk memanfaatkan kakakku. Beruntunglah karena aku sempat mengenalmu dulu, sehingga aku bisa memberikan sedikit kepercayaanku,” nada bicara Valerie sedikit melembut dan memudarkan sikap ketusnya tadi.

“Aku juga tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padanya, Valerie. Percayalah. Oleh karena itu, aku menawarkan diri untuk selalu berada di sampingnya. Selain untuk menebus rasa bersalahku, aku juga akan berusaha menjaga Adriano. Setidaknya, hanya inilah yang bisa kulakukan,” Mia kembali menunduk.

“Aku ....” kata-kata Valerie seakan tercekat. Dia harus menelan ludah dan mengusap mukanya untuk dapat melanjutkan kembali. “Aku juga sangat menyesali kepergian Matteo. Tak kusangka ... tak kusangka dia akan pergi secepat itu,” Valerie tak dapat menyembunyikan rasa harunya.

Tiba-tiba saja dia memeluk Mia dengan erat dan mengusap-usap punggung wanita cantik itu sedikit keras, lalu mengurai pelukannya begitu saja. “Baiklah, selamat datang di mansion. Nikmati waktumu di sini,” Valerie mengangguk salah tingkah lalu berbalik menuju pintu. Saat hendak membuka pintunya, dia kembali berbalik pada Mia. “Jangan pernah sakiti kakakku lagi atau aku akan benar-benar marah dan tak memaafkanmu!” ancamnya dengan telunjuk mengarah tepat kepada Mia.

“Tak sedikitpun ada niat bagiku untuk menyakiti Adriano,” balas Mia seraya tersenyum lembut.

“Bagus,” Valerie mengangguk kikuk, lalu berlalu dari hadapan Mia. Wanita itu segera mengembuskan napas panjang. Namun, kegiatannya kembali terhenti saat pintu kembali dibuka. Giliran Adriano yang masuk ke dalam kamar dan tersenyum manis.

“Valerie tidak menyakitimu, kan?” tanyanya penuh kekhawatiran.

Mia menggeleng pelan sembari duduk di tepi ranjang Miabella. Adriano juga mengikuti apa yang Mia lakukan dengan duduk di sampingnya. “Maafkan adikku jika terlalu kasar padamu. Itu karena dia sangat menyayangiku,” ucapnya.

“Tidak apa-apa, Adriano. Sungguh. Sejak dulu aku sudah menyukai Valerie. Sikapnya yang hangat dan apa adanya, membuatku merasa nyaman. Terkadang dia mengingatkanku kepada Daniella,” sahut Mia tersenyum kecil, "mungkin karena itulah aku merasa nyaman berada di dekatnya," lanjut Mia lagi.

“Aku harap, kau juga bisa merasa nyaman berada di dekatku,” ucap Adriano pelan dengan tubuh yang setengah membungkuk. Pria itu menggosok-gosokan kedua telapak tangannya. Adriano terlihat gugup.

Mia dapat mendengar apa yang Adriano ucapkan dengan sangat jelas. Kata-kata itu cukup membuat jantungnya berdesir pelan.

Diam-diam Mia memandang ke arah pria yang sudah mulai dapat mengendalikan rasa gugupnya. Adriano pun ternyata tengah lekat memandangnya. Lagi-lagi, dia harus bersitatap dengan bola mata biru yang menghanyutkan itu. “Ah, aku ... aku lupa belum menghubungi paman Damiano hari ini,” Mia mengalihkan pembicaraan. Secepat kilat dirinya berdiri dan berjalan ke arah laci meja. Diraihnya ponsel yang tergeletak di atasnya.

Namun, belum sempat Mia menghubungi nomor Damiano, Adriano terlebih dulu menyelanya, “Aku akan memulai penyelidikan besok," ucap pria itu dengan yakin.

“Kemarin malam, aku meminta pengacara Matteo untuk meminta laporan uji balistik di kepolisian setempat. Tadi pagi dia memberikan laporannya padaku melalui email,” lanjut Adriano lagi.

“Lalu, bagaimana hasilnya?” tanya Mia antusias. Dia mengurungkan niatnya untuk menghubungi Damiano.

Adriano beranjak dari duduknya, kemudian mendekat kepada Mia. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti saja. “Terdapat empat jenis peluru berbeda yang ditemukan di dalam tubuh Matteo. Salah satu peluru mematikan yang berhasil menembus jantungnya identik dengan peluru yang biasa digunakan pada senapan laras panjang berjenis Barret M82. Senjata yang biasa dipakai para sniper dan digunakan oleh pasukan khusus militer Amerika,” jelas Adriano secara perlahan.

“Militer Amerika?” Mia menautkan alisnya tak mengerti.

“Ya," jawab Adriano, "karena itu merupakan senjata khusus untuk militer, maka peredarannya pun terbatas dan hanya di kalangan militer saja. Tak semua orang dapat memakainya,” sambung Adriano.

“Satu hal yang jauh lebih mengherankan, senjata itu berhasil masuk ke Italia. Entah bagaimana caranya membawa senapan sebesar itu melalui bandara atau alat transportasi lainnya tanpa bisa terdeteksi,” Adriano mengembuskan napasnya pelan, lalu memalingkan wajahnya dari tatapan Mia.

“Apakah mungkin jika mereka merakitnya di Italia? Sama seperti yang biasa Theo lakukan. Dia membawa komponen-komponen kecil dari pelabuhan, lalu merakitnya di bengkel,” terka Mia.

Adriano segera menoleh dan sedikit terbelalak. “Ya, mungkin bisa saja begitu. Aku sempat berpikir, sepertinya dalang di balik semua ini juga bukanlah orang sembarangan. Dia pasti seseorang yang memang sangat terlatih dan biasa bekerja dengan sangat rapi. Itulah mengapa hingga saat ini kasusnya tak juga terungkap. Namun, apa yang kau katakan tadi jadi memberiku sebuah ide, Mia,” rautnya yang serius seketika berubah antusias.

“Aku akan ke Pulau Sicilia secepatnya,” tanpa permisi, Adriano mengecup kening Mia dan bergegas meninggalkannya begitu saja.

Mia sempat tertegun dengan apa yang Adriano lakukan padanya. Namun, sesaat kemudian Mia segera tersadar. “Adriano, tunggu!" panggilnya dengan tidak terlalu nyaring. "Untuk apa kau ke Sicilia?” Mia melangkah cepat karena berusaha menyusul sang suami.

Adriano terpaksa menghentikan langkah dan kembali berbalik pada Mia. “Aku pernah mendengar sebuah organisasi kecil. Organisasi itu adalah sempalan dari klan de Luca. Kabarnya, semua anggota dari organisasi itu pandai merakit senjata, meskipun kemampuan mereka jauh di bawah Matteo. Namun, Roberto de Luca dulu memecat mereka karena telah berbuat curang,” terangnya.

“Berbuat curang bagaimana?” tanya Mia.

“Organisasi itu melakukan penyelundupan serta menjual belikan komponen dan senjata tanpa sepengetahuan klan. Sementara keuntungannya masuk ke kantong pribadi mereka,” jelas Adriano.

“Lalu, apa hubungannya dengan senjata militer tadi?” tanya Mia lagi.

“Organisasi itu juga menyuplai senjata-senjata khusus militer dari berbagai negara. Setelah dibubarkan, hidup mereka berpencar. Akan tetapi, salah satu ketuanya masih tetap bertahan di Sicilia,” papar Adriano dengan mata berapi-api.

“Jadi, kau ... kau akan mendatanginya?” tanya Mia ragu dan terlihat khawatir.

“Ya, Mia. Sekecil apapun informasi yang akan kudapatkan nantinya, itu akan sangat berharga untuk penyelidikan ini,” jawab Adriano.

“Apa kau akan berangkat sendiri? Sekarang?” tak lelah Mia mencecar Adriano dengan berbagai pertanyaan.

Sedangkan Adriano hanya tersenyum kalem. Dia lalu menatap Mia dengan cukup lekat. “Tenang saja, Mia. Aku sudah terbiasa melakukan segala sesuatunya sendirian. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku,” ucapnya pelan dan dalam. Adriano lalu mengusap pipi Mia dengan punggung jemarinya.

“A-aku tidak ... maksudku ....” Mia berusaha menyanggah dan tampak salah tingkah. Namun, dia tak harus pusing-pusing mencari alasan lagi, karena Adriano sudah bergerak cepat. Tubuh tegap pria itu telah menghilang di balik dinding lorong mansion, meninggalkan Mia yang masih terpaku.

1
Dea Abdullah
harudang /Facepalm/
Dea Abdullah
nyesek smpe sini knp two hrs mati
Dea Abdullah
uku padamu author suka bnget/Kiss/
mery harwati
Aq jadi ketagihan setelah perjalanan dari Eidenburgh, kemudian ke Casa de Luca, lalu ke Monaco & sekarang aq akan coba berlayar ke Rusia dengan Carlo, tapi aq akan mampir sebentar di Arsenio 😍💪
mery harwati: Siap paduka🫅 titahmu akan kami laksanakan 🫡🤩😉
total 2 replies
mery harwati
Anak Adriano bener² cerewet seperti Daniela, tante tertuanya 😃
mery harwati
Ada typo kah di episod ini? Soal umur Adriana, ada yang menyatakan tujuh belas tahun, kemudian di paragrap bawah menyatakan lima belas tahun? 🙄
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁ: 𝙰𝚊𝚖𝚒𝚗, 𝙺𝚊𝚔. 𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑
total 3 replies
mery harwati
Aq malah penasaran sama bapaknya Karl Mikhailov alias Carlo, karena jaman Adriano yang dibunuh olehnya adalah Alex kemudian Sergei Redimir, mereka berdua kakak adik & berasal dari Rusia, ooohhh baca ajalah ceritanya & nikmati roller costernya disini 😃😘
mery harwati
Ow Coco, jangan ganggu mereka berdua, diam kau Coco sang mantan casanova 😃
mery harwati
Jangan bilang ada hubungannya dengan Sergei Redimir di masa lalu itu Karl Mikolaiv 🫣🙄
mery harwati
Adriana sepertinya mewarisi sifat dari Valeri bibi angkatnya 😃
mery harwati
Ow Damiano, kau benar² membuat air mataku menetes karena kematianmu, tidak²...bukan kau yang membuat aq sedih Damiano, tapi authorlah yang membuat alur cerita novel ini menjadi roller coaster bagi readersnya😘 selamat thor kau berhasil memporakporandakan imajinasi readers dengan karyamu ini ❤️🥰💪
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁ: 𝙼𝚘𝚑𝚘𝚗 𝚍𝚘𝚊 𝚗𝚢𝚊, 𝙺𝚊𝚔
total 3 replies
yuiwnye
adriano sdg mempersiapkan Carlo jd pendamping miabella
mery harwati
Oh Tuhan, jangan bilang Roberto de Lucca punya anak lain selain Matteo? Seperti kisah Valentino & Carlo, yang ternyata kembar, apakah Damiano tak tau rahasia Roberto saat masih muda? 🫣🙄
Elmida Alano: betul
total 1 replies
mery harwati
Mereka berdua akan bertarung & akan kah mereka berhenti bertarung karena wanita yang mereka sayangi tak mau mereka saling bunuh ? Penasaran akhir dari pertarungan Juan Pablo & Adriano🙄
Elmida Alano: ya tapi tidak sampai mati
total 1 replies
mery harwati
Apa rasa bersalah Juan Pablo setelah membunub Matteo & keluar dari Killer X yang menyebabkan Juan menyimpan lukisan Mia? Tapi belum sempat Juan masuk ke kehidupan Mia, keduluan sama Adriano? Ow semakin rumit klo ada rasa cinta didalam intrik² mafia 🫣
mery harwati
Adriano, bagaimana kabarmu bila tau Juan Pablo adalah anak dari Elang Rimba? Bahkan Juan sudah memerawani Giana adik tirimu? Akankah kau tetep membunuh Juan Pablo demi Mia karena kematian Matteo? Atw kah membiarkan Juan Pablo tetep hidup & jadi adik ipar mu Adriano? Ow pilihan yang sangat sulit 🙄👏
mery harwati: Siap 🫡 sehat selalu Thor & lancar rejeki juga 🤲❤️
total 2 replies
mery harwati
Otak encer Adriano akhirnya digunakan pada Juan Pablo & membunuh Lionel sang pembunuh Matteo tanpa harus mengorbankan nyawa dirinya sendiri atw orang² yang dekat dengan Adriano, setelah kejadian Menara Hitam yang mengakibatkan nyawa Coco hampir melayang 👏 tapi kabarnya bila Adriano tau bahwa Juan Pablo menyimpan rasa pada Giana adik tirinya Adriano 🙄
mery harwati
🤣🤣 memang harus ada wanita lain sebagai pembanding Francy, agar Francy tak merasa dirinya selalu dibutuhkan oleh Coco, akhirnya setelah kehadiran Monicqe barulah berasa kesalahan Francy yang mengabaikan Coco selama 5 tahun, 💪 Francy bila kau ingin Coco jadi milikmu seutuhnya & selamanya, berjuanglah dari awal lagi Francy 💪
mery harwati
Aq kok ngerasa, anak perempuan kecil yang ngasih bekal makanannya pada Adriano itu adalah Mia disaat dia abis ditinggal mati ibu kandungnya, alias sebelum pindah ke Venice & ketemu dengan ibu tirinya, klo memang bener seperti itu kisahnya, brati sebenernya Adriano yang lebih dulu ketemu Mia saat usia mereka masih kanak & remaja
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁ: 𝚂𝚒𝚒𝚙, 𝙺𝚊𝚔. 𝙻𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝
total 1 replies
yuiwnye
Juan 🧐🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!